
Berjalan terseok seperti seekor cacing yang merayap. langkah kaki pemuda tujuh belasan tahun itu seakan membawa sebuah beban berat dalam hidupnya. menyusuri tepian hutan rimba dibawah kaki gunung Welirang yang berada di belahan timur tanah Jawa. dalam perjalanannya semenjak awal pagi hari tadi hingga menjelang siang pemuda berkaki pincang ini beberapa kali bertemu dengan orang- orang yang nampaknya sama berasal dari kalangan persilatan, bahkan beberapa juga yang berpakaian sebagai kepala prajurit utama kerajaan.
Mungkin karena dia hanyalah seorang yang cacat kaki kirinya juga serupa kaum gembel miskin, maka setiap orang yang berpapasan dengannya cuma melirik tanpa perduli. bahkan ada juga yang mendengus atau meludah seakan merendahkan dirinya.
Pranacitra tidak pernah perduli. karena baginya semakin dia dipandang remeh justru semakin aman baginya. karena siapa juga yang bakalan mengira kalau pemuda pincang yang tidak ubahnya gembel ini menyimpan sebuah batu sakti yang jadi rebutan banyak orang.
Di suatu tempat yang terlindung diantara semak pohon dan bebatuan pemuda ini berhenti. matanya sekilas mengamati keadaan. kedua mata telinga berikut indera perasanya dia gunakan sebaik mungkin untuk mengenali semua pergerakan yang terjadi sekitarnya. dengan tenaga dalam pemberian dari beberapa tokoh silat yang pernah menolongnya membuat kemampuan seluruh inderanya meningkat tajam, hingga dia tahu ada banyak orang persilatan yang punya kepandaian tinggi berkeliaran tidak jauh dari tempatnya mendekam.
Dari saku bajunya dia keluarkan sebuah tabung bambu kecil. dari dalam tabung itu dia keluarkan dua buah pil obat pemberian Malaikat Serba Hitam. sewaktu berhadapan dengan Ki Kartopati pimpinan dari 'Empat Petani Cangkul Maut' dia sengaja hanya memberikan sebutir obat saja. ini karena Pranacitra masih belum tahu sifat mereka, baik atau jahat.
Dengan meminum dua butir pil penguat tenaga dan pemunah racun dia merasa tubuhnya lebih nyaman, aliran jalan darah dan tenaga dalamnya juga lebih lancar. dengan duduk bersemedi mengatur pernafasan si pincang ini mengingat kembali isi lembaran peta Lembah Seribu Racun. jika benar apa yang dibilang Malaikat Copet, maka seharusnya letak dari mulut lembah itu tidak terlalu jauh dari lereng gunung Welirang sebelah timur. itu artinya dia mesti berjalan sedikit melingkar ke utara.
Karena harus berpacu dengan waktu serta khawatir kehadiran para pendekar rimba persilatan akan semakin bertambah banyak, Pranacitra untuk pertama kalinya mengerahkan ilmu ringan tubuhnya agar dapat bergerak lebih cepat. tentu saja dia harus berhenti dan kembali berjalan terseok seperti biasa jika merasa ada orang lain di sekitarnya. selain itu si pemuda lebih memilih mencari jalan sendiri melewati daerah pepohonan lebat, bebatuan terjal dan semak belukar tinggi agar tidak gampang terlihat orang lain.
Sebenarnya dalam hatinya Pranacitra merasa bingung dan curiga , dari mana orang persilatan juga pihak kerajaan tahu kalau batu sakti Nirmala Biru akan muncul di daerah gunung ini. tapi dia tidak dapat berpikir jauh karena harus terus pusatkan perhatian dan kewaspadaannya menuju tempat terlarang.
Sesekali pemuda ini berhenti bergerak untuk menentukan arah lalu kembali berkelebat diantara pepohonan besar yang semakin lebat rapat dan menjulang tinggi hingga sinar matahari siang hampir tidak mampu menembus rimbunnya.
''Kalau benar perkiraanku, sesuai dengan keterangan si tua Malaikat Copet., jarak dua ratus tombak di depan sana ada sebuah sungai kecil. aku harus terus bergerak ke arah hulu hingga warna sungai itu berubah kekuningan dan berbau belerang..'' pikir si pemuda. dia juga masih ingat pesan dari Malaikat Copet.
__ADS_1
''Jika kau sampai disana mesti berjalan memutari gunung itu lalu mendaki tebing terjal setinggi puluhan tombak yang biasa disebut sebagai 'Tebing Kematian'. dari sana sudah tercium aroma busuk bercampur wangi menyengat. karena mulut 'Lembah Seribu Racun' konon ada di balik tebing gunung itu..''
''Kabarnya siapapun yang berada di sana mesti pandai mengendalikan pernafasannya karena hawa beracun yang keluar bisa tercium sampai jarak yang sangat jauh sekali mengikuti hembusan angin. hawa kabut beracun itu bisa membuat orang yang tidak waspada atau berilmu rendah menjadi lemas, hilang kesadaran atau bahkan mati.!"
"Sebab itulah jarang ada orang yang tahu jalan menuju Lembah Seribu Racun, karena belum juga mendekatinya, sudah banyak korban yang tewas lebih dulu karena asap kabut beracunnya.." terang si Malaikat Copet waktu itu pada Pranacitra.
Setelah berpikir Prabacitra mengeluarkan sebuah batu bulat sebesar telur ayam yang memancarkan cahaya biru terang dan kabut tipis kebiruan berhawa sejuk. saat dia menghirup uap kabut biru dari batu itu terasa tubuhnya begitu segar, tenaganya rada yang terkuras akibat keluarkan ilmu meringankan tubuh juga kembali pulih.
Dari balik bajunya Pranacitra mengekuarkan sebuah kantung kulit kecil yang terikat tali dari anyaman urat binatang. benda bulat yang bukan lain batu sakti Nirmal Biru itu di masukkan kedalam kantung kulit kecil lalu mengikatkan talinya ke leher seperti sedang memakai sebuah kalung.
Sebenarnya pemikiran ini belum lama muncul. Pranacitra berpikir kalau menyamarkan batu sakti itu seperti sebuah kalung selain lebih aman juga lebih mudah di gunakan sewaktu dia butuhkan. karena itu selama perjalanannya dia sempat membuat kantung kulit dan anyaman tali. sementara kini di dalam kantung bajunya masih ada sebutir batu palsu.
Dengan mengikuti jalur sungai ke arah hulu, si pincang terus berjalan sambil sesekali berlompatan diantara bebatuan sungai yang licin. kalau di lihat sepintas, orang tidak akan percaya kalau dia seorang yang pincang.
Mendekati daerah hulu, aliran air sungai berubah warna sedikit kekuningan berbau belerang dan mengepulkan uap panas tipis. aliran sungai sedikit menanjak dan berkelok menembus belukar berbatu.
Mendadak Pranacitra melompat mudur serta berusaha menutupi hidungnya. seiring angin yang menghembus diantara pepohonan, tercium bau wangi menyengat bercampur aroma sangat busuk. tongkat kayunya hampir terlepas. sebelah tangan meraih kantung kulit yang tergantung di lehernya lalu menghisap hawa sejuk yang keluar dari lubang- lubang kecil di kantung itu.
Dengan mendekam dari balik dua batang pohon besar Pranacitra mengamati keadaan di depannya. biarpun suasana rada gelap di sekitarnya, tapi jarak tiga puluhan tombak di depan sana ada sebuah pedataran bertebing tinggi menjulang. pepohonan dan belukar disekitar tempat itu terlihat layu kering dan membusuk. banyak tulang belulang juga mayat manusia berserakan. ada yang baru mati, banyak juga yang sudah tinggal onggokan daging busuk.
__ADS_1
Keadaan yang hampir tanpa halangan membuat pemandangan disana dapat terlihat cukup jelas di matanya. dari atas tebing batu setinggi puluhan tombak itu keluar gulungan kabut kelabu beraroma memuakkan. biarpun Pranacitra sudah dibantu hawa sakti Batu Nirmala Biru dan berada cukup jauh, tetap saja dia merasa mau muntah.!
Pemuda ini seketika sadar kalau dia sudah sampai di 'Tebing Kematian dimana 'Lembah Seribu Racun berada dibalik tebing batu itu.
Yang lebih mengejutkannya di sana sudah berdiri tiga orang manusia yang saling berhadapan. satu orang diantara mereka adalah lelaki lima puluhan tahun berbaju kain tebal yang kebesaran dengan potongan rambut panjang sebelah, anehnya sepasang tangan kekar orang ini terlihat penuh kurap dan benjolan kudis. sikapnya cengar- cengir mirip orang gila.
Dua orang lelaki muda berkulit hitam berbaju merah dan berambut pendek keriting yang membekal parang merah panjang yang ujungnya rata dan berlepotan darah, terlihat kaget melihat lelaki setengah umur di hadapannya.
''Sungguh tidak kusangka., anggota dari kelompok pembunuh bayaran 13 Pembunuh juga turut ambil bagian dalam perebutan batu sakti Nirmala Biru..''
''Dia Klowor Gombor alias si 'Gila Tangan Kudis' pembunuh nomor sebelas dari kelompok 13 Pembunuh, jangan- jangan ada anggota lainnya yang muncul juga di sini..'' dua orang muda baju merah darah ini saling berbisik seperti khawatir sambil memandang sekeliling tempat.
''Hak., ha., kalian dua orang yang datang dari jauh di kepulauan timur tidak perlu takut, aku datang cuma seorang diri dan tidak ada sangkut pautnya dengan urusan kelompok 13 Pembunuh..''
''Jadi kalian berdua boleh pilih, tinggalkan sebelah tangan kalian disini lalu pulang ke tepat asalmu., atau nama 'Sepasang Parang Merah Kepulauan Timur' bakal kubuat lenyap.!'' gertak orang yang di sebut sebagai si 'Gila Tangan Kudis' bernama Klowor Gombor salah satu anggota kelompok pembunuh bayaran 13 Pembunuh yang terkenal dan sangat di takuti rimba persilatan.
Pranacitra yang mendengar kelompok 13 Pembunuh di sebut menjadi terhenyak. biarpun masih hijau dan miskin pengalaman, tapi pemuda pincang ini juga pernah mendengar tentang sebuah kelompok pembunuh bayaran yang sangat ditakuti, biarpun kelompok yang anggotanya terdiri dari tiga belas orang berkepandaian silat dan kesaktian sangat tinggi itu belum dapat di bandingkan dengan kekuatan partai Gapura Iblis, tapi tetap saja kelompok rahasia itu juga mampu membuat nyali bertarung seorang pendekar kelas satu sekalipun runtuh ketakutan.!
*****
__ADS_1
Dirgahayu kemerdekaan Republik Indonesia., 🇮🇩🇮🇩🇮🇩 Merdeka.!