Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Berziarah.


__ADS_3

Kokok ayam jantan terdengar bersautan seakan menyambut datangnya fajar pagi hari. di desa Karang Ploso kegiatan warga desanya malah sudah di mulai sebelum terbitnya mentari. sebagian besar penduduk desa ini adalah para petani pengarap sawah dan ladang kebun, serta menggembalakan ternak. hanya saja hampir seluruh ladang persawahan juga petenakan di desa itu milik seorang juragan kaya raya yang bernama Karto Jenar.


Meskipun cuma sebuah desa, tapi wilayah Karang Ploso pernah menjadi salah satu jalur utama untuk masuk menuju ke arah kota raja Majapahit. keadaan ini agak sedikit berubah sejak kesultanan Demak berdiri karena pusat pemerintahan juga berpindah letaknya.


Selain bertani dan buruh penggembala ternak, ada juga beberapa orang yang menghidupi diri dan keluarganya dengan berdagang atau membuka warung makan kecil di pinggiran jalan desa. meskipun sudah tidak seramai saat Majapahit masih berdiri, tapi masih banyak kaum pengembara dan pedagang dari luar yang melewati jalan desa Karang Ploso itu.


Pagi hari itu juga sama dengan sebelumnya. sejak awal hari sudah banyak orang keluar masuk jalanan desa Karang Ploso. ada yang berangkat ke sawah, mengembala ternak juga membeli kebutuhan rumah. beberapa pejalan kaki dan rombongan kaum saudagar juga turut memasuki desa untuk sekedar mencari tempat istirahat dan sarapan di salah satu warung makan.


Di antara para pendatang itu juga nampak kaum pengemis dan orang rimba persilatan. tua muda dari bermacam aliran, bahkan juga beberapa prajurit kerajaan. para penduduk desa sedikit heran karena hari ini lebih ramai dari biasanya. tapi mereka juga senang karena semakin banyak orang datang, makin banyak pula rejeki dari pengunjung warung.


Seorang pemuda berbaju gelap terlihat berdiri termangu di depan sebuah rumah makan yang cukup besar. meskipun baru saja di buka, namun rumah makan yang letaknya berada di dekat pintu masuk jalan desa itu sudah banyak pengunjungnya yang ingin sarapan pagi.


Pemuda bertongkat besi yang gagangnya di buntal secarik kain hitam itu menghela nafas sedih. dia ingat betul sepuluh tahun silam rumah makan besar itu hanyalah sebuah warung kecil yang sederhana. dia tahu karena dulu dia pernah tinggal di sana bersama ayahnya. kehidupan sederhana namun penuh kebahagiaan, sampai akhirnya hari malapetaka itu datang dan merenggut semuanya.


Kini warung kecil yang sederhana itu sudah di miliki oleh juragan Karto Jenar yang merubahnya menjadi rumah makan besar dan mahal harganya. cuma orang berduit banyak saja yang sanggup membeli makan di sana.


Dua orang lelaki kekar yang berjaga di depan pintu masuk rumah makan itu terlihat mendelik sebal melihat ada seorang pemuda gelandangan sedang berdiri mengamati rumah makan itu. saat mereka hendak membentak untuk mengusirnya pemuda itu sudah berbalik dan melangkah pergi.


Kedua orang penjaga itu saling pandang lalu tertawa bergelak penuh penghinaan saat melihat cara pemuda itu melangkah. kaki kanan maju setapak, yang kiri terseok pelan mengikuti. kalau dilihat seperti seekor siput atau cacing sedang merayap. menggelikan juga membuat iba hati.


Pemuda pincang berikat kepala kain batik lurik itu cuma melirik sekejap saja. meskipun cuma selintas memandang tapi sudah cukup baginya untuk mengincar sasaran. jaraknya sudah terpaut lebih sepuluh langkah tapi itu bukan masalah sulit baginya. tanpa di sadari oleh siapapun ujung tongkat besi hitamnya menghantam dua buah batu kerikil sebesar biji salak.


Gelak tawa menghina dari mulut kedua orang penjaga itu seketika berganti suara jeritan kesakitan disertai tumbangnya tubuh kekar keduanya. tempurung kaki kiri mereka terlihat pecah berlubang mengucur darah. pengunjung warung berhamburan keluar untuk melihat apa yang terjadi. kedua orang kasar itu cuma bisa mengerang kesakitan tanpa tahu apa yang menimpanya.


Si pincang terus berjalan terseok keluar desa. walaupun sudah sangat lama tapi dia masih ingat jelas siapa kedua orang lelaki kasar penjaga rumah makan itu. dulu mereka adalah centeng begundal juragan Karto Jenar yang bertugas menagih hutang berbunga tinggi pada para penduduk desa Karang Ploso. jika kurang atau terlambat sedikit saja membayar tagihan, gebukan dan tendangan seketika menghajar badan.


Pemuda ini menyeringai dingin, sekarang mereka berdua bakal mengerti betapa nikmatnya menjadi orang yang cacat kakinya. dalam sekejap tubuh si pincang sudah lenyap di tikungan ujung jalan desa.

__ADS_1


Kira- kira dua ratusan langkah sebelah utara desa Karang Ploso ada sebuah pemakaman. seorang pemuda berkaki pincang dengan rambut hitam panjang menjela bahu terlihat berdiri menunduk di depan sebuah makam tua yang lama tak terurus dan di tumbuhi rumput belukar liar. dengan kedua tangannya yang pucat namun kekar berotot dia mulai membersihkan makam tua itu.


Sebenarnya dengan kesaktiannya dia dengan mudah dapat menyapu habis rumput semak itu dalam sekali kibasan tangan. tapi dia lebih suka mencabutinya satu persatu. setelah berdoa untuk mendiang ayahnya yang terbaring di sana pemuda itupun mulai tinggalkan pekuburan itu.


Langkahnya yang terseok terhenti seketika mana kala muncul seorang pemuda dan gadis cantik berbaju putih yang terlihat berlarian masuk ke dalam pekuburan tua. dari sikap mereka yang gelisah dan takut juga pakaian putihnya yang bernoda darah, jelas kalau keduanya sudah terluka serta sedang dikejar seseorang.


Kedua orang ini terkejut dan waspada saat melihat ada seorang pemuda pucat sedang berdiri di tengah pemakaman tua itu. mereka semakin panik mendengar ada suara seruan banyak orang yang semakin mendekat.


Dengan pandangan khawatir kedua muda- mudi itu langsung berlari masuk ke dalam pekuburan tua itu. selintas mereka sempat melirik si pincang yang seakan tidak perduli. dua orang ini bersembunyi di balik sebatang pohon terembesi besar dan semak belukar di tepian pekuburan. si pincang menghela nafas. sambil berjalan terseok kakinya menghapus ceceran darah yang tertinggal di atas tanah.


Tidak lama kemudian muncul sepuluh orang lelaki berpakaian serba hitam dan membekal pedang. separuh wajah mereka tidak terlihat karena di tutupi selembar kain hitam sebatas mulut dan hidung. dalam sekejap saja mereka sudah berada di dalam pemakaman.


Dengan heran dan curiga mereka mengamati seorang pemuda bertongkat besi hitam yang duduk di atas sebuah batu. dari keadaannya mereka mengira kalau sedang berjumpa seorang gelandangan atau gembel miskin.


''Cepat kalian periksa seluruh tempat ini, dari bekas ceceran darah yang tertinggal jelas sekali kalau kedua buruan kita masuk ke tempat pemakaman ini.!'' perintah orang yang berdiri paling depan. meskipun memakai cadar, tapi dari rambutnya yang mulai beruban dapat di pastikan sudah tua setengah baya. mungkin orang ini adalah pimpinan gerombolan itu.


''Haa., ha., ha., kalian tidak bakalan dapat menemukan apa yang kalian cari..'' tiba- tiba saja pemuda gelandangan itu berseru dan tertawa. karuan saja semua orang terkejut. serentak mereka bergerak mengepung pemuda itu yang hanya menyeringai sinis.


''Pemuda gelandangan., apa yang sedang kau tertawakan..''


''Memangnya kau tahu apa yang sedang kami cari., cepat jawab.!'' bentak mereka geram.


Yang di tanya cuma mengangguk diam tanpa bicara sambil ulurkan telapak tangannya. karuan semua orang mendengus gusar. pemuda itu ganti mendamprat. ''Di dunia ini tidak ada yang gratis., berikan dua keping perak, akan kukatakan ke mana kedua orang buruan kalian pergi dan siapa orang yang telah menolong mereka.!''


Semua orang saling pandang dan berubah raut mukanya. ''Gelandangan sialan., cepat katakan apa maksud ucapanmu barusan. atau kami patahkan tulang hidungmu..'' gertak seorang diantara mereka.


''Kubilang berikan dulu dua kepingan uang perak. akan aku katakan semua yang kutahu pada kalian. ingat semakin lama kita bicara makin jauh pula mereka pergi dari sini. dan jangan coba mengancamku karena diriku bukan manusia penakut.!'' pemuda itu balik menggertak. dari sepasang matanya sekilas membersit sinar tajam dingin menyeramkan. tanpa sadar semua orang bergidik hatinya.

__ADS_1


Pemimpin gerombolan cepat maklum kalau pemuda gelandandangan ini mungkin bukan orang sembarangan. bisa jadi dia anggota salah satu perkumpulan kaum pengemis.


''Seperti permintaanmu., dua keping uang perak untuk jawabannya. sekarang katakan semua yang kau ketahui, dimana kedua orang pemuda dan gadis berbaju putih itu kabur. juga siap orang yang kau bilang telah menolong mereka.!'' ucap si pemimpin sambil lemparkan dua keping uang perak kepada si pincang.


Itu bukanlah lemparan biasa tapi dilambari tenaga dalam tinggi. jarak antara mereka cuma tiga langkah saja, dua kepingan perak itu mendesing cepat menyambar. pemuda itu meludah. tangan kirinya mengulap ke udara serampangan. dua keping uang perak yang melesat seakan tertahan hanya sejengkal dari tangan si pincang sebelum jatuh ke dalam genggaman tangannya.!


Semua orang diam tertegun. apa yang di tunjukkan pemuda gelandangan itu bukanlah permainan sembarangan. kini mereka sadar sedang bertemu orang kosen.


''Sepasang anak muda tampan dan cantik berbaju putih. mereka terluka cukup parah namun masih mampu bergerak. tadinya mereka memang masuk kemari sebelum di tolong oleh seorang lelaki tua berjubah putih dan membawa pedang di punggungnya..'' jawab pemuda itu tanpa perdulikan semua orang yang masih mengepung, dia bangkit berdiri dan mulai beranjak pergi.


''Tunggu dulu sobat., kau belum katakan kemana kedua muda- mudi itu pergi..'' ujar si pemimpin sambil lintangkan pedangnya. pemuda itu tersenyum licik sambil ulurkan kembali telapak tangannya. ''Berikan satu keping perak untuk jawabannya..''


''Gelandangan kurang ajar., berani benar kau bermain muslihat dengan kami.!''


''Bedebah sialan., kucincang kau.!'' bentak dua orang yang berdiri di samping kiri kanan sang pemimpin. sekali menyerbu mereka langsung lepaskan tiga tusukan pedang ke arah dada yang diakhiri dengan satu sabetan memotong leher.!


Semua orang disana mengira kalau si pincang setidaknya akan terluka parah atau bahkan binasa di terjang jurus pedang kedua rekannya yang punya ilmu silat lumayan hebat. tapi yang terjadi selanjutnya sungguh di luar dugaan siapapun.


Saat dua pedang tajam mengancam, tubuh si pincang tetap diam tidak bergerak. namun tongkat besinya yang terangkat menyambar secepat kilat menusuk dan menghentak.!


'Whuuut., Whuuuut., Sraaat.!'


'Traaaang., Craaang., traang.!'


''Aaaakh., Aaoorkh.!''


Dua pedang mental berpatahan di udara. kedua pemiliknya terjungkal roboh dengan tenggorokan pecah berlubang. masih sempat tersembur darah merah yang di sertai suara mengorok seperti binatang di sembelih, sebelum akhirnya tubuh mereka diam tidak bergerak. hanya satu gebrakan, satu jurus serangan tongkat menusuk yang tidak jelas wujudnya. tapi hasilnya sungguh sangat mematikan.!

__ADS_1


''Kedua orang anak buahmu ini tidak punya rasa sukur., begitu bodohnya mereka sampai menghargai nyawa sendiri hanya dengan sekeping uang perak..'' ucap si pincang sambil menimang dua kepingan uang perak yang baru dia ambil dari kantong baju kedua mayat itu.


__ADS_2