
Semua orang seakan terdiam. keheningan yang mencekam di pagi hari itu berlangsung beberapa saat lamanya. hembusan angin dingin dan mendung gelap yang datang tiba- tiba menambah perasan seram di hati mereka yang melihat peristiwa itu.
Jika di ceritakan semua kejadian yang berjalan terasa lambat, padahal sesungguhnya semua itu terjadi begitu cepat dan dalam waktu yang hampir bersamaan. kalau di urut jeda dari setiap peristiwa mungkin hanya terpaut beberapa kejapan mata saja. meskipun terasa tidak masuk akal, tapi mereka semua harus mengakui kalau semuanya adalah suatu kenyataan.
Tanpa bicara apapun Pranacitra berikan sebutir obat berwarna kekuningan kepada Puji Seruni, lalu dia memutar tubuh menghadap Ki Tanjung Semboro atau 'Pendekar Golok Emas Berlengan Tunggal'. orang tua itu tertegun melihat pemuda pincang itu membungkuk hormat kepadanya.
''Kuhaturkan terima kasih atas pertolonganmu pada gadis ini. nama Ki Tanjung Semboro memang pantas jadi panutan kaum persilatan aliran putih..''
''Apakah gadis murid Nyi Pariseta ini adalah kekasihmu.?'' selidik Ki Tanjung Semboro dengan pandangan tajam. pemuda pincang itu terkekeh sekejap.
''Meskipun parasnya sangat cantik tapi dia bukan seleraku..'' jawab Pranacitra sambil menyeringai sinis, membuat Puji Seruni yang sedang bersemedi mengobati lukanya hampir saja muntah darah saking kesal dan malu mendengar semuanya
''Kami cuma kebetulan bertemu, saat itu dia dan pemuda tunangannya sedang terluka dan kabur dari kejaran para murid perguruan silat 'Naga Biru' yang di bantu oleh orang- orang dari perkumpulan pembunuh bayaran 'Serikat Kalong Hitam'. mereka berdua hendak di habisi karena menjadi saksi pembunuhan dari Nyi Pariseta. saat itu anak dari Ki Galing Brajapaksi yang bernama Hanggajaya ingin berbuat tidak senonoh pada gadis ini..''
''Singkatnya kebetulan diriku ada di sana. aku sekedar membantu mereka berdua. meskipun pemuda bernama Hanggajaya yang telah banyak menodai perempuan di bawah gunung ini sudah mati di tangan gadis ini, tapi pemuda tunangannya juga tewas dalam kejadian itu..'' tutur Pranacitra. Ki Tanjung Semboro serta semua orang yang mendengarnya menjadi kaget dan geram mendengar semua itu.
''Sungguh keterlaluan., perguruan silat aliran putih sudi bekerjasama dengan perkumpulan 'Serikat Kalong Hitam' dari aliran jahat..''
''Kurasa ini sangat memalukan dan mencoreng nama baik perguruan silat aliran putih. apalagi Ki Galing Brajapaksi sudah tega membunuh saudara seperguruannya sendiri, bahkan putranya juga tukang perusak kehormatan wanita..''
''Ayah dan anak sama- sama bajingan. serigala berbulu domba yang menggunakan kedok suci aliran putih untuk berbuat kejahatan. kurasa mereka berdua memang pantas mampus.!'' kembali terdengar umpatan dan makian geram dari para tokoh silat. kali ini jauh lebih banyak lagi yang turut menghujat Naga Biru hingga para muridnya menjadi bingung dan mulai di landa ketakutan.
__ADS_1
Pranacitra seperti tidak perduli dengan semua yang sedang terjadi. ujung tongkat hitamnya menunjuk lengan kiri Ki Tanjung Semboro yang kosong. ''Dulu pemilik tongkat besi hitam di tanganku ini pernah membuat sebelah tanganmu cacat. meskipun orangnya sudah mati tapi hutang lama itu mesti tetap harus di selesaikan bukan.?''
Tanpa memberikan kesempatan orang tua itu untuk menjawab, Pranacitra teruskan bicara. ''Meskipun banyak tabib ternama telah kau temui tapi tidak ada satupun yang sanggup untuk memusnahkan racun ganas yang terus mengerogoti lengan kirimu..''
''Maaf jika aku bicara lancang., tapi Ki Tanjung Semboro pasti mati seandainya saja tidak cepat mendapatkan pertolongan dari seorang tabib wanita sakti sekaligus ahli racun lainnya yang bergelar 'Nenek Tabib Selaksa Racun.!''
Orang tua itu terperanjat kaget. masalah ini dia simpan rapat karena telah bersumpah pada orang yang menolongnya untuk tidak memberi tahu pada siapapun kalau si Nenek Tabib Selaksa Racun yang menyelamatkannya. lalu bagaimana pemuda itu bisa tahu.?
''Dalam dunia persilatan ada dua orang tabib dan ahli racun perempuan yang seringkali berselisih. mereka berdua adalah 'Nenek Tabib Bertongkat Maut' dan satu lagi 'Nenek Tabib Selasa Racun'. hanya saja., hampir tidak ada orang persilatan yang tahu kalau keduanya adalah kakak beradik..''
''Walaupun bersaudara dan berasal dari keluarga tabib yang terkenal sejak turun temurun, tapi mereka berdua tidak pernah akur dan selalu bersaing. jika adiknya menciptakan racun si kakak yang membuat penawarnya. begitu juga sebaliknya. saat sang kakak meracunimu, adiknya yang menyembuhkan. jadi menurut Ki Tanjung Semboro., bagaimana harus menyelesaikan perkara lama ini.?''
Melihat orang tua berlengan kiri buntung itu masih tertegun diam, Pranacitra kembali lanjutkan ucapannya. ''Bagaimana jika begini., kita cukup bertarung tiga jurus saja. kau menyerang aku yang bertahan. jika diriku kalah atau terbunuh oleh golok emasmu anggap saja nasibku sedang sial. tapi kalau diriku yang rendah ini mampu bertahan hidup. masalah lamamu dengan pemilik tongkat besi hitam kepala tengkorak ini dianggap selesai..''
Ki tanjung Semboro pejamkan kedua matanya sekejap. saat membuka mata bersamaan golok emasnya membabat ke atas tanah. debu menderu dan angin tajam menyambar beberapa kali. semua orang yang berada di sekitarnya sama menjauh. di sana sudah tercipta dua buah guratan yang dalam berbentuk lingkaran. satu lingkaran mengitari tubuh Puji Seruni yang masih bersemedi. sebuah lingkaran lagi yang lebih besar mengelilingi Ki Tanjung dan Pranacitra.
Dalam gerakan itu tokoh silat dari kawasan Blambangan itu sudah menunjukkan tingkat ketinggian ilmu goloknya hingga mampu membuat dua buah lingkaran di atas tanah tanpa harus berpindah tempat. semua orang berdecak kagum. Pranacitra juga mengakui kehebatan lawan.
''Tidak boleh ada satu orangpun yang boleh mencampuri urusan ini, juga gadis murid sahabatku Nyi Pariseta. siapapun yang berani memasuki batas lingkaran yang kubuat, dia pasti mati di ujung golok emasku.!'' teriak Ki Tanjung Semboro lantang. semua orang tanpa sadar menjauh termasuk murid perguruan Naga Biru.
''Silahkan Ki Tanjung Semboro memulainya..'' ucap Pranacitra sambil Menjura hormat. tongkat kepala tengkoraknya tergenggam di tangan kanan. tubuhnya agak membungkuk dan kepala menunduk. sepintas kuda- kuda silat ini terlihat aneh seperti tanpa pertahanan, namun Ki Tanjung justru merasakan ada hawa mengerikan yang terpancar dari sana.
__ADS_1
''Jurus pertama, 'Dewa Golok Turun Ke Bumi.!'' bentak Ki Tanjung sambil melompat hampir tiga tombak ke udara. di atas sana dia membuat satu jungkir balik lalu melayang beberapa saat di atas sana. sikapnya bagaikan dewa langit yang hendak turun ke dunia. kejap berikutnya dia meluncur deras ke bawah sambil babatkan senjatanya. segulung cahaya emas yang berkilauan menyambar tubuh Pranacitra. sambaran angin tajam dan hawa panas yang menderu membuat semua orang menyingkir. beberapa diantaranya yang punya ilmu rendah sudah terjungkal pingsan dengan pakaian robek dan kulit tubuh bagai tersayat.
Pemuda itu angkat tongkatnya melintang ke atas kepalanya yang tetap menunduk. berputar satu lingkaran lantas menusuk ke atas. selapis cahaya hitam bagai tameng gelap yang melindungi tubuhnya. benturan dua jurus kesaktian terjadi. tanah rengkah bebatuan terpecah. cahaya emas dan hitam bercampur gulungan debu yang menutupi pandangan mata.
Pranacitra mengeluh tertahan. kedua kakinya melesak masuk hingga sejengkal ke dalam tanah yang keras. pakaian hitamnya robek beberapa bagian. meskipun aliran darahnya sempat terganggu, namun dengan tenaga dalamnya yang sangat tinggi dia sanggup mengatasinya dengan cepat.
''Haa., ha., bagus. ini seranganku yang kedua, 'Dewa Golok Lewat Tanpa Suara.!'' sekali lagi Ki Tanjung Semboro berseru sekalian memberi pujian pada si pincang. golok emasnya membabat sama rata dengan leher lawan. tidak ada sambaran angin atau kilatan cahaya mematikan yang muncul. tapi Pranacitra justru berteriak kaget sembari babatkan tongkat besinya berulang kali jauh lebih cepat dari sebelumnya.
'Traaang., traaang., blaaang.!'
'Craaang., braaak!'
Pranacitra tersurut mundur hingga ke batas garis lingkaran. saat menoleh dia melihat sisi panggung di belakangnya terbabat hancur. pemuda ini meraba leher sebelah kiri. terasa perih dan sedikit di basahi darah. jika saja dia terlambat menyadari. mungkin batok kepalanya sudah menggelinding ke tanah.!
Pewaris ilmu lima tokoh kawakan aliran hitam itu menyumpahi kebodohannya sendiri. dalam serangan ke dua tadi dia sedikit meremehkan kehebatan jurus lawannya karena tidak terasakan aliran tenaga kesaktian yang datang menyambar. Pranacitra sadar telah bertindak ceroboh. di lihatnya lawan masih berdiri dan menatapnya tajam. mungkin dia sedang bersiap lancarkan jurus ke tiga.
''Haa., ha., ha., walaupun permainan ini cukup menarik juga tapi aku rasa sampai di sini saja. serangan ke tiga anggap saja tidak ada. karena itu adalah jurus hidup dan mati. hanya aku gunakan di saat nyawaku terancam. jika bukan musuhku maka diriku sendiri yang bakalan mati. meskipun cuma punya satu lengan tapi hidupku cukup menyenangkan dan punya nama besar di rimba persilatan..'' ujar Ki Tanjung Semboro tertawa bergelak. bukan cuma Pranacitra saja yang terkejut mendengar keputusan orang tua itu, tapi banyak juga orang yang merasa kecewa karena urung melihat pertunjukan adu silat kelas tinggi.
****
Silahkan tulis komentar, kritik saran, like👍vote atau favorit👌 jika anda suka. terima kasih pada para reader yang sudah bantu share novel PTK dan 13 PBH.🙏 Wasalam.
__ADS_1