Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Si pincang yang menyedihkan.


__ADS_3

Dengan sebuah seringai licik, pemuda pincang itu mengamati sosok tubuh Retno Item yang nyaris telanjang sebelah atas, seakan dia sedang menemukan sebuah pemandangan menarik yang sangat langka.


Gadis itu mengucap seribu sumpah serapah dalam hatinya. si pincang penyakitan itu kiranya tidak lebih baik dari Sukma Tertawa. Ki Wedhus Jenggot Putih dan Dewi Bintang Hitam juga berpikiran sama. mereka turut memaki kelakuan busuk pemuda itu.


''Anjing pincang., apakah kau sudah bosan hidup ataukah memang belum sadar dengan tangan maut yang bakal menjemputmu.?'' maki si Sukma Tertawa geram. sungguh di dalam hatinya orang ini ingin secepatnya membantai pemuda yang dianggapnya tidak tahu diri itu dalam sekali hantam. tapi sikap tidak perduli si pincang juga membuatnya penasaran, jangan- jangan isi otak pemuda penyakitan itu cuma tinggal separuh saja di kepalanya hingga berani bicara ngelantur.


Herannya si pincang ini malah tidak perduli ancaman Sukma Tertawa, jangankan menoleh melirik sedikit saja juga tidak. Sukma Tertawa jelas saja merasa terhina.


Gelegak amarah langsung naik ke ubun- ubun. dengan meraung gusar tangan kanan gempal bergerak cepat berputar menjotos sekaligus mengepruk rengkah kepala pemuda pincang bernama Pranacitra itu. tanpa berbalik kedua kakinya membuat tiga kali langkah maju mundur yang kaku dengan tubuh separuh membungkuk. pada akhir gerakan ujung tongkat kayunya menyapu dari bawah ke atas menyasar pinggang, perut,.dada dan tenggorokan lawannya.!


''Bocah pincang edan.!'' si Sukma Tertawa memaki. sebenarnya ini sangat memalukan buatnya. bagaimana tidak, dengan gerakan langkah yang kaku itu secara aneh dapat membuat si pincang lolos dari pukulannya. bahkan sekarang dialah yang ganti terancam gebukan tongkat lawan yang datang bagaikan sambaran geledek.!


'Whuuuk., Wheet., Beet.!'


'Thraak., dhaas., dees.!'


Meskipun terkejut orang tinggi gemuk ini tidak menjadi gugup. tangan kanannya cepat di tarik mundur lalu membuat gerakan mencengkeram dan mengibas untuk menangkis jurus tongkat si pucat pincang. sementara tangan kiri yang mengenggam pipa cangklong emas balas kirimkan beberapa buah totokan maut yang hendak menjebol leher dan batok kepala si pincang. selapis sinar kuning emas dan asap hijau turut menyambar.!

__ADS_1


Untuk kedua kalinya Pranacitra melangkah dengan tubuh kaku setengah membungkuk dan kepala sedikit menunduk lalu bergerak mundur. tongkat kayu kembali di putar seperti perisai yang melindungi kepalanya dari serangan pipa cangklong emas Sukma Tertawa yang terus memburunya.!


Sekejab saja sudah lewat sepuluh jurus. saat itulah lelaki jahat berblangkon kuning itu baru menyadari kalau dia sudah terlalu memandang remeh bocah pincang yang menjadi lawannya.


Apa yang di pikirkan si Sukma Tertawa sama dengan yang ada dalam kepala ketiga orang lainnya. baik Ki Wedhus Jenggot Putih, Dewi Bintang Hitam dan muridnya seakan sedang terpukau dengan semua yang terjadi di depannya. pemuda pincang yang seperti mengidap penyakit parah itu rupanya punya ilmu silat yang tidak dapat dianggap sebelah mata.!


Di kala mereka terkesiap, pemuda aneh ini justru membuat satu gerakan hebat yang bukan saja membuat mata ketiga orang ini terbelalak. saat pipa cangklong emas Sukma Tertawa dengan ganasnya berkelebatan mengancam leher kepala dan jalan darah lawan, pemuda ini cepat melangkah mundur dengan gerakan langkah yang kaku, lalu mendadak membalik tubuh dengan babatkan telapak tangan kirinya ke depan.


Segulung angin tajam melesat seakan balik mengancam tubuh si Sukma Tertawa. dalam pandangan orang tinggi gemuk itu, tangan kiri si pincang seperti dapat mulur lebih panjang bersamaan kelima jari tangannya bergerak mencengkeram dan mencabik dada dan lehernya.!


Untuk pertama kalinya semenjak keluar dari sarang rahasia perkumpulan 'Maling Kilat' Pranacitra mengeluarkan jurus 'Tangan Panjang Penjambret Jiwa' yang di ajarkan oleh ketuanya si Malaikat Copet kepadanya.


''Setan alas., tikus pincang keparat, malam ini kau bakalan mampus di tanganku.!'' bentak si Sukma Tertawa murka. serangan cakar aneh yang seakan mulur memanjang itu bukan hanya mampu membuat baju rompi hitamnya robek tercabik tapi juga hampir mengkoyak luka di bahunya yang terhantam senjata bintang terbang bersegi delapan saat dia bertarung melawan Dewi Bintang Hitam.


Sebenarnya jurus kesaktian 'Tangan Panjang Penjambret Jiwa' belum sepenuhnya dapat dikuasai oleh Pranacitra. bahkan mungkin tidak sampai setengah dari kekuatan yang sesunguhnya dari jurus itu seperti yang pernah di perlihatkan Malaikat Copet kepadanya.


Biarpun begitu sudah sangat mengejutkan semua orang yang menyaksikan pertarungan itu. saat Pranacitra di serang dia sengaja untuk menggunakan sebagian jurus 'Langkah Aneh Mayat Hidup' untuk bertahan dan menghindar. agar dapat mengelabui pandangan lawan dia mencoba menyisipinya dengan jurus 'Pencoleng Mencongkel Pintu Alam Gaib' memakai tongkat kayunya untuk menyerang balik.

__ADS_1


Dalam perjalanannya semenjak di lepas oleh Malaikat Copet, si pincang ini berusaha menggabungkan berbagai jurus silat juga ilmu kesaktian tenaga dalam yang dia dapat dari banyak tokoh sakti yang pernah menolongnya. meskipun belum sempurna tapi mulai ada juga hasilnya.


Sukma Tertawa benar- benar berada dalam puncak kemarahannya hingga terlupa untuk mengumbar tawa bergelak yang menjadi ciri dan senjata mautnya. mungkin selama hidup baru pertama kali ini dia tidak sempat untuk tertawa. kedua kepalan tangannya bersiap menjotos ke depan, segulung angin tenaga kesaktian yang disertai cahaya sinar hijau dan suara menguntur mulai menyelimuti kedua lengannya.


''Awas anak muda., dia hendak keluarkan ilmu pukulan 'Geledek Hijau Tinju Tertawa.!'' tanpa sadar Ki Wedhus Jenggot Putih berseru memberi peringatan.


''Huh., apa bedanya, toh si pincang ini pasti mati di tanganku, Ha., ha., mampuslah kau.!'' bentak si Sukma Tertawa. kali ini dia tidak lupa mengiringi gelak tawanya saat tinjunya menghantam si pincang penyakitan. hanya saja suara tawanya terdengar kaku karena bercampur dengan kegusaran di hatinya.


Namun sesaat saja dia hendak menghantam, tiba- tiba saja si pincang malah bergerak maju sambil tangan kanannya sekelebat mengacungkan sebuah benda sebesar telur ayam berwarna kebiruan. benda biru aneh itu hanya selintas saja di perlihatkan, karena keburu kembali masuk ke dalam saku baju si pemuda. semua orang di sana sama- sama keluarkan suara terkejut seakan mengenali benda yang ada ditangan si pincang.


''Haa., ha., kita bisa saja bertarung, kau juga mungkin yang bakal jadi pemenang, sedang diriku tergeletak menjadi bangkai..''


''Tapi jika itu terjadi jangan harap kau bisa mendapatkan batu sakti 'Nirmala Biru' untuk selamanya. karena hanya diriku yang tahu di mana batu sakti itu berada.!'' ujar Pranacitra sambil sungingkan seringai licik.


Baik Dewi Bintang Hitam, muridnya Retno Item juga Ki Wedhus Jenggot Putih sama saling pandang, dalam hatinya mereka membatin ''Alangkah gobloknya pemuda ini., bukankah yang barusan kau perlihatkan pada kami adalah batu sakti Nirmala Biru yang menjadi rebutan para tokoh silat termasuk juga kami dan si bangsat Sukma Tertawa.?''


''Haa., ha., kau sangat lucu bocah pincang. Eeh., tapi bukan cuma lucu, melainkan lucu, dungu dan menyedihkan. bukankah yang kau perlihatkan barusan adalah batu sakti Nirmala Biru., jadi kalau kau mati sekarang, dengan sendirinya batu itu berpindah ke tanganku. Hak., ha., !'' sahut si Sukma Tertawa. dia tidak pernah menyangka ada pemuda sebodoh ini di dunia.

__ADS_1


Pranacitra menunduk., rambut panjangnya tergerai ke depan menutupi raut wajahnya yang pucat. satu senyuman tipis sekilas tersungging di bibirnya. dalam hati pemuda pincang dari gunung Bisma itu membatin. ''Hhmm., lucu dan dungu kau bilang, kita lihat saja nanti siapa sebenarnya di antara kita yang benar- benar menjadi manusia paling tolol dan menyedihkan..''


__ADS_2