
Dalam hidupnya semenjak masih anak- anak hingga dewasa, Pranacitra sudah sering kali mendengar ada bermacam ilmu kesaktian hebat dan juga sihir aneh yang dimiliki orang- orang dunia persilatan. ada ilmu kebal senjata, ilmu untuk menghilangkan ingatan orang lalu menjadikannya budak, bahkan sampai memasukkan roh jahat ke dalam tubuh mayat supaya bisa bangkit kembali dari kematian, hingga ilmu yang mampu menyambung kembali anggota tubuh yang terpotong, juga ilmu menyamar dan merubah wajah. tapi menyaksikannya sendiri kejadian itu baru pertama kali ini dia alami.
Seraut wajah buruk rupa mirip celeng hutan yang berada diatas sesosok tubuh wanita semampai membuat Pranacitra merasakan hatinya bergidik seram. tapi di sisi lain entah kenapa dia juga menaruh simpati dan sedih melihatnya.
''Kau adalah orang pertama yang tahu wajahku. apa kau takut., seram bukan.?'' tanya perempuan itu. saat awal bicara suaranya cukup merdu tapi pada akhir kata terdengar menggeram. Pranacitra terbatuk lalu menyeka darah keluar dari mulutnya. dia belum mampu bangkit, lukanya cukup parah.
''Wajahmu selain jelek juga menakutkan seperti babi hutan. tapi., aku justru merasa kasihan denganmu..''
''Bagi seorang wanita raut wajah adalah salah satu yang paling diperhatikan. memiliki tubuh bagus namun berkepala celeng pasti membuat perasaanmu selalu di selimuti rasa duka, dendam kemarahan dan sangat rendah diri..''
''Biarpun kau dapat merubah raut wajahmu menjadi secantik apapun yang kau inginkan, tapi tetap saja itu cuma sementara dan bukan muka aslimu.!'' ujar Pranacitra sambil melihat wanita yang wajahnya mirip babi hutan itu. sepintas si pemuda teringat pada Ki Wedhus Jenggot Putih yang mukanya persis seekor kambing.
Perasaan wanita itu seakan baru di hantam palu dia tersentak dan mundur terhuyung. sepasang matanya merah menyorot buas menyiratkan kebencian dan bara dendam kesumat. ucapan si pincang telah mengorek luka lama yang terpendam di hatinya. sekali tangannya berkelebat, leher Pranacitra sudah berada di dalam cengkeramannya.
''Sekali lagi mulutmu berani berkoar, akan kupatahkan lehermu.!'' ancamnya sambil mengemplang kedua pipi Pranacitra pulang balik lalu membantingnya ke dinding goa.
''Hak., ha., biarpun kau membunuhku lalu apa gunanya bagimu., memangnya dengan menghabisiku muka burukmu bisa berubah jadi secantik dewi kahyangan. kalau dirimu ingin berkhayal menjadi seorang putri yang jelita, sebaiknya kau cepat pergi tidur dan bermimpilah..''
''Dasar wanita jelek bermuka celeng., orang lain mungkin takut melihatmu, tapi bagiku dirimu cuma wanita malang, tolol, gila dan menyedihkan. chuih.!'' umpat si pincang lalu meludah bercampur darah. pemuda ini kalau memaki orang memang tidak perduli batasan. apa yang ada dalam pikirannya langsung dia ucapkan tanpa perduli sedang berhadapan dengan siapa.
Perempuan terhenyak, saking marahnya dia sesaat sampai tidak tahu harus berbuat apa. ''Bocah pincang bangsat., mulut busukmu lebih tajam dari pada pisau belati. baik., akan kulihat sampai dimana kekerasan hatimu.!''
''Huhm., memangnya apa yang akan kau lakukan padaku. tubuhku sudah terpendam racun pembeku darah dan jantung, umurku sudah tidak bakalan lama lagi. atau., kau mau menyiksaku, silahkan saja., aku sudah pernah melewati siksaan terkejam seperti di neraka. aku tidak takut mati, diriku sudah berkawan akrab dengan elmaut. Hek., he.!''
''Pertanyaannya adalah jika aku tidak takut mati, apakah dirimu juga tidak khawatir bakalan mampus.?'' Pranacitra menyeringai licik balik bertanya hingga lawannya menjadi terkesiap.
''Bocah jahanam., apa maksud ucapanmu?'' bentak wanita itu geram.
__ADS_1
''Kau telah merebut kalung kantung kulit yang ada di leherku. aku tidak tahu dari mana kau bisa tahu kalau batu sakti Nirmala Biru yang menjadi incaran semua orang berada di dalamnya..''
''Tapi., apakah kau pernah berpikir kalau pada kantung kulit itu sudah aku olesi racun yang tidak berbau juga tidak berwarna. racun jahat yang bekerja lambat memasuki tubuh lewat titik- titik lubang kecil diatas kulitmu.?'' ancam Pranacitra sambil sandarkan tubuh di dinding goa. dia terlihat begitu santai bahkan tertawa mengejek.
Tanpa sadar wanita bermuka buruk itu meraba kalung kulit berisi batu sakti yang berada di balik jubah hitamnya. sempat tersirat kekhawatiran di matanya namun kemudian dia tertawa bergelak ''Haa.,ha., ha., kau ingin tahu bagaimana diriku bisa tahu kalau batu sakti Nirmala Biru itu berada di dalam kalung kulit ini.?''
''Dengar bocah pincang tolol., aku sudah mengikutimu sejak kau berhasil menipu si bodoh Sukma Tertawa dan mempecundangi Nyi Pocong Kabut. jadi jangan kau pikir aku sebodoh mereka.!''
''Lagi pula., kalau memang ada racun dalam kalung kulit ini., bukanlah batu sakti Nirmala Biru yang berada di dalamnya dengan sendirinya akan sanggup memunahkannya..''
''Bocah pincang tolol yang hina., jika kau ingin bermain tipu muslihat jangan pernah sekalipun berani menggunakannya di depan 'Celeng Muka Seribu.!'' maki perempuan itu sambil tendang perut si pincang. pemuda ini meraung gusar bercampur kesakitan. dengan kemarahan meluap dia nekat menyerbu ''Wanita keparat., kembalikan kalungku, kembalikan padaku.!'' teriaknya kalap seakan menyesali semua kegagalan tipu muslihatnya.
Tanpa perduli darah panas yang bergolak di tubuh dan racun yang mulai kambuh hingga terasa sangat menyakitkan. dengan sisa tenaganya dia gunakan ilmu 'Tangan Panjang Penjambret Jiwa' dan jurus 'Pencoleng Mencongkel Pintu Alam Gaib.!'
Biarpun tenaganya rada lemah tapi karena dia menyerang secara mendadak dan penuh kemarahan hasilnya cukup mengejutkan. dua cabikan cakar mampu merobek jubah dibagian dada si muka babi. juga sebuah tendangan sempat mampir pula ke pinggang kiri wanita yang mengaku sebagai 'Celeng Muka Seribu.'
'Bheeet., Shraaart., Dhaaes.!
Dengan kegusaran memuncak wanita buruk rupa ini lipat gandakan serangannya. sekali gebrak puluhan kuku merah beracun seakan bertaburan memenuhi ruangan goa batu. biarpun Pranacitra memiliki ilmu 'Langkah Aneh Mayat Hidup' yang menjadi salah satu jurus pertahanan terbaik dan langka di dunia persilatan, tapi dengan keadaan tubuh lemah terluka parah tetap saja dia cepat kehabisan tenaga.
Dalam keadaan terjepit, dari luar goa batu terdengar suara tawa bergelak. ''Haa., ha., rupanya ada yang bersenang- senang di dalam goa ini., aku juga ingin ikut bermain..'' orang yang bicara belum muncul, tapi ada dua gulung angin keras yang menghantam buyar sambaran kuku Celeng Muka Seribu.
Perempuan itu tersentak, dia mengenali siapa pemilik suara itu. dengan cepat dia kembali memakai kedok kain putihnya yang terjatuh di tanah.
Baru saja kedoknya terpakai dari mulut goa sudah muncul seorang lelaki berjubah kain tebal yang dekil kebesaran dengan potongan rambut panjang sebelah. kedua tangannya yang besar kekar di penuhi bisul kudis. sejak tiba di sana orang ini sudah cengar- cengir dan tertawa sendiri seperti orang edan. biarpun cahaya obor di dinding goa sudah meredup tapi si pendatang masih dapat dia kenali.
''Si Gila Tangan Kudis., Klowor Gombor. mau apa kau datang kemari.?'' damprat Celeng Muka Seribu geram. dalam hatinya wanita ini mengumpat kemunculan anggota kelompok 13 Pembunuh ini. rupanya Klowor Gombor sudah berhasil menghabisi 'Lima Kelelawar Malam' dari 'Serikat Kalong Hitam' yang sempat mengeroyoknya.
__ADS_1
''Manusia tolol selalu menanyakan sesuatu yang bodoh., tentu saja untuk merebut batu Nirmala Biru darimu, sekaligus membuka kedok rahasia dari Celeng Muka Seribu.!'' Klowor Gombor balik menggertak.
''Aa., apa maksudmu, aku tidak mengerti yang kau ucapkan.?'' Celeng Muka Seribu yang tercengang berusaha mengelak.
''Huhm., aku sudah mendengar semua yang yang kau bicarakan dengan bocah pincang penyakitan itu dari luar goa. jadi serahkan batu itu padaku lalu buka kedokmu.!'' dengus si Gila Tangan Kudis maju mengancam, sebaliknya Celeng Muka Seribu tersurut mundur. biarpun wajahnya tertutupi kedok tapi dari sikapnya jelas dia merasa takut berhadapan dengan si pembunuh nomor sebelas dari Kelompok 13 Pembunuh ini.
''Dia., dia telah me., ram., pas ka., kalung., ku yang ber., beri., si batu Nir., Nirmala., Bi., ru..'' seru Pranacitra terputus- putus lalu roboh tertelungkup di lantai goa setelah sempat memuntahkan segumpal dahak bercampur darah. tubuh si pincang sedikit mengejang dan mengerang lantas diam terbujur.
''Pincang sialan.!'' maki Celeng Muka Seribu sambil melesat ke tubuh Prancitra yang sudah tergeletak. sepuluh kuku merahnya menyambar membersit sinar tajam. tapi di tengah jalan tubuh perempuan ini berbalik menghantam Klowor Gombor.!
Biarpun cukup kaget tapi orang gila itu tidak menjadi gugup. dengan menyeringai dingin dia balas hantamkan dua kepalan tangannya menyambut serangan lawan. dalam soal tenaga sakti manusia sinting ini jelas lebih tinggi beberapa tingkat dari musuhnya. dua aliran gelombang tenaga panas bergemuruh menghantam.!
Celeng Muka Seribu bukannya tidak sadar kekuatan lawannya. tapi dia tidak punya pilihan selain menyerang sehebat mungkin. lagi pula baginya serangan ini hanya sebuah pancingan belaka. karena saat dua pukulan lawan menghantam, tubuh langsingnya tiba- tiba jatuh berguling ke bawah. berasamaan kedua tangannya mengibas. dua buah bulatan merah menyambar lalu menghantam dinding goa lantas meletus keras.
Letusan itu di susul dengan semburatnya gulungan asap merah pekat berbau wangi menyengat yang cepat memenuhi ruang goa batu hingga menutupi pandangan. Klowor Gombor mencaci- maki sambil tutupi jalan nafasnya. saat semua berlalu Celeng Muka Seribu sudah lenyap sosoknya. di atas tanah terlihat gumpalan darah merah kehitaman pertanda pukulan sakti si Gila Tangan Kudis masih berhasil melukai lawannya.
''Setan alas.!'' sambil meraung murka orang gila ini berkelebat keluar goa menyusul si Celeng Muka Seribu yang telah kabur.
Dalam goa batu tertinggal Pranacitra sendiri. tubuhnya masih tertelungkup lemas. setelah beberapa saat berlalu tubuh itu mulai bergerak bangun. dengan beringsut dia coba bersandar di dinding goa batu yang berada di sudut paling gelap. keremangan cahaya obor sekejap mampu menerangi wajah pemuda pincang yang pucat.
Biarpun kelelahan tapi dia terlihat tenang dan santai. bahkan ada senyuman sinis yang menghina tersungging di bibirnya. setelah menelan dua butiran obat dan mengatur pernafasannya Pranacitra mengeluarkan sesuatu dari kantung bajunya. sebutir benda bulat sebesar telur ayam yang memancarkan cahaya biru terang dan hawa sangat sejuk terpancar dari batu itu.
Itulah batu sakti Nirmala Biru., saat hendak memasuki mulut goa batu ini si pemuda sempat menghisap hawa sakti yang terkandung di dalam batu sakti pemunah racun itu hingga tiga kali dan lebih dalam. sepintas pikiran berkekebat di kepalanya, dia merasa kalau bayangan perempuan berjubah hitam itu seperti sengaja memancingnya, biarpun belum yakin betul tapi Pranacitra memilih menukar batu Nirmala Biru asli yang berada dalam kantung kulit dan terkalung di lehernya dengan batu Nirmala Biru palsu yang ada di kantung bajunya. itu adalah batu palsu terakhir dan yang paling mirip dengan aslinya, bahkan juga bisa memancarkan sinar kebiruan. si 'Malaikat Copet' yang membekalinya.
Pranacitra terkekeh pelan, entah dia sedang menertawakan siapa. kesusahan serta keberuntungan datang dan pergi dalam hidupnya. ''Hhm., semua orang persilatan itu patut di kasihani karena dungu. mereka beranggapan kalau berniat masuk 'Lembah Seribu Racun' harus dapat melewati Tebing Kematian' hingga banyak yang mencoba mendakinya dan mati karena tidak tahan hawa beracun yang turun dari atas tebing atau terbunuh oleh para pesaingnya..''
''Sayang mereka lupa sesuatu., kata melewati Tebing Kematian bukan berarti harus selalu mendakinya. ibarat kata orang melewati sungai bisa dengan berenang, menaiki rakit atau perahu, juga bisa dengan melompatinya jika dia memang mampu..'' batin Pranacitra geleng- geleng kepala. matanya mengamati sekeliling goa seakan ingin memastikan sesuatu yang terpendam di dalam otaknya.
__ADS_1
Dalam peta rahasia jalan masuk Lembah Seribu Racun berada di sebuah cerukan goa batu yang terdapat agak jauh di sisi luar Tebing Kematian. mulut goa itu sempit dan tersembunyi di antara tonjolan batu karang.
Pranacitra menghela nafas bangkit berdiri. meskipun goa dimana dia berada terlihat buntu, tapi si pincang sangat yakin kalau goa inilah yang di maksudkan dalam peta rahasia Lembah Seribu Racun.!