
Saat pertama kali Pranacitra membuka matanya yang dia sadari adalah dirinya sedang terbaring diatas balai kayu jati yang ada di dalam sebuah ruangan berdinding papan kayu. dirasakan sekujur tubuhnya lemah dan sangat sakit terutama di bagian punggung dan kaki kirinya.
Yang terakhir dia ingat adalah pertarungan dengan Pengemis Gigi Gompal bersama anak buahnya dari perkumpulan pengemis 'Kelabang Ireng' yang terjadi di perbatasan pedukuhan Punggingan.
Teringat akan kejadian itu dalam pikirannya terbayang sosok Ki Ludiro si Jari Cepat yang telah tewas karena menyelamatkannya. hati pemuda ini terasa sedih dan menyesal. tapi dia tidak lagi mau menangis karena dia sadar tidak bakal bisa merubah semuanya.
Pemuda itu menarik nafas panjang untuk mengurangi rasa sesak yang menggumpal di dadanya. ''Hhm., paling tidak aku sudah bisa menuntut balas kematian Ki Ludiro kepada gerombolan pengemis Kelabang Ireng itu..'' batin Pranacitra mencoba menghibur dirinya.
Bola matanya berputar mencoba melihat sekelilingnya. kembali dia mencoba bangkit tapi hanya ada kesakitan yang makin terasa hampir di sekujur tubuhnya setiap kali dia menggerakkan tubuhnya. akhirnya dia cuma bisa pasrah terbaring di atas ranjang kayu.
Saat pasrah justru pikirannya mulai tenang, otaknya bekerja cepat untuk menemukan sesuatu yang bisa dia kerjakan di saat lemah seperti ini. baru dia menyadari kalau seluruh ruangan terasa di selimuti asap tipis berbau wangi kemenyan yang terselip juga aroma obat dan rempah tumbuhan.
Pranacitra teringat pelajaran mengolah tenaga dalam yang pernah dia dengar dari Ki Rangga Wesi Bledek saat sang guru sedang memberikan pelajaran pada para muridnya. dalam keadaan biasa seharusnya ilmu pernafasan tenga sakti itu harus dilakukan dengan duduk bersila. tapi karena keadaan yang tidak memungkinkan pemuda pincang itu mencoba untuk mulai bersemedi dalam keadaan terbaring.
Pernafasannya yang semula lemah, berat dan sesak berangsur membaik, aliran jalan darahnya juga lebih lancar. Pranacitra tidak pernah mengira kalau cara bersemedi mengatur pernafasan dan aliran darah seperti ini bukannya gampang dikerjakan, tapi anehnya dia merasa tidak menemui kesulitan dalam melakukannya.
Dari balik pembatas dinding kayu ada sepasang mata tua terlihat mengamati setiap kejadian yang berlangsung didalam ruangan itu. mulut peot yang punya mata tua seakan tidak pernah berhenti menghisap pipa cangklong besi yang berada di tangannya. asap dari pipa cangklong itu berbau kemenyan dan rempah obat. rupanya asap inilah yang telah memenuhi udara di dalam ruangan kayu dimana Pranacitra terbaring sekaligus asap pengobatan bagi si pemuda. maka tidaklah heran jika jalan pernafasan dan aliran darahnya menjadi semakin baik.
Waktu sepenanak nasi sudah terlewati, saat Pranacitra membuka mata terasa tubuhnya sudah lebih baik. meskipun belum mampu untuk bangkit dari pembaringan tapi dia sudah mampu menggerakkan tangan dan memutar kepalanya untuk memandang sekeliling. entah sejak kapan di dalam ruangan itu sudah bertambah seseorang.
__ADS_1
Orang itu usianya mungkin sudah mendekati tujuh puluh tahunan. dia duduk bersandar di atas kursi kayu jati berukiran burung elang dan ular yang sedang bertarung. di depannya ada sebuah meja antik segi enam berwarna hitam. dua buah kendi arak dan semangkuk kacang goreng tersaji di atas meja itu.
Orang tua berblangkon hitam yang seakan tidak pernah lepas dari pipa cangklong besi di bibir peotnya nampak mengamati tubuh si pemuda dengan pandangan tajam, membuat Pranacitra merasa risih dan waspada.
''Agaknya keadaanmu sudah mulai pulih., katakan padaku siapa dirimu dan bagaimana kau kenal dengan Ludiro.?''
''Sia., siapakah kau orang tua, sekarang ini aku sedang berada di mana dan bagaimana diriku bisa ada di tempat ini.?'' tanya si pemuda terbata. diluar dugaan orang tua yang bukan lain si Malaikat Copet itu marah menghardik.
''Sontoloyo., bocah kurang ajar tidak tahu adat. saat ditanya bukannya menjawab tapi malah balik bertanya. cepat kau jawab saja pertanyaanku.!''
''Harap maafmu kakek tua., tapi aku tidak tahu berada dimana dan sedang berhadapan dengan siapa sekarang ini. jadi kurasa wajar jika diriku perlu berhati- hati..'' ujar si pemuda setengah membantah.
''Dengar., diriku biasa dipanggil sebagai 'Malaikat Copet', ketua perkumpulan 'Maling Kilat' yang juga tempat Ludiro si Jari Cepat bernaung. aku juga yang telah membawa dan mengobati lukamu. tempat ini adalah markas perkumpulan yang kupimpin. sekarang semuanya sudah jelas bagimu. gantian kau jawab pertanyaanku tadi.!''
Pranacitra langsung terkesiap dan berusaha bangun untuk menghormat. tapi baru saja mengangkat separauh tubuhnya, dia sudah kembali terkapar. ''Ma., maafkan aku yang rendah dan bodoh ini ketua, karena telah berlaku tidak sopan di depanmu..''
''Hhmm., tahu sopan santun juga kau ini rupanya bocah pincang, tetap berbaring saja di tempatmu. sekarang ceritakan semuanya mulai dari siapa kau, darimana berasal dan bagaimana sampai dapat bertemu dengan anak buahku Ludiro.?''
Pranacitra termenung, karena sebenarnya bercerita tentang dirinya hanya akan membuat luka di hatinya terkorek kembali. dengan perlahan si pincang ini mulai bertutur tentang semua yang dia alami. tentu saja bagian peta Lembah Seribu Racun dan juga gulungan kulit berisi petunjuk ramuan obat peningkat tenaga dalam dan panca indera tidak dia ceritakan.
__ADS_1
Seperti juga peta rahasia Lembah Seribu Racun, Pranacitra juga melakukan hal yang sama dengan petunjuk ramuan peningkat tenaga dalam dan panca indera. dia lebih memilih menghafalkann isinya dari pada membawanya karena bisa mungundang bahaya bagi dirinya. sedang lembaran kulit berisi petunjuk ramuan itu dia simpan di tempat tersembunyi berdekatan dengan makam lima kepala bayi yang menjadi tumbal ilmu hitam Iblis Picak Buntelan Kuning.
Malaikat Copet seakan terpukau mendengar semua cerita pemuda pincang itu sampai terdiam sesaat lamanya. ''Biarpun bocah pincang ini bukanlah orang yang suka bicara dusta., tapi semua yang dia ceritakan padaku memang terdengar rada tidak masuk akal..''
Pranacitra seakan paham dengan yang ada di pikiran orang tua itu. ''Ketua Malaikat Copet., mungkin dalam hatimu merasa kurang percaya dengan apa yang telah kukatakan, tapi aku berani bersumpah demi apapun bahwa semua perkataanku benar adanya..''
''Hhm., kau bicara benar atau dusta itu bisa di buktikan nanti. sekarang ini barang yang di simpan Ludiro berada di mana.?'' tanya orang tua itu dengan pandangan tajam menusuk.
Pemuda itu sesaat ragu untuk menjawab, tapi akhirnya dia katakan juga ''Ki Ludiro bilang barang itu dia simpan di bawah jembatan kecil yang ada di utara pedukuhan Punggingan..''
Malaikat Copet mengangguk seakan merasa lega. dari balik pakaian hitamnya yang mahal dia keluarkan sebuah batu sebesar telur ayam yang memancarkan cahaya kebiruan.
''Sebenarnya barang itu sudah kami ambil lebih dulu. aku bertanya hanya karena ingin mengujimu. benda inilah yang menjadi incaran dari perkumpulan pengemis Kelabang Ireng..'' terang Malaikat Copet sambil dekatkan batu bulat yang bersinar biru terang dan menyebarkan bau harum dan hawa sejuk itu pada Pranacitra yang masih terbaring lemah. saat batu itu berada di dekatnya terasa oleh si pemuda sliran darah dan keadaan tubuhnya menjadi jauh lebih nyaman pertanda batu itu punya kesaktian yang luar biasa.
''Batu ini bernama 'Nirmala Biru'., sebuah batu sakti yang dapat memusnahkan hampir segala macam racun yang ada di bumi ini..''
''Perkumpulan pengemis Kelabang Ireng sangat menginginkan batu sakti ini karena mereka ingin menggunakannya saat memasuki sebuah tempat terlarang di rimba persilatan yang di penuhi hawa beracun..'' tutur Malaikat Copet sambil menyimpan kembali batu sakti bernama Nirmala Biru itu ke balik bajunya.
Seketika Pranacitra teringat sesuatu. ''Maaf ketua., tempat terlarang di dunia persilatan yang penuh racun itu., apa., apakah yang di sebut sebagai 'Lembah Seribu Racun.?''
__ADS_1
''Kumohon ketua sudi mengatakan di mana letak sesungguhnya dari Lembah Seribu Racun itu padaku..'' desak Pranacitra hingga membuat Malaikat Copet tidak dapat tutupi keheranannya. ''Sebenarnya apa yang ada dalam pikiran bocah pincang ini, sampai dia ingin tahu tentang Lembah Seribu Racun.?''