
Masih dalam keadaan tersungkur dengan puluhan luka di tubuhnya, Pranacitra sesaat pejamkan kedua matanya. batu Nirmala Biru yang berada di dalam ikatan kain penutup hidung dan mulutnya di hisap sedalam mungkin hingga berulang kali. mulutnya sudah berhenti bersiul sebagai gantinya dengan keadaan tubuh tertelungkup dia mencoba mengatur tenaga dalam dan pernafasannya.
Saat kedua mata terbuka terlihat kilatan cahaya penuh semangat hidup. merangkak dan terus maju ke depan, hanya itu saja pikiran yang ada di kepalanya. meskipun saat bergerak sekujur tubuhnya terutama kepala dan kakinya yang cacat terasa sangat sakit tapi dia terus merangkak dan merayap maju.
Pranacitra tidak tahu kilatan cahaya terang yang di lihatnya itu masih sejauh apa dan berasal dari mana. dia cuma secepatnya ingin sampai di ujung lorong tanpa perduli apa yang sedang menunggunya di depan sana. kebulatan tekat yang di selubungi api dendam kesumat membuatnya pantang untuk menyerah.
Jika orang sudah bertekat bulat tanpa perduli hidup dan mati, biasanya seluruh tenaga dan kekuatan yang terpendam dari tubuh seorang manusia akan tercurah keluar hingga kadang mampu melakukan sesuatu yang di luar kewajaran.
Semakin dia mendekati titik cahaya terang yang berada di ujung lorong semakin berkurang kabut dingin dan hawa busuk yang terpancar. Pranacitra tidak tshu sudah berapa lama dia merangkak bahkan merayap juga tidak paham waktu di dunia luar sudah terang pagi atau masih gelap.
Jarak sepuluh tombak di depan sana dia melihat ujung lorong yang berupa mulut goa batu. sinar terang yang membias dari luar hanya bisa menerangi sebagian lantai di dekat ujung lorong goa.
''Akhirnya., itu pasti jalan keluar..'' batin si pemuda bersorak. tapi jarak yang lumayan dekat itu cuma bisa dia lalui separuh saja. tubuhnya mendadak mengejang kesakitan karena sudah sampai pada batas akhir kekuatan tenaganya. ''Brengsek., bedebah.!'' umpat Pranacitra menyesali diri lalu roboh tersungkur di lantai lorong yang kotor dan lembab.
Perjuangan yang penuh dengan penderitaan pada akhirnya cuma berujung mengenaskan. tubuh ringkih si pemuda pincang terbujur diam penuh luka seakan seonggok sampah yang tidak berarti.
Entah berapa lama dia terbaring diatas sebuah lempengan batu pipih yang sangat dingin. mata pemuda ini perlahan berputar mengitari ruangan. saat ingin menggerakkan tubuhnya dia menjerit keras. seluruh tulang persendiannya terasa sangat kesakitan. anehnya bukan hanya raganya yang tidak mampu dia gerakkan, bahkan suara teriakan kesakitannya cuma sampai di tenggorokan saja tanpa bisa terdengar keluar.
Saat itu hidunggnya mengendus bahu rempah obat yang busuk dan memuakkan. baru dia sadar kalau tubuhnya yang telanjang bulat di tutupi oleh bubuk dan cairan obat yang tebal hingga menyerupai lumpur.
Mata pemuda itu berputar liar berusaha untuk dapat memandang sekelilingnya, sayang dia hanya bisa memandang bagian atas ruangan batu dimana sekarang ini dia berada. belum lagi suasana cukup remang menyeramkan karena hanya di terangi sebuah obor batu yang tertancap di dinding ruangan sebelah kiri. untuk sekedar tahu soal obor batu itu Pranacitra harus paksakan bola mata dan kepalanya berputar ke kiri hingga terasa sangat menyakitkan.
Tiba- tiba saja sekujur tubuhnya yang ditutupi ramuan obat terasa hangat terus meningkat menjadi panas. rasa panas yang merasuk hingga ke tulang seakan membuat tubuhnya mendidih. pemuda ini berteriak kesakitan tapi suara jeritannya cuma sampai di tenggorokan. jalan suaranya tertotok bisu.!
Saat berada di puncak rasa panas dan kesakitan, mendadak terjadi perubahan pada tubuhnya. rasa kepanasan berangsung turun, mulai berubah menjadi hangat, terus terasa sejuk seperti biasa. tapi perubahan ini masih berlangsung. tubuhnya mulai kedinginan dan membeku. bahkan rasanya jauh lebih dingin fan menyakitkan dari pada saat 'Setan Arit Robeng' menyiksanya. jika waktu itu dia masih bisa bergulingan untuk menahan siksaan, sekarang tubuhnya hanya bisa terbaring tanpa dapat berbuat apapun.
__ADS_1
Hawa panas yang membuat darah terasa mendidih dan rasa dingin yang membekukan tulang bergantian dia alami hingga lebih sepuluh kali. Pranacitra yang selama ini selalu pantang menyerah dalam menghadapi kesulitan sampai ingin bunuh diri saking tidak tahan dengan segala rasa sakit yang sekarang di alaminya.
Yang semakin membuat hatinya merasa marah dipenuhi kebencian, Pranacitra sama sekali tidak tahu siapa yang telah melakukan semua ini padanya. juga kenapa dia mesti menerima siksaan seberat ini.
''Hek., he., bocah ceking yang cacat ini kuat juga, menurut perkiraanku paling dalam dua kali pergantian panas dingin bocah ini pasti sudah mati..''
''Huhm., kalau dia bisa bertahan hidup lalu apa gunanya buat kita. paling banter bocah itu hanya akan kau jadikan bahan permainan ilmu racunmu..''
Dua orang terdengar saling bertanya jawab, meskipun Pranacitra tidak dapat melihat siapa orangnya tapi dari suaranya bisa di pastikan kalau mereka adalah dua orang kakek dan nenek tua. dengan memaksakan diri Pranacitra menolehkan kepalanya.
Sekarang di samping kanannya telah berdiri dua orang tua aneh. satu orang kakek tua berumur lebih tujuh puluh tahun. muka pucat keriput dengan rambut putih riap- riap sebahu. sepasang matanya yang cekung terlihat menyorot tajam dan sadis. tubuhnya yang kurus memakai sebuah jubah putih usang dan penuh tambalan.
Satu keanehan terlihat di kedua tangannya yang hanya tinggal kulit pembungkus tulang. meskipun kulit di bagian tubuh lainnya putih pucat tapi kedua tangan mulai siku hingga telapak tangannya justru berwarna merah seperti darah. saat orang yang berpakaian seperti seorang pengemis tua ini masih berkeliaran di dunia persilatan dua puluhan tahun silam, hampir semua tokoh silat yang bertemu dengannya bakal memilih kabur dari pada berurusan dengan pengemis tua yang terkenal kejam ini. karena 'Pengemis Tapak Darah' adalah salah satu nama paling angker dari golongan hitam yang sangat di takuti kaum persilatan.
Berdiri agak di depan si pengemis tua itu, ada sesosok nenek renta berkulit gelap dan berjubah hitam. rambutnya yang sebagian memutih tergelung diatas kepala dan berhias dua buah tusuk kundai berkepala tengkorak yang terbuat dari perak. nenek ini berdiri rada terbungkuk sambil kedua tangannya memegang sebuah tongkat besi hitam sepanjang setengah tombak yang pada gagangnya terukir sebuah tengkorak yang juga terbuat dari perak.
Hal ini bisa di maklumi karena perempuan tua ini sesungguhnya adalah seorang tabib sakti sekaligus ahli racun. dulu semasa si nenek masih malang melintang di rimba persilatan. konon kabarnya dalam jarak belasan tombak nenek ini sudah sanggup menghabisi nyawa puluhan pendekar hebat sekaligus dengan ilmu racunnya yang tidak berasa dan berwarna. sebaliknya di lain cerita dia juga mampu menyembuhkan belasan orang yang sedang sekarat karena keracunan hanya dengan mengebutkan kedua lengan jubahnya.!
Terakhir kali perempuan tua muncul di dunia kependekaran dua puluhan tahun lalu, sebelum lenyap nyaris bersamaan dengan Pengemis Tapak Darah. meskipun tidak sekejam si pengemis tua tapi julukan 'Nenek Tabib Bertongkat Maut' juga pasti sanggup membuat runtuh nyali para pendekar kelas atas sekalipun.
''Sudah belasan tahun lamanya tidak ada orang luar yang mampu menembus kabut busuk beracun di 'Tebing Kematian.' bocah pincang ini lumayan mujur bisa sampai kemari, meskipun dia melewati jalan rahasia yang sudah lama tertutup dan bukannya mendaki Tebing Kematian seperti orang lain..'' satu suara bengis dan berat seperti gemuruh guntur menyahuti kedua kakek nenek itu.
Di samping kiri si pincang mendadak sudah berdiri seorang lelaki tua tinggi besar dan berambut gimbal awut- awutan. dia memakai sebuah jubah hitam dengan lukisan seekor naga berwarna emas sedang melingkari rembulan. karena tubuh orang tinggi besar ini berdiri membelakangi obor batu membuat ruangan menjadi lebih gelap hingga raut muka manusia ini tidak bisa terlihat jelas.
Walaupun demikian asalkan orang persilatan ada yang melihat lukisan naga dan rembulan berwarna keemasan di atas jubah bagian dada orang ini, sudah cukup bagi mereka untuk mengetahui siapa adanya manusia ini, karena naga dan rembulan emas itu adalah tanda pengenal dari si 'Iblis Naga Rembulan' satu tokoh silat golongan hitam yang punya nama besar dan sudah menggoncangkan rimba persilatan belasan tahun lalu.
__ADS_1
Bicara soal orang ini, dia merupakan momok menakutkan bagi kelompok perguruan silat baik yang beraliran putih maupun hitam. dulu orang ini adalah seorang ketua dari suatu perguruan silat kecil yang ada di tanah Andalas. suatu ketika perguruan silatnya di hancurkan oleh perguruan silat lain yang lebih besar dan kuat hanya karena tidak terima salah satu murid mereka kalah dalam suatu pertandingan persahabatan. orang itu lalu meminta bantuan kepada beberapa perguruan silat aliran putih yang ternama, tapi tidak satupun yang sudi membantunya.
Dalam kemarahannya orang ini mencaci maki semua perguruan silat aliran putih itu dan bersumpah kelak akan menghancurkan semua perguruan silat yang enggan membantunya. karena geram para ketua perguruan silat itu langsung menghabisinya lantas tubuhnya di buang ke dalam jurang.
Tetapi orang ini bukan saja masih dapat bertahan hidup, bahkan keberuntungan besar malah menghampirinya karena di dalam jurang itulah dia menemukan sebuah kitab ilmu kesaktian tingkat tinggi yang jarang ada tandingannya. beberapa tahun kemudian bekas ketua perguruan silat ini kembali muncul dan langsung mengobrak- abrik semua perguruan silat yang dulu pernah menganiayanya.
Tidak berhenti di situ saja, hanya dalam beberapa bulan sudah lebih dari lima puluh padepokan silat baik dari aliran putih maupun hitam yang dia hancurkan. ketua setiap perguruan di tantang bertarung. jika mengaku kalah dia beserta semua muridnya selamat tapi harus membubarkan dan menutup perguruan silat itu selamanya.
Sebaliknya bagi yang berani melawan, tidak ada kata ampun. semuanya di sapu habis tanpa sisa. karena kejadian itu beberapa perguruan silat yang ketakutan buru- buru membubarkan diri dan menutup pintu padepokan silatnya sendiri.
''Hik., hik., rupanya ada barang mainan baru di sini. Eeh., tidak kusangka dia masih bocah dan sepertinya sudah mendekati ajalnya..''
''Tabib tua., dari mana kau dapatkan barang antik ini hah.?'' tanya seorang lagi yang baru datang dan berdiri di sebelah kanan si tunggi besar. dari suaranya msnusia ini adalah seorang perempuan yang sudah agak tua.
Biarpun tidak dapat melihat dengan jelas tapi Pranacitra bisa mengetahui kalau yang punya suara adalah seorang bertubuh kecil bungkuk dan rada pendek. rambutnya yang panjang terkuncir ekor kuda, kedua matanya yang besar membersitkan cahaya tajam menakutkan. sepasang lengannya yang panjang kurus menjuntai hampir menyentuh tanah mempunyai sepuluh buah cakar tajam dan berbulu melengkung seperti cakar burung buas.
Dalam dunia persilatan nenek bungkuk bertubuh kecil ini juga bukan manusia sembarangan, dengan ilmu meringankan tubuhnya yang sangat tinggi dan keganasan sepasang cakar mautnya dia pernah membunuh tiga orang tokoh silat istana Majapahit dan puluhan prajurit tangguh di dalam keraton. gilanya pembunuhan itu konon dilakukan di tengah keraton dalam istana sang raja sendiri.!
Sejak kejadian yang menggegerkan itu nama 'Burung Hantu Bungkuk Pencabut Nyawa' langsung mencuat dalam rimba persilatan. karena merasa sangat malu dan dendam, pihak istana membuat sayembara untuk membunuh si Burung Hantu. tapi orang ini selalu saja lolos bahkan balik menghabisi para pemburunya.
Empat orang tokoh jahat kawakan ini masih saling berbicara tentang si pemuda pincang yang terbaring diatas batu pipih itu, hingga ada seorang lagi yang muncul di sana. kini rasa panas dan dingin yang menyiksa tubuhnya sudah berhenti. bersamaan di depan Pranacitra sudah berdiri seorang tua tinggi kurus rada bungkuk, berjubah kumal kelabu dengan muka dingin seram tanpa perasan. saat rambut putih panjang yang menutupi wajahnya tersibak, terlihat sepasang rongga matanya yang cekung dan gelap menyorot angker seakan membawa hawa kematian.
Keempat orang lainnya seketika terdiam melihat kehadiran orang tua itu seakan ada rasa segan di hati mereka. ini bisa di maklumi karena siapa juga yang berani bersikap sembarangan di hadapan orang tua yang pernah menghina ketua partai Gapura Iblis sekaligus menghabisi tiga orang utusannya. di dalam dunia persilatan siapa lagi tokoh silat yang punya sifat begitu sombongnya selain si 'Setan Kuburan.!'
Setan Kuburan, Pengemis Tapak Darah, Iblis Naga Rembulan, Nenek Tabib Bertongkat Maut serta Burung Hantu Bungkuk Pencabut Nyawa. lima tokoh silat kawakan dari aliran hitam yang pernah menjungkir balikkan dunia persilatan sekaligus membawa mimpi buruk bagi para pendekar sekarang sudah berkumpul di ruangan goa batu ini. jika dalam kehidupan jaman sekarang mungkin kelima orang ini layak di sebut sebagai 'Monster.!'
__ADS_1
*****
Ini mungkin chapter terpanjang yang pernah kami buat di novel ini. maaf jika kurang berkenan. mohon koment, kritik dan sarannya. juga like 👍 atau vote jika anda suka. tetap selalu menjaga kesehatan anda sekeluarga. Terima kasih🙏, Wasalam.