Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Menyiksa diri. (bag1)


__ADS_3

Malam itu dilewati Pranacitra dengan cara bersemedi mengatur pernafasan dan aliran tenaga dalam serta jalan darahnya. untuk memulai sesuatu yang sangat menentukan bagi keberhasilannya dimasa depan, pemuda itu perlu membuat persiapan sebaik mungkin agar tidak terjadi kesalahan yang dapat membawanya pada kegagalan.


Saat dia membuka kedua matanya, suasana di luar mulut goa yang ada di depan sana terlihat lebih jelas meskipun hanya sedikit saja cahaya mentari yang bisa melewati deretan tebing- tebing tinggi di 'Lembah Seribu Racun' itu. kegelapan di luar goa telah berangsur sirnah pertanda pagi hari telah tiba.


Pranacitra bangkit berdiri lalu berjalan ke satu arah. dalam lorong goa itu terdapat beberapa cabang dan ruangan. baik yang ada secara alami maupun buatan tangan manusia. dulu para gurunya memiliki ruangan sendiri dan saling terpisah. meskipun begitu si pemuda tidak berniat memasuki ruangan goa bekas tempat tinggal mereka melainkan sebuah ruangan luas dan dingin.


Di dalam ruangan itu terdapat sebuah kolam batu yang berkabut dingin. suara tetesan air yang terjatuh dari langit- langit goa ke atas permukaan kolam terdengar beraturan seolah petikan kecapi yang merdu ditelinga. sekejap saja Pranacitra sudah merendam tubuhnya yang telanjang didalam sana. kalau dilihat dari bentuknya ruangan kolam itu sepertinya buatan tangan manusia.


Berendam seperti ini membuat Pranacitra teringat kembali pada masa lalu. setiap kali selesai berlatih keras hingga nyaris mati karena kehabisan tenaga, gurunya selalu melemparkan tubuh si pemuda ke dalam kolam yang berhawa dingin ini lantas ditinggalkan begitu saja seakan dia hanyalah sekarung onggokan sampah.


Anehnya setelah beberapa lama kemudian sekujur tubuhnya yang seolah remuk juga penuh luka berangsur membaik. bahkan tenaganya juga kembali pulih. beberapa waktu kemudian barulah Pranacitra tahu kalau air kolam itu berisikan ramuan obat buatan salah satu gurunya si 'Nenek Tabib Bertongkat Maut' yang bermanfaat untuk memulihkan luka luar dan dalam.


Setelah cukup lama berendam membersihkan dirinya, pemuda itupun beranjak keluar dari tengah kolam air dingin yang kedalamannya cuma sepinggang orang dewasa. sesudah mengeringkan tubuhnya dan berpakaian Pranacitra rasakan aliran darahnya lebih lancar. tubuhnya juga terasa semakin segar juga bersemangat. dengan tatapan yakin dia berkelebat cepat keluar dari ruangan kolam.


Setelah melewati dua jalur lorong yang berlainan, sekarang di hadapannya telah terbentang sebuah mulut goa batu yang sangat gelap. jaraknya dari tempat dia berdiri hanya terpaut sepuluh langkah saja. pemuda ini seperti sengaja menjaga jarak dengan mulut goa gelap yang dari dalamnya seperti mengeluarkan suara mengerung seram.


Bahkan saat sudah menjauh sekalipun dia masih merasakan adanya daya tarikan aneh dan sangat kuat yang seakan menghisap jiwanya untuk memasuki goa batu gelap di depan sana. dia masih tidak dapat melupakan saat hampir tersedot masuk ke dalam goa itu dikarenakan tidak tahan akan godaan yang merasuki jiwanya, jika saja Setan Kuburan tidak keburu mencegahnya.

__ADS_1


Pranacitra tahu kalau dibalik kegelapan goa itu tersimpan timbunan harta juga petunjuk ilmu silat yang sakti mandraguna. namun para gurunya pernah berkata jika semua itu hanyalah sebuah bahan pancingan yang akan menjerumuskan kaum persilatan ke dalam jurang kegilaan bahkan kematian. karenanya kelima gurunya sengaja membuat goa itu selalu gelap gulita dan melarang dia untuk memasukinya.


Perlu ketenangan batin yang sangat kuat untuk dapat bertahan dari desakan gaib jahat yang bersumber dari dalam goa gelap itu. untungnya dengan berbagai pengalaman kehidupan yang telah dilaluinya selama ini membuat kekuatan jiwa Pranacitra menjadi jauh lebih hebat dari orang lain.


Dengan duduk bersila menghadap goa gelap itu, dia seakan hendak sengaja menantang kekuatan jahat yang berada didalamnya. sebuah bungkusan kain putih kumal telah dikeluarkan dari balik bajunya. dengan gaya santai dia membuka bungkusan kain yang tentunya berisi bunga jamur 'Cendawan Ibils' pemberian si 'Kutu dan Benalu'


Sebuah jamur bulat pipih yang memancarkan cahaya merah kehitaman itu dia letakkan diatas telapak tangan kirinya. gelombang daya tarik yang keluar dari goa gelap itu terasa semakin besar bahkan kini juga disertai dengan raungan angin keras, seakan aura jahat yang berada didalam sana menjadi marah dengan adanya jamur Cendawan Iblis.


Pranacitra tidak perdulikan semua itu. segala perhatiannya tercurah pada langkah petunjuk yang sudah diajarkan oleh 'Sepasang Kutu dan Benalu' kepadanya. lebih dulu dia kerahkan tenaga kesaktian dari batu 'Nirmala Biru' yang sudah terlebur di dalam aliran darahnya hingga tubuh pemuda pincang ini seakan di selimuti cahaya sejuk kebiruan.


Sebelumnya dalam setiap pertarungan yang dia alami si pincang ini hanya menambahkan kekuatan batu sakti Nirmala Biru dengan sumber kedigjayaan lainnya yang dia miliki termasuk 'Lubang Nadi Neraka Gelap'. tetapi jika untuk meleburkan semuanya menjadi satu, dia belum pernah melakukannya.


Mungkin perlu sedikit penjelasan perbedaan antara menambah dengan menyatukan. ibarat kata orang hendak membuat suatu masakan enak seorang tukang masak tentunya butuh banyak bahan makanan entah itu daging, telur ditambah bermacam sayuran juga aneka bumbu. tapi jika tidak disatukan dengan cara tertentu, masakan enak yang di inginkan juga tidak akan terwujud.


Masih untung juga dia sudah punya sedikit pengalaman karena berhasil menyatukan dua jenis ilmu pukulan sakti 'Nisan Kuburan Membeku' warisan si Setan Kuburan dengan 'Raungan Naga Kehancuran' ajaran 'Iblis Naga Rembulan' hingga terciptalah ilmu kesaktian baru bernama 'Salju Neraka Membekukan Dunia' yang mampu membuatnya lolos dari kematian saat terjadi pertarungan sengit di lereng gunung Merapi beberapa waktu lalu.


Dengan dasar pengalamannya itu, juga dari petunjuk yang diberikan oleh 'Kutu Bangkotan' dan si 'Benalu Tua' murid lima dedengkot persilatan aliran hitam itu selangkah demi selangkah mulai menyatukan semua jenis aliran kesaktian ditubuhnya. ''Tenaga dari 'Racun Pembeku Darah dan Jantung' yang sudah berhasil kusatukan dengan tenaga sakti pemberian 'Pengemis Sakti Mata Putih' hasil hisapannya dari tubuh si 'Iblis Picak Buntelan Kuning' sekalian kutambahkan sebagai pelindung tubuh bagian dalam..''

__ADS_1


''Yang terakhir., kurasa akan lebih sulit untuk dapat melakukannya. Hhem., tidak ada jalan lain. aku mesti memaksakan diri agar bisa membangkitkan kekuatan terpendam dari 'Lubang Nadi Neraka Gelap'. sebab kalau sampai gagal bukan saja semuanya menjadi sia- sia, nyawakupun juga bakalan amblas.!'' batin Pranacitra.


''Untuk merangsang keluarnya seluruh kekuatan terpendam dari Lubang Nadi Neraka Gelap, dibutuhkan sebuah tumbuhan yang dianggap sangat sakti sekaligus juga paling beracun. salah satu dari segelintir tumbuhan istimewa itu adalah., bunga jamur 'Cendawan Iblis' pemberian kedua sesepuh 'Gapura Iblis' yang sekarang berada di tanganku ini..''


Pranacitra menatap nanar jamur merah kehitaman ditelapak tangan kirinya. sempat ada keraguan yang terlintas di benaknya saat hendak menelan jamur sakti ini. walau bagaimanapun juga tumbuhan ini sangatlah beracun. bahkan Pranacitra mengira andai saja dalam tubuhnya tidak terkandung batu sakti Nirmala Biru yang mampu menangkal racun, mungkin sejak lama dia juga sudah keracunan jamur Cendawan Iblis itu.


Dengan segala usaha pantang menyerah dan disertai kebulatan tekad, seorang manusia yang paling lemah sekalipun juga akan mampu meraih suatu keberhasilan. demikian juga Pranacitra, dengan lebih dulu keluarkan suara dengusan keras dia menelan begitu saja bunga jamur Cendawan Iblis ke dalam mulutnya.!


Mulanya tidak terasa apapun. namun sepuluh waktu tarikan nafas berikutnya. mulai bagian pusarnya terasa sangat panas dan dingin silih berganti. kesakitan itu lalu menyebar ke seluruh tubuhnya. dari kepala hingga ujung jari kaki, bahkan rambutnyapun sampai berjingkrak kaku. lolongan keras tersembur dari mulutnya bersama gumpalan darah dan hawa merah hitam.


Pemuda itu hanya mampu untuk tetap duduk bersila selama beberapa kejapan mata saja karena berikutnya dia mulai bergulingan di lantai goa. sepasang matanya mendelik serasa hendak keluar dari rongganya. kedua lubang hidungnya keluar ingus bercampur asap merah kehitaman. hawa panas dan dingin yang silih berganti membuatnya serasa ingin mati.


Dari lubang- lubang kecil di kulitnya juga keluar darah dan uap berhawa panas yang berseling dingin membeku. sebentar pemuda ini seperti menggigil sekejap kemudian seolah terbakar bara api. cahaya biru dari batu Nirmala Biru yang menyelimuti tubuhnya beberapa kali memudar berganti hawa merah kehitaman seolah dua kekuatan itu sedang saling beradu. kesakitan yang dirasakannya berkali lipat lebih parah dibandingkan saat dia disiksa oleh 'Setan Arit Rombeng' juga kelima gurunya di masa lalu.


..........


Silahkan untik menuliskan komentar Anda, juga like👍, vote👌jika suka. Terima kasih👏.

__ADS_1


__ADS_2