Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Hanya., tiga jurus saja.?


__ADS_3

Mendengar semua yang di katakan oleh pemuda aneh yang berada di hadapannya itu 'Sepasang Cakra Malaikat' meraung penuh kegusaran. selama lebih setahun lamanya dia malang- melintang dalam dunia persilatan, belum ada satu orangpun yang berani bicara keras kepadanya. bahkan tokoh silat angkatan tua seperti Ki Galing Brajapaksi si 'Dewa Naga Langit' juga cukup menghormatinya.


Tapi sekarang di hadapan ribuan orang pesilat yang hadir di pertemuan besar kaum pendekar di lereng gunung Semeru ini, ada seorang pemuda tidak dikenal yang bukan saja berani mendamprat tetapi juga menghinanya. jika dia tidak menghabisi pemuda itu nama besarnya bakalan tercoreng bahkan bisa menjadi bahan tertawaan orang persilatan.


Pemuda berjubah ungu itu baru saja hendak mengumbar kemarahannya saat selarik sinar hitam pekat yang di barengi sebuah kepalan tangan bercahaya emas hitam menyambar ganas kearahnya. suara ledakan guntur dan raungan keras yang menggoncangkan seluruh panggung turut mengiringi. seolah terlihat bayangan seekor naga buas menebarkan hawa yang jauh lebih panas dari bara api.!


Sepasang Cakra Malaikat yang menjadi sasaran dua buah ilmu kesaktian yang datang begitu mendadak langsung gelagapan. wajahnya pucat pias karena seharusnya dialah yang lebih dulu melabrak lawannya. tetapi sekarang jangankan untuk balas menyerang, sekedar mengumpat sumpah serapah saja dia tidak punya kesempatan melakukannya.


Tidak perduli sudah terlambat untuk bertindak, pemuda berjubah ungu melompat mundur secepat yang dia mampu sambil kibaskan kedua tangannya secara bersilangan. senjata cakra kembarnya melesat bagaikan sambaran kilat dengan mengeluarkan suara berdesing keras dan pancaran cahaya perak menyilaukan mata. ''Terimalah jurus 'Sepasang Cakra Malaikat Memisahkan Langit Dan Bumi'., mampuslah kau keparat.!''


Sebuah cakra menyerang bagian bawah, satu lagi menyasar sebelah atas tubuh. putaran cakra juga berlawanan arah membuatnya lebih sulit untuk di tahan. tapi kedua jurus lawannya terus saja melabrak tanpa ampun. maka bentrokan jurus dan senjata sakti seketika terjadi di atas panggung tanpa dapat di cegah.


Bersamaan itu terjadi kegemparan hebat di seluruh panggung. ''Jurus 'Tongkat Hitam Guntur Tunggal.!'' seru beberapa orang geger.


''Pukulan 'Naga Penghancur Rembulan.!'' teriak orang yang lainnya tidak kalah terperanjat. seketika itu juga mereka menyadari siapa adanya pemuda bermuka dingin pucat itu.


''Kau belum layak menempati jajaran atas para pendatang baru rimba persilatan. dasar pecundang bermulut sombong., pergilah ke alam akhirat.!'' sambil berucap pemuda pucat itu terus menggempur tanpa memberikan sedikitpun ruang bagi lawan untuk kembali membalas serangan jurusnya. bahkan mungkin., sekedar bertahanpun juga tidak sempat.


''Aaakh., bajingan keparat, pincang jahanam.!'' hanya jeritan panjang dan makian kotor yang sempat terlontar bersama dengan semburan darah seisi tubuh yang hancur terbelah. bau hangus daging gosong yang terkoyak jatuh berceceran di lantai panggung. semua orang bergidik lutut mereka goyah. beberapa orang terlihat jatuh tersungkur lalu muntah- muntah saking tidak tahan melihat kejadian di atas panggung itu.


Mungkin di ujung ajalnya Sepasang Cakra Malaikat baru menyadari siapa lawannya, hingga sempat terlontar makian 'pincang jahanam' dari mulutnya. seandainya saja dia mau menuruti ucapan si 'Ular Sakti Berpedang Iblis' untuk menyingkir, dia pasti masih hidup. tapi penyesalan selalu saja datang terlambat. hanya tiga jurus saja kalah menang sudah ditetapkan.

__ADS_1


''Han., hanya tiga jurus sa., saja..''


''See., Sepasang Cakra Malaikat. satu diantara sep., sepuluh pendatang baru terkuat rimba persilatan, mat., mati hanya dalam tiga ju., jurus..''


''Taa., tapi bag., bagai., mana mung., mungkin se., semua ini ter., jadi. mem., memang., nya nama besar Sepasang Cakra Malaikat han., hanyalah omong kosong belaka. apakah ini semacam tipuan atau malah cuma lawakan.?"


Bermacam pertanyaan terlontar dari para tokoh silat yang hadir di sana seakan tidak ada habisnya terdengar bersautan. bahkan ada yang berpikir kalau ini bukanlah sebuah kenyataan tapi hanya suatu mimpi buruk yang akan segera berakhir saat mereka terbangun dari tidurnya.


Apakah semuanya bisa terjadi karena pemuda pucat itu yang menyerang terlebih dahulu di saat lawannya belum siap. bisa jadi juga ilmu kesaktian dari Sepasang Cakra Malaikat sebenarnya tidak sehebat yang di gembar- gemborkan orang seperti selama ini terdengar. atau pemuda pucat ini sudah berbuat suatu kelicikan hingga dia mudah mempecundangi lawannya.


Meskipun banyak pertanyaan bercampur yang keraguan muncul, tapi tidak satupun jawaban pasti yang mereka dapatkan. puluhan tokoh persilatan ada yang sudah meraba senjata mereka. beberapa diantaranya bahkan sampai memandang beringas penuh dendam bercampur ngeri pada pemuda itu.


Jika pemuda ini memang benar menjadi pewaris ilmu kesaktian dari lima dedengkot aliran hitam yang ternama dan punya banyak sekali musuh, maka semua itu sudah cukup membuktikan kalau kehebatannya memang suatu kenyataan yang tidak terbantahkan.


Di saat hati semua orang masih di landa rasa seram bercampur kebencian, pemuda itu mulai menggerakkan kakinya. biarpun hanya dua tiga langkah saja dia berjalan namun sudah menunjuk kalau kaki kirinya pincang. anehnya setiap langkahnya seperti membawa hawa kematian di sekitarnya.


Angin dingin kembali berhembus. hati semua orang yang masih di landa kegegeran akibat kematian Sepasang Cakra Malaikat menjadi semakin merinding. beberapa pesilat juga agak penasaran dengan hubungan antara si pincang dan gadis cantik bernama Puji Seruni itu, karena selama ini dia dikenal selalu bergerak sendirian.


''Di lihat dari caranya berjalan yang menyeret seperti seekor cacing, bisa di pastikan kalau pemuda itu memang dia. aku penasaran apa yang akan di lakukan oleh Ki Galing Brajapaksi dan para pesilat lainnya..''


''Kudengar salah satu masalah yang akan di bicarakan pada pertemuan besar ini adalah bagaimana menyingkirkan pemuda yang di juluki sebagai 'Setan Pincang Penyendiri' atau 'Pendekar Pincang Tanpa Perasaan' itu. tidak kusangka dia bahkan berani muncul dan membuat kekacauan di sarang 'Naga Biru..'' terdengar banyak orang mulai berbisik melihat kehadiran si pincang di atas panggung.

__ADS_1


Kain hitam yang menutup pegangan tongkat besi sudah di lepas. ukiran mata tengkorak yang terbuat dari perak seakan menyorot menggidikkan bagi siapapun yang melihatnya. tongkat hitam kepala tengkorak terangkat lurus menunjuk seseorang yang masih duduk di deretan kursi kehormatan yang berada di bawah panggung. orang tua enam puluhan itu terlihat gemetaran.


''Kau., apa benar dirimu inilah Ki Gelung Sanca Amurkala. ketua perguruan silat 'Sanca Belang' dari hulu sungai Cisoka.?'' pertanyaan yang belum sempat terjawab itu sudah kembali bersambung. ''Dua puluh tahun lalu kau dan beberapa kawanmu telah menjebak lima orang pesilat kawakan untuk masuk ke dalam Lembah Seribu Racun hingga mereka terperangkap di sana. sebelum ajalnya mereka berlima memintaku untuk menghabisimu..''


Sepasang mata di balik rambut hitam yang menutupi sebagian wajah pucat itu seakan menyorot lebih tajam. ''Karenanya matilah kau sekarang.!''


Tidak ada lagi tanya jawab yang bertele- tele. seakan pemuda itu cukup memastikan saja siapa sasarannya dan alasan kenapa dia mesti mati. selanjutnya tongkat besi hitam kepala tengkorak yang bicara. tongkat tidak memiliki mulut untuk berkata tapi justru punya kemampuan untuk mencabut nyawa.


Selarik cahaya hitam pekat menyambar berputar menggerus seperti mata sebuah bor. bebarengan muncul bayangan telapak tangan merah yang menebar bau anyir darah. ''Jurus 'Tongkat Maut Pemecah Rembulan'., pukulan sakti 'Tapak Darah Meminta Sedekah.!'' seru semua orang dengan muka berubah hebat.


Ki Gelung Sanca Amurkala meraung gusar. dari ketakutan timbul kenekatan. dua telapak tangannya berputar cepat di depan dadanya lalu menyentak ke depan. dua lapisan hawa hitam berbentuk ular sanca sedang membuka mulutnya berdesis keras menyambut pukulan sakti lawan. belum sampai bertemu namun hempasan tenaga tiga ilmu kesaktian itu sudah membuat deretan kursi kehormatan hancur remuk bermentalan.


''Ajian 'Sanca Kembar Gelung Raga.!'' teriak seseorang yang mengenali aji kesaktian itu. konon siapapun yang terkena ilmu kesaktian ini tubuhnya akan remuk dan hangus.


'Whuuut., Whuuut., Shraaaat.!'


'Blaaaam., blaaaaar.!'


Si pincang pucat keluarkan suara mendengus sambil berjumpalitan ke udara. ilmu pukulan sakti lawan terasa lebih hebat dari yang dia kira. tubuhnya sempat terasa remuk dan terbakar seakan terbelit dua ekor ular besar sebelum dia mampu menyapunya musnah.


Pemuda pincang bernama Pranacitra itu seakan tidak sudi memberi ampun. begitu jejakkan kaki di bawah panggung dia kembali melabrak, tidak perduli dengan lawannya yang baru saja bangkit berdiri dan sempat muntah darah kehitaman akibat terluka dalam cukup parah.

__ADS_1


__ADS_2