
Kalau di lihat sepintas saja tidak ada yang istimewa dari bunga jamur yang bernama 'Cendawan Iblis' itu kecuali ukurannya yang sebesar telapak tangan dan warna merah hitam yang agak mencolok. batang jamur sebesar jempol kaki itu memiliki panjang setengah jengkal dengan warna putih kusam.
Namun jika lebih di perhatikan lebih seksama barulah nampak suatu keanehan dari benda keramat yang menjadi idaman ketua partai 'Gapura Iblis' itu. bunga jamur itu terlihat bergerak- gerak halus seakan bernyawa dan hidup. cahaya merah kehitaman yang samar juga menyelimuti jamur Cendawan Iblis ini.
Kalau ketiga orang lainnya yang berada dalam gubuk kayu itu tidak merasakan adanya suatu keganjilan kecuali bentuk rupa dari jamur itu, tidak demikian dengan Pranacitra. saat dia maju mendekat terasa ada hawa aneh yang hendak merasuki dirinya. sebaliknya kekuatan tenaga dalam dari dalam tubuh si pemuda juga justru terasa mendesak keluar.
Kedua hawa kesaktian dari luar dan dalam tubuhnya seakan ingin bergabung atau bisa juga hendak saling hantam satu dengan yang lainnya. meskipun dalam hatinya merasa penasaran tapi Pranacitra tidak mau terburu nafsu yang dapat mengakibatkan dirinya celaka. dia paham perlu waktu dan pikiran yang tenang untuk mengerti segalanya. dengan perlahan pemuda mundur menjauh.
''Ada apa denganmu bocah pincang. kau tidak menginginkan bunga jamur Cendawan Iblis ini.?'' cibir si 'Benalu Tua' sementara rekannya si 'Kutu Bangkotan' turut menyindir. ''Jangan kau kira mudah untuk bisa mengambil jamur ini. sedikit saja salah bertindak bukan saja kekuatan dari Cendawan Iblis tidak di dapat malah boleh jadi nyawamu yang amblas.!''
Berbeda dengan sikap tenang Pranacitra, si 'Pendekar Harimau Putih' yang berjaga di dekat pintu tidak dapat menahan perasaan herannya hingga malah mendekat. ''Kenapa dengan pemuda ini. tiba- tiba saja dia mundur seolah ada sesuatu yang menakutkan di jamur besar itu. tapi kenapa diriku tidak merasakan keanehan apapun.?'' batinnya terus mengamati jamur di tangan si Benalu Tua.
''Jamur Cendawan Iblis yang di buru ketua Gapura Iblis tentulah bukan tumbuhan sakti sembarangan. asalkan kau tahu saja., saat pertama kali mengambilnya kita berdua mesti kerahkan tenaga kesaktian yang cukup besar agar jangan sampai hawa murni dalam tubuh kami malah tersedot jamur Cendawan Iblis itu..''
''Huhm., untungnya 'Sepasang Kutu dan Benalu' dapat cepat menguasai rahasia dari kekuatan jamur ini. sayang kami berdua tidak memiliki batu sakti 'Nirmala Biru' dan 'Lubang Nadi Neraka Gelap' sepertimu. kalau tidak., pasti jamur Cendawan Iblis sudah kita pakai sendiri..'' ujar si Kutu Bangkotan mendengus. sepintas ada nada kesal dalam ucapannya.
''Dengarkan bocah., untuk dapat sekedar memegangnya kau mesti satukan kekuatan baru Nirmala Biru sekaligus mengeluarkan kekuatan yang selama ini terpendam dalam Lubang Nadi Neraka Gelap. jika mampu melakukannya kau akan dapat menguasai jamur ini dengan waktu yang jauh lebih cepat dari kami berdua..''
__ADS_1
''Untuk sementara, jamur Cendawan Iblis biarkan tetap terbungkus kain kumal ini. kau jangan pernah meremehkan kain kumal pembungkusnya, sebab benda inipun juga bukan barang sembarangan. karena kain itu sebenarnya adalah robekan dari pakaian tuan penolong kami. beliau adalah seorang ahli pembuat senjata sakti yang aneh- aneh..'' terang si Benalu Tua dengan penuh rasa hormat dan kekaguman.
''Kain kumal ini telah di selumbungi dengan hawa kesaktian dari tuan penolong kami. asalkan kau tahu saja bocah, kain bendera hitam lambang partai Gapura Iblis yang kesohor itu dia juga yang pertama kali meramu bahan kainnya hingga tidak mudah robek meskipun di babat senjata tajam..'' kata Benalu Tua sambil membungkus kembali jamur Cendawan Iblis lalu diangsurkan ke tangan Pranacitra.
Pemuda itu menerimanya dengan penuh rasa hormat dan terima kasih yang mendalam. meskipun tidak ada kata apapun terucap dari mulutnya tapi dia tahu betul kekuatan kain bendera hitam lambang partai aliran hitam terkuat itu, karena dulu si pincang ini pernah gagal merobeknya saat masih berdiam di gunung Bisma.
Baik si Benalu Tua maupun Kutu Bangkotan sebenarnya masih hendak berbicara banyak hal dengan pemuda itu namun mendadak saja raut muka keduanya berubah tegang dan bengis penuh hawa kemarahan. ''Ada orang yang datang mendekat. meskipun masih jauh tapi dari gerakannya yang halus dan cepat dapat diduga ilmunya sangat tinggi..'' desis si Kutu.
''Kau cepatlah pergi tinggalkan tempat ini. keluar sekarang juga lewat pintu belakang. terus lurus ke timur menembus belantara. jangan berhenti sebelum bertemu dengan sebuah sungai kecil. bergerak searah dengan arus sungai itu. walaupun jalannya terjal berbatu tapi itulah jalan keluar dari tempat ini..'' timpal si Benalu Tua. tangan kirinya mengibas. tidak terasa ada sambaran angin tenaga tapi di dinding gubuk sudah terbuka sebuah pintu rahasia.
''Kau tetap disini saja, karena kami butuh dirimu.!'' si Kutu Bangkotan tidak cuma bicara tapi juga bergerak cepat mengemplang dan menotok. Pendekar Harimau Putih belum sempat menyadari ucapan salah satu sesepuh partai Gapura Iblis ini, karena tubuh tinggi besarnya sudah terjungkal. sambil mengeluh dia sempat semburkan seteguk darah sebelum roboh terkapar tanpa mampu bangkit.
Meskipun masih mampu untuk mendengar dan sedikit melihat tapi lelaki brewokan ini tidak lagi mampu bicara. satu lirikan tajam dari si Kutu Bangkotan membuatnya terdiam. beberapa saat kemudian dari luar gubuk kayu terdengar langkah belasan orang mendatangi tempat itu.
''Siapapun kalian yang berada di luar gubukku cepatlah menyingkir dan jangan pernah lagi untuk kembali. aku hanya berbaik hati sekali ini saja dengan memberi peringatan, sebab dilain waktu akan kucabut nyawa kalian semua.!'' gertak Kutu Bangkotan dengan suara dialiri tenaga kesaktian tinggi hingga membuat sekeliling tempat itu berguncang.
Meskipun merasa terkesiap kaget dengan ancaman itu namun belasan orang pendatang yang sudah berdiri mengepung gubuk itu tidak menjadi gentar. dengan satu isyarat salah satu pemimpin mereka yang masih cukup muda dan memakai jubah mantel hitam dengan garis- garis merah memberi perintah enam orang bawahannya untuk masuk ke dalam gubuk.
__ADS_1
Cara mereka untuk memasuki gubuk kayu itu juga tidak seperti pada umumnya melalui pintu depan, melainkan langsung menerobos dinding gubuk dari tiga penjuru. pertama mereka lontarkan pukulan tangan kosong bertenaga dalam lumayan kuat untuk menjebol dinding gubuk kayu yang disusul dengan tebasan dan tikaman golok seiring tubuh mereka yang berkelebat masuk ke dalam gubuk.
Hingga beberapa waktu kemudian tidak terdengar suara apapun dari dalam sana. si pemimpin berjubah hitam melirik rekannya yang usianya lebih tua dan memakai jubah ungu gelap serta rambut putihnya dikepang sembilan buah. dengan isyarat mata kedua orang itu segera kerahkan ilmu kesaktian hendak menghantam.
Namun berikutnya dari tiga penjuru dinding gubuk yang jebol terlempar enam sosok tubuh berjubah hitam yang terjatuh tepat selangkah di depan kaki kedua pimpinan itu. belum hilang terkejutnya belasan patahan mata golok melesat berhamburan dari dinding gubuk. karena tidak menyangka bakal di serang balik dua orang pengepung seketika tumbang setelah dahi mereka tertancap lempengan benda tajam. tiga orang lainnya masih sempat menghindar dengan membabatkan goloknya untuk melindungi tubuh.
Biarpun nyawa selamat namun bagian tubuh mereka juga ada yang terluka. dengan geram menahan sakit dan amarah mereka cepat mencabut lempengan besi yang menancap di beberapa bagian tubuh. betapa terkejutnya semua orang saat mendapati kalau itu bukan lain adalah patahan dari golok rekannya sendiri.
Lebih terperanjat sekaligus merasa seram saat mereka melihat raut wajah dari keenam sosok tubuh yang baru terlempar dari dalam gubuk kayu itu. biarpun jelas enam kawannya sudah tidak bernyawa tapi raut wajah mereka justru nampak tersenyum bahkan ada yang seperti sedang tertawa. lebih aneh lagi., tidak terlihat penyebab kematian dari keenam orang itu.
''Bocah- bocah jaman sekarang memang sudah tidak tahu sopan santun. ada pintu masuk di depan gubuk tapi malah memilih bersusah payah menjebol dindingnya.!'' terdengar suara geraman seorang lelaki tua. ''Mereka semua bukan saja goblok tapi juga gendeng. manusia dungu seperti itu lebih baik mampus saja.!'' menyusul makian seorang nenek dari dalam gubuk.
''Sudah di berikan peringatan tapi malah nekat membuat ulah. kalau begitu sekarang juga kami putuskan untuk membunuh kalian semua.!'' geram suara dari dalam gubuk kayu. mendengar ancaman itu tanpa sadar jiwa semua orang yang tersisa di luaran gubuk menjadi merinding.
*****
Mungkin besok malam PTK ada update lagi., Terima kasih. 👏🙏
__ADS_1