
Dengan sepasang matanya yang memerah beringas Pranacitra salurkan tenaga saktinya kedalam tongkat. satu gebrakan tongkat besi hitam kepala tengkorak ditangannya sudah cukup untuk menghajar remuk sebongkahan batu padas sebesar kepala gajah yang berada hanya dua langkah didepannya. batu besar itu seketika hancur luluh dijadikan tempat pelampiasan kemarahan pemuda ini.
Bahkan setelah melakukannya Pranacitra seakan masih dilanda hawa kemarahan dan perlu waktu sedikit lebih lama untuk dapat kembali tenang. 'Pendekar Harimau Putih' yang melihat kejadian cuma diam karena dia sendiri juga merasa sangat geram saat tahu latar belakang perguruan 'Pasir Selatan' itu.
''Gelandangan Hantu., diriku paham dengan apa yang kau rasakan sekarang ini karena akupun juga sempat merasakannya saat tahu apa yang sebenarnya terjadi selama ini dalam perguruan aliran putih itu. tapi kau tidak boleh terbawa perasaan marah karena bisa mempengaruhi pikiranmu dalam bertindak..'' ujar Pendekar Harimau Putih memperingatkan.
Pemuda pincang itu menunduk pejamkan matanya cukup lama sebelum kemudian terbuka mendongak dan bicara. ''Dulu pernah ada seorang nenek jahat yang membutuhkan beberapa batok kepala bayi untuk digunakan sebagai tumbal dalam ilmu hitamnya. tapi kejahatan yang dilakukan orang tua berjuluk 'Iblis Picak Buntelan Kuning' itni masih kalah jika dibandingkan dengan 'Sepasang Pualam Sakti', kedua ketua perguruan 'Pasir Selatan' itu.!''
''Yang suami memerlukan perempuan suci untuk diambil kemurniannya. sebaliknya sang istri membutuhkan lelaki bujang muda untuk dihisap kekuatan tubuhnya. Ilmu hitam ini mirip dengan yang dipelajari Nyi Merak Sinden, si 'Dewi Merak Merah. ketua perkumpulan silat 'Merak Api..'' batin Pranacitra.
''Jika saat ini aku membunuh mereka, andai sekalipun keduanya punya nyawa rangkap juga sekaligus meratakan perguruan silat itu hingga tidak bersisa, diriku masih merasa ragu apakah sudah setimpal dengan semua perbuatan keji yang telah mereka lakukan. aku tidak perduli walau kelak semua orang mengutukku, tapi kedua suami istri itu mesti membayar semuanya.!'' putusnya yakin.
Pranacitra sudah sepeminum teh berlalu dari tengah hutan itu meninggalkan Pendekar Harimau Putih bersama empat sosok mayat yang menjadi korbannya. orang tinggi kekar brewokan itu termangu diam. jika saja tidak terikat sebagai mata- mata partai 'Gapura Iblis, mungkin dia akan turut serta melibas perguruan silat Pasir Selatan.
''Kenapa didunia ini orang sering kali menilai sesuatu hanya dari luarnya saja. padahal kebusukan hati seseorang sangat mudah ditutupi dengan perilaku baik dan topeng kealiman. hanya karena jadi pewaris ilmu dari lima tokoh aliran hitam, pemuda itu sudah dicap sebagai manusia sesat yang mesti dilenyapkan. padahal kulihat., bocah itu berjiwa lurus bersih meskipun sekilas dari luarnya nampak kejam dan tidak berperasaan..'' dengan menghela nafas prihatin lelaki inipun tinggalkan tempat itu.
__ADS_1
Di daerah perbatasan antara pulau Jawa bagian barat dan tengah ada sebuah bukit karang kecil yang tegak menjulang dan tepat berada ditepian laut selatan. gulungan debur ombak tinggi terus menghantam bukit karang itu tanpa henti seakan hendak menguji kekokohannya.
Dulunya bukit itu adalah sebuah tempat bagi semua penduduk sekitar kampung nelayan yang pernah ada disana. jika berdiri di atas bukit mereka akan dapat melihat suatu pemandangan alam yang menakjubkan dengan lautan yang terbentang luas tidak berujung.
Namun semenjak perguruan silat 'Pasir Selatan' berdiri lima tahun silam, entah bagaimana bukit karang itu sudah berubah menjadi tempat yang terlarang bagi orang luar. setiap harinya ada saja beberapa orang murid perguruan itu yang berjaga dan berlatih disana. para penduduk asli kampung nelayan juga turut lenyap tidak ketahuan rimbanya.
Meskipun sempat ada kecurigaan yang muncul dikalangan masyarakat sekitar, bahkan pernah juga pihak pemerintah dan tokoh silat yang datang menyelidik, tapi dengan sikap rendah hati dan dermawan dari kedua ketua perguruan silat itu juga para muridnya yang selalu ringan tangan dalam memberi bantuan pada yang membutuhkan, semuanya dapat terlewati dan hilang begitu saja seiring berjalannya waktu.
Pagi itu matahari telah sedikit naik. sinarnya yang keemasan terlihat berkilauan menyapu permukaan lautan yang bergelombang. udara terasa segar membasuh tubuh para murid perguruan silat Pasir Selatan yang sedang berlatih diatas bukit karang. sejak mentari belum bersinar sudah ada empat puluhan orang murid yang naik keatas bukit karang itu.
Kalau dilihat sepintas tidak ada yang aneh dari kegiatan latihan silat yang dilakukan para murid perguruan Pasir Selatan itu. tapi jika diamati lebih jauh dari empat puluhan orang cuma separuh saja yang benar- benar berlatih silat dengan bentakan suara keras memecah pagi hingga terdengar sampai kebawah bukit sementara yang lainnya lenyap diantara tonjolan celah bukit karang.
Dua kali waktu penanakan nasi bersamaan dengan matahari yang naik lebih tinggi, separuh murid perguruan yang menghilang satu persatu kembali bermunculan dengan membawa kantung kulit dipinggang, bahkan ada juga yang memikul karung dibahunya. meskipun tidak diketahui apa isinya tapi jelas sangat berat.
''Hasil hari ini lumayan bagus. tapi ada tiga orang pekerja yang mati didalam sana. selain karena sakit sepertinya mereka juga sudah tua dan kelelahan. kita mesti mencari pekerja baru sebagai gantinya. sejujurnya diriku sempat merasa kasihan dengan mereka yang bekerja didalam sana..'' ujar salah satu murid perguruan Pasir Selatan yang baru keluar celah lubang dibukit karang dan membawa kantung kulit dipunggang kiri. raut muka pemuda ini terlihat prihatin dan gelisah.
__ADS_1
''Apa kau sudah gila atau bodoh., jangan sampai ada perasaan tidak tega dihati kalian. ingatlah semua kehidupan nyaman yang kita nikmati selama ini sebagai murid perguruan Pasir Selatan. apa kalian mau kehilangan semuanya hanya karena benih rasa kasihan yang tidak berguna itu.?''
''Jika ada orang yang mampus didalam sana anggap saja sudah takdirnya, karena didunia ini yang terkuatlah yang jadi penguasanya.!'' damprat salah seorang murid utama yang menjadi pimpinan menghardik keras. semua rekannya sama terdiam dan mengangguk.
''Kita harus laporkan semuanya terlebih dulu pada ketua. beliau berdua berpesan keras agar kita lebih berhati- hati dalam bertindak. jangan sampai menimbulkan kecurigaan orang lain tentang rahasia tempat ini. apalagi kejadian kaburnya beberapa pekerja tiga bulan silam hampir membuat semuanya jadi terbongkar..''
''Beruntung sekali kita dapat secepatnya menemukan sekaligus membungkam mulut mereka lalu melempar mayat ketiganya ke laut sebelum sempat berkoar diluar sana..'' jawab sang pemimpin sambil edarkan pandangannya ke sekeliling tempat.
Orang yang menjadi pimpinan para murid perguruan silat Pasir Selatan itu tidak dapat meredam rasa terperanjatnya saat matanya melihat seseorang yang entah sejak kapan duduk di atas tonjolan batu karang yang tepat berada dibibir bukit karang berbatasan laut lepas. mata dingin pemuda bermuka sedikit pucat itu memandangi ombak lautan yang terus berdebur di bawah sana.
Yang membuat semuanya tidak habis pikir, diantara empat puluhan orang murid utama perguruan silat Pasir Selatan yang rata- rata punya kepandaian hebat, tidak ada satupun yang tahu sejak kapan pendatang itu muncul disana dan duduk diatas sebongkah batu.
Terlebih mengejutkan hati ditangan kanan pemuda itu terlihat menggenggam sebuah kantung kulit yang sama dengan dipunyai mereka. hampir semua murid berseru marah sekaligus ngeri saat sadar dibawah kaki pemuda aneh itu tergeletak sesosok tubuh berbaju putih hitam bersimbah darah.
Sosok yang bukan lain adalah salah satu murid perguruan Pasir Selatan itu terlihat masih sempat terkejang berkelojotan dan mengerang seiring ujung tongkat besi ditangan kiri si pemuda yang menggerus hancur tulang lehernya hingga tembus. luka yang sama terlihat juga diperut si korban. sekali lagi., tidak ada yang tahu kapan rekan mereka terkapar dibawah kaki si pemuda pucat.
__ADS_1
Isi kantung kulit itu tertuang ditelapaknya. cahaya mentari pagi yang menimpa butiran intan kasar dan emas yang belum diasah hingga terlihat berkilauan. pemuda aneh itu menoleh dan menyeringai dingin. ''Hhem., bukit karang yang jadi tambang emas berlian ini memang bisa membuat orang gelap mata. sampai dirikupun., ingin merebut semuanya dari tangan kalian..''