Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Perpisahan.


__ADS_3

Pranacitra terus berjalan pelan menuruni lereng gunung. meskipun sudah sering kali melihatnya, tapi bagi Puji Seruni cara pemuda itu melangkah tetap saja menarik. dia tidak tahu apakah mesti tertawa mengejek ataukah malah merasa iba hati. terlebih lagi Ki Tanjung Semboro, mata orang tua itu seperti tidak berkedip mengamati setiap langkah kaki pemuda pincang itu.


Pertama kali kaki kanannya melangkah ke depan, disusul kemudian kaki sebelah kiri terseret mengikuti, sebelah yang kanan maju selangkah, yang kiri menyusul pelan ke muka. cara berjalannya perlahan dan berat merayap seakan di gelangi rantai beban penderitaan hidup.


Tanpa sadar orang tua bergelar 'Pendekar Golok Emas Berlengan Tunggal' itu mencoba untuk meniru cara si pemuda berjalan. tapi baru beberapa langkah saja kakinya bergerak dia sudah merasa bosan dan menyerah. Puji Seruni yang melihatnya jadi tertawa geli dalam hati. ''Dasar orang tua kurang kerjaan, kenapa juga mau ikut- ikutan berjalan seperti itu., konyol..''


Sementara di luarnya gadis itu berbicara lain, ''Setelah keluar wilayah gunung Semeru ini, kemanakah tujuan Ki Tanjung Semboro selanjutnya, apa hendak langsung kembali pulang ke tempat tinggalmu di Belambangan ataukah ada tujuan yang lainnya.?''


Orang tua jago ilmu golok bertangan buntung itu termenung sesaat. sejujurnya dia sendiri berencana langsung kembali ke pertapaannya di lereng bukit 'Randu Petak' yang berada di perbatasan utara kadipaten Belambangan. tapi entah kenapa dia sekarang malah mengekori seorang pemuda pincang yang seharusnya menjadi sasaran balas dendamnya.


''Sebenarnya setelah urusan di gunung Semeru ini selesai, diriku berencana langsung kembali ke Belambangan. tapi sekarang tiba- tiba saja aku teringat pada seorang sahabatku yang sudah sangat lama tidak kutemui. jadi., kurasa aku akan berkunjung ke tempatnya lebih dulu, baru kemudian kembali pulang..'' jawabnya pelan setengah menggumam.


''Aah baguslah., dengan begitu kita bertiga bisa jalan barengan terus..'' sahut Puji Seruni riang. saat melihat ke depannya entah sejak kapan si pincang Pranacitra sudah berada puluhan langkah lebih jauh dari tempatnya semula. dua orang itupun terperanjat. sekali berkelebat tubuh mereka cepat menyusulnya.


Rupanya Pranacitra memang berniat untuk berpisah dengan kedua tua muda itu, hingga tubuhnya juga bergerak seringan hembusan angin. menapaki jalan setapak licin berbatu dan melewati lebatnya pepohonan hutan. tiga sosok bayangan hitam, kuning dan putih seakan kelebatan cahaya yang beriringan menuruni lereng gunung Semeru.


Di antara ketiga orang itu pastilah Puji Seruni yang punya ilmu kesaktian paling rendah. maka tidak heran jika dia agak tertinggal di belakang. meskipun sudah kerahkan semua kemampuannya tetap saja dia tidak mampu mengimbangi kecepatan dua orang yang ada di depannya. meskipun sudah mandi keringat dan kepayahan dia tetap tidak sudi menyerah.

__ADS_1


Matahari yang berada di balik awan kelabu mulai agak condong ke barat, saat Pranacitra hentikan larinya. di belakangnya menyusul Ki Tanjung Semboro lalu agak lama kemudian Puji Seruni turut sampai di sana. terlihat nafas gadis itu memburu dengan pakaian putihnya basah oleh keringatmya yang berleleran.


Jika Ki Tanjung Semboro merasa kasihan dan simpati pada murid sahabatnya itu, maka tidak demikian dengan Pranacitra. setelah melirik sekilas saja pemuda itu menunjuk ke suatu bukit yang berada di kejauhan. ''Bukit kecil tempat tinggalmu berada di sana. tempat ini sudah keluar wilayah kaki gunung Semeru, jika kau berjalan memutar sekarang, jarak ke bukit itu belum terlalu jauh..''


''Aa., aku tidak ingin kembali ke bukit itu untuk saat ini. kurasa mencari pengalaman di dunia luar akan lebih baik bagi diriku..'' jawab Puji Seruni agak tergagap karena tidak menyangka Pranacitra bakal menyuruhnya kembali pulang ke bukit tempat tinggal mendiang gurunya.


Pranacitra hanya mendengus dingin. pada Ki Tanjung Semboro dia menjura hormat. ''Sebelum berpisah., sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas bantuan Ki Tanjung Semboro padaku dalam pertemuan besar tadi. seumur hidup apa yang telah Ki Tanjung lakukan tidak akan pernah saya lupakan..''


Begitu selesai bicara dan menghormat sekali lagi dengan sikap kaku, pemuda itu balikkan tubuhnya dan langsung melangkah pergi tinggalkan tempat itu. bukan cuma Ki Tanjung Semboro saja yang kaget, Puji Seruni selain melengak juga menjadi geram atas sikap dingin si pemuda.


Sebagai seorang tua yang telah merasakan pahit manisnya asam garam kehidupan, Ki Tanjung Semboro dapat mengetahui kalau dalam hati gadis murid mendiang Nyi Pariseta itu sudah tertanam perasaan suka kepada pemuda pincang itu. meskipun bersimpati tapi dia lebih suka tidak ikut campur masalah cinta asmara kaum muda yang cuma bikin tambah pusing kepalanya.


''Kau tidak bisa ikut denganku., jika dirimu tidak mau kembali ke bukit itu, akan lebih baik kalau kau mengikuti Ki Tanjung Semboro. selain sahabat gurumu beliau juga seorang pesilat sakti berhati lurus yang bisa bisa menjaga dan membimbing ilmu silatmu agar dapat meningkat lebih tinggi..'' terdengar suara Pranacitra dari kejauhan.


''Ta., tapi., tapi kenapa tidak bisa., aku tidak akan merepotkanmu. aku bisa menjaga diriku sendiri. setidaknya kita bisa menjadi teman baik..'' gumam Puji Seruni termenung sedih. meskipun cuma sebaris ucapan, tapi sudah menyiratkan segala perasaan yang terpendam di hatinya.


''Kurasa apa yang di katakan bocah itu cukup beralasan juga, lagi pula kau adalah murid dari sahabat lamaku Nyi Pariseta. bagaimana., apa kau mau ikut bersamaku.?'' tanya Ki Tanjung Semboro memecah keheningan. Puji Seruni mendongak ada kilauan bening di pelupuk matanya. dengan tersenyum pahit gadis itu menggeleng.

__ADS_1


''Terima kasih atas perhatian dan tawaran Ki Tanjung Semboro kepadaku. tapi kurasa lebih baik jika aku kembali saja ke bukit tempat tinggal guruku. kelak jika ada waktu saya akan berkunjung ke pertapaan Ki Tanjung di bukit Randu Petak..'' jawab Puji Seruni seraya menjura hormat. orang tua itu hanya menghela nafas dan mengangguk maklum.


''Kalau demikian maumu., aku juga tidak akan memaksa. ini ada sedikit pemberian dariku, sebutir ramuan obat yang dapat mempercepat kemampuan seorang pesilat yang ingin lebih meningkatkan ilmu meringankan tubuh dan kecepatan bergerak. obat itu pemberian seorang tabib kenalanku. selama ini aku cuma menyimpannya saja karena ilmu golokku lebih mengutamakan kekuatan tenaga dalam di bandingkan ilmu meringankan tubuh..''


''Aku rasa itu dapat membantumu agar dapat lebih menguasai ilmu.pedang 'Walet Emas' yang kutahu mengutamakan kelincahan ilmu meringankan tubuh dan kecepatan bergerak..'' ujar Ki Tanjung Semboro sambil memberikan sebutir obat berwarna putih keperakan sebesar biji buah salak pada gadis itu.


Puji Seruni membungkuk hormat menerima pemberian itu sambil mengucapkan terima kasih pada orang tua itu. dia mengakui kalau kekurangannya adalah soal penguasaan ilmu meringankan tubuhnya. meskipun saat ini sudah lumayan tinggi namun masih belum cukup sempurna.


''Jagalah dirimu baik- baik., tidak perlu merasa risau. jika memang berjodoh kelak kau bisa saja bertemu lagi dengan pemuda pincang itu. mungkin., dia punya kesulitan sendiri hingga merasa lebih suka berjalan seorang diri..'' pesan Ki Tanjung Semboro terdengar sayup di kejauhan. saat gadis cantik ini mengangkat kepalanya, orang tua itu sudah lenyap dari hadapannya.


Dengan hati masih di selimuti kesedihan dan kecewa Puji Seruni juga mulai tinggalkan tempat itu. dengan melalui jalan memutar dia lebih cepat sampai ke goa di atas bukit kecil tempat tinggal gurunya yang lama dulu. hari telah senja dan cuaca mendung saat gadis itu sampai di sana.


Rasa lelah di tubuh dan keresahan dalam hati membuatnya sedikit kehilangan kewaspadaan hingga barulah beberapa saat kemudian dia menyadari kalau dirinya sudah terkepung belasan orang murid perguruan Naga Biru. meskipun terkejut, Puji Seruni tidak menjadi gentar.


Tapi yang membuatnya sedikit merasa heran dan khawatir adalah kehadiran seorang lelaki bertubuh kate berkepala plontos. telanjang dada berkulit hitam serta memakai celana hitam setinggi lutut yang sudah robek- robek. mata orang ini buta tinggal rongga hitam sebelah kiri, sedang yang kanan besar melotot dan berwarna kemerahan seperti bengkak.


''Apa kubilang., gadis cantik ini bakal kembali lagi ke tempat pertapaan gurunya, karena pemuda pincang itu tidak akan mau di ikuti orang lain. jika saja kalian tidak mau menuruti ucapanku dan nekat menghadang gadis itu dibawah gunung, bisa jadi kalian semuanya sudah jadi mayat di ujung tongkat si pincang atau terpenggal golok Ki Tanjung Semboro..'' kata orang kate bermata picak yang bentuk tubuhnya mirip tuyul itu.

__ADS_1


__ADS_2