
Hawa udara masih terasa dingin. cahaya matahari menjelang siang tidak mampu merubah suasana sekitar. meski demikian butiran tanah bersalju yang menimbun mayat 'Sepasang Pedagang Pencabut Sukma' sudah mulai mencair. daun- daun pepohonan turut berguguran seakan mengiringi nyawa yang terbuang sia- sia.
Pranacitra memandang sekelilingnya. mayat yang bergelimpangan membuat dia bertanya dalam hati, sampai kapan dirinya akan mengalami keadaan seperti ini.? karena sejujurnya dia tidak pernah merasa suka melakukan pembunuhan walaupun lawannya memang pantas untuk mati. kadang- kadang timbul keinginan kuat dalam dirinya untuk lari dari semua itu. hidup mengasingkan diri dengan tenang dan jauh dari pertumpahan darah. tapi bisakah dia melakukannya.?
Pintu gubuk perlahan terbuka. yang muncul pertama kalinya adalah Nyi Kartiyah. meski dari dalam gubuknya dia dan Ni Luh Mirahsari keponakannya dapat mendengar segala keributan dan teriakan kematian yang terjadi dalam pertarungan namun saat melihat sendiri keadaan mayat- mayat yang terkapar mandi darah, tetap saja wanita itu merasa ngeri.
Dibelakangnya Ni Luh Mirahsari perlahan turut mengikuti keluar dari gubuk dengan berpegangan pada bahu kiri bibinya. wajah gadis yang mengalami kebutaan itu terlihat lebih pucat. meskipun kesulitan melihat namun dia dapat membayangkan semua yang berada di depannya. melihat keadaan gadis kurus ini, Pranacitra menjadi tidak tega.
Tahu- tahu saja tubuh si pemuda pincang telah muncul didepan pintu gubuk. tongkat besi hitamnya terulur menyentuh tangan kiri Ni Luh Mirahsari. ''Tidak baik berlama- lama di tempat ini karena bahaya kemungkinan masih akan mengintai. setelah membersihkan diri di sungai, akan aku antarkan kalian ke tempat tujuan..'' ujar Pranacitra.
Ni Luh Mirahsari tersenyum manis. dengan penuh keyakinan dia menggenggam erat ujung tongkat besi itu. ''Sungai tempat mandi berada tidak jauh di belakang gubuk. tolong antarkan aku ke sana..'' Pranacitra balikkan tubuhnya dan mulai berjalan diikuti gadis itu. pemuda yang didepan pincang kaki kirinya, sedangkan gadis cantik yang mengikutinya dibelakang seorang yang buta. melihat hal ini Nyi Kartiyah merasakan hatinya menjadi iba.
Tapi jika melihat korban pembunuhan si pincang yang masih bergelimpangan, suatu perasaan seram membuatnya bergidik ngeri. sebenarnya dari dalam gubuknya Nyi Kartiyah dapat mengintip keluar dari sela- sela dinding gubuk bambu sehingga hampir semua yang terjadi di luar dapat dia ketahui termasuk kematian dari Sepasang Pedagang Pencabut Sukma.
__ADS_1
Suara siulan yang menyayat jiwa, langkah kakinya terseok pincang dan cara membunuh yang begitu telengas, dengan sebatang tongkat besi hitam kepala tengkorak sebagai senjatanya, adalah suatu pertanda yang tidak mungkin diragukan lagi bagi kaum persilatan untuk mengetahui siapa adanya pemuda ini. biarpun dia sudah dikabarkan mati tapi Nyi Kartiyah sangat yakin kalau pemuda pincang inilah orangnya.!
Walaupun begitu, Nyi Kartiyah lebih memilih diam. ''Tolong kau antarkan dan jaga dulu Ni Luh Mirahsari. aku perlu berkemas juga mempersiapkan bekal untuk perjalanan kita..'' ucapnya seraya masuk kembali ke dalam gubuk. kedua orang mudah mudi itu tidak menyahuti. terus berjalan perlahan menyibak semak menapaki rerumputan. gemericik suara aliran air terdengar. didepan mereka ada sebuah sungai kecil.
''Aku tidak akan jauh dari tempatmu mandi. kau bisa tenang membersihkan dirimu..'' kata Pranacitra membimbing langkah gadis itu sampai ke tepian sungai yang terdapat tonjolan batu untuk penghalang. kaki kurus dan putih bersih itu mulai menapak kedalam sungai yang jernih. ''Terima kasih bantuanmu. sekarang kau bisa pergi. jangan ngintip yah..'' candanya tertawa riang. tanpa menunggu si pemuda menjauh, pakaian putih hijaunya sudah terlepas. tubuh ramping mulus itupun berendam ke dalam sungai.
Pranacitra sedikit tertegun. dia teringat pada Srianah yang kalau mandi kadang juga tidak pernah perduli jika dilihat olehnya. suara senandung merdu dari bibir merah seorang gadis buta mengalun mengiringi geliat tubuh polosnya yang basah mengkilat oleh air sungai. walaupun itu suatu pemandangan yang sayang jika dilewatkan begitu saja tapi Pranacitra tidak tega melihatnya lebih lama dan memilih balikkan tubuhnya lalu menjauh.
Sebuah rakit bambu sudah meluncur cepat mengikuti arus sungai. dua orang perempuan dan seorang pemuda sebagai pengemudinya berada diatas rakit itu. setelah lebih dulu membuang mayat para anggota 'Gapura Iblis' untuk menghilangkan jejak, Pranacitra membuat sebuah rakit bambu agar mereka lebih cepat bergerak karena jika berjalan melewati hutan tentu cukup menyulitkan dan memakan waktu. selain itu dari keterangan Nyi Kartiyah sungai itu akan melewati sebuah perkampungan yang cukup ramai bernama 'Jajarpari.
Hari sudah menjelang senja saat rakit mereka tiba di Jajarpari yang masuk kedalam wilayah perbatasan dari kadipaten Ponorogo. setelah beristirahat sejenak untuk makan disebuah warung kecil, Nyi Kartiyah memutuskan untuk membeli sebuah kereta kuda dari seorang penduduk desa. dengan Pranacitra sebagai kusirnya ketiga orang inipun melanjutkan perjalanan.
Pemandangan cakrawala sore yang sedikit mendung membuat pikiran pemuda itu agak melamun. dia teringat percakapannya dengan Nyi Kartiyah saat menunggu Ni Luh Mirahsari membersihkan diri di sungai. ''Apakah kau menyukai keponakanku.?'' suatu pertanyaan yang membuatnya tertegun dan tidak tahu bagaimana mesti menjawabnya. ''Dia Seorang gadis yang malang. tentunya diriku tidak ingin keponakanku ini menderita lebih jauh lagi. terus terang saja., aku tahu siapa engkau adanya..''
__ADS_1
''Kami berdua berhutang nyawa kepadamu. mungkin semua pertolonganmu seumur hidup tidak bakal dapat kami balas. turut mauku., ingin kuserahkan Ni Luh Mirahsari padamu tapi apakah itu akan baik bagi kalian berdua. harap maafmu jika ucapanku kurang berkenan dihatimu. meskipun kau memiliki ilmu kedigdayaan yang begitu tinggi juga sangat ditakuti orang persilatan namun apa semua itu bisa menjadi suatu jaminan bagi keselamatan kalian berdua.?'' tanya Nyi Kartiyah lembut seakan penuh kehati- hatian.
''Lagi pula., semenjak kecil gadis ini sudah dijodohkan dengan putra tunggal dari saudara seperguruanku yang tempat tinggalnya sedang kita tuju. ada ikatan pertunangan diantara keduanya. walaupun Mirahsari gadis yang polos tapi sebagai seorang yang buta dia cenderung merasa curiga dengan orang asing. bahkan pada yang telah dikenalnya keponakanku ini juga sering menjaga jarak..''
''Anehnya., saat bertemu dengan dirimu, dia bukan saja berani bicara terbuka bahkan meraba wajahmu. kurasa dia mungkin juga suka dan percaya padamu. Aish., segala yang ingin kusampaikan sudah kau dengar. bukan aku keberatan atau bermaksud menghalangi dirimu tapi harap engkau berpikir lebih jauh sebelum menentukan sikap..''
Itulah sepenggal percakapan yang terjadi di antara keduanya. Pranacitra menghela nafas pelan. bibirnya menyunggingkan senyuman pahit. sedikit ayunan cemeti membuat kuda penarik kereta berlari lebih cepat. ''Baru kenal gadis itu sehari. belum juga sempat pacaran lalu bicara perasaan suka dan sayang, Eeh., sudah keburu di tolak bibinya..'' gumamnya geleng- geleng kepala.
Selama ini selalu saja dia yang meninggalkan para wanita cantik dalam kecewa dan patah hati. Retno Item, Jingga Rani juga Winuyem adalah contohnya. tapi sekarang., gantian si pincang yang merasakan di tolak secara halus oleh calon bibi mertuanya. ''Aish., apakah ini hukum karma.?'' batinnya bingung. 'Oalaah, Pran., Pran., nasibmu Jomblo Forever 🤧.
.............
Cuma dapat kiriman cerita sedikit banget. (ceritanya aneh lagi) judulnya yo ora ono. (Authornya lali) 🙏.
__ADS_1