Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Perjanjian tidak terucap.


__ADS_3

Pranacitra masih berusaha untuk bangkit dari tempat tidurnya. di lihat dari sikapnya yang terlihat ngotot membuat 'Malaikat Copet' merasa heran dan curiga. ''Sepertinya bocah pincang masih menyembunyikan sesuatu dariku. atau jangan- jangan ada sesuatu yang dia ketahui tentang 'Lembah Seribu Racun.?''


''Sudah kubilang tetap berbaring saja di tempat tidurmu. tubuhmu masih sangat lemah., kau terlihat sangat ingin tahu tentang 'Lembah Seribu Racun', dari mana kau pernah mendengar tentang tempat itu.?''


Di tegur oleh orang tua berblangkon yang selalu menghisap pipa cangklong berbau kemenyan itu membuat si pemuda sadar diri akan sikapnya yang ngotot. hatinya rada ragu apakah harus menjawab jujur ataukah mesti berdusta pada ketua perkumpulan 'Maling Kilat' yang telah menolongnya itu.


''Bicara saja sejujurnya., tapi aku juga tidak akan memaksamu kalau kau tidak mau mengatakannya..'' ujar Malaikat Copet seraya melirik sinis.


''Maafkan aku ketua., sebenarnya guruku Ki Rangga Wesi Bledek pernah bercerita tentang sebuah tempat bernama Lembah Seribu Racun. terus terang saja aku merasa penasaran dengan tempat itu..''


''Kabarnya beberapa tokoh persilatan nomor wahid pernah mencoba masuk ke dalam lembah itu, tapi tidak seorangpun yang dapat keluar dari sana. yang aku herankan sudah jelas udara tempat itu dipenuhi oleh racun ganas, kenapa pula masih ada yang sudi bertaruh nyawa untuk memasukinya..''


''Bahkan tadi ketua bilang perkumpulan pengemis 'Kelabang Ireng' juga berniat masuk ketempat itu dengan menggunakan batu sakti Nirmala Biru., sebenarnya ada apa di dalam Lembah Seribu Racun itu.?'' tanya Pranacitra dengan suara agak tersengal dan raut muka penasaran.


Pemuda ini sebenarnya tidak suka berdusta, tapi dia juga harus tetap dapat menyimpan rahasia sesuai dengan janjinya dengan sang guru. akhirnya dia berkata kalau gurunyalah yang pernah bercerita tentang Lembah Seribu Racun itu, tapi soal peta petunjuknya tetap tidak dia katakan.


Malaikat Copet menghembuskan asap pipa cangklong dari mulutnya hingga ruangan itu semakin dipenuhi aroma rempah obat yang bercampur tembakau dan kemenyan. setelah sesaat terdiam orang tua itu baru menjawab ''Hhmm., kurasa tidak ada salahnya kalau aku beritahukan kepadamu. sesuai dengan namanya Lembah Seribu Racun memang sebuah tempat yang di penuhi dengan racun. mulai tumbuhan, hewan juga udara di sana penuh dengan racun mematikan..''


''Maka hanya orang dungu dan bosan hidup saja yang mau masuk kesana., tapi biarpun demikian masih ada juga orang- orang tolol yang nekat bertaruh nyawa untuk memasuki tempat terlarang itu..''

__ADS_1


''Tapi kenapa mereka mau melakukannya.?'' potong Pranacitra tanpa sadar.


''Bocah kurang ajar., tidak tahu sopan santun menyela ucapan orang tua sedang bicara.!'' damprat Malaikat Copet marah. si pincang merasa malu dan langsung meminta maaf. orang tua itu mendengus, matanya menyorot tajam. ''Katakan kenapa kau begitu ingin tahu soal lembah beracun itu., cepat jawab.!''


Kali ini si pemuda hanya diam dan pejamkan matanya. Malaikat Copet menggerendeng geram karena merasa diacuhkan seorang bocah pincang dan lemah yang dianggapnya tidak tahu diri itu. turut maunya hendak dia lemparkan tubuh bedebah pincang ini keluar ruangan sekarang juga. tapi kemarahannya seketika berubah menjadi keterkejutan besar saat mendengar si pincang menjawab tegas, ''Diriku ingin tahu tentang semua yang berkaitan dengan Lembah Seribu Racun., karena aku berniat untuk masuk ke dalam lembah itu.!''


''Bocah pincang penyakitan., rupanya kau tidak cuma bodoh tetapi juga edan. sialan., rasanya aku mulai menyesal membawamu kemari dan menyelamatkanmu.!'' Malaikat Copet mengomel dan menyumpah serapah.


''Kumohon ketua sudi memberitahuku soal lembah itu., walaupun kutahu engkau sudah menolongku, tapi tetap saja segala macam pengobatan yang kau berikan tidak akan ada artinya., karena dalam tubuhku tersimpan racun pembeku darah dan jantung..''


''Hek., he., aku sudah tahu soal itu. biarpun rada sulit, tapi apa kau pikir aku tidak mampu mengatasinya. dasar bocah pincang yang sombong, kau terlalu meremehkan diriku.!''


''Umurku tidak akan lama lagi ketua., segala pengobatan hanya akan menjadi sesuatu yang sia- sia karena dalam tubuhku terdapat sebuah titik nadi langka yang bernama 'Lubang Nadi Neraka Gelap.!''


Dua orang tua muda itu masih duduk bersila diatas balai tempat tidur kayu jati, entah sudah berapa lama waktu yang terlewati. pemuda bernama Pranacitra yang bersila di sebelah depan menghela nafas menyesal. ''Seharusnya aku tidak usah bertanya tentang Lembah Seribu Racun dan mengatakan semua penyakitku padamu agar ketua tidak perlu repot membuang- buang tenaga untuk menolongku..''


''Sudah diam saja., pusatkan perhatianmu dan kumpulkan semua hawa sakti yang aku salurkan ke dalam tubuhmu.!'' geram orang tua yang bergelar Malaikat Copet sambil terus tempelkan telapak tangan kirinya yang memancarkan cahaya kebiruan ke punggung Pranacitra. sementara sebelah tangannya masih menjepit pipa cangklong besi berasap kemenyan. bedanya asap yang keluar dari ujung pipa itu berwarna merah kebiruan.!


Sekali lagi dia menyedot pipa cangklong di tangannya lalu di hembuskan ke punggung pemuda pincang yang bersila di depannya. anehnya asap merah kebiruan berhawa panas itu tidak menyebar seperti biasanya, melainkan ikut tersedot masuk ke punggung Pranacitra. asap obat menyusup telapak tangan kiri menghentak salurkan hawa kesaktian. ketua perkumpulan Maling Kilat ini berniat melakukan dua cara pengobatan sekaligus, padahal itu akan sangat menguras tenaga dan pikirannya.

__ADS_1


Dua kali waktu penanakan nasi berlalu cepat, orang tua ini sudah terlihat kepayahan. tapi sebaliknya pemuda di depannya nampak samakin segar dan kuat penuh semangat hidup seakan berubah menjadi orang lain. akhirnya dengan satu sentakan terakhir Malaikat Copet hentikan pengobatannya dan langsung bersemedi memulihkan diri.


Saat terdengar suara ayam jantan berkokok, orang tua ini juga tersadar dari semedinya. kedua mata tuanya yang cekung dan berailis putih mengernyit. entah sejak kapan pemuda pincang itu berlutut diatas lantai menghadap dirinya.


''Setelah ketua mengetahui penyakitku, aku tahu dirimu tidak mungkin bisa menerimaku sebagai murid, aku juga sejak awal tidak mau mengangkat ketua sebagai guru karena itu hanya akan membuat kita berdua merasa kecewa..''


''Tapi jauh dalam hatiku engkau sudah aku anggap sebagai guru dan penyelamatku. selain ayahku, hanya ada tiga orang di dunia ini yang aku hormati dan membuat diriku berlutut, pertama Ki Rangga Wesi Bledek lalu Gembel Sakti Mata Putih dan yang terakhir adalah ketua Malaikat Copet..'' Pranacitra menutup ucapannya dengan bersujud sekali di atas lantai sebagai tanda hormat murid pada gurunya.


Malaikat Copet menghela nafas panjang, seakan ada rasa kecewa disana. ''Dulu aku punya seorang kawan karib yang pernah bersama- sama mendirikan perkumpulan Maling Kilat ini., tapi dia juga sekaligus orang yang aku benci karena tanpa bicara apapun pergi begitu saja hanya untuk menjadi seorang pembunuh bayaran..''


''Chuih., setan alas., apa hebatnya kelompok 13 Pembunuh itu, cuma gerombolan tolol yang bermimpi menguasai harta pusaka istana keramat dan dunia persilatan.!''


''Yang membuatku jengkel., setelah bertahun menghilang mendadak dia muncul kembali dengan membawa seorang bocah remaja yang punya kelainan jantung langka. terus terang saja aku iri dengannya..''


''Maka saat diriku melihatmu tetap nekat bertaruh nyawa melawan Pengemis Gigi Gompal padahal saat itu kau sudah berada diambang kematian, aku langsung tertarik hati untuk menjadikanmu sebagai murid agar kelak aku bisa berbicara pada dunia kalau bukan cuma si setan tua Maling Nyawa saja yang punya bocah bagus, tapi aku Malaikat Copet juga punya anak pincang yang menarik.!''


''Meskipun tidak terucap dengan kata., tetapi di antara kami berdua seakan pernah terikat suatu perjanjian bahwa kelak jika sudah memiliki pewaris akan saling dihadapkan agar dapat diketahui siapa sesunguhnya di antara kami berdua yang lebih unggul. asal kau tahu saja aku dan bekas kawan karibku itu pernah tiga kali beradu ilmu kesaktian, tetapi selalu saja berakhir imbang., sungguh menyebalkan.!'' gembor Malaikat Copet sambil hantamkan pipa cangklongnya ke depan.


Selarik cahaya dan asap merah kebiruan menyambar sebuah kendi arak di atas meja. tidak terdengar bunyi benda pecah, tapi kendi penuh arak itu terlihat mengepulkan asap lalu hancur meleleh dan hangus seperti seonggok lumpur panas yang membuat meja kayu ikut gosong dan berlubang besar.!

__ADS_1


Pranacitra hanya memandang meja kayu yang separuh hangus itu dengan pandangan ngeri. dalam hatinya dia bersyukur karena urung menjadi murid kakek ini. jika tidak dia kelak bakalan di jadikan ayam jago aduan bagi orang tua itu.


__ADS_2