
Cahaya hitam pekat berbentuk bundar rada pipih itu terlihat semakin membesar dan membawa hawa panas seperti kobaran api. begitu melesat langsung menghadang di tengah pertarungan sengit antara Nyi 'Pedang Kembar Terbang' dan Ki 'Payung Gendingan' yang sudah jatuh tersungkur menunggu ajal.
Hampir bersamaan bayangan sosok bungkuk yang berkelebat menyusul dibelakang cahaya hitam itu juga turut melontarkan beberapa pukulan tangan kosong bertenaga dalam tinggi ke arah tiga orang berjubah hitam yang berniat untuk merencah hancur tubuh Ki Payung Gendingan dengan sabetan pedang mereka.
Keadaan yang begitu diluar dugaan membuat tiga anak buah Nyi Pedang Kembar Terbang tidak sempat lagi menghindar. meskipun mereka masih berusaha bertahan dengan sabetan pedang dan pukulan sakti untuk membalas, tapi kekuatan mereka jelas tidak sebanding dengan sosok kurus bungkuk itu.
'Whuuusss., wheeeess,, shrraaaat.!'
'Plaaang., 'blaaaamm., blaaaaarr.!'
''Aaaaakh.!''
''Uuaagh., kep., keparat.!''
Ledakan keras terdengar beruntun saat bundaran pipih sinar hitam itu menghadang ilmu 'Pedang Gunting Halilintar' yang dikerahkan oleh Nyi Pedang Kembar Terbang dari atas udara. tiga sosok tubuh terpental diiringi suara teriakan parau yang terputus. debu pasir jalanan yang ada didepan warung makan 'Mampir Daharan' itu membumbung naik sehingga menutupi pandangan mata.
Saat semuanya berlalu wanita setengah tua bernama Nyi Pedang Kembar Terbang itu tidak dapat menutupi rasa kagetnya melihat tiga orang anak buahnya telah tewas dengan kepala pecah dan dada remuk. dia merasa lebih terkejut lagi saat mengetahui seorang tua berbaju coklat telah berdiri terbungkuk- bungkuk di tengah kalangan.
Tetapi yang membuatnya nyaris tidak percaya adalah cahaya bundar hitam yang mampu menghadang ilmu kesaktiannya tadi bukan lain adalah sebuah cobek batu. meskipun cobek batu besar itu sudah terpecah tiga bagian namun jelas baru saja dipakai. terbukti masih terdapat sisa bekas ulegkan sambel tomatnya yang berlepotan.
Dengan dua kali kibaskan tangannya saja, Nyi Pedang Kembar Terbang mampu menarik kembali kedua pedang saktinya hingga diam melayang diatas bahunya. dari sini dapat diketahui kalau kemampuan ilmu pedang terbang wanita tua ini sudah sangat tinggi. perlahan raut wajahnya yang masih nampak cantik diusia tuanya itu semakin berubah tegang. tanpa sadar dia tersurut mundur setindak ke belakang.
Setengah ragu jemarinya menunjuk ke muka. ''Dari yang pernah kudengar kau sudah mati terbunuh oleh para tokoh silat kerajaan yang berada di wilayah Jawa Tengah beberapa tahun lalu. lantas bagaimana sekarang ini dirimu bisa muncul kembali dengan segar bugar. maaf jika aku telah menyinggungmu. tapi orang tua bernama Ki Payung Gendingan itu adalah buronan sekaligus pengkhianat partai 'Gapura Iblis..''
__ADS_1
''Jadi kuharap., kau serahkan saja dia padaku agar kita tidak menjadi seteru. soal orang- orangku yang terbunuh bisa kita anggap tidak pernah terjadi. lagi pula., aku merasa sangat tidak sepadan jika si 'Bungkuk Penggoreng Jiwa' alias 'Setan Gorengan' sampai harus berurusan dengan Gapura Iblis hanya karena membela tua bangka yang sudah hampir mampus itu..'' ucap Nyi Pedang Kembar Terbang seraya menyebut nama gelaran orang tua bungkuk yang berdiri lima langkah di depannya.
Orang tua bungkuk dan ceking itu perlahan angkat kepalanya yang tertunduk. seraut wajah keriput dan dingin terpampang jelas di mata Nyi Pedang Kembar Terbang. tangan kanan orang tua itu yang menggenggam pegangan sebuah wajan penggorengan hitam terangkat lurus menunjuk ke depan. ''Sejak aku berada di depanmu kau sudah dua kali menyebut nama partai Gapura Iblis. apakah kau sengaja ingin menggertak diriku dengan nama partai persilatan aliran hitam terkuat itu.?''
''Gapura Iblis memang suatu nama yang sangat menakutkan bagi orang persilatan. aku juga tidak terkecuali merasa segan jika harus berurusan dengan mereka..'' ujar orang tua bungkuk itu. mendengar itu wanita utusan partai Gapura Iblis ini menjadi lega karena sebenarnya dia merasa gentar jika mesti berhadapan dengan orang tua yang kabarnya memang punya kegemaran memasak itu.
Namun sayangnya baru saja dia hendak menyahuti, lawan sudah keburu menyambung ucapannya. ''Tapi aku ini adalah seorang buronan. tidak mudah untuk mendapatkan tempat persembunyian. disaat hidupku mulai tenang dengan menjadi tukang masak di warung ini, kau malah datang dan mengusik semuanya..'' geram di Bungkuk Penggoreng Jiwa.
''Meskipun kuakui rada ngeri jika bermusuhan dengan Gapura Iblis namun aku tetap merasa tidak khawatir kalau harus membunuhmu disini.!'' celetuknya santai. belum lagi gema suaranya habis, tubuh kurus orang berjuluk 'Setan Gorengan' ini sudah bergerak maju. wajan besi hitam ditangan kanannya langsung menghantam dari kiri atas ke kanan bawah. sekelebat cahaya hitam melabrak ganas.!
''Bangsat tua bangka., apakah kau sudah gila hingga berani menghalangiku, orang dari partai Gapura Iblis. rupanya dirimu telah bosan dengan kehidupan.!'' umpat wanita berjubah putih itu seraya terburu- buru menghindar sambil menyiapkan serangan balasan. ''Jangan kau pikir aku takut padamu anjing tua.!'' teriaknya memaki. sebaliknya serangan dari lawan terus meningkat.
Sambil menggempur mulut orang tua yang peot itu turut meracau aneh. ''Tiga siung bawang putih, lima bawang merah, dua ruas jahe dan lima cabe rawit ditambah irisan daun bawang. masukkan ke dalam minyak panas. tumis bersama irisan daging. kau terimalah sajian pertamaku. jurus 'Wajan Menggoreng Kepala.!''
''Celaka., pukulan 'Tungku Meletus.!'' teriak Nyi Pedang Kembar Terbang dengan wajah pucat pias saat mengenali jurus kesaktian yang dilepaskan lawannya. dengan sangat panik dia kerahkan jurus 'Tameng Pedang Kilat' dan juga 'Pedang Gunting Halilintar' untuk dapat menahan dua ilmu kesaktian Setan Gorengan yang sambaran tenaganya saja sudah terasa menindas batok kepala dan juga membakar seisi rongga dadanya.
'Whuuusss., whoooss., sraaaatt.!'
'Blaass., blaaaamm., blaaarrr.!'
Gemuruh ledakan akibat beradunya ilmu kesaktian terjadi. jika dibandingkan dengan pertarungan sebelumnya kali ini jauh lebih keras hingga menggoncangkan bumi. bagian dinding kayu depan warung makan Mampir Daharan juga deretan bangunan rumah yang berada disekitarnya sampai hancur roboh. jalanan pecah dan ambles beberapa jengkal.
Walaupun sadar lawannya kali ini adalah seorang buronan kelas kakap yang dicari- cari pihak kerajaan dan berilmu sangat tinggi, namun Nyi Pedang Kembar Terbang nekat melawan. selain sangat sulit untuk kabur dia hanya perlu mencari sebuah kesempatan agar bisa melepaskan satu tanda isyarat lemparan bunga api ke udara untuk meminta bantuan.
__ADS_1
Dalam waktu sekejapan saja lima gebrakan jurus kesaktian telah terlewati. setiap terjadi adu kekuatan Nyi Pedang Kembar Terbang selalu berada di pihak yang terdesak bahkan saat terakhir bukan saja pedang terbangnya dibuat terpental oleh wajan penggorengan lawan, diapun sampai muntah darah. jangankan mendapatkan kesempatan untuk meminta bantuan, bahkan sekedar mengulur waktu saja juga tidak bisa.
Sekali lagi wajan hitam bergerak mengepruk. Nyi Pedang Kembar Terbang merasakan ada tindihan bongkahan besar batu karang menimpanya. tangannya bergerak cepat untuk lancarkan jurus Tameng Pedang Kilat yang disusul dengan dua buah tendangan keras mengarah pinggang dan lambung. tapi dengan hantamkan siku serta putaran pergelangan tangan, Setan Gorengan mampu menangkisnya bahkan balik menghantam dada wanita itu.
Pukul memukul jarak dekat berlangsung cukup singkat sebelum terdengar ledakan dan pijaran bunga api yang pecah semburat. tubuh Nyi Pedang Kembar Terbang mencelat bergulingan sembari menjerit parau. rambut hitamnya yang telah sedikit beruban nampak terbakar. darah segar mengucur menutupi wajahnya. jika saja tidak menguasai ilmu 'Tameng Pedang Kilat' mungkin dia sudah keburu tewas dengan kepala pecah dihantam wajan hitam lawannya.
Meskipun merasakan kesakitan dan terluka parah tapi kesadaran wanita setengah tua ini belum hilang. menggunakan kesempatan lawan yang juga belum bersiap menyerang dia berniat kabur. tapi aneh., langkahnya hanya sampai tiga tindak saja sebelum dia berhenti. tubuhnya gemetaran saat membalik arah. di punggungnya sudah bertambah sebuah payung tembaga yang menancap miring ke kiri.
Ki Payung Gendingan harus kerahkan seluruh sisa tenaganya untuk bisa meraih sekaligus melempar senjata payungnya yang sempat terlepas dari tangan. hampir bersamaan kedua orang sakti ini tumbang ke tanah. bedanya yang perempuan mati dengan punggung nyaris jebol bersimbah darah sedang lainnya mungkin masih punya kesempatan hidup.
Saat membuka kedua matanya, Ki Payung Gendingan mendapati dirinya sedang duduk bersila diatas sebuah pembaringan bambu. terasa ada sepasang telapak tangan sedang menyalurkan tenaga kesaktian ke dalam tubuhnya. sepuluh tarikan nafas kemudian semuanyapun usai. orang tua tukang cerita itu merasakan luka dalamnya sebagian besar telah sembuh.
Perlahan dia berpaling ke belakang. rupanya Setan Gorengan yang telah Membantunya. sekilas pandangan dia tahu kalau ruangan itu berada di bagian dalam rumah makan milik Ki Buntel Tembem. baru disadarinya selain mereka berdua disana juga nampak cucu perempuannya yang sedang tertidur pulas di samping balai.
''Aku tidak mau terlibat lebih jauh dengan dirimu. sekarang juga harap kau dan cucumu segera pergi tinggalkan tempat ini.!'' berkata si Setan Gorengan tegas seraya bangkit dari tempatnya duduk. Ki Payung Gendingan tidak menyangka kalau orang tua tukang masak itu bicara terus terang seakan mengusirnya. sesaat dia tidak tahu harus bicara apa.
"Aku ucapkan terima kasih atas semua pertolonganmu. juga mohon maaf jika diriku tanpa sengaja telah membongkar tempat persembunyianmu. tapi., sebelum kami pergi dari sini, bolehkah aku bertanya padamu tentang seseorang.?" yang ditanya hanya diam menatapnya dengan pandangan dingin. tidak menolak atau juga mengiyakan.
Setelah menarik nafas berat si tukang cerita kembali bicara dengan penuh kehati- hatian. "Yang ingin kutanyakan padamu adalah tentang keberadaan seorang pendekar muda pincang berkepandaian sangat tinggi yang beberapa tahun belakangan menghilang bahkan dikabarkan telah mati. harap sobat Setan Gorengan menjawabnya dengan jujur. apakah si 'Gelandangan Hantu' atau 'Pendekar Tanpa Kawan' berada di sini.?"
Setan Gorengan tidak menjawab apapun. hanya tangan kanannya meraba senjata wajan penggorengan hitam yang tergenggam di tangannya. hawa hitam kematian tersebar menyesakkan jiwa. Ki Payung Gendingan tertegun. dia sungguh tidak menyangka orang tua itu bakal naik darah hanya karena mendengar sebuah pertanyaan tentang si pincang.
.........
__ADS_1
Silahkan tuliskan komentar Anda. Terima kasih 🙏.