
Kalau di pikirkan sebenarnya apa yang telah di lakukan oleh pemuda pincang ini sungguh tidak masuk akal. bagaimana tidak., dia sanggup melepaskan dua jenis ilmu kesaktian yang berlainan untuk menyerang dua sasaran berbeda dengan arah yang juga berlawanan. tapi hebatnya semua itu seakan dapat dia lakukan dalam waktu yang nyaris bersamaan.
Sebenarnya jika si 'Arwah Hijau' masih mau berpikir jernih, dari semua kejadian yang telah berlangsung di depannya dia pasti bisa memperkirakan tingkat ilmu kesaktian lawan yang bakal di hadapinya. tapi seringkali hawa amarah dan kepanikan bisa membuat orang pandai berubah menjadi manusia dungu.
Seperti namanya., jurus pukulan 'Telapak Kabut Hijau Arwah Gentayangan' adalah jenis ilmu kesaktian yang mengandalkan kecepatan menyerang yang di padukan dengan tenaga kesaktian dan racun. bahkan di dalamnya juga terkandung dasar ilmu sihir yang mampu mengacaukan pikiran dan pandangan mata lawan.
Dengan mengandalkan ilmu ini, si Arwah Hijau pernah membuat goncang dunia persilatan di daerah barat saat pertama kali muncul setelah dia dilepas gurunya hampir dua tahun silam. dikalangan pesilat muda, si Arwah Hijau sudah termasuk jajaran papan atas.!
Bicara tentang Arwah Hijau, konon pada awalnya orang ini bukanlah manusia jahat. dia cuma seorang tabib kampung dan tukang pijat keliling yang hidup sebatang kara. wajahnya yang cukup tampan dan sikapnya yang santun membuat banyak gadis yang tertarik, termasuk gadis cantik anak kepala kampung yang menjadi kembang desa. tapi anehnya dia tidak pernah menanggapi semua itu. sehari- hari pemuda ini hanya meneruskan pekerjaan sebagai tabib dan tukang pijit keliling dari mendiang ayahnya.
Sikap pemuda itu membuat gadis sombong anak kepala kampung itu jengkel, karena selama ini tidak ada pemuda yang tidak tergoda pada kecantikannya. melalui sebuah siasat gadis itu menjebak si pemuda tabib keliling itu.
Awalnya dia berpura- pura mengalami sakit dan berkunjung ke tempat sang tabib. tapi di sana justru dengan tanpa rasa malu gadis itu menyatakan rasa sukanya pada pemuda itu. meskipun mengakui kalau putri kepala kampung itu sangat cantik, tapi dengan halus tabib muda itu menolaknya.
Merasa kecewa dan terhina mendadak gadis itu merobek- robek bajunya sendiri lalu berlari keluar sambil menangis dan berteriak minta tolong pada penduduk kampung. dia mengatakan kalau tabib muda itu hendak berbuat tidak senonoh padanya.
Akibatnya tabib itupun di hajar penduduk kampung, terutama oleh keluarga si gadis dan para pemuda desa yang sudah lama memendam rasa iri dengan tabib tampan itu, tanpa di berikan kesempatan untuk membela dirinya.
Setelah itu dia di bawa ke kota raja untuk di jadikan budak hukuman pengangkut batu kali yang di gunakan untuk membangun rumah seorang pembesar kerajaan. dari seorang tabib muda yang tampan kini dia berubah menjadi seorang pemuda kurus dan bungkuk karena kerja paksa memanggul batu kali yang berat.
Saat rumah pembesar dari salah satu kerajaan di tanah Pasundan itu selesai, para budak pekerja paksa itupun di habisi lalu mayatnya di buang ke sungai. beruntung ada seorang tokoh silat berilmu tinggi yang menyelamatkan pemuda itu. dari pesilat jahat inilah si tabib muda mendapatkan segala ilmu kesaktian yang dia miliki sekarang.
Di saat semua penduduk kampung sudah melupakannya dan menganggapnya telah mati, mendadak suatu malam pemuda itu muncul di dalam kamar si gadis yang pernah memfitnahnya. tanpa belas kasihan bekas tabib muda itu membunuh seluruh keluarga kepala kampung. bahkan gadis itupun turut di nodai hingga mati lantas mayatnya yang telanjang bulat di gantung di atap rumahnya.
Di amuk rasa dendam kesumat, pemuda berjubah hijau itu membakar seisi bekas kampung halamannya. para penduduk menjadi sangat ketakutan karena kemunculan tabib kampung yang mereka tahu sudah mati itu dan menganggapnya sebagai arwah yang penasaran. sejak saat itulah nama 'Arwah Hijau' muncul di rimba persilatan.
''Dulu aku selalu berbuat kebaikan, menolong siapapun yang membutuhkan bantuan. tidak pernah sekalipun diriku memaksakan harga untuk pengobatanku. bahkan sering kali aku menolak pembayaran jika kurasa mereka dari kalangan tidak mampu. tapi apa yang kudapatkan., hanya fitnah dan hinaan belaka. jika demikian., sekalian saja aku berbuat sesuka hatiku. siapapun yang berani menghalangi jalan hidup yang kupilih ini., dia harus mati.!'' begitulah yang di rasakan si Arwah Hijau dalam hatinya.
Kini seorang pemuda pincang yang datang entah dari mana sudah berani menghalangi serangan jurusnya, bahkan menghantam balik. dua sambaran cahaya hijau seakan berpecah menjadi puluhan banyaknya dan mengurung tubuh si pincang dari segala penjuru. hawa udara berubah semakin dingin dan berselimut kabut kehijauan. kabarnya siapapun yang terkena ilmu kesaktian ini kulit tubuhnya akan terkelupas menjadi seonggok lumpur hijau yang membusuk.!
__ADS_1
Whuuuss., Whuuuss.!'
'Bheeeet., Shaaat.!'
Si pincang bukannya tidak sadar ancaman itu. tapi wajah dinginnya yang terlindung di balik caping malah menyeringai. pukulan 'Sepasang Telapak Mengemis Nyawa' yang dia lepaskan terus menghantam.
''Matilah kau anjing pincang sialan.!'' rutuk si Arwah Hijau bengis. sambil kembali melipat gandakan tenaga dalamnya. tapi dia menjadi terperangah melihat betapa ilmu kesaktian 'Tapak Kabut Hijau Arwah Gentayangan' yang dia andalkan seakan tersedot sekaligus tersapu habis oleh dua sinar merah hitam berbentuk telapak tangan yang sedang menengadah itu. dalam waktu yang begitu singkat pemuda bungkuk bekas tabib ini mendadak teringat sesuatu.
Pada masa ini di dalam rimba persilatan banyak sekali tokoh- tokoh silat baru yang bermunculan. bahkan para pentolan lama dan kawakan yang sudah mengasingkan diri ikut juga keluar dari sarangnya masing- masing. berita soal batu sakti 'Nirmala Biru' dan rahasia 'Lembah Seribu Racun' membuat dunia persilatan semakin kacau.
Di antara para tokoh silat muda yang baru muncul, ada seorang yang mempunyai ciri pincang dan bertongkat besi. sebelumnya si Arwah Hijau yang juga sebagai salah satu pesilat muda papan atas cuma memandang remeh kabar yang beredar. baginya berita tentang si pincang yang suka bersiul lagu menyedihkan itu hanyalah omong kosong dan berlebihan.
Tapi kini dia baru menyadari kalau semuanya itu bukanlah isapan jempol belaka. saat dia berhadapan dengan pemuda yang banyak menyandang julukan sangar seperti 'Iblis Pincang Kesepian', si 'Gelandangan Hantu' atau 'Pendekar Pincang Tanpa Perasaan' juga 'Setan Pincang Penyendiri' itu. dia bahkan hanya sempat menghantamkan pukulan saktinya sampai empat atau lima kali saja dan semuanya dapat di libas musnah oleh pukulan lawan.
Tubuhnya terpental hingga tiga tombak ke belakang, darah merah kehitaman tersembur dari panca inderanya. tubuhnya dirasakan terus menciut dan kaku mengering seakan sehelai cucian baju yang di peras. dia sadar ajalnya sudah tiba.
Dalam saat terakhir nyawanya terlepas, si Arwah Hijau terbayang kembali pada masa lalunya. bibirnya yang mengering dan pecah bergetaran saat bicara, ''Se., semua ini., buk., bukan., lah., sal., salah., ku. ga., gadis anak., kepala., dus., sun itu., yang., yang mem., buatku jadi., begi., nii..''
Pemuda pincang yang bernama Pranacitra itu menatap onggokan mayat kering si Arwah Hijau yang menciut tinggal kulit gosong pembungkus tulang. dalam hatinya timbul perasaan simpati pada si Arwah Hijau. meskipun tidak tahu siapa dia sebenarnya, tapi dari bisikan yang sempat terucap, Pranacitra dapat menduga kalau pemuda bungkuk itu punya masa lalu yang mengenaskan.
Suasana hening itu berlangsung cukup lama, Pranacitra melirik ke satu arah. korban balas dendam terakhir juga sudah terbujur menjadi mayat. kepala si 'Setan Arit Rombeng' hancur tidak terbentuk. dada serta perutnya hangus menghitam di makan pukulan sakti Arga Pangestu.
Pranacitra lepaskan capingnya, seraut wajah tampan yang pucat dan dingin tanpa perasaan itu sedikit menghangat. sebuah senyuman yang sangat jarang muncul di bibirnya saat melihat dua bekas saudara segurunya berlari menghambur ke arahnya. mereka berdua seakan sedang menangis tapi juga tertawa gembira. apapun itu hati si pincang merasa lega. sudah lama sekali dia tidak merasakan arti kebahagiaan.
Pemuda itu mendongak ke langit. wajahnya basah oleh rintik hujan gerimis yang masih tersisa. langit yang tadinya gelap dengan mendung tebal yang menggantung terlihat mulai sirnah. secercah cahaya mentari senja yang muncul dari balik awan kelabu seperti membasuh tubuh dan jiwa ketiga orang itu.
Di antara mereka tidak terdengar suara tegur sapa atau menanyakan kabar, melainkan hanya pelukan hangat persaudaraan. bagi para murid perguruan gunung Bisma itu seribu kata manis tidaklah ada artinya, karena rangkulan dan tatapan mata mereka bertiga sudah mengungkapkan semua isi hati yang terpendam lama.
Hari telah berganti pagi. tanah pekarangan itu masih dibasahi sisa air hujan yang turun kemarin. udara cerah matahari bersinar hangat. mayat korban pembalasan dendam juga sudah di singkirkan. burung- burung berkicau menambah indah suasana hati.
__ADS_1
Tiga orang muda- mudi itu bangkit berdiri dari tempatnya berlutut di depan tiga buah makam. pemuda pincang itu raih tangan Arga Pangestu dan Ajeng Larasati lalu keduanya dia satukan saling menggenggam.
''Kelak jika diriku masih punya kesempatan untuk berkunjung kemari dua atau tiga tahun lagi, aku mau perguruan silat 'Gunung Bisma' sudah kembali bangkit. satu lagi., aku juga ingin punya banyak keponakan dari kalian berdua..''
Kedua saudara seperguruannya itu memerah mukanya, ada rasa malu tapi kedua tangan mereka justru makin erat menggenggam.
''Kalau itu., tergantung Arga. dia., dia., belum pernah me., mela, melamarku..'' ucap Ajeng lirih tertunduk membuat Arga gugup, bingung dan merasa bersalah. Pranacitra menyeringai sinis. ''Apa perlu kutempelengi dulu pipimu seperti waktu itu agar kau berani melamar Ajeng. atau., kurebut saja dia darimu sekarang juga.!''
Arga Pangestu mengkelam wajahnya, ''Kau langkahi dulu mayatku jika berniat merebut Ajeng Larasati dariku.!''
'Haa., ha., baguslah. ini baru Arga yang dulu kukenal..'' gelak si pincang sambil menepuk pundak rekannya. setelah melirik Ajeng sekejap, dia sudah membalikkan tubuhnya. tongkat besi hitam berkepala tengkorak yang terbuat dari perak kembali di buntal secarik kain hitam.
Tidak ada kata perpisahan cengeng yang terucap dari mereka bertiga. karena dalam hati mereka masing- masing memang tidak akan pernah ada kata berpisah. meskipun raga berjauhan tapi jiwa persaudaraan tidak akan pernah terputus.
Arga Pangestu tersenyum bangga melihat rekannya yang melangkah pergi. biarpun terlihat menyedihkan tapi dia tahu langkah kaki yang menyeret dan terseok itu akan jadi pertanda datangnya kematian bagi kaum durjana. tangannya merengkuh pundak Ajeng Larasati. gadis cantik itu sandarkan dirinya kedalam pelukan si pemuda. hati keduanya terasa damai.
''Sejak saat ini Pranacitra sudah mati., yang ada hanyalah seorang pemuda pincang yang mengembara tanpa kawan. tugas kalian berdua adalah membangkitkan kembali perguruan silat gunung Bisma ini. demi mendiang guru kita Ki Rangga Wesi Bledek dan seluruh saudara seperguruan..''
Itulah sepenggal pesan dari Pranacitra sebelum tubuhnya keluar dari pintu gapura perguruan yang hampir rubuh lalu lenyap di kejauhan. kedua saudaranya maklum kalau Pranacitra sudah memilih jalan hidupnya sendiri dan mereka juga tahu alasan di balik keputusannya.
Sejak mereka melihat tongkat hitam kepala tengkorak itu baik Arga Pangestu juga Ajeng Larasati segera sadar siapa adanya saudara mereka sekarang ini. pemuda pincang yang menyandang bermacam gelar angker. sang pendekar muda pendatang baru yang menempati peringkat teratas dan paling di takuti orang persilatan saat ini, sekaligus juga pewaris ilmu dari lima dedengkot aliran hitam dari Lembah Seribu Racun yang punya banyak sekali musuh.!
Jika sampai ada orang lain yang tahu si pincang ini memiliki hubungan dekat dengan perguruan silat gunung Bisma, maka itu akan menyulitkan Arga dan Ajeng yang hendak merintis kembali perguruan silat warisan Ki Rangga, karena akan banyak sekali musuh Pranacitra yang melampiaskan dendam kesumatnya pada diri mereka berdua.
Pemuda pincang ini terus melangkah pergi. cara berjalannya tetap tidak berubah, sama persis seperti saat dia datang. terseret pelan seperti menanggung beban kehidupan yang teramat berat di iringi suara siulan yang menyedihkan hati siapapun yang mendengarnya.
Jika si Arwah Hijau memilih jalan hitam karena kebencian dan dendam kesumat akibat fitnah keji, akankah kelak Pranacitra juga akan mengalami nasib yang sama.?
Jalan gelap kehidupan sudah dia pilih. tidak ada lagi langkah mundur untuk kembali. baik dan buruk, bertahan hidup atau terkapar mati dia sendiri yang harus menerimanya. bagaimana kelak dia akan menyelesaikan semuanya., entahlah. (emang gue pikirin.,🙄)
__ADS_1
*****
Asalamualaikum., Mohon dengan sangat untuk meninggalkan koment, kritik saran juga like👍vote jika anda suka. authornya pingin tau aja apa yg anda suka dan benci dari novel ini., Terimakasih atas semua dukungan para reader pembaca selama ini. semoga kita semua sehat sejahtera selalu. Amin🙏. Wasalamualaikum.