
Tombak pendek bermata golok dengan gagang berukiran kepala harimau putih itu panjangnya kira- kira seperut orang dewasa. sedikit lebih panjang dibandingkan tongkat besi hitam milik Pranacitra. tubuh orang berjuluk 'Pendekar Harimau Putih' ini selain tinggi besar juga sangat kekar berotot. belum juga menyerang aura kesaktian tenaganya sudah terpancar dari tubuhnya. sikap orang ini mirip seekor harimau buas yang sedang mengincar mangsanya.
Pemuda pincang yang diancam itu masih diam menunduk sambil menghela nafas, seakan dia sudah merasa bosan dan lelah karena berulang kali mesti menghadapi tantangan dari orang dunia persilatan yang hanya ingin mencari nama atau merasa penasaran dengan tingkat ilmu silatnya.
''Sejujurnya aku cukup menghormati dirimu sebagai pesilat hebat dari aliran putih. terbukti kau tidak turut serta mengeroyokku bersama kedua murid perguruan 'Pedang Samudra'..'' ujar Pranacitra kalem. ''Eehm., bagaimana kalau kita selesaikan saja kalah dan menang dalam tiga jurus serangan..''
''Kita bisa gunakan tiga jurus terhebat untuk saling menguji kekuatan saja, karena aku tidak ingin membunuhmu dan lebih tidak mau lagi mati terpenggal senjata tombak golok harimau putihmu yang kabarnya dalam sepuluh tahun petualanganmu sudah memakan lebih dari tiga puluhan nyawa para pesilat kelas atas golongan hitam.!''
Pendekar Harimau Putih tertegun. dagunya yang kokoh dan brewokan terlihat bergerak- gerak sebelum tertawa bergelak. ''Haa., ha., kau bocah pincang yang menarik. sengaja diriku kau puji agar semangat bertarungku sedikit mengendor. tapi sayangnya dari dulu golongan hitam dan putih selalu bertentangan. andaikan kita tidak berseberangan, mungkin kau dan aku bisa menjadi kawan..''
Begitu selesai bicara tombak bermata golok yang tergenggam ditangannya bergerak menusuk lantas membabat lima bagian tubuh lawan. suara menderu disertai sambaran sinar keperakan berkelebat menyertai serangannya. jika tikaman menyasar kepala maka bacokan mengincar leher, dada, perut serta pinggang kiri- kanan Pranacitra.!
Dalam sekali serangan mampu mengancam enam sasaran sekaligus, mau tidak mau Pranacitra terkejut juga. tongkat besi hitam kepala tengkorak terangkat sejajar dada. berputar seperti kincir perisai pelindung untuk menangkis serangan. cahaya hitam pekat berkelebatan. bentrokan senjata terdengar diikuti pijaran bunga api. si pincang tersurut dua langkah kebelakang. tenaga luar dan dalam yang dimiliki lawan sangat kuat.
Pinggangnya menekuk kedepan hingga tubuh membungkuk. saat tongkat besi hitam tetap mainkan jurus pertahan, tangan kirinya yang membentuk cakar membabat kemuka. suasana senja disekitar mendadak menjadi semakin remang seakan sudah berganti malam hari. inilah pertanda pemuda dari gunung Bisma itu hendak lepaskan suatu ilmu kesaktian.
__ADS_1
''Jurus pukulan 'Cakar Burung Hantu Pemuja Kegelapan.!'' teriak Pendekar Harimau Putih mengenali jurus serangan lawannya. tombak bermata golok ditarik balik seiring tubuhnya yang melompat mundur hingga lima langkah. begitu kakinya menjejak senjatanya dibacokkan dari atas kebawah. terdengar suara raungan seekor harimau buas sedang menggaum seiring hembusan angin sangat keras dan gulungan cahaya putih berbentuk kepala harimau yang menerkam.
''Jurus kedua., 'Raungan Badai Dewa Harimau Putih.!'' seru lelaki brewok itu menyebut nama jurusnya. lima cahaya cakar merah hitam yang mencabik ganas bertemu dengan sinar putih yang menderu dahsyat. ledakan keras yang mengguncang pedataran berbatu ditepian hutan itu terjadi hingga tiga kali. bebatuan hancur menjadi debu kerikil, semak belukar meranggas hangus porak poranda.!
Meskipun tongkat besi hitam yang tertancap ditanah hingga dua jengkal membantunya untuk bisa tetap berdiri ditempatnya, namun baju gelap yang dia pakai tetap saja terkoyak hancur dihempas angin pukulan lawan hingga si pincang nyaris telanjang atas. tubuhnya sesaat bergetaran dadanyapun terasa sesak nyaris saja dia terbatuk darah. Pranacitra mengatur pernafasannya sembari meminum sebutir obat pemulih tenaga.
Di pihak lainnya Pendekar Harimau Putih juga mengalami hal yang hampir serupa bahkan mungkin lebih parah hingga tubuh kekarnya jatuh terduduk. beberapa guratan luka cabikan yang mengalirkan darah merah kehitaman terlihat membasahi baju putihnya yang terkoyak. meskipun begitu seringai disertai suara geraman bagaikan harimau buas terdengar dari mulutnya.
''Kuakui kau sangat tangguh. namun sesuai kesepakatan masih ada jurus ke tiga yang belum digunakan..'' geram Pendekar Harimau Putih. tombak bermata golok menunjuk lurus keatas. selapis cahaya putih menyelimuti sekujur tubuhnya. sekali membentak orang ini melesat ke udara. jangan dikata dia tinggi besar, gerakannya sangat cepat dan ringan.
Tongkat besi hitam kepala tengkorak yang tertancap ditanah tercabut lalu berputar satu lingkaran sebelum menusuk keatas. telapak tangan kiri yang terbuka diselimuti gumpalan cahaya merah berbau anyir darah sebelum melabrak ke udara. ''Aku baru menggunakan satu jurus saja, dua sisanya akan kulepaskan sekaligus., sekarang juga.!''
Sembilan larik cahaya hitam pekat yang menebar hawa panas disertai dengan suara ledakan sekeras guntur menggelegar, disusul selusin bayangan telapak dengan sinar merah yang menebar bau anyir darah berhamburan ke udara. itulah jurus 'Tongkat Maut Sembilan Geledek Kematian' juga pukulan sakti 'Tapak Darah Meminta Sedekah.!'
'Whuuuuss., whuuuuss., blaaass.!'
__ADS_1
'Blaaaaarrr., blaaaaarr., blaaaaaamm.!'
Jeritan tertahan yang dibarengi terpentalnya dua sosok tubuh serta percikan darah yang tersembur dari luka kedua orang ini seakan tidak punya berarti sedikitpun karena akibat dari bertemunya tiga aji kesatian yang saling libas membuat daerah sekitar pertarungan itu seakan habis tersapu angin punting beliung. cukup lama tidak terlihat apapun disana selain debu pasir yang bergulungan dan tiga cahaya putih merah dan hitam yang sesaat masih sempat saling libas, sebelum akhirnya lenyap.
Tubuh kekar si Pendekar Harimau Putih masih sempat berdiri berpegangan tombak golok harimaunya sebelum akhirnya tersembur seteguk darah dari muutnya. setelah meraung keras orang tinggi besar dan brewokan itupun tumbang terkapar diatas tanah yang sudah terbongkar.
Disudut yang berlawanan terlihat Pranacitra yang masih sanggup berdiri meskipun rada terbungkuk. hampir keseluruhan tubuhnya diselimiti cahaya dan kabut dingin kebiruan berhawa sejuk, pertanda tenaga kesaktian batu sakti 'Nirmala Biru' yang telah menyatu didalam dirinya mulai keluar menyembuhkan luka luar dalamnya.
Saat tongkat hitamnya menghentak tanah, gumpalan kabut dan sinar kebiruan yang menyelimuti dirinya seakan tertarik kembali masuk kedalam tubuh Pranacitra melalui lobang hidung, mulut juga pori- pori kulit hingga habis tidak bersisa.
Dengan langkah terseok pincang, Pranacitra maju mendekati lawannya yang terkapar dengan tubuh penuh luka. dalam sekejap saja dia sudah berada di tempat Pendekar Harimau Putih. terlihat nafas lelaki brewok ini sangat berat dan terputus- putus.
Tongkat besi hitam kepala tengkorak masih sempat melakukan dua kali totokan ditubuh lelaki kekar ini, jalur cahaya biru yang sangat sejuk mampu mengurangi luka ditubuhnya. pengobatan hebat itu seketika terhenti saat Pranacitra melihat sebuah gulungan bendera hitam kecil yang tersembul dari balik baju putih lawannya yang hancur terkoyak.
Meski belum jelas itu bendera apa, tapi dari bau anyir darahnya pemuda ini dapat mengira kalau gulungan benda hitam itu pasti lambang dari sebuah partai persilatan terkuat aliran hitam, Gapura Iblis. dengan tubuh gemetaran menahan amarah, Pranacitra kembali lanjutkan pengobatannya.
__ADS_1
Saat tersadar dari pingsannya si Pendekar Harimau Putih masih mendapati dirinya yang tergeletak diatas tanah. dia terperanjat saat merasakan sebuah ujung tongkat besi menekan perutnya. sepasang mata dingin tanpa perasaan bagaikan mata mayat sedang menatap bendera hitam yang berada di pinggangnya. ''Mati hidupmu tergantung pada jawabanmu. ada hubungan apa dirimu dengan partai Gapura Iblis., cepat jawab .!''