Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Lelaki bernama Sentanu.


__ADS_3

Dua orang lelaki dan perempuan yang masih sama berendam di kolam air panas itu sama terdiam hingga suasana menjadi hening. meskipun di bagian depan rumah makan yang juga penginapan sekaligus tempat hiburan itu sangat ramai pengunjung, tapi suara ribut dari sana tidak sampai terdengar jelas di kolam pemandian ini, seakan dinding batu yang memisahkan kedua tempat itu kedap suara.


Kabarnya untuk dapat merancang bangunan rumah makan dan tempat penginapannya ini, dulu Nyi Rondo Kuning sampai menyewa seorang bekas ahli bangunan yang pernah bekerja di istana, tentunya dengan biaya yang sangat mahal. tapi hasilnya memang cukup memuaskannya. bahkan orang ini juga telah membuatkan jalan rahasia yang pintunya hanya dapat dibuka oleh kunci yang dimiliki oleh Nyi Rondo Kuning sendiri.


''Aku pernah mendengar tentang mereka, kabarnya dua orang pimpinannya adalah kakak beradik yang cantik jelita. menurutmu kenapa mereka sampai menantangku, ataukah., kedua gadis cantik pimpinannya merasa penasaran dengan ketampananku, Haa., ha.!'' Pranacitra tertawa sambil balikkan tubuhnya. kepala pemuda ini melongok naik ke balik dinding batu pemisah kolam.


Tanpa merasa berdosa mata si pincang terus memelototi punggung putih seorang wanita yang sedang berendam di kolam sebelahnya. ''Hhm., apa yang kau ucapkan tadi memang benar, meskipun seorang janda tapi tubuhmu masih sangat mengiurkan. Aah., aku mesti cepat- cepat menyelesaikan acara mandiku. kalau tidak., diriku bisa saja tidak tahan lalu menelanmu..'' ujarnya jahil menggoda si janda.


Perempuan itu mendengus gusar. sambil membalik kedua tangannya menggebut dan menghantam. serangkum angin keras disertai semburan air kolam panas menghampas ke depan. si pincang terkekeh bersalto di udara. tangannya sempat meraih tongkat besi kepala tengkorak dan terbungkus kain hitam yang tertancap di celah dinding batuan kolam.


Dalam sekejap mata orangnya sudah berdiri telanjang di tepi kolam pemandian. di sana sudah tersedia seperangkat pakaian warna gelap yang terbuat dari kain tebal dan nampak masih baru. selembar kain ikat kepala batik lurik terlihat diatas tumpukan pakaian hitam itu. sepasang mata perempuan cantik itu berkilat tajam. ''Kau kenapa Nyi., jangan bilang kalau dirimu belum pernah melihat barang milik lelaki..'' sindir Pranacitra yang dengan santainya memakai baju dan celana hitam itu.


''Ehmm., walaupun sudah beberapa kali kita berdua bertemu, tapi baru kali ini aku sadari kalau milikmu lumayan menarik juga..'' ucap Nyi Rondo Kuning tersenyum genit. ujung lidahnya terjulur membasahi bibirnya yang merah dan sedikit tebal. melihat tingkah janda itu, si pincang malah jadi bergidik seram.

__ADS_1


''Aa., kuu., aku rasa su., dah cukup kita ber., ber., canda.,nya. seb., sebenar., nya aku kes., kesini ka., kare., na aa., ada sua., suatu mas., masalah pen., ting..'' Pranacitra jadi tergagap dan gugup saat bicara hingga Nyi Rondo Kuning tercengang dan tertawa geli melihat kelakuan si pincang. ''Salah sendiri kau berlaku jahil. sekarang gantian diriku yang akan mengerjaimu..'' batin Nyi Rondo Kuning menyeringai licik.


''Sepertinya baju baru yang kuberikan sesuai dengan tubuhmu. yah., meskipun mungkin agak sedikit kebesaran kurasa tidak masalah. sekarang katakan padaku sebenarnya ada permasalahan penting apa.?'' sambil bertanya Nyi Rondo Kuning naik ke tepian kolam lalu mengeringkan tubuh sintalnya yang putih mulus dari air kolam yang membasahinya dengan selembar kain tebal warna kuning.


Wanita itu mengerling. ''Kenapa kau diam saja. jangan katakan kalau dirimu belum pernah melihat tubuh telanjang seorang perempuan..'' sindirnya sinis melihat pemuda itu hanya diam mendelik dengan mulut setengah terbuka.


Pranacitra seakan baru tersadar. dengan nyengir malu dia hanya bisa melengos dan balikkan badannya. ''Eehm., se., sebaiknya kau cepatlah berpakaian, lalu kita baru berbicara..'' dalam hatinya pemuda itu merutuk kesal karena merasa dikerjai Nyi Rondo Kuning.


Tubuh putih sintal wanita itu sudah tertutupi pakaian dalam warna kuning yang tipis dan ketat. sementara bagian luarnya dia memakai jubah kuning yang juga sangat tipis hingga lekuk tubuhnya terlihat membayang dimata. Pranacitra dalam hati mengakui kalau janda ini mempunyai bentuk tubuh yang memukau.


Nyi Rondo Kuning seakan tertegun diam sesaat lamanya. Pranacitra jadi agak curiga melihat sikap wanita itu. ''Kalau boleh tahu., kenapa kau ingin kami menyelidiki pemuda yang kabarnya sekarang menjadi pembunuh bayaran dengan harga termahal di dunia persilatan itu.?''


Pranacitra menatap dingin Nyi Rondo Kuning. sesaat hawa dingin menyerankan yang terpancar darinya membuat perempuan itu merasa takut. ''Jangan melanggar peraturan yang kau buat sendiri Nyi, untuk tidak ikut campur dengan alasan dan tujuan orang lain. jika kau merasa keberatan atau tidak sanggup melakukannya, aku juga tidak memaksa..''

__ADS_1


Perempuan itu palingkan wajahnya karena ngeri dengan tatapan dingin tanpa perasaan dari mata si pemuda. ''Maafkan aku., tapi kami butuh waktu agak lama untuk menyelidiki orang ini. tadi kau bilang ada dua orang yang ingin kau cari tahu. katakan siapa yang seorang lagi.?''


Pranacitra menunduk diam seakan ragu untuk bicara. tongkat besinya diketuk- ketukkan di lantai batu tepian kolam sampai agak lama. ''Eehm., yang ini akan sangat sulit kau lakukan. karena tingkat keberhasilannya mungkin cuma seujung ruas jari, aku juga akan maklum jika kau sampai gagal menyelidiki orang ini..''


Nyi Rondo Kuning tertegun dan penasaran tapi hanya diam menunggu. ''Aku ingin mencari tahu jati diri sebenarnya dari seorang lelaki yang sudah mati kira- kira dua belas tahun silam. orang ini dulunya adalah pemilik sebuah warung makan kecil diujung jalan desa Karang Ploso. sekarang warung kecil itu sudah menjadi rumah makan besar yang dimiliki oleh seorang juragan kaya bernama Karto Jenar..''


''Dua belas tahun adalah waktu yang sangat lama terlewat. aku perlu bahan keterangan lain untuk bekal penyelidikan. setidaknya aku mesti tahu siapa namanya dan orang yang pernah dekat dengannya.'' ucap Nyi Rondo Kuning setengah ragu. Pranacitra merenung sesaat lamanya sebelum menjawab dengan bibir gemetaran, ''Na., nama lelaki itu., Sentanu. Duu., dulunya dia ini punya seorang anak lelaki yang penyakitan. kau anggap saja bocah itu sudah mati. jadi cukup cari tahu siapa adanya Sentanu itu sebenarnya..''


Dalam hatinya wanita itu semakin merasa keheranan melihat sikap pemuda pincang ini. ''Tidak biasanya dia merasa gelisah begitu rupa. sebenarnya ada hubungan apa pemuda ini dengan lelaki bernama Sentanu itu.?'' meski penasaran Nyi Rondo Kuning tidak berani bertanya lebih jauh. ''Tugas itu bukanlah yang utama. 'Gapura Iblis' dan si Ular Sakti tetap menjadi urusanmu yang paling penting..''


''Sebarkan berita secara senyap dan perlahan. kalau 'Lima Elang Api' tetap bersikeras hendak menantangku, apa lagi yang bisa kuperbuat. Aah., kudengar gurun pasir di puncak Bromo menyajikan pemandangan sangat indah saat matahari terbit. aku rasa tempat itu menarik juga untuk dikunjungi..''


Raut wajah cantuk Nyi Rondo Kuning langsung berubah hebat. ''Jangan- jangan kau mau mengajak mereka untuk bertarung di puncak gunung Bromo. asal kau tahu saja meskipun baru muncul setahun belakangan tapi 'Lima Elang Api' sudah menjadi pembicaraan orang ramai. selain itu kudengar mereka juga belum pernah kalah.!''

__ADS_1


''Haa., ha., kenapa kau khawatir begitu Nyi., aku hanya ingin jalan- jalan saja sambil menikmati pemandangan alam di sana. kali ini kau boleh mengerahkan semua kekuatan modal kita dan anak buahmu yang tersembunyi agar dapat menyelesaikan tugasmu..'' Nyi Rondo Kuning masih ingin bicara lagi tapi semilir angin yang berhembus lewat sudah mengiringi lenyapnya tubuh pemuda itu dari hadapannya.


__ADS_2