
Orang berjubah putih masih berdiri menatap lukisan besar yang ada di dinding ruangan batu pualam. dia tahu kalau lukisan dua buah pintu gapura besar dengan latar belakang langit hitam kelam dan bulan purnama yang berlumuran darah itu di buat sendiri oleh pendiri partai 'Gapura Iblis' lebih seratusan tahun yang lampau.
Semenjak pertempuran besar- besaran yang terjadi puluhan tahun silam antara partai Gapura Iblis dan gabungan partai persilatan aliran putih yang di bantu pihak kerajaan dari wilayah barat dan timur, para anggota partai Gapura Iblis hampir tidak pernah lagi keluar dari sarang rahasianya.
Semenjak pertempuran yang konon menjadi yang terbesar dalam sejarah dunia persilatan dan memakan ribuan korban itu, Gapura Iblis telah terikat perjanjian untuk tidak pernah lagi keluar sarang dan membuat kekacauan di rimba persilatan.
Namun apabila ada orang yang merasa terdesak dan terancam hidupnya, selama dia mampu menemukan jalan bertemu para petinggi partai silat terkuat aliran hitam itu dan berhasil mendapatkan bendera hitam tanda kepercayaan, maka sebesar apapun kesalahannya dia berhak mendapatkan perlindungan dari partai Gapura Iblis.!
Biarpun sudah sangat lama Gapura Iblis tidak muncul di dunia luar, tapi pengaruh dan kekuasan mereka masih tetap menggetarkan hati siapapun. bahkan beberapa tahun belakangan nama besar Gapura Iblis malah semakin berkibar. bukan hanya urusan dunia persilatan yang penuh persaingan berdarah saja, tapi juga sudah merambah wilayah kekuasan dalam istana.
Mulai mengatur jual beli jabatan di keraton, perdagangan gelap, sarang perjudian dan pelacuran hingga merencanakan penculikan dan pembunuhan dapat mereka lakukan. meskipun untuk masalah yang terakhir tadi Gapura Iblis tidak mau turun tangan sendiri. mereka hampir selalu memakai tangan pihak lain untuk dapat mengerjakannya.
Seorang lelaki tua bertubuh kurus kecil dan agak bungkuk mendadak muncul di tengah ruangan batu pualam yang remang gelap. orang tua berpakaian putih yang dalam keremangan cahaya kelihatannya sudah lusuh dan robek- robek ini berdiri tepat diatas pijakan kaki dua orang yang sebelumnya berada di sana. sepertinya titik pijakan orang di lantai ruangan batu pualam itu sudah menjadi peraturan yang tidak tertulis saat ada yang menghadap si jubah putih yang berdiri di depan lukisan.
Orang tua ini bermuka penuh keriput agak pucat dengan kedua mata yang cekung namun menyorot tajam. rambutnya yang putih sudah jarang dan pendek. kakek tua yang umurnya mungkin sudah lebih dari sembilan puluh tahunan itu terlihat sedang membawa sejilid kitab besar dan tebal mirip buku catatan. setelah menggumam tidak jelas sambil membolak- balik buku itu diapun menjura dengan sikap kaku di hadapan si jubah putih.
''Sudah seminggu belakangan ini aku melihat sesepuh 'Dewa Kikir' sangat sibuk mengatur harta kekayaan partai. tapi sekarang tiba- tiba saja kau datang menghadapku tanpa ada perintah. sepertinya., ada suatu masalah penting yang hendak kau bicarakan..'' tegur si jubah putih. dari nada bicaranya yang datar dan lamban seperti tanpa perasaan itu tidak dapat di tebak apakah dia seorang lelaki atau perempuan, sudah tua ataukah masih muda.
''Hhmm., aku mau bicara langsung saja, sejak tiga bulan ini kita sudah kehilangan lebih dari lima orang pemegang bendera hitam, hingga uang keamananpun jelas berkurang. belum lagi beberapa pelanggan yang sudah tidak mampu lagi membayar uang perlindungan hingga bendera hitam Gapura Iblis kita ambil kembali darinya..''
''Terakhir menurut catatanku., seorang tokoh silat dari tanah andalas berjuluk 'Datuk Gunung Kaba' yang jadi buronan kerajaan Minangkabau juga kita ambil bendera perlindungannya karena dia sudah tidak mampu lagi membayar uang upeti pada kita. beberapa hari kemudian orang ini dikabarkan mati terbunuh oleh para tokoh silat istana Minangkabau..''
Orang tua yang di panggil sebagai Dewa Kikir itu menarik nafas kesal, ''Kerugian kita akan menjadi sangat besar jika di gabungkan dengan tahun lalu. padahal rencana besar yang sudah kita persiapkan sejak bertahun- tahun silam membutuhkan biaya yang tidak sedikit. harap engkau dapat menyelesaikan masalah ini secepatnya.!''
__ADS_1
Si jubah putih perlahan menoleh, di dalam remang kegelapan ruangan itu dia menatap orang tua kecil bungkuk yang berada di depannya. dia merupakan segelintir orang lama di dalam partai Gapura Iblis yang masih hidup, gelaran Dewa Kikir sudah di sandangnya sejak dia masih muda.
Konon orang ini memang sangat kikir alias medit sejak dia masih anak- anak. segala perbuatannya cuma berdasarkan pada untung rugi. jangankan untuk bersedekah, memberi pinjaman uang pada orang lain saja mesti dengan bunga yang sangat tinggi. bahkan sampai sekarang membeli pakaian untuk dirinya sendiri saja dia juga tidak mau, padahal kekayaannya luar biasa banyak.
''Sudah ada orang yang menanganinya. kau tidak perlu khawatir., semuanya akan segera teratasi. lakukan saja tugasmu seperti biasanya..''
''Hhm., semoga saja begitu..'' gumam Dewa Kikir. ''Oouh hampir aku terlupa., meskipun kehilangan beberapa pelanggan, tapi kita juga menerima banyak sekali permintaan perlindungan bendera hitam Gapura Iblis dari para pelanggan baru. yang agak mengejutkan ada seorang ketua perguruan besar yang meminta bendera perlindungan untuk dirinya sendiri. bahkan dia berani membayar dengan harga yang lebih tinggi.!''
Untuk pertama kalinya si jubah putih berjalan beberapa langkah sambil jemarinya yang putih kokoh meraba lukisan besar lambang partai Gapura Iblis. ''Eehm., baguslah kalau demikian. boleh dikatakan semuanya masih dalam kendali kita..''
''Aah ada berita yang menarik., aku baru saja mendapat kabar kalau lima tua bangka yang terkurung dalam 'Lembah Seribu Racun' dulu rupanya masih dapat bertahan hidup dan sempat memiliki pewaris..''
Tubuh renta si Dewa Kikir seakan bergetaran mendengar semua yang di ucapkan si jubah putih. sekilas kedua mata tuanya mencorong buas menggidik hati. bibirnya yang tipis dan peot keluarkan suara menggeram seperti hendak mengatakan sesuatu atau malah meraung penuh kegusaran hati.
Suasana dalam ruangan batu pualam itu sesaat terasa semakin hening dan dingin. si Dewa Kikir menarik nafas panjang. setelah menyelesaikan laporannya, dengan sikap enggan orang tua itupun menjura hormat pada di jubah putih sebelum tubuhnya lenyap di kegelapan.
Orang yang berdiri di depan lukisan besar melirik ke lantai ruangan batu. terlihat bekas sepasang telapak kaki yang melesak ke dalam lantai hingga dua ruas jari serta mengeluarkan asap tipis. dia tahu kalau tadi Dewa Kikir sempat berusaha menahan hawa tenaga kemarahannya hingga kedua kakinya menembus lantai batu pualam yang sangat keras di ruangan itu.!
Sepasang muda- mudi sedang duduk berhadapan dengan api unggun kecil yang di lingkari belasan kepalan batu sebagai pembatasnya. sebuah periuk tanah liat yang sudah gosong dan sedikit retak di bagian pinggirnya tergantung di atas bara api.
Beberapa potongan daging rusa kering yang sudah bercampur berbagai macam bumbu dan kuahnya yang sedikit kental terlihat bergolak dalam kuali. aroma teramat sedap memenuhi ruangan goa batu yang luas.
Gadis cantik jelita berbaju putih itu terlihat gelisah, beberapa kali dia menyibakkan rambut hitamnya yang ikal panjang, hitam dan wangi. meskipun merasa sebal tapi dia mesti mengakui kalau pemuda gelandangan yang duduk di seberangnya itu sangat pandai mengolah bahan makanan.
__ADS_1
Dalam hatinya gadis itu merutuk kesal, ''Dasar pincang sialan., sampai kapan masakannya baru akan matang, perutku sudah sangat lapar. ataukah dia memang sengaja mempermainkanku.?''
''Daging sudah empuk, tapi bumbu belum cukup meresap ke dalam dagingnya..'' ucap pemuda berpakaian gelap itu seakan dia tahu apa yang ada dalam pikiran gadis itu, lalu kembali menutup kualinya. potongan bara kayu api di kurangi separuh hingga nyala apinya semakin kecil. dari celah tutup keluar uap air berbau daging yang lezat menggugah selera makan.
''Aapa., apakah sekarang sudah matang.?'' tanpa dapat menahan diri lagi gadis cantik bernama Puji Seruni itu bertanya penuh harap. si pincang Pranacitra terkekeh geli melihat tingkah gadis itu yang melotot kesal.
Tutup kuali di buka, uap beraroma gurih dan asam pedas memenuhi ruangan goa yang di terangi dua lentera minyak. ''Sekarang sudah matang, silahkan kau nikmati..''
Dengan membuang rasa malu, Puji Seruni meraih gayung kayu dan mengambil daging berkuah itu ke dalam periuk kecilnya. sempat ragu- ragu dia mulai melahap masakan si pincang tanpa perduli masih sangat panas. Pranacitra sampai melongo, ''Cantik- cantik., gadis ini rakus juga. gila., bagaimana dia bisa makan kuah daging sepanas itu. apa tidak khawatir bibirnya bakalan bengkak.?''
Suara sendawa yang keras keluar dari mulut Puji Seruni, gadis itu tertunduk malu saat dia sadar sudah makan jauh lebih banyak dari si pincang. wajahnya memerah dan berkeringat seperti kepedasan. ''Maa., maaf yah, habis masakanmu enak banget..''
Pranacitra cuma tersenyum, suapan daging rusa terakhir juga sudah berpindah ke dalam perutnya. ''Di masa lalu., setiap harinya aku pernah melayani kebutuhan makan dua belas orang dengan selera yang berbeda. itu aku lakukan selama bertahun- tahun. mereka selalu merasa puas dengan masakanku..'' tutur pemuda itu sambil termenung. Puji Seruni melihat ada sekilas cahaya kepedihan di matanya.
''Aku tahu kalau tidak berhak untuk bertanya, tapi bisakah kau ceritakan sesuatu tentang dirimu. setidaknya., katakan siapa namamu juga dari mana kau berasal.?''
Pranacitra tertegun, dia tidak suka ada orang yang bertanya tentang masalah pribadinya. tapi saat melihat sepasang mata bening gadis itu yang menatap lembut penuh harap, dia juga tidak tega untuk menolaknya.
Pemuda itu terdiam dan berpikir cukup lama sebelum bicara, ''Kejadiannya sudah sangat lama. bermula dari sekawanan gembel cilik yang setiap harinya kelayapan meminta sedekah dan sesuap nasi untuk bertahan hidup. hanya saja., setelah mendengarkan ceritaku ini aku harap dirimu tidak pernah mengatakannya pada siapapun juga.!''
Sepasang mata dingin itu menatap tajam Puji Seruni. hati gadis itu terasa bergidik, tanpa sadar dia mengangguk. biarpun belum mendengarkan apapun, tapi dia seperti merasa kalau pemuda pincang yang ada di hadapannya menyimpan suatu kisah kelam yang sangat menyedihkan.
*****
__ADS_1
Asalamualaikum., salam sejahtera dan sehat selalu bagi kita semua. mohon tulis komentar, kritik atau saran. like👍vote jika anda suka👌. kalau berkenan bisa Share juga novel ini ke teman" yang lainnya. Terimakasih👏. Wasalamualaikum.