Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Di bawah siraman hujan guntur.


__ADS_3

Pranacitra baru tersadar dari semedinya, dia tersentak saat merasakan tubuhnya menjadi ringan tapi penuh dengan tenaga. berdasar dari ingatannya saat dia turut mendengarkan gurunya Ki Rangga Wesi Bledek yang sedang memberikan petunjuk kepada semua teman- temannya cara mengolah dan mengalirkan tenaga dalam, pemuda yang kaki kirinya agak sedikit pincang ini mencoba untuk mengerjakannya. saat tenaga mulai tersalur ke tangan kanan, Pranacitra merasakan telapak tangan kanannya menjadi berat dan bergetar. cukup sulit juga baginya untuk membuat telapak tangannya menjadi tenang.


Saat semuanya telah terkendali, telapak tangannya mulai di putar setengah lingkaran di depan dadanya lalu ditarik perlahan ke arah pinggang. dengan suatu sentakan keras ke depan telapak tangan kanan yang terbuka itu menghantam.!


'Whuuuss., blaaam., blaar.!'


Saat itu Pranacitra tidak mengerti seberapa besar tenaga dalam yang dia miliki, juga tidak tahu seberapa banyak kekuatan yang telah dia gunakan untuk menghantam. tapi saat melihat rimbunan semak belukar yang tersibak hingga terbetot akarnya dan angin keras yang menyapu tanah berumput hingga tergusur, membuktikan tenaga pukulannya lumayan menakutkan.


Beberapa saat kemudian anehnya Pranacitra merasa dalam dirinya seperti kehilangan sesuatu, nafasnya sedikit sesak tubuhnya juga agak melemah.


Pemuda ini menghela nafas, dia ingat petuah dari si Gembel Sakti Mata Putih saat menyalurkan tenaga dalam yang dia sedot dari Iblis Picak Buntelan Kuning ke dalam tubuhnya. ''Ingat bocah., meskipun tenaga kesaktian yang kuberikan padamu sangat besar, tapi setiap kali kau menggunakannya, tubuhmu akan terasa sedikit melemah..''


''Semuanya itu karena 'Lubang Nadi Neraka Gelap' yang ada dalam dirimu. hingga tenaga dalam pemberianku tidak dapat tersimpan dan berkembang sebagaimana mestinya. tenaga sakti itu berguna untuk menahan pengaruh racun Pembeku Darah Dan Jantung agar tidak terus menggerogoti tubuhmu..''


''Selama kau tidak sering menggunakan hawa saktimu dan racun tetap terkumpul di satu titik. nyawamu akan tetap selamat. tapi jika kau banyak menggunakannya. tenaga sakti yang seharusnya bisa membentengi tubuhmu dari racun ganas itupun akan semakin berkurang, hingga membuat racun yang terkumpul akan kembali menyebar. sampai pada akhirnya kau pasti akan mati.!''


Perlahan Pranacitra berdiri, dia merenung memikirkan semua ucapan orang tua yang telah menjadi guru Srianah itu. ''Keadaan ini sama persis dengan saat Nyi Lintang Wungu dan Malaikat Serba Hitam menolongku tempo hari. awalnya tubuhku terasa lebih kuat. tapi seiring waktu dan tenaga yang sering aku keluarkan, diriku juga menjadi lemah kembali., ini semua karena Lubang Nadi Neraka Gelap yang berada di dalam tubuhku..''


''Jadi kesimpulannya., jika ingin bertahan hidup aku harus bisa mengatur tenagaku, sekaligus mencari cara untuk melenyapkan Lubang Nadi Neraka Gelap ini. tapi dimana aku bisa menemukan orang yang mampu untuk menyembuhkan penyakit keparat ini.?'' geram Pranacitra menahan kemarahannya.

__ADS_1


Setelah menenangkan hatinya yang dipenuhi perasaan kecewa dan nyaris putus asa, pemuda inipun mulai mengalihkan perhatiannya kepada robekan kain yang bertuliskan sebuah petunjuk ilmu silat yang dinamai 'Langkah Aneh Mayat Hidup.'


Di atas lembaran kain putih kumal itu selain tertulis nama ilmu silatnya juga tercantum keterangan dan gambar dua telapak kaki manusia juga garis- garis yang arahnya tidak beraturan. ''Ilmu silat yang bernama aneh, pastinya tidak mudah untuk di pelajari..''


Tanpa sadar Pranacitra seakan tenggelam dalam guratan garis langkah kaki yang ada di atas lembaran kain itu. perlahan kakinya ikut melangkah menurut petunjuk yang ada di sana. juga menyalurkan tenaga dalam ke kedua kakinya. sekali merasa gagal dia mengulanginya lagi. sampai lebih dari sepuluh kali si pemuda melakukannya. tapi cuma separuh saja yang dapat dia pahami.


Pranacitra bukan pemuda tolol, tubuhnya memang lemah tapi otak dan daya pikirnya jauh lebih hebat dari pemuda kebanyakan.


Dia gagal mempelajari jurus Langkah Aneh Mayat Hidup dikarenakan ilmu silat ini memang sangat sulit di pelajari. apalagi kaki kirinya cedera, membuat gerakan kakinya semakin susah. malah berkali- kali dia terjatuh dan terkilir karena salah melangkah. akhirnya pemuda inipun berhenti saat merasa kaki kirinya yang pernah terluka bacok membengkak dan berdarah. baru dia menyadari kalau sudah terlalu keras berlatih.


Setelah mengatur pernafasan dan tenangkan diri, Pranacitra kembali membaca seluruh petunjuk yang tertulis disana. saat hendak kembali berlatih dia baru melihat ada sebaris tulisan kecil yang berada di bagian paling bawah. ''Ilmu ini aku dapatkan dari seorang sobat lamaku yang sudah belasan tahun menghilang tak karuan rimbanya. selentingan kabar yang pernah aku dengar, dia telah tersesat masuk ke dalam sebuah tempat terlarang yang bernama Lembah Seribu Racun.!''


Seketika Pranacitra tertegun. ''Lagi- lagi nama Lembah Seribu Racun di sebut orang. sebenarnya dimana letak lembah itu. kenapa menjadi tempat terlarang dan berbahaya.?'' pikirnya penasaran. kepalanya mendongak, di atas sana sang surya sudah semakin condong ke barat. Pranacitra mendengar perutnya yang berbunyi. dia baru teringat kalau belum makan sejak pagi tadi.


Teringat Srianah, gadis muda tiga belas tahun yang manis, lincah dan setia itu membuat hati Pranacitra di jalari kesepian. meskipun baru setengah bulan bersama, tapi sudah banyak suka duka yang mereka lalui berdua. disaat tubuhnya terbatuk sesak dan kelelahan, dengan sabar Srianah mengurut punggungnya juga membuatkan ramuan jamu untuk meredakan batuknya. lain waktu Pranacitra kambuh penyakit dinginnya. tanpa rasa malu gadis itu langsung mendekap erat punggung si pemuda. memberinya selimut, menggosok pipi dan telapak tangannya untuk sekedar memberikan rasa hangat di tubuh pemuda itu.


Mungkin ini semua hanya perlakuan sepele dan dapat dilakukan oleh semua orang. tapi jika sesuatu yang kecil di kerjakan dengan penuh rasa sayang dan ketulusan hati, akan menjadi sangat berarti dan tak ternilai harganya.


''Kesepian., aku tidak pernah menyangka kalau rasa sepi ternyata begitu menyakitkan. tapi kenapa semua orang yang kusayangi dan membuatku nyaman selalu saja pergi meninggalkan diriku. apakah aku akan terus seperti ini seumur hidup.?'' gumamnya sambil membuka buntelan kain itu. ada empat potong pisang rebus, dua kepal ketan dengan parutan kelapa yang terbungkus daun pisang, sekendi air minum, sepasang pakaian dan selimut kain tebal.

__ADS_1


Pranacitra terkejut saat melihat gulungan kulit kambing berada dalam buntelan itu. setelah ragu sesaat dia mengambil gulungan kulit kambing yang nampak sudah sangat usang. saat dibentangkan terlihat banyak tulisan dan gambar periuk tanah liat. diatasnya tertulis 'Petunjuk Rahasia Ramuan Peningkat Tenaga Dalam Dan Panca Indera.!'


''Bukankah benda ini yang menjadi incaran si Iblis Picak Buntelan Kuning.?'' Pranacitra tidak sempat berpikir jauh karena matanya melihat selembar kain batik lurik di dalam sana. sekali sambar benda itu sudah berada di tangannya. ''Rasanya Srianah sengaja meninggalkan kain batik lurik pengikat kepalanya, apakah ini semua untuk diriku.?''


Bibirnya bergetar saat melihat ada sebaris tulisan diatas kain batik itu.


''Kau harus terus hidup., karena di suatu tempat ada seorang gadis pencopet cilik dan buruk rupa yang selalu menantikanmu.!''


Entah kapan Srianah menulisnya. karena tulisan itu berupa jahitan. apakah saat dia bersemedi mengatur tenaga dalam pemberian Gembel Sakti Mata Putih, ataukah malah sebelumnya.? dia tak tahu, juga tidak perduli. karena air mata keharuan terlanjur turun membasahi pipinya. ''Gadis pencopet yang buruk rupa., kalau ada orang lain yang berani menyebutmu seperti itu, diriku pasti bisa menggila dan membunuhnya..''


''Jangan risau copet cilik., aku akan tetap hidup dan suatu ketika nanti akan berdiri tegak di hadapanmu.!'' teriak Pranacitra sambil hantamkan tangannya ke udara.


Langit senja mendadak berubah gelap. awan hitam dan angin guntur yang bergemuruh mengiringi datangnya hujan lebat. Pranacitra meraung gusar. dia membenci hujan juga kesepian. ''Datanglah sesukamu hujan guntur keparat., habiskan saja seluruh airmu. aku tidak akan kalah., aku akan tetap hidup. lihat saja., lihat saja.!''


Sekali lagi Pranacitra melangkah cepat mengikuti petunjuk dalam tulisan kain. rasa sakit yang mendera kaki kirinya tidak dia rasakan. kulit yang robek, darah yang mengalir, urat otot yang terbetot putus dan tulang betis yang nyaris patah, sama sekali tidak dihiraukannya. sampai pada akhir gerakan jurus, kaki kanannya menyapu sekeras baja.!


Deru pusaran angin tenaga menyibak hujan badai yang menyiram bumi. rimbunan semak belukar ikut tersapu rata dengan tanah yang basah oleh hujan. Pranacitra tumbang terlentang di atas tanah berumput. tubuhnya yang basah kuyup terasa lemas kehabisan tenaga. tapi dia tersenyum puas, pemuda ini tahu kalau dia telah berhasil menguasai jurus Langkah Aneh Mayat Hidup.!


Tiba- tiba saja dia merasa tidak begitu benci dengan hujan. ''Hujan hari ini rasanya lain., lumayan menyegarkan bagiku..'' gumamnya sambil menutup kedua matanya.

__ADS_1


*****


Mohon tulis komentar, kritik dan saran. juga like👍bila anda suka. kalau para Reader suka novel silat semacam ini, bisa mencoba baca novel 13 Pembunuh. Terimakasih. 🙏


__ADS_2