
Jemari gadis manis bekas copet cilik yang punya nama samaran si Coreng itu memutar- mutar gelang rantai perak dengan bandulnya yang berbentuk tengkorak. dalam kerisauan hatinya, tanpa terasa sisa serpihan ingatan Srianah kembali melayang ke masa lalu. jauh saat dia masih sangat kecil kira- kira umur tiga atau empat tahun.
Waktu itu hujan turun sangat lebat dengan guntur petir yang bersautan di langit gelap. seorang wanita muda dengan menggendong bocah perempuan kecil di punggungnya terlihat berlarian menembusi kegelapan ditengah hujan deras yang mengguyur bumi. sesekali perempuan itu berhenti sambil memandang sekeliling hendak mencari jalan.
Sekilas cahaya petir yang menyambar dapat menerangi wajah cantik namun pucat dan kelelahan dari wanita yang usianya mungkin baru dua puluhan tahun. sebilah pedang tergenggam erat ditangan kanannya. air hujan yang menetes dari ujung celana hitamnya sebelah kiri terlihat kemerahan. rupanya perempuan itu sedang terluka.
Suara erangan lirih keluar dari mulut bocah kecil yang menggigil kedinginan. jika saja tidak ada ikatan kain jarik yang menahannya mungkin tubuh bocah perempuan itu sudah sedari tadi terperosot jatuh dari gendongan. ''Iiib., ibu., diingin see., sekali. kii., kita hendak kemm., kema., na.?'' bertanya bocah dalam gendongan si wanita muda yang rupanya adalah ibunya.
''Kau bertahanlah anakku sayang. begitu kita melewati hutan ini, semuanya akan baik- baik saja. orang- orang jahat yang mengejar kita tidak akan menemukan kita berdua..'' ucap sang ibu sambil mengelus kepala putrinya yang basah kuyup. penutup kepala dari kulit lembu tidak mampu lagi melindunginya dari tetesan air hujan.
Meskipun hati perempuan ini teriris melihat nasib putrinya tapi dia sadar kesedihan tidak akan membantu apapun. dengan gertakkan giginya wanita muda itu bulatkan tekadnya untuk terus menerobos kelebatan hutan yang belum dia ketahui berada di daerah mana. tapi agaknya luka di kaki kirinya membuat gerakannya kurang leluasa dan agak lambat.
Baru beberapa langkah dia beranjak dari tempatnya, dari kejauhan diantara curah hujan lebat dan hembusan angin kencang yang menderu, telinganya masih sempat mendengar seruan- seruan gusar dan langkah cepat beberapa orang yang menuju ke arahnya. ''Bangsat sialan., mereka benar- benar tidak sudi melepaskan kami.!" rutuk wanita itu dalam hati sambil terus berlari sekuat tenaganya.
Entah karena panik atau memang terjadi keajaiban, secara aneh tubuhnya dapat bergerak lebih cepat dari sebelumnya. meski demikian ibu dan anak ini masih belum juga terlepas dari ancaman para pengajarnya. saat kilat menyambar di langit. selintas cahayanya mampu sekejap memberikan petunjuk pada wanita itu. dengan cepat dia berkelebat ke satu arah lantas lenyap di kegelapan.
Tidak berapa lama kemudian bermunculan belasan orang berjubah dan berpenutup kepala hitam. dua orang yang datang paling awal sama mengangkat tangan sambil memberi isyarat semua rekannya untuk berhenti. tanpa bicara apapun mereka sudah mengerti apa yang harus dilakukan.
__ADS_1
Serentak mereka mencabut senjata berupa pedang yang panjang dan tipis lantas mulai bergerak menyebar. meskipun tidak terdapat penerangan apapun di malam gelap dan hujan tercurah deras tapi dengan pandangan mata yang tajam dan terlatih semuanya itu tidak menjadi halangan bagi mereka.
''Aaargkh., aaarrgkh.!'' dua buah jeritan ngeri yang disertai semburan darah dari leher yang terbacok menembusi suara deru hujan lebat. tubuh si pemilik leher seketika bertumbangan di atas tanah becek. air hujan memerah dan berbau anyir sementara cahaya pedang di tangan si pembunuh itu terus berkelebat cepat membawa maut.
Sepasang pimpinan orang- orang berjubah hitam menggerung buas. empat buah kepalan tangan bebarengan menghantam lepaskan pukulan sakti bertenaga dalam tinggi yang membuat hujan badai tersibak dan rumput belukar tersapu rata. pembunuh berbaju hitam itu cepat berguling. meskipun mampu menghindar tapi hawa panas dan berat dari pukulan sakti lawan serasa menindas punggungnya.
Seiring tubuh langsingnya yang bersalto menghindari tiga tebasan pedang para pengeroyoknya sekaligus menangkis dua pedang lainnya yang mengincar perut dan pinggang kirinya, dia justru mampu balik melepaskan empat tikaman pedangnya ke arah lawan. dilihat dari caranya bertarung, dia seperti sengaja memakai cara serang dan lari menjauh. meski demikian jurus pedangnya sangat ganas karena mirip gerakan adu jiwa.
Denting senjata yang beradu terdengar berulang kali. kedua orang pimpinan itu sama meraung murka melihat ada seorang lagi anak buahnya tewas juga dua orang lainnya terluka parah. biarpun kepala si pembunuh ditutupi oleh sebuah kedok putih dan cuma tersisa dua buah lubang dimatanya namun mereka berdua tahu kalau dialah wanita yang menjadi buruannya.
Serentak keduanya berkelebat menghambur sambil kembali lontarkan ilmu kesaktiannya. bagi wanita berkedok hitam itu, meski tidak membekal senjata tapi serangan mereka jauh lebih berbahaya dibandingkan kepungan anak buahnya yang cuma tersisa tujuh orang.
Biarpun cakrawala pagi hari sudah cukup lama muncul tapi bocah perempuan kecil yang mungkin umurnya baru tiga atau empat tahunan itu masih diam mendekam dibalik celah batuan besar mirip goa kecil yang berada di balik semak belukar dan pepohonan lebat.
Awalnya dia masih mendengar suara bentrokan senjata dan caci maki dari orang- orang yang bertarung, namun semakin lama suara itu bertambah jauh sebelum akhirnya lenyap. jemari kecil yang gemetaran itu menggenggam erat sebuah gelang rantai perak berbandul tengkorak yang diberikan ibunya sebelum dia pergi meninggalkannya.
''Kau mesti menjaga gelang ini. jangan sampai ada orang lain yang melihat atau mengambilnya. tunggu saja Ibu disini, setelah semua manusia jahat itu aku singkirkan, Ibu pasti akan menjemputmu. kau jangan takut apapun. ingatlah lagu siulan yang Ibu ajarkan padamu. jika dirimu merasakan kesedihan dan kesepian, berdoalah dalam hati lalu bersiul lagu itu. anggap saja., Ibu sedang berada disampingmu..''
__ADS_1
Sebelum pergi ibunya sempat mengecup keningnya dan memeluk penuh kasih sayang. bocah perempuan itu tidak dapat bicara atau bergerak karena tertotok jalan darahnya. ibunya bilang sebelum pagi dia akan dapat bergerak lagi. saat pandangan matanya mulai berat dia masih sempat melihat wajah cantik sang ibunda berubah aneh menghitam dan ditumbuhi bulu serupa binatang sampai sebuah kedok putih menutupi kepalanya.
Biarpun sejak terdengar bunyi ayam berkokok bocah perempuan itu telah dapat bergerak kembali, namun dia selalu mengingat akan pesan sang ibu agar tetap diam ditempatnya hingga Ibunya datang menjemput. tetapi sayangnya., hingga hari terang sang ibu tidak juga kembali.
Itulah terakhir kalinya Srianah melihat Ibunya. sejak saat itu dia yang masih bocah kecil mesti merasakan kerasnya kehidupan. biarpun sang ibu juga pernah mengajarkan beberapa gerakan dasar ilmu silat namun apalah artinya semua itu bagi seorang bocah. ''Ibu., dimanakah kau berada saat ini. apakah dirimu masih hidup. sebenarnya., siapakah kau, aku juga Pranacitra.?'' gumam Srianah sedih sambil memilin gelang rantai peraknya.
Sementara itu pemuda pincang yang sedang dipikirkan Srianah justru sedang berusaha untuk mengingat sesuatu. tangannya terus meraba kantung kulit hitam yang tersimpan dibalik bajunya. dia sangat yakin kalau pernah melihat gelang yang sama dengan miliknya di suatu tempat namun dia lupa kapan dan dimana.
Sambil terus melangkah terseok dia mulai bersiul. irama lagunya terdengar menyayat hati. langkah kakinya yang menyeret pelan seumpama cacing merayap dan siulan menyedihkan itu tetap mengalun walaupun di ujung jalan sana telah muncul tiga orang berjubah hitam dengan wajah angker bengkak kemerahan.
Pewaris ilmu lima dedengkot kawakan dari golongan hitam itu seakan tidak melihat akan kehadiran ketiga orang penghadang itu. terus berjalan maju dengan kepala agak menunduk. walaupun begitu jemari tangan kirinya mencekal gagang tongkat besi hitam kepala tengkoraknya lebih erat.
Saat tinggal enam tujuh langkah barulah dia berhenti. ''Jalan setapak ini sangat sepi, jauh dari perkampungan penduduk dan berada di pinggiran hutan. memang tempat yang bagus untuk bisa saling membunuh.!'' ucapan itu selain terdengar datar juga dingin tanpa perasaan apapun.
Bersamaan ujung tongkat besi hitamnya juga turut menghantam disusul dengan pukulan kepalan tangan yang menimbulkan deru angin panas disertai sambaran sinar kuning hitam berbentuk kepala seekor naga. suara ledakan beruntun dan semburan sinar merah kehitaman mengiringi serangan tongkatnya.
''Awas., jurus 'Tongkat Kembar Cahaya Kegelapan'. pukulan sakti 'Raungan Naga Kehancuran'. cepat kalian menyingkir.!'' seru si jubah hitam yang berdiri sebelah kanan. ''Jahanam pincang keparat, hari ini adalah saat tibanya kematianmu.!'' bentak yang lainnya. dengan gusar bercampur panik mereka buru- buru menghindar sambil bersiap untuk balas menggebrak lawannya.
__ADS_1
*****
Silahkan tuliskan komentar Anda, Terima kasih🙏👏.