
Dua keping uang perak sudah berpindah kedalam kantung baju tebal si pincang. kepalanya sedikit miring menatap.cahaya mentari pagi yang muncul menyinari tanah pekuburan. sinarnya terasa hangat menyapu tubuh, tapi sayangnya kedua mayat yang tergeletak di tanah sudah mulai dingin.
Delapan orang berbaju dan bertutup kain hitam sama terperanjat. meskipun mereka sudah mengira kalau pemuda gelandangan ini adalah orang yang punya kepandaian, tapi sungguh mereka tidak menduga orangnya bakal sehebat itu.
Biarpun begitu kegusaran hati mereka telah mendidih. kadang dendam kemarahan yang tidak terkendali hanya akan membuat orang berbuat semakin bodoh yang berujung pada penyesalan.
Di dahului bentakan sang pemimpin, delapan orang berbaju hitam itu hampir serentak menyerbu. tiga orang mencelat ke atas udara, dari atas membuat setengah lingkaran putaran pedang lalu menikam kepala, tengkuk dan leher si pincang. dua orang bergerak menyamping kanan lantas membabat perut. dua sisanya gulingkan tubuhnya ke tanah, dari bawah langsung menusuk iga dan pinggang lawan.
Terakhir si pemimpin gerombolan baju hitam itu buat gerakan pedang menusuk cepat hingga mampu menimbulkan tiga larik sinar keperakan yang menyasar dada, jantung dan tenggorokan si pincang.
Empat serangan jurus pedang yang ganas datang hampir bersamaan dari empat arah. seorang pendekar yang punya kepandaian silat tinggi dan sudah punya nama sekalipun mungkin bakalan kesulitan menghadapi serangan jurus pedang ini. kalau tidak tewas terajam pedang paling sedikit mereka akan terluka tubuhnya.
Pemuda pincang ini hanya melirik sekejap serangan tiga pedang yang datang dari atas. tanpa merubah kedudukan kedua kakinya dia memutar tongkat besi hitamnya hingga membentuk segulung lapisan cahaya hitam pekat yang mampu menyapu mental tiga serangan pedang yang datang bagaikan tusukan petir.
Seakan tidak perduli dengan apa yang terjadi di atasnya, mendadak pemuda pincang ini merendahkan tubuhnya. tongkat besi hitam di tangan kanannya menyapu dari ujung kanan ke kiri serata dada, seakan bayangan setan hitam berkelebat menyambar. ini hanyalah gerakan jurus pertahanan belaka, karena serangan yang sesungguhnya jauh lebih menggidikkan hati lawan.
Saat tongkat hitam menyapu serangan pedang lawan, tangan kiri si pincang turut membuat tiga gerakan hebat sekaligus. pertama dia menghantamkan kepalannya sekeras baja, lantas berubah seakan cakar setan yang mencabik, mencengkeram dan membetot. terakhir bayangan telapak tangan berwarna semerah darah turut menggebrak.!
'Whuuuk., whuuut., traaang.!'
__ADS_1
'Craaang., sraaak., braaak.!'
Terdengar suara benturan delapan pedang tajam dengan tongkat besi. meskipun jelas terjadi hingga berulang kali namun gema suaranya seakan hanya terdengar sekali saja di telinga karena begitu cepat kejadian ini berlangsung.
Jeritan- jeritan ngeri menyayat hati, patahan mata pedang yang bermentalan di udara, juga terjungkalnya tubuh beberapa orang penyerang berbaju hitam yang di barengi tersemburnya darah segar dan potongan daging tulang manusia yang berhamburan terhantam remuk membuat suasana pagi di pekuburan tua itu menjadi menyeramkan.
Delapan orang berpakaian dan bercadar kain hitam itu kini tinggal dua orang saja, itupun sudah tidak utuh tubuhnya karena satu orang di antaranya selain remuk bahu dan tulang iga kanan, juga pecah mata kirinya. karena tidak kuat menahan rasa kesakitan, orang inipun roboh lalu terkapar pingsan.
Sedangkan seorang yang terakhir adalah si pemimpin gerombolan baju hitam. terlihat pergelangan tangannya terkulai hancur meneteskan darah bercampur serpihan tulangnya. meskipun merasa sakit namun rasa keheranan dan tidak percaya lebih menggumpal di pikirannya.
Pertama dua orang kawannya mati hanya dalam satu gebrakan jurus. meskipun mengejutkan tapi ini mungkin masih dapat dia terima. tapi sekarang., delapan orang pesilat berikutnya yang menyerang serentak dari empat arah enam orang di antaranya mengalami nasib yang sama, terjungkal roboh meregang nyawa bermandikan darah. satu orang lagi sedang sekarat, mungkin tidak lama lagi nyawanya juga akan tamat. kini tinggal dia saja yang masih dapat berdiri sambil pegangi tangan kanannya terjuntai.
Si pemimpin mana pernah tahu kalau dalam satu jurus serangan tongkat si pincang itu terdapat belasan pecahan anak jurus yang sangat menakutkan. dia juga tidak sadar kalau dalam sekali gebrakan jurus, pemuda itu sanggup lepaskan pukulan kepalan tinju, cengkeraman jari juga kibasan telapak tangan yang berhawa panas semerah darah.
Pemuda pincang itu menundukkan kepala sambil tancapkan tongkat besi hitamnya ke tanah. perlahan tangannya membuka kain hitam yang membungkus gagang tongkat itu. sebuah kepala tengkorak yang terbuat dari perak terukir di gagang tongkat hitam. melihat lambang ukiran di tongkat besi itu hati si pemimpin tercekat, tenggorokannnya seperti kemasukan segenggam pasir hingga tidak mampu bersuara. kini dia teringat pada seseorang.
Pagi hari yang awalnya cukup cerah entah kenapa berubah mendung dan semakin gelap seiring dengan angin yang berhembus kencang. si pemimpin gemeletuk giginya. kakinya terus tersurut mundur, berbalikan dengan langkah pemuda gelandangan yang terseok maju.
Sungguh dia tidak pernah menyangka bakal mengalami kejadian ini., bertemu dengan manusia yang sebulan belakangan menjadi perbincangan sekaligus buruan nomor satu aliran putih dan hitam.!
__ADS_1
Langkah kaki yang pincang terseok seperti cacing merayap, suara siulan lagu berirama menyedihkan hati, masih sangat muda dan pucat seperti orang yang penyakitan, berbaju gelap dengan tongkat besi kepala tengkorak. itulah ciri- ciri yang pernah dia dengar di dunia persilatan tentang manusia ini.
Ada yang menyebutnya sebagai 'Iblis Pincang Kesepian', ada juga yang mengelari 'Pendekar Pincang Tanpa Perasaan', juga si 'Siulan Kematian'. belakangan julukannya kian bertambah. nama si Muka Pucat Dingin', 'Gelandangan Hantu' dan 'Setan Pincang Penyendiri' turut pula di sandangnya. entah siapa orang telah memberi pemuda ini banyak julukan aneh dan seram seperti itu.
''Aa., aku sungguh tid., tidak tahu., ka., kalau kau., kau., ada di., di sini..''
''Aak., aku cuma., oorr., orang., su., suru., han, sa., saja., tolong le., lepas., kan aku..'' sambil terus bergerak mundur si pemimpin mulai merengek dan meratap minta ampun.
Kadang ketakutan dan rasa panik membuat orang yang paling pintar sekalipun menjadi tolol. demikian juga si pemimpin gerombolan itu. meskipun tangan kanannya sudah lumpuh, tapi kedua kakinya tetap utuh dan tenaganya juga masih banyak. dari pada terus mundur setapak demi setapak, bukankah lebih baik langsung saja kerahkan seluruh tenaganya untuk kabur secepatnya.?
Tapi sayang., otaknya memang sudah tidak mampu lagi berpikir jernih. saat kaki kirinya yang mundur tersandung sebuah nisan batu dari sebuah kuburan, tubuhnya oleng hilang keseimbangan dan jatuh terjengkang.
''Aam, ampuun, ampunilah aku..'' cuma itu suara yang sempat terucap sebelum ujung tongkat besi hitam si pincang menembus batok kepalanya. sadis dan telengas tanpa ampun menghabisi lawan. meskipun sebenarnya dia benci membunuh, tapi tidak suka di ancam. selama ini siapapun yang berani mengancam jiwanya pada akhirnya hanya akan kehilangan nyawa.
Dua orang muda mudi berbaju putih yang bernoda darah itu sudah keluar dari balik pohon besar tempat mereka bersembunyi. meskipun agak jauh, tetapi semua yang berlangsung di tengah pekuburan itu jelas terlihat oleh mereka. keduanya kini juga sadar dengan siapa mereka berhadapan.
Suara siulan lagu berirama menyedihkan hati masih sempat terdengar di telinga mereka. biarpun ingin kabur, tapi sepasang pemuda gagah dan gadis cantik itu tidak berupaya untuk melakukannya. mereka menyadari semua itu akan percuma jika di lakukan saat berhadapan dengan pemuda yang umurnya mungkin masih sebaya dengan mereka.
Sorot mata yang dingin dari balik helaian rambut hitam pemuda pincang yang terurai itu seakan mampu membekukan aliran darah mereka berdua, saat keduanya tersadar entah sejak kapan si pincang yang aneh, menyeramkan dan seakan tidak berperasaan itu sudah berdiri tepat depan mereka.
__ADS_1