Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Rinai dan barang titipan. (bag2)


__ADS_3

Dengan kedua mata terbelalak Rinai hanya bisa terperangah melihat sebuah kipas berwarna merah darah bersemu kehitaman dengan lukisan rembulan berwarna perak dan matahari emas pada bagian tengahnya. dia sungguh tidak mengetahui apapun tentang kipas yang menurut si 'Malaikat Copet' di sebut sebagai 'Kipas Darah Bulan Mentari' itu.


Saking terpukaunya dia sampai tidak sadar kalau ketua perkumpulan 'Maling Kilat' itu sudah dua kali menegurnya, hingga hardikan keras Ki Suro Dares menyadarkannya. ''Hei., apa kau tidak mendengar kalau tuan ketua besar sedang bertanya padamu. jangan membuat masalah ditempat ini apalagi sampai membuat diriku malu, karena akulah yang telah membawamu kemari.!''


''Aaah., maa., maafkan sikapku tuan ketua besar 'Malaikat Copet, Ki Suro Dares juga para pemimpin perkumpulan 'Maling Kilat' semuanya. tetapi aku sungguh tidak tahu menahu tentang isi dari buntelan kulit itu. sejujurnya diriku hanya menerima barang titipan untuk disampaikan padamu..''


''Aku hanya ingin menyampaikan pesan dari seorang sahabat. karena itulah sengaja kutemui Ki Suro Dares melalui petunjuk yang pernah didapatkan si pengirim pesan dari cerita Pranacitra dimasa lalu agar dia dapat menghubungkan diriku dengan ketua besar. muu., mung., mungkin kau bisa mengetahui semuanya dengan membaca surat rahasia yang ada di sana..'' jawab Rinai tergagap.


Ucapan Rinai membuat Malaikat Copet ingat akan sesuatu. setelah melipat kipas pusaka dan memasukkan kembali ke dalam buntelan kulit, dia mengambil gulungan kain yang terjatuh di atas meja kayu. dengan kembali duduk ke atas kursi goyangnya sambil menghisap pipa cangklong, orang tua inipun mulai membaca isi surat itu.


Meskipun mereka tidak mengetahui secara jelas apa saja yang tertulis di sana tapi dari suara menggumam yang kadang masih terdengar serta raut wajah tegang sang pimpinan perkumpulan Maling Kilat, semua orang dapat memperkirakan betapa mengejutkannya isi surat itu.


''......, Walaupun sekarang ini aku adalah anggota bagian luar dari partai 'Gapura Iblis' yang bertugas sebagai mata- mata, namun selama ini aku tidak pernah mengusik orang persilatan yang benar- benar mempunyai hati nurani luhur dan setia pada kebenaran tanpa pamrih apapun. karena yang selalu kujadikan korban adalah para tokoh persilatan dan perguruan silat yang mengaku dari aliran putih namun sesungguhnya munafik, tamak juga berhati kejam..''


''Contoh terakhir yang menjadi korban dari kemarahanku juga si Muka Pucat Dingin' itu adalah perguruan silat 'Pasir Selatan' yang diketuai oleh 'Sepasang Pualam Sakti'. siapa orang luar yang menyangka kalau mereka sesungguhnya adalah kaki- tangan dari partai 'Gapura Iblis' sekaligus bertugas untuk mengumpulkan dana besar bagi partai terkuat dari aliran hitam itu..''


''......, Melalui gadis kenalan baikku yang bernama Rinai, aku menitipkan senjata pusaka 'Kipas Darah Bulan Mentari' untuk di berikan kepada ketua perkumpulan 'Maling Kilat' tuan besar Malaikat Copet. dari cerita Pranacitra aku tahu kalau dia kenal dekat denganmu. bahkan kaulah yang telah menyelamatkan nyawanya dimasa lalu. aku hanya punya sedikit teman, apalagi yang dapat dipercaya..''


''Si pincang juga Rinai adalah sedikit rekanku yang bisa aku percayai. dari Pranacitra aku tahu kalau tuan ketua besar adalah orang tua yang punya kehormatan dan harga diri tinggi. jadi., kupercayakan kipas pusaka warisan leluhurku itu padamu agar kiranya kelak dapat menemukan orang yang berjodoh dan layak untuk mewarisinya..''

__ADS_1


''......., sebagai satu- satunya keturunan langsung dari pimpinan partai silat 'Kipas Sangkala' yang masih hidup, tentu diriku punya kewajiban untuk membangun kembali atau setidaknya membalas dendam kematian keluargaku juga seluruh anggota partai. tapi aku sadar bakatku kurang berjodoh dengan kipas sakti itu karena sifat bawaan tubuh serta jiwaku yang keras juga kaku..''


''Lagi pula., saat ini aku berada di dalam partai Gapura Iblis sebagai anggota bagian luar, hingga tidak memungkinkan untuk membawa atau mempelajari kipas sakti yang sudah lama kusimpan rapat. karena aku juga tahu kalau Gapura Iblis diam- diam masih terus menyelidiki keberadaan kipas ini juga orang yang mewarisinya. biarpun sampai saat ini mereka tidak mengenali siapa diriku bahkan berhasil menjadi orang kepercayaan dari petingginya tapi aku tetap harus mewaspadai segala sesuatu yang mungkin saja terjadi dimasa depan..''


''......, Pemuda yang pernah menjadi muridmu itu masih hidup. kematiannya hanyalah suatu sandiwara kepalsuan belaka. bukan saja berhasil membuat semua orang persilatan gempar bahkan para pimpinan partai Gapura Iblis juga sampai tertipu. mereka sengaja membiarkan orang lain berebut mengakui sebagai pembunuh si pincang karena ingin dunia persilatan bertambah semakin kacau. dengan demikian, saat kelak Gapura Iblis memutuskan untuk bergerak, seluruh dunia persilatan akan lebih mudah mereka kuasai.!''


''Selain diriku ada dua orang sesepuh Gapura Iblis yang terlibat dalam tipuan kematian dan kuburan palsu itu. bahkan mereka berdualah yang mengatur segalanya dari awal hingga akhirnya semua ini terjadi. biarpun menjabat sebagai dua dari empat orang sesepuh utama partai Gapura Iblis tetapi 'Sepasang Kutu dan Benalu' selain enggan tunduk pada ketuanya mereka juga tidak mau ikut campur urusan partai. keduanya hanya bersedia turun tangan jika ada ancaman dari luar partai yang tidak mampu di atasi oleh anggota lainnya..''


Itulah sebagian penggalan dari isi surat rahasia yang telah terbaca. walaupun masih ada beberapa baris tulisan yang terdapat di atas lembaran kain putih itu tapi ketua perkumpulan Maling Kilat ini tidak lagi berminat untuk mengetahuinya. di bagian paling bawah ada tulisan 'Pendekar Harimau Putih' sebagai pertanda siapa penulisnya.


Sampai di sini si Malaikat Copet makin jadi terperanjat. tubuhnya merosot kembali ke kursi malasnya. dia cepat menghisap pipa cangklong besinya beberapa kali untuk menenangkan diri. dengan rada gemetaran bibir peotnya menggumam, ''Seep., Sepasang Kutu dan Benalu., mee., merr., mereka berdua maa., masih hidup.?''


''Sep., sepasang Kuu., kutu dan Ben., benalu., kedua orang raja iblis pembunuh itu benarkah masih hidup.?'' desis orang bercaping bambu dan membawa sebuah dayung besi. dia bukan lain si 'Iblis Dayung Besi'. ''Buu., bukan itu saja ternyata mereka berdua adalah para sesepuh utama dari partai Gapura Iblis.!'' sambung rekannya yang berjari buntung. dialah si 'Pendekar Penyair Berjari Tiga Warna'. dulu kedua orang anggota Maling Kilat ini pernah secara diam- diam membantu Pranacitra saat menuju 'Lembah Seribu Racun' atas perintah ketuanya, si Malaikat Copet.


''Yang lelaki tua pendek ceking dan bungkuk. biasa dipanggil sebagai 'Kutu Bangkotan'. sedangkan pasangannya seorang nenek tua yang punya tubuh tinggi besar dan sangat menggemari makanan. dia disebut sebagai 'Benalu Tua'. kalau diperkirakan umur mereka saat ini mungkin sudah hampir seratus tahun atau malah lebih..'' sambung kedua orang lainnya.


Nenek berjubah kelabu dan bermata juling sebelah dengan cara berdiri yang seperti sedang berjinjit itu juga bukan orang biasa. sejak bergabung dalam perkumpulan 'Maling Kilat' dua tahun lalu perempuan tua yang biasa dipanggil sebagai 'Nyi Juling Jinjit' ini sudah banyak membuat jasa besar bagi perkumpulannya.


Begitu pula dengan rekannya yang berdiri disamping kiri si nenek. lelaki setengah baya bertubuh gemuk pendek, perut buncit dengan mata seperti orang sedang mengantuk itu dipanggil sebagai 'Ki Gembul Ngantuk'. sejak dua tahun lalu dia juga telah menjadi salah satu petinggi dalam perkumpulan Maling Kilat. jangan dikira keadaan mereka berdua rada terlihat aneh, dalam dunia hitam kaum pencoleng keduanya termasuk buronan yang berharga tinggi.

__ADS_1


Pada awalnya kedua orang bersaudara seperguruan ini telah tertangkap saat hendak membunuh seorang putra petinggi kerajaan yang telah menodai dan membunuh keponakan perempuan mereka. perbuatan kotor itu sebenarnya sengaja dilakukan oleh keluarga pembesar itu sebagai pancingan karena mereka telah kehilangan sebuah harta pusaka akibat dicuri oleh Nyi Juling Jinjit dan Ki Gembul Ngantuk.


Berulang kali selalu lolos dari kejaran para pemburu hadiah dan orang kerajaan, akhirnya dengan siasat licik dan hina seperti itu mereka berduapun dapat dipancing keluar hingga akhirnya tertangkap. saat hendak dihukum mati orang- orang Maling Kilat datang untuk menyelamatkan nyawa mereka secara rahasia bahkan menyebarkan berita kematian palsu bagi mereka.


Malaikat Copet mau menerima mereka bukan saja karena kedua bersaudara seperguruan itu memang sangat ahli dalam mengembat harta orang lain tapi juga hasil dari kerjanya rupanya tidak mereka nikmati sendiri. sangat jarang yang tahu kalau kedua orang tua ini sering membagikan sebagian pendapatan mereka pada kaum miskin secara diam- diam. tapi Maling Kilat yang punya ratusan mata dan telinga tentu dapat mengetahuinya.


''Tapi tunggu dulu., kenapa kedua orang dedengkot tua itu sampai mau- maunya berbuat demikian. bukankah ini sama saja dengan mengkhianati partai mereka sendiri.?'' seru Iblis Dayung Besi. yang lainnya seolah juga baru menyadari keanehan itu hingga sama saling pandang penuh rasa bingung.


''Sudahlah. untuk apa kalian sibuk memikirkan semuanya. yang jelas menurut isi surat ini pemuda penyakitan itu masih hidup dan ada kemungkinan dia sudah mendapat petunjuk dari kedua dedengkot tua yang luar biasa sakti ini. edan tenan., aku masih tidak percaya kalau ternyata nasib baik terus saja menyertai si pincang sialan itu. Haa., ha.!'' Malaikat Copet tergelak bangga.


"Hei., gadis picak. sebelumnya kau bilang kenal baik dengan anak muda pincang itu. aku sebagai salah satu orang yang pernah mengangkat dia sebagai calon murid ingin bertanya, sejauh apa hubunganmu dengan Pranacitra. atau jangan- jangan., kau suka dengannya yah.?''


''Haa., ha., kurasa bocah sialan itu sangat hebat. diluaran sana dia dikenal sebagai pendekar penyendiri yang punya banyak musuh dan sebaliknya tidak punya teman. tapi kenyataannya., dari berita yang didapat oleh mata dan telinga rahasiaku, pemuda pincang, kere, pucat dan dingin itu justru disukai beberapa perempuan cantik..''


''Gilanya., hampir semua wanita cantik itu dia tolak. Huhm., dasar bocah pincang angkuh yang sok ganteng, otakmu itu kurang waras atau bagaimana. Aah celaka., jangan- jangan anumu sudah tidak bisa berdiri hingga kau merasa minder dengan kaum wanita.!'' omel Malaikat Copet kesal gebrak mejanya.


Mendengar sumpah serapah ketuanya, semua orang yang ada di sana tidak tahu mesti bicara apa. bahkan Rinai sampai merah padam mukanya karena menahan rasa malu juga geli. saat itulah orang tua berblangkon hitam itu mendadak bicara keras. ''Gadis muda bernama Rinai., tidak perduli kau setuju atau tidak, mulai hari ini dirimu sudah aku tetapkan sebagai anggota perkumpulan Maling Kilat.!''


 --------------

__ADS_1


Silahkan tuliskan komentar Anda, kritik saran, Like👍 dan Vote👌. jika berkenan tolong Share juga novel PTK ini pada teman" Anda yang lainnya. Terima kasih 🙏.


__ADS_2