
Suara pemuda aneh itu terdengar hambar dan dingin. tidak dapat diketahui dia sedang marah, sedih atau senang. sesaat lamanya suasana menjadi hening. hanya hembusan angin dan deburan ombak lautan yang terus bergulungan menghantam gugusan karang dibawah sana terdengar ditelinga.
Empat puluhan orang murid perguruan 'Pasir Selatan' yang berada disana masih tertegun. meskipun dalam hati mereka sedang dilanda kemarahan, namun entah kenapa terselip perasaan ngeri melihat perbuatan pemuda pucat itu. seakan- akan dari dalam dirinya terpancar kekejaman dan hawa buruk yang sangat jahat.
Suara tulang leher yang remuk menyadarkan semua orang. ''Setan keparat., beraninya kau membunuh kawan kami.!'' bentak pimpinan para murid perguruan Pasir Selatan. ''Dasar bangsat., apa dirimu sudah merasa bosan akan kehidupan ataukah tidak sadar sedang berhadapan dengan siapa.?'' hardik murid yang lainnya.
''Tidak perlu banyak omong, siapapun orang dungu ini dia sudah selayaknya mampus. bunuh dia.!'' perintah si pimpinan murid yang bernama Demung Lodra. tanpa diperintah lagi empat orang murid yang sudah melolos pedang dari pinggangnya berkelebat cepat menyerbu kedepan. dua pedang mengancam leher dan kepala, sisanya membabat perut serta jantung lawan.
Yang diserang tetap duduk diatas batu. tanpa bicara tongkat besi ditangan kirinya bergerak terangkat sejajar dada lantas munusuk. hanya sebuah gerakan yang terlihat sederhana hingga membuat lawan tergelak menghina. namun detik selanjutnya tawa mereka lenyap berganti raungan kematian saat kelebatan cahaya hitam dari tongkat besi lawan memecah empat penjuru berputaran menghunjam laksana mata bor menggerus karang.
'Whuuuukk., whuuuutt.!'
'Traaaaang., traaaang., claaang.!'
''Aaaaakkh., uaaghk.!''
Jeritan menyayat hati yang disusul dengan terjungkalnya empat sosok tubuh bermandi darah dan batangan pedang yang hancur patah seketika membuat suasana menjadi geger. tidak ada seorang muridpun yang dapat mengetahui bagaimana semua itu terjadi. pemuda pucat yang diserang dari empat penjuru itu masih tetap duduk diatas batu yang sama, menatap samudra luas yang ada dibawah sana seolah dia tidak pernah bergerak dari tempatnya.
Hanya sebuah tusukan tongkat besi hitam sudah mampu membunuh empat murid perguruan silat Pasir Selatan. jika mereka cuma mendengar dari sebuah cerita, seumur hidup tidak akan ada yang mau percaya. tapi yang mereka saksikan ini adalah kejadian nyata didepan mata. semua murid itu hanya bisa terperangah bingung dan bergidik ngeri.
Pemuda bermuka pucat perlahan berdiri dari tempatnya duduk lalu melangkah terseret seperti cacing menuju tempat para murid perguruan Pasir Selatan berdiri. dari caranya berjalan terlihat kalau orang ini pincang kaki kirinya. sekali pandang matanya yang dingin sadis menyapu wajah seluruh murid Pasir Selatan hingga tanpa sadar mereka tersurut mundur gemetaran.
Si pincang bertongkat besi hitam berhenti lima enam langkah dari mereka. ujung tongkat naik menuding si murid pemimpin. ''Kau tadi berkata kalau ada orang yang mati dalam tambang karena terlalu kelelahan bekerja adalah takdir. jika begitu., saat aku mencabut nyawamu maka kematian dirimu bisa dianggap juga sebagai takdir..''
Ucapan yang keluar dari bibir si pincang terdengar sangat hambar tanpa perasaan apapun yang tersirat. bahkan malah mirip dengan lelucon. tapi tidak ada seorangpun yang bisa tertawa karena entah bagaimana dan kapan terjadinya, tongkat besi hitam itu kini sudah menghunjam tepat ditengah dada Demung Lodra hingga tembus ke punggung.
Hanya dengan tangan kirinya si pincang mengangkat tongkat besi hitam nyaris tegak lurus hingga tubuh Demung Lodra turut pula terangkat ke atas. orang ini meraung keras matanya mendelik kesakitan. darah yang mengucur dari lubang dadanya sebagian mengalir membasahi tongkat besi lawan. dia ingin berteriak meminta tolong rekannya tapi yang keluar dari mulutnya cuma suara parau dan ludah bercampur darah.
__ADS_1
Tubuh yang terangkat nyaris setombak tingginya dan tersorot sinar mentari pagi itu menciptakan suatu bayangan aneh sekaligus menyeramkan dipermukaan tanah. bayangan itu terlihat bergerak- gerak kejang seperti wayang kulit yang sedang dimainkan oleh dalangnya.
''Kau juga bilang pernah membuang mayat para pekerja tambang yang kabur ke dalam laut. mungkin sudah takdirmu untuk mati disana.!'' mulut bicara tongkatnya bergerak mengayun. jeritan melolong terdengar mengiringi tubuh yang terlempar jatuh ke lautan yang ada dibawah bukit karang hingga lenyap ditelan ganasnya ombak.
Kalau diuraikan dalam suatu cerita, kejadian ini terasa lambat. padahal semenjak pemuda ini berdiri lima langkah dari depan Demung Lodra, lalu menikam dadanya dengan tongkat besi, mengangkat tubuh mangsa yang tertikam seperti tusukan sate sampai melemparkannya kedalam laut hanya butuh waktu teramat singkat.
Bahkan terasa terlalu cepat dan menakutkan sampai- sampai puluhan murid perguruan Pasir Selatan tidak ada yang sempat sadar dan bertindak menolong rekannya. disaat mereka tersadar segalanya sudah terlambat. meskipun mereka membekal pedang namun tidak lagi punya kesempatan mencabutnya.
Andaikan ada yang telah meloloskan senjata itu dari sarungnya, dia juga tidak sempat lagi untuk menggunakannya untuk menyerang karena sambaran senjata tongkat besi hitam ditangan lawannya sudah keburu datang membabat, menghantam dan menikam tanpa kenal ampun.
Seolah setiap kali tongkat berkelebatan dan cahaya hitam pekat datang menyambar, yang terdengar cuma jeritan kematian. paling banter pedang hanya bisa menangkis dua tiga kali saja sebelum bermentalan patah bersama pemiliknya yang terkapar mandi darah.
Sepasang matanya yang menyorot dingin tanpa menyiratkan satupun perasaan serta caranya menghabisi yang begitu keji, dalam sekejap membuat jiwa semuanya dicekam ketakutan dan putus asa. tidak sedikitpun nampak jurus- jurus indah dia mainkan., yang ada cuma gerakan untuk membunuh.!
Hanya dalam waktu sepuluh tarikan nafas, hampir separuh murid perguruan silat Pasir Selatan roboh terjungkal. kepala rengkah terkepruk, jantung tembus tertikam serta isi perut terbongkar keluar beriringan dengan suara lolongan ngeri dan tulang tubuh yang patah remuk dihajar tongkat besi.
Setiap jeritan kematian yang terdengar seolah alunan lagu merdu bagi si pincang. meskipun sekilas saja tapi selalu terlihat senyuman keji yang tersungging di bibirnya saat tongkat besi hitamnya mencabut nyawa lawan. seakan- akan membunuh adalah., kebiasaan yang membuat hatinya senang dan ketagihan.
Dari empat puluhan murid tinggal separuh saja yang masih bertahan menunggu mati. darah yang menggenang di pelataran puncak bukit karang, mayat- mayat yang terkapar dan bau anyir memuakkan yang terhembus angin membuat suasana pagi hari berubah mengerikan hati. tidak sampai sepeminum teh segalanyapun berakhir. tinggal dua orang murid saja yang jatuh terduduk dengan muka pucat pias. entah sejak kapan mereka tidak mampu berdiri dan bergerak menyerang.
Cukup sekali goyangkan tubuhnya pemuda pincang itu sudah berdiri dedepan kedua murid yang tersisa. salah satu diantaranya adalah murid muda yang sempat merasa kasihan dengan keadaan para penambang didalam bukit karang. seorang lagi keburu terkulai pingsan saking ketakutan dengan kedatangan pemuda bertongkat besi itu.
''Tahukah kau kenapa masih kubiarkan kalian berdua hidup.?'' bertanya si pincang yang memang Pranacitra itu dengan suara dingin. yang ditanya menggeleng gemetaran. ''Itu karena dari mata kalian tidak tersirat nafsu jahat dan serakah melainkan rasa simpati yang bercampur penyesalan juga amarah. jika dugaanku tidak salah., apakah kalian berdua berasal dari perkampungan nelayan 'Pasiran Kidul' yang pernah ada dibawah bukit ini sebelum hilang lenyap tanpa jejak.?''
Murid muda itu tertegun sesaat lamanya sebelum akhirnya menganguk dan tertunduk lesu. butiran air mata mengiringi bahunya yang terguncang menahan tangis. ''Kaa., kami memang berasal dari kampung nelayan dibawah bukit ini sebelum lenyap dalam sekejab karena wabah penyakit aneh..''
''Orang tua dan anak- anak baik itu lelaki atau perempuan semuanya tewas hanya dalam tiga hari. yang tersisa cuma para pemudanya termasuk diriku dan temanku ini..'' ujarnya sambil melirik rekannya yang masih tidak sadarkan diri. perlu keberanian berlipat baginya untuk dapat menjawab pertanyaan si pemuda pincang yang baru membantai habis semua saudara seperguruannya.
__ADS_1
''Saat itulah datang Ki Jembar Pambudi dan Nyi Sekar Bekti yang kemudian menolong kami dari penyakit aneh itu. mereka berdua bilang hanya sanggup menyelamatkan para pemudanya saja karena keadaan tubuh kami yang lebih kuat dibandingkan orang tua dan anak- anak. beberapa orang gadis desa kami sempat pula tertolong, tapi entah bagaimana mereka juga lenyap secara aneh tanpa dapat kami ketahui keberadaannya..''
Tanpa dapat dia tahan lagi, dibawah tatapan mata sedingin mayat yang mengancamnya pemuda itupun menceritakan semua yang diketahuinya. ''Tidak lama setelahnya kedua penolong kami itupun mendirikan sebuah perguruan silat yang kemudian diberi nama 'Pasir Selatan' sebagai penghormatan pada desa 'Pasiran Kidul' sekaligus menerima kami para pemudanya sebagai murid- murid mereka..''
''Karena orang tua dan sanak keluarga kami banyak yang sudah meninggal karena wabah penyakit yang menyerang desa, kamipun dengan senang hati menerima beliau berdua sebagai guru dengan penuh bangga. apalagi keduanya sangat welas asih pada sesama dan berbudi luhur..'' ujar pemuda yang umurnya baru dua puluhan tahun itu.
''Welas asih dan berbudi luhur., begitukah menurutmu.?'' tanya Pranacitra sambil tersenyum sinis sambil mengeluarkan selembar gulungan kain putih kumal dari balik pakaian hitamnya. ''Kalau kau masih menganggap mereka berdua manusia suci setelah membaca segala yang tertulis digulungan kain ini, berarti kau memang orang paling dungu didunia.!''
Gulungan kain kumal yang benoda darah kering itu terlempar keras diwajah sipemuda yang masih berlutut. meskipun merasa keheranan dan takut tapi rasa penasaran membuatnya memberanikan diri membuka gulungan kain itu. sesaat kemudian dia tertegun wajahnya semakin memucat seolah tidak percaya dengan semua yang tertulis disana.
Sekujur tubuhnya gemetaran keras menahan dendam amarah, kekecewaan sekaligus kesedihan yang teramat dalam. ingin dia berteriak dan menangis sekeras mungkin tapi hanya isakan bercampur batuk berdarah yang keluar dari mulutnya. begitu keras luka dijiwa pemuda ini hingga dia nyaris gila.
Dua buah totokan didada dan kening dari ujung tongkat besi membuat pemuda itu lemas. seluruh otot, pikiran dan perasaannya yang sangat tertekan perlahan mengendor. tangisannya pecah seperti anak kecil. meski sepintas nampak menggelikan tapi sungguh tidak pantas untuk ditertawakan.
''Lembaran kain bernoda darah itu ditulis oleh salah seorang dari tiga penambang yang pernah kabur dari bukit terkutuk ini. mereka tahu dalang dibalik wabah penyakit yang menyerang desamu dan segala tipu muslihatnya bukan lain adalah kedua guru yang kau sanjung berbudi pekerti luhur itu..'' terang Pranacitra menghela nafas penuh perasaan simpati.
''Kee., ken., kenapa. tap., tapi kenapa mereka berdua sampai hati melakukan sem., semua ini. desa kami hanyalah kampung nelayan kecil dengan kehidupan yang sederhana. kami tidak pernah menyinggung orang lain. jadi kenapa harus kampung 'Pasiran Kidul.?'' teriak pemuda itu dengan mata beringas.
Pemuda itu akhirnya tahu jawaban dari pertanyaannya sendiri. butiran intan dan emas yang belum terbentuk ditelapak tangan Pranacitra itulah alasan utamanya. kedua orang ketua perguruan ini sudah lama tahu kalau di dalam bukit karang yang menjadi wilayah desa nelayan itu tersimpan harta kekayaan terpendam yang tidak terkira jumlahnya.
*****
Asalamualaikum., Salam sejahtera dan sehat selalu bagi kita semuanya.
Mohon tulis komentar anda, kritik saran, like👍, vote atau favorit👌juga rate penilaian bintang 🌟lima jika anda menyukai.
Terima kasih pada para Reader pembaca yang selalu sabar mengikuti novel 'Pendekar Tanpa Kawan' juga novel '13 Pembunuh' dan bantu Share kedua novel kami itu. Maaf yah., selalu lambat update.🙏😅.
__ADS_1
Harapan kami kedua novel silat gaya jadul (yang tidak pernah jelas up datenya ini😜) Dapat Segera Tamat Secepatnya.! Terima Kasih👏. Wasalamualaikum.