
Waktu sudah menjelang tengah hari, di atas langit terlihat mendung hitam yang menggantung. angin dingin yang berhembus sedikit lebih kencang membuat dedaunan pohon rontok berguguran. mungkin sebentar lagi hujan lebat akan turun.
Di tengah pelataran luas yang berada di dalam dinding tembok batu perkumpulan silat 'Merak Api' terlihat suatu pemandangan yang menyeramkan. berpuluh mayat- mayat terkapar bersimbah darah dengan berbagai macam luka. ada yang kepalanya pecah berikut isi otaknya, sebagian lagi tubuhnya terpotong dan berlubang menganga. namun yang paling mengerikan ada pada sosok mayat seorang perempuan.
Keadaan mayat itu bukan saja hancur nyaris tidak terbentuk seakan sudah di cabik- cabik cakar binatang buas raksasa, tetapi juga hangus terbakar di beberapa bagian. itulah mayat dari Nyai Merak Sinden si 'Dewi Merak Merah' sang ketua perkumpulan silat Merak Api. bau anyir darah dan tulang daging yang terkoyak membuat suasana menjadi menyeramkan.
Seorang pemuda berbaju kain tebal warna gelap dan membekal tongkat besi hitam bergagang kepala tengkorak terlihat berdiri diam di tengah hamparan mayat. matanya melirik tajam enam orang sisa anggota Merak Api yang masih hidup. meskipun demikian mereka seperti sudah kehilangan nyawa karena hanya dapat duduk bersimpuh gemetar ketakutan tanpa mampu bergerak.
''Aku hanya bicara sekali saja., sekarang juga kalian cari seluruh benda berharga dan juga barang- barang pusaka dari dalam tiga rumah besar itu, termasuk juga rumah merah yang telah roboh..''
''Apapun yang kalian temukan bawa kemari dan letakkan di depanku.!'' bentak pemuda itu sambil gebrakkan tongkat besinya ke tanah hingga menimbulkan suara berderak memecah hancur permukaan tanah. serentak enam orang itu bergerak menuju kesana. pertama mereka mengambil semua barang yang berada dalam dua rumah di sebelah kiri kanan.
Sebentar saja setumpuk perhiasan emas permata yang berkilauan, juga puluhan kantung uang emas, perak dan tembaga dan berbagai macam perabotan sudah terkumpul di depan si pemuda. keenam orang anggota Merak Api itu kembali bergerak membongkar reruntuhan bangunan yang berada di tengah. bangunan itu sebelumnya adalah tempat yang terlarang bagi siapapun karena merupakan tempat tinggal Nyai Merak Sinden sang ketua perkumpulan Merak Api.
Cukup lama mereka mencari sesuatu benda berharaga yang terkubur dibawah reruntuhan rumah itu sampai akhirnya mereka kembali datang menghadap si pemuda. selain perhiasan emas permata dan uang salah satu dari mereka juga menemukan sebuah kotak kayu yang terkunci.
__ADS_1
Pemuda itu mengambil peti kayu merah berukiran burung merak dan kobaran bara api. dengan sekali remas dia hancurkan gembok besi pengunci kotak kayu jati merah itu. sejenak dia mengamati benda yang ada di dalam kotak sebelum menutupnya lagi.
Dengan isyarat tangan pemuda itu menyuruh enam orang itu untuk mengambil masing- masing segenggam perhiasan dan sekantung uang campuran perak tembaga. mereka sesaat merasa takut dan ragu. tapi saat melihat mata pemuda itu yang tajam menusuk, mereka dengan cepat melakukan semuanya.
''Kalian berenam telah membawa bekal yang lebih dari cukup untuk hidup. aku punya suatu pekerjaan untuk kalian semua..''
''Dengarkan aku., hidup kalian berada di tanganku, aku juga akan selalu ingat betul dengan muka jelek kalian berenam. setelah ini pergilah sejauh mungkin, ganti dan rubah penampilan kalian semua. berpencarlah sambil menyebarkan berita secara diam- diam..'' ujar pemuda itu sambil memandangi wajah enam orang di depannya yang jelas merasa terkejut bercampur keheranan.
''Aku ingin kalian semua mengatakan bahwa Nyai Merak Sinden atau Dewi Merak Merah telah mati terbunuh karena keroyokan beberapa tokoh persilatan yang ingin merebut sebuah batu sakti yang bernama 'Nirmala Biru..''
''Ingatlah baik- baik., lakukan ini dengan rahasia dan penuh kesenyapan. tidak boleh ada orang lain yang tahu masalah yang terjadi sebenarnya. jika sampai kalian gagal menjalankannya., inilah akibat yang bakal kalian alami.!'' desis pemuda itu sambil hantamkan sebelah tangannya yang masih membentuk cakar burung hantu. lima larik sinar hitam pekat berhawa panas langsung menyambar salah satu mayat yang tergeletak di sana.
Pucat pias muka enam orang itu, perhiasan dan kantung uang di tangan mereka sampai nyaris jatuh terlepas. tanpa diminta mereka menyanggupi semua perintah pemuda itu.
''Bagus., sekarang pergilah kemanapun kalian mau dan jalankan semuanya sebaik mungkin. kuharap kalian tidak pernah lagi bertemu denganku karena ceritanya bisa menjadi lain.!'' ancamnya dingin.
__ADS_1
Enam orang itu menjura hormat bercampur takut, seorang di antaranya memberanikan diri bicara. ''Kami ucapkan terima kasih atas ampunan pendekar muda pada nyawa kami berenam. semua yang kau minta pasti akan kami laksanakan sebaik mungkin..''
''Sesungguhnya banyak diantara kami adalah orang taklukan yang terpaksa masuk dalam perkumpulan Merak Api karena ancaman. perbuatanmu membunuh Nyai Merak Sinden secara tidak langsung juga membebaskan kami..'' terang bekas anggota Merak Api yang umurnya paling tua itu. si pincang hanya diam tidak perduli, pancaran matanya seperti menyuruh mereka secepatnya menyingkir.
Pranacitra masih duduk bersandar di bawah sebatang pohon rindang yang berada tidak jauh dari luar markas perkumpulan silat Merak Api yang kini sudah dia bakar habis. kobaran api itu cepat padam oleh air hujan. sebuah batu sebesar dua kerbau yang agak pipih menjadi alas duduknya. sisa harta dan uang milik perkumpulan itu masih sangat banyak.
Setelah mengambil secukupnya sebagai bekal perjalanan, pemuda pincang dari gunung Bisma itu menggali sebuah lubang di bawah sebatang pohon besar. orang tidak akan mengira kalau di bawah batu padas yang dia duduki ini tersimpan harta karun.
Peti kayu jati merah yang berada di atas pangkuannya di buka tutupnya. di dalamnya terdapat sebuah kitab tipis yang sampulnya terbuat dari lembaran besi tipis berwarna merah dengan ukiran burung merak yang berselimut kobaran api. tidak ada tulisan apapun di bagian depan. biarpun begitu dia yakin inilah kitab ilmu 'Kepakan Sayap Api Iblis Langit.!'
Lembar pertama sudah dibuka, pemuda itu seakan terperangah dengan muka memerah. cepat dia buka lembaran kitab berikutnya, tampak pemuda pincang itu semakin geram bercampur gelisah. semakin ketengah bagian kitab, hawa panas terasa menyelimuti tubuhnya. nafas Pranacitra tersengal dan gemetaran. air muka si pemuda menjadi aneh penuh hasrat meluap yang ingin terlampiaskan.!
''Sialan., kitab Iblis jahanam.!'' maki pemuda itu sambil hantamkan telapak tangannya ke atas kitab sakti itu. cahaya merah darah seketika membuatnya hancur luluh. sungguh sangat tidak mudah bagi Pranacitra untuk dapat mengendalikan dirinya. beruntung nenek 'Burung Hantu Bungkuk Pencabut Nyawa' pernah mengatakan rahasia jahat kitab itu.
''Saat kau menemukan kitab itu, sedapat mungkin jangan pernah membukanya. langsung saja hancurkan agar tidak menjadi pangkal bencana. kitab itu berisi pelajaran ilmu sesat. jadi hancurkan saja..'' itulah pesan si Burung Hantu Bungkuk, tapi rasa ingin tahu membuatnya melanggar pesan itu. masih untung Pranacitra mampu bertahan dan keluar dari godaan isi kitab itu.
__ADS_1
Rupanya untuk menguasai kitab ilmu 'Kepakan Sayap Api Iblis Langit' di butuhkan banyak korban. jika seorang perempuan, dia membutuhkan laki- laki untuk pelampiasan hawa ***** yang muncul setelah berlatih ilmu itu. demikian juga sebaliknya kalau pria, dia butuh perempuan untuk menenangkan gelegak tenaga panas akibat berlatih ilmu itu, sekaligus menyadot hawa kehidupannya.
Sekali saja orang tergoda mempelajari ilmu jahat ini, dia akan sulit untuk berhenti. semakin lama dia tidak akan cukup dengan satu korban saja. jika sampai kekurangan orang untuk mengalirkan hawa panas dan hasratnya, ilmu itu dapat menghantam balik dirinya sendiri hingga menyebabkan kematian.!