
Sebuah kereta pedati yang di tarik oleh dua ekor sapi itu bergerak perlahan. bunyi lonceng keleningan yang terikat di leher sapi putih itu seperti memecah suasana awal pagi yang masih gelap. seorang pemuda berbaju hitam dengan rambut panjangnya yang terikat kain batik lurik terlihat duduk di bangku kusir. seraut wajah tampan namun pucat, lelah dan kesepian terlihat di sana.
Sepasang mata dingin tanpa perasaan seperti mayat menyorot tajam menembusi gelapnya jalanan di tepian hutan itu. di atas pangkuan si pemuda tertidur seorang bocah lelaki berusia sembilan atau sepuluh tahunan. kalau di perhatikan masih terdengar suara sisa isak tangis pelan dan air mata di pipi si bocah.
Hanya ada isakan tangis lirih, tubuh kecil kurus itu juga lemas setelah semalaman dia menangis meratapi kepergian orang tua yang bernama Ki Mada. meskipun mulut kecilnya berteriak dan tangan kakinya meronta menghantam apapun yang ada di depannya, tapi tidak ada suara terdengar. yang ada hanya deraian air mata seorang bocah lelaki bisu.
Perlu waktu lebih dari dua kali penanakan nasi bagi si bocah bisu untuk melampiaskan segala kesedihan dan ketidak berdayaannya, pemuda berpakaian gelap yang berada di sana juga tidak melakukan apapun. dia tahu betul kesedihan seperti ini tidak gampang untuk di lewati, apalagi bagi seorang bocah. sampai akhirnya tubuh kecilnya kejang dan jatuh pingsan di atas tanah becek, barulah pemuda itu bertindak menolong.
Cincin maut yang di lepaskan oleh si 'Sepuluh Cincin Pembunuh' pada saat terakhir sebelum ajalnya tiba, sebenarnya di tujukan pada bocah bisu bernama Aji Pradana itu. namun Ki Mada menggunakan tubuhnya sebagai perisai untuk melindungi sang cucu. akibatnya perut bagian kanan orang tua itu tertembus senjata maut si manusia banci.
Sebelum ajalnya tiba, Ki Mada masih sempat bercerita tentang hubungan dirinya, Ki Sentot Bhirawa dan Aji Pradana yang sebenarnya. sungguh pemuda bernama Pranacitra itu tidak pernah menyangka kalau sepuluh tahun silam, kedua orang itu adalah sepasang perampok ulung yang sering malang melintang di daerah perbatasan Jawa barat dan tengah.
Suatu ketika mereka berdua di bayar mahal oleh seseorang untuk ikut serta dalam usaha penghancuran terhadap salah satu perguruan silat terkenal di daerah Jawa barat bernama perguruan silat 'Kujang Kencana' yang berada di lereng gunung Sangga Buana. bersama dengan belasan pesilat bayaran lainnya yang ikut serta dalam penyerbuan, mereka semua berhasil menghancurkan perguruan silat itu.
Barulah pada saat itu para pesilat bayaran ini diberi tahu kalau dalang dari penyerbuan perguruan silat Kujang Kencana itu adalah seorang bekas murid utama perguruan Kujang Kencana yang telah di usir karena berbuat kesalahan besar. selain pernah mencoba berbuat tidak senonoh pada keponakan sang ketua yang sudah bertunangan, dia juga berniat mencuri senjata pusaka perguruan itu.
Meskipun kejadian itu sudah lewat sepuluh tahun lebih, tapi bekas murid murtad itu masih terus menyimpan dendam kesumat yang semakin berkobar. apalagi dia mendengar kalau keponakan sang guru yang cantik dan sudah lama dia idamkan menikah dengan murid lain yang menjadi saingannya dalam merebut hati si gadis sekaligus salah satu calon pewaris perguruan Kujang Kencana.
Sadar kalau ilmunya masih rendah, orang ini nekat berguru pada salah satu tokoh silat jahat yang bercokol di gunung Burangrang. setelah tamat berguru dia juga belum merasa cukup kuat untuk menuntut balas. akhirnya dengan harta hasil merampok tiga keluarga kerajaan di Jawa barat, dia mampu membayar belasan pesilat jahat golongan hitam yang mau membantu pembalasan dendamnya.
Meski usahanya sempat menemui kesulitan karena ketangguhan para murid perguruan Kujang Kencana. tapi karena sang guru sudah setahun lalu meninggal dan sang pewaris belum mampu mengusai semua rahasia ilmu kesaktian perguruan Kujang Kencana, akhirnya murid murtad itupun berhasil juga.
__ADS_1
Hampir seluruh anggota perguruan silat itu di habisi, bahkan kucing dan hewan peliharaan juga tidak terkecuali. harta benda yang ada di sana mereka jarah tanpa sisa sebelum semuanya di bakar habis. saat itu Ki Mada yang berada di dalam bangunan perguruan untuk mencari barang berharga tanpa sengaja menemukan seorang wanita muda tanpa busana yang sudah sekarat terluka parah. dari keadaannya dia telah dinodai orang sebelum dihabisi.
Dengan seluruh sisa tenaganya dia memohon agar Ki Mada sudi menyelamatkan anaknya yang bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. dari pembicaraan singkat itu Ki Mada tahu kalau perempuan cantik itu adalah istri ketua perguruan Kujang Kencana yang sudah terbunuh di samping tubuhnya. mungkin sang pemerkosa adalah si murid murtad.
Meskipun Ki Mada adalah gembong rampok, tapi dia tidak pernah sampai menista kaum perempuan atau anak- anak, karena baginya itu hanyalah tindakan kaum pengecut yang sangat rendah dan menjijikkan. tanpa banyak pikir Ki Mada menyanggupinya.
Benar saja., di bawah kolong tempat tidur kayu meringkuk seorang bocah lelaki lima tahunan yang sedang tertotok. keadaan bocah itu cukup menyedihkan karena terluka di bagian punggung dan leher sampai tembus ke rongga mulutnya. bocah itu meringkuk ketakutan menahan sakit. di tangannya tergenggam sebuah buntelan kain putih bernoda darah.
Melihat semua itu timbul amarah Ki Mada, tanpa perduli lagi dengan harta benda yang ada, orang tua itu cepat menyelamatkan si bocah. seorang kawannya sempat memergoki perbuatannya, tapi dengan beringas Ki Mada membunuhnya tanpa ampun. sejak saat itu Ki Mada dan si bocah yang dia ketahui bernama Aji Pradana ini hidup menyepi bersama.
Dalam persembunyiannya Ki Mada merawat dan mendidik si bocah yang dia perkenalkan sebagai cucunya pada orang lain. dalam buntelan kain bernoda darah itu tertulis nama Aji Pradana sebagai putra ketua perguruan silat Kujang Kencana. di sana juga terdapat sebuah senjata pusaka lambang dari ketua perguruan yang dinamai 'Kujang Emas Nirwana.!'
Hampir lima tahun lamanya Ki Mada dan cucunya menyepi tanpa ada seorangpun yang tahu. tapi sepandainya orang menyimpan bangkai, akhirnya akan tercium juga. Ki Sentot Bhirawa yang menaruh curiga dengan menghilangnya Ki Mada cepat melakukan pengejaran. setelah beberapa tahun berusaha, diapun dapat menemukan jejak bekas rekannya. ''Sebenarnya aku tahu kalau Ki Sentot Bhirawa menaruh curiga kepadaku. tapi dia tidak berani merebut kujang ini dariku karena ilmu silatnya berada di bawahku..''
''Belakangan aku mendengar kalau Ki Sentot Bhirwa mempunyai rumah hiburan bagi para lelaki hidung belang juga tempat perjudian mahal. bahkan pelanggannya adalah kalangan pembesar kerajaan dan orang berpengaruh. konon beberapa gadis di rumah hiburan itu berasal dari keluarga anggota perguruan silat Kujang Kencana dan wanita hasil penculikan. dari cerita Ibunya sebelum meninggal, diriku mengetahui kalau cucuku angkatku ini masih mempunyai seorang bibi yang masih sangat muda. tapi aku tidak tahu dia berada di mana..''
Itulah penggalan cerita yang Pranacitra dengar dari mulut Ki Mada sebelum orang tua itu menemui ajalnya. meskipun si pincang sudah berusaha menyalurkan hawa kesaktian batu Nirmala Biru untuk memperkuat tubuh Ki Mada, tapi tetap tidak mampu menyelamatkan nyawa orang tua itu.
''Jadi sebenarnya bocah bernama Aji Pradana ini adalah pewaris tunggal perguruan silat 'Kujang Kencana'. dan senjata sakti 'Kujang Emas Nirwana' adalah pusaka lambang ketua dari padepokan silat yang berada di gunung Sangga Buana itu..'' batin Pranacitra seraya membelai kepala si bocah yang tertidur di pangkuannya.
Melihat keadaan si bocah bisu itu, Pranacitra teringat masa kecilnya yang pahit. setiap hari dia dan kawanan gembel cilik lainnya mesti mengemis demi sesuap nasi. Ki Mada secara tidak langsung telah menitipkan Aji Pradana kepadanya. pemuda dari gunung Bisma itu dalam hati merasa bimbang ragu, ''Apa yang harus kulakukan, diriku tidak mungkin terus membawa bocah lelaki ini kemanapun..'' pikir si pemuda bingung.
__ADS_1
Kereta pedati terus berjalan lambat, baru saat sinar matahari muncul dari ufuk timur kereta itu masuk ke sebuah perkampungan yang cukup ramai. tidak terlalu sulit bagi Pranacitra untuk mencari tempat rumah pelacuran yang didirikan Ki Sentot Bhirawa. rumah itu selain sangat besar dan luas juga sangat terkenal. empat orang penjaga terlihat berdiri jelalatan di depan rumah dengan membekal golok dipinggangnya.
''Sialan betul., pagi- pagi begini sudah ada yang datang mengotori tempat ini. bukannya kaum pembesar atau para juragan kaya, tapi malah seorang gelandangan miskin., kakinya pincang lagi..'' sungut penjaga yang tubuhnya paling tinggi dan bermulut lebar. ketiga orang temannya sama mendengus kesal melihat kedatangan seorang pemuda yang berjalan terseok turun dari atas pedati.
Saat itu dari dalam rumah besar menerobos keluar seorang perempuan setengah bugil dengan beberapa luka di tubuhnya. seorang lelaki mabuk bertubuh gemuk berlari menyusul sambil menyumpah serapah. sekali tangannya meraih kedepan, rambut panjang perempuan itupun tergenggam hingga dia menjerit kesakitan dan tertahan. dua tiga kali gamparan tangan gempal membuat wanita malang itu tersungkur roboh.
''Wanita sundal sialan., aku sudah membayar mahal untuk pelayananmu. tapi beraninya kau kabur. nih., rasakan akibatnya. mampus saja sekalian.!'' bentak lelaki gemuk itu. terakhir dia keprukkan kendi berisi arak ke kepala wanita itu tanpa perduli ratapan kesakitan dan minta ampun yang keluar dari mulutnya.
Kendi tanah liat berisi minuman keras pecah. isinya berhamburan membasahi hampir semua orang di depan rumah. jeritan melolong terdengar seiring tersemburnya darah dari kepala yang pecah terhantam batu. si gemuk roboh terkapar berkelojotan sebelum akhirnya mati dengan sebuah kepalan batu yang masih menancap di keningnya yang rengkah.
Mata empat orang penjaga itu terbelalak ngeri. mereka semakin kaget saat tahu pemuda pincang yang baru saja turun dari pedati entah sejak kapan sudah berada di antara mereka. tanpa sadar mereka cepat mencabut golok di pinggang hendak menggertak. tapi si pincang keburu bicara.
''Apakah ini rumah judi dan pelacuran milik si bangsat Sentot Bhirawa.?'' bertanya si pemuda pincang pada wanita yang bersimpuh di tanah. tanpa perduli dengan para penjaga yang sudah mengurungnya. perempuan cantik itu hanya mengangguk gemetaran karena merasa takut dengan sorot mata dan ucapan si pemuda pincang yang dingin tajam mengancam.
''Bangsat pincang., setan alas., siapa kau berani membikin onar di tempat ini. apakah dirimu tidak tahu tempat ini milik siapa, atau kau sengaja mencari mati di rumah hiburan ternama ini.?'' maki si tinggi dan rekannya geram. dua orang lainnya malah sudah tidak sabar. dua golok berkelebat mendahului membacok disusul yang lainnya.
''Aku tidak ada urusan dengan empat orang cecunguk goblok. tapi kalian sengaja mencari kematian. jadi., aku kabulkan.!'' mulut bicara, kedua tangannya bergerak hampir bersamaan dari menghantam, menampar dan mencabik. hanya ada kelebatan cahaya merah darah berseling kuning dan hitam menyambar. empat orang penjaga itu tidak sempat untuk berteriak apalagi meneruskan serangan golok. tubuh mereka keburu terjungkal roboh dengan kepala pecah, dada hangus jebol dan seisi perut terburai keluar bersimbah darah.!
Wanita setengah telanjang itu hampir pingsan saking ngerinya melihat keadaan mayat empat penjaga itu. tanpa dapat di tahan dia muntah- muntah. tapi hanya air liur bercampur sedikit darah bekas siksaan pelanggannya yang dapat dikeluarkan. sudah dua hari belakangan ini dia tidak mendapatkan makanan karena terbaring sakit akibat kelelahan di paksa melayani kaum hidung belang.
Tangan pucat itu mencabut tongkat besi hitam yang menancap di tanah lalu menunjuk ke arah kereta pedati. ''Pergilah ke sana dan tunggu aku. tolong kau jaga dulu bocah lelaki bisu yang tertidur di dalam gerobak pedati..'' hanya itu ucapan yang sempat di dengarnya, karena sosok si pincang sudah berkelebat lenyap ke dalam rumah besar.
__ADS_1
*****
Asalamualaikum., salam sehat sejahtera selalu buat kita semuanya. mohon maaf kami semakin jarang up date karena authornya sedang kurang sehat 🙏., tapi tetap dia usahakan untuk up date cerita novel PTK dan 13 Pbh. Terima kasih sudah sabar menunggu. maaf jika ceritanya jadi agak berantakan😅. Wasalamualaikum.