
Bayangan tubuh Pranacitra berkelebat seringan hembusan angin, secepat sambaran geledek. di saat seperti ini orang tidak akan percaya kalau si pemuda adalah seorang yang cacat kakinya. dia paham jika menyerang dengan segenap kemampuan di waktu musuh sedang terpecah pikiran dan hilang kewaspadan, dengan satu atau dua jurus yang mematikan saja sudah cukup untuk membuat lawan roboh terjungkal.
Jurus tongkat 'Pencoleng Mencongkel Pintu Alam Gaib' bergerak menggebuk, menyodok sekaligus mengunci langkah mundur Nyai Pocong Kabut. sementara ilmu pukulan 'Tangan Panjang Penjambret Jiwa' di tangan kiri bergerak memukul dan mencabik perut serta dada Nyai Pocong Kabut yang berturut- turut sudah menerima empat kali pukulan tongkat kayu si pincang yang menghajarnya tanpa ampun.
'Whuuuk., Whuuk., dhees.!
'Dhaaas., Braaak.!'
Tubuh bungkuk Nyai Pocong Kabut terpental semburkan darah. jubah putihnya yang gombrong robek besar bernoda merah. kedua kakinya bengkak bahkan mungkin patah tulang keringnya. tulang sendi bahu kiri melesak remuk dengan beberapa sisa giginya rompal di gebuk tongkat si pincang. nyawa nenek tua ini langsung melayang saat jurus pukulan sakti Pranacitra menghantam perut dan dadanya.!
Pranacitra berdiri gemetaran sedikit terbungkuk. tongkat kayunya dicekal erat. nafasnya tersengal. tangannya meraba bagian perut sebelah kiri bawah. sebatang jarum kecil tercabut. warnanya yang semula putih keperakan berubah agak merah kehitaman saat bertemu darah di tubuhnya. biarpun sedikit tapi pemuda ini tahu kalau dia sudah keracunan.
Dalam gebrakan pertarungan yang singkat itu dalam keadaan terjepit dan terkurung serangan tongkat juga pukulan sakti si pincang, Nyai Pocong Kabut masih mampu lepaskan tiga serangan jarum beracun. dua mampu di hindari dan dibuat mental tapi satu batang jarum masih lolos menyusup bawah perut Pranacitra.
Meskipun bukan orang yang takut pada kematian, tapi pemuda ini juga tidak mau mati konyol tanpa arti. cepat dia menelan sebutir obat pemunah racun pemberian Malaikat Serba Hitam. setelah duduk bersila dan mengatur pernafasan, seiring hembusa nafas yang bersemu kehitaman yang kekuar dari hidungnya, keadaan si pincang sudah lebih baik. racun jarum Nyai Pocong Kabut dapat dikeluarkan dari tubuhnya.
Di antara 'Empat Petani Cangkul Maut' Ki Kartopati sebagai pimpinan tentu memiliki tingkatan ilmu yang lebih tinggi di banding ketiga kawannya. maka dialah satu- satunya yang mampu bergerak dan berusaha untuk bangun, sementara yang lain masih terkapar lemas di tanah meskipun tetap sadar.
Sebutir obat kekuningan dijatuhkan oleh pemuda pincang yang berdiri di hadapannya. orang setengah tua itu mendongak, awal pagi hari yang masih gelap dan sisa kabut yang menggumpal membuat Ki Kartopati tidak dapat melihat jelas wajah si pemuda. apalagi orang ini seperti sengaja menutupi mukanya dengan rambutnya yang gondrong.
''Aku hanya punya sebutir obat pemunah racun. setelah kau minum, dirimu bisa ganti menolong tiga temanmu..''
''Si., siapa kau anak muda., aku Ki Kartopati mewakili Empat Petani Cangkul Maut menyampaikan terima kasih atas semua pertolonganmu malam ini. budi dan dendam terpisah jelas., kelak kami pasti akan membalasnya..''
Wajah dibalik rambut panjang awut- awutan hanya menyeringai dingin. ''Aku cuma orang yang hampir mati, tidak ada perlunya untuk dikenal. tapi kalau boleh kusarankan., jangan pernah terlibat lagi dalam perebutan batu sakti 'Nirmala Biru.' jika masih memaksa., pada ujungnya kalian pasti akan menyesal.!''
Saat berucap sepasang mata dibalik rambut yang tergerai menutupi wajah si pincang di hadapannya seakan menyorotkan cahaya tajam menggidikkan. Ki Kartopati bukanlah pesilat kemarin sore, pengalamannya sangat luas tingkat kepandaiannya juga tinggi. tapi dihadapan sorot mata pemuda itu entah kenapa dia merasa ngeri dan merinding. sinar mata itu seperti bukan mata seorang manusia tapi lebih mirip mata iblis yang penuh dengan dendam kesumat.!
Tanpa sadar Ki Kartopati menganguk, sampai pemuda itu berbalik melangkah pergi dengan kaki terseok dan sebutir obat pemunah racun pemberian si pincang yang pahit sudah lumer di mulutnya, dia tetap tidak mengerti kenapa dirinya bisa merasa gentar dengan sinar mata itu.
Kabut yang tebal mulai memudar lalu hilang seiring cahaya mentari pagi yang menyinari bumi. pemuda pincang yang aneh telah lama lenyap. Empat Petani Cangkul Sakti juga sudah mulai pulih. dari cerita Ki Kartopati, tiga orang lainnya sama mengerti kejadian yang dialami pimpinannya. Ki Ronggo Jangkung dan Ki Lor Wisesa terlihat masih penasaran dengan pemuda itu.
''Kakang Kartopati., kurasa pemuda itu pasti mengetahui sesuatu tentang batu Nirmala Biru. apakah tidak sebaiknya kita ikuti saja dia..''
''Benar kakang., biarpun kita berhutang budi padanya, tapi soal perebutan batu sakti Nirmala Biru itu lain urusan..'' ujar kedua orang itu. sementara Ki Julingan juga setuju dengan ucapan rekannya.
__ADS_1
Ki Kartopati merenung sebentar lalu berkata, ''Kita membutuhkan batu sakti Nirmala Biru untuk mengobati penyakit Nyimas Galuh Intan Arum, cucu perempuan ketua kita satu- satunya. selama ini sudah banyak sekali tabib yang diundang tapi tidak ada satupun yang berhasil menyembuhkannya..''
''Baiklah., biarpun dalam hatiku tidak merasa suka melakukan ini, tapi kesembuhan cucu ketua yang sudah seperti keponakan kita sendiri juga tidak dapat diabaikan. kalau memang pemuda itu mengetahui sesustu tentang batu sakti Nirmala Biru, kita akan memintanya baik- baik sambil menjelaskan alasannya. tapi jika akhirnya dia tidak mau memberikan keterangan apapun pada kita., apa boleh buat, terpaksa kita gunakan jalan kekerasan..''
''Lalu bagaimana dengan cerita pemuda pincang itu tentang perkumpulan pengemis 'Kelabang Ireng' dan gerombolan begal rampok 'Taring Brongot' saat dia berhadapan dengan Nyai Pocong Kabut. bagaimanapun juga masalah ini patut juga kita perhitungkan karena kita tidak tahu betul latar belakang pemuda itu yang sebenarnya..'' Ki Julingan yang sedari tadi diam tiba- tiba bicara. seketika tiga rekannya turut tersadar karena semua yang di utarakan rekannya juga cukup beralasan. sesaat lamanya mereka menjadi ragu untuk bertindak.
Saat itulah terdengar suara dengusan yang di barengi dengan berkelebatnya dua sosok bayangan manusia yang dalam sekejap saja sudah berada di tengah kalangan.
''Aku biasa hidup di aliran sungai dan rawa, karenanya diriku benci susana hutan juga pegunungan seperti tempat ini. lebih tidak suka lagi jika melihat ada orang yang lupa balas budi..'' bentak salah seorang bertubuh kekar berbaju putih yang barusan datang sambil memutar sebuah dayung besi di tangan kanannya. diakhir gerakan dayung besi itu di hantamkan ke sebuah bongkahan batu padas yang ada di tepi kalangan.
'Whuuk., Whuk.!'
'Blaaar.!'
Empat Petani Cangkul Maut agak terperanjat, tingkat tenaga dalam orang ini sangat tinggi hingga dayungnya mampu menghantam bongkahan batu yang cukup besar hingga hancur lebur. walaupun orang ini memakai sebuah caping bambu yang lebar, tapi dari senjata dayungnya orang persilatan masih bisa mengenali siapa adanya orang ini.
''Iblis Dayung Besi.!'' seru Ki Lor Wisesa dan Ki Julingan bebarengan. belum hilang kagetnya sudah terdengar suara orang sedang melantunkan sebait syair.
''Sinar mentari pagi yang hangat.,
Semerbak harum bunga yang bermekaran., Mengundang kumbang menghisap sari madunya..''
Serentak empat orang itu menoleh. orang kedua disana memakai setelan jubah biru muda, dia seorang lelaki yang masih cukup muda mungkin usianya baru tiga puluh lima tahunan. tubuh tinggi sedikit kurus berparas tampan dan berkumis tipis. sepintas dia terlihat lemah lembut seperti perempuan. yang agak janggal adalah orang yang tingkah lakunya seperti banci ini cuma memiliki jari telunjuk, jari tengah dan jari manis di tangan kanannya yang masing- masing berwarna hijau, merah dan biru. sedangkan ketujuh jari lainnya buntung.!
''Pendekar Penyair Berjari Tiga Warna.!'' ganti Ki Kartopati dan Ki Ronggo Jangkung terkesiap. empat pesilat tangguh andalan dari perkumpulan 'Bumi Hijau' itu tidak dapat menutupi rasa kagetnya akan kehadiran dua orang tokoh silat yang punya tingkatan ilmu kesaktian tunggi dan sudah hampir tiga tahun menghilang, bahkan dikabarkan sudah mati ini.
''Empat Petani Cangkul Maut., waktu kami berdua tidak banyak. kuminta urungkan saja niat kalian untuk menghadang pemuda pincang itu..'' ujar Iblis Dayung Besi kereng.
''Biarpun kalian ada empat orang, salah satu diantara kami berdua sudah cukup untuk menghadapi kalian, lagi pula kutahu luka dalam akibat kabut beracun Nyai Pocong Kabut belum sepenuhnya hilang..'' sambung lelaki berjubah biru muda yang di sebut sebagai Pendekar Penyair Berjari Tiga Warna dengan suara lembut tersungging senyum.
''Seb., sebenarnya ada hubungan apa kalian berdua dengan pemuda pincang itu, atau jangan- jangan., kalian juga mengincar batu sakti itu.?'' Ki Kartopati mencoba menyelidik.
''Hak., ha., meskipun kami bukan orang baik- baik tapi tidak serendah itu. kami tahu kalian butuh batu sakti Nirmala Biru untuk mengobati penyakit cucu perempuan ketua perkumpulan Bumi Hijau..''
''Sekarang juga kalian kembali saja., berikan benda ini pada 'Ki Tani Langit Jagad' dan katakan dalam waktu paling lama sebulan, akan ada orang yang datang membawa obat untuk cucu kesayangannya.!'' kata Iblis Dayung Besi sambil melemparkan sebuah benda berbentuk pipa cangklong hitam. karena lemparan itu disertai tenaga dalam tinggi membuat tangan Ki Kartopati rada kesemutan saat berusaha menangkapnya. padahal dia juga sudah kerahkan tenaga sakti tapi masih belum cukup menahannya.
__ADS_1
''Bagaimana kami bisa percaya dengan ucapan kalian berdua.?'' tanya Ki Lor Wisesa masih curiga juga kurang puas.
''Kalau kau masih juga ngotot., maka dayung besiku yang bakal bicara.!'' damprat Iblis Dayung Besi garang. sementara rekannya cuma tertawa sambil melihat pemandangan di sekitarnya. ''Di sini lumayan nyaman., aku mungkin bisa mendapatkan ilham untuk menciptakan tembang syair., tapi jari tiga warnaku perlu mendapatkan pemanasan terlebih dulu..'' mulut si jari tiga ini tersenyum tapi sinar matanya mengancam.
Empat Petani Cangkul Maut terbungkam, dua orang pesilat hebat ini sudah beberapa tahun dikabarkan tewas, tapi sekarang tahu- tahu muncul dan menghadang mereka. siapa pula yang memiliki pipa cangklong besi hitam ini. apa maksud sebenarnya.?
''Kalian tidak perlu banyak pikiran., ketua kalian kenal dengan pemilik pipa cangklong itu. orang itu juga yang mengutus kami berdua. sekarang silahkan pergi, jika tidak si pemilik pipa cangklong itu sudah memberi ijin kami untuk menghabisi siapapun yang berani membangkang.!'' bentak Iblis Dayung Besi lintangkan senjatanya di depan dada. empat orang petani itu saling pandang. meskipun merasa kurang puas tapi keadaan tidak memungkinkan untuk beradu ilmu kesaktian.
''Kami memegang ucapan kalian berdua, jika dalam waktu sebulan tidak ada orang yang datang membawa obat seperti yang kau bilang., perkumpulan Bumi Hijau akan membuat perhitungan dengan kalian.!'' ucap Ki Kartopati. bersama tiga rekannya mereka tinggalkan tempat itu.
''Tugas telah terlaksana., selanjutnya semua terserah pada nasib anak itu. kalau dilihat dari caranya mengelabui Sukma Tertawa dan mempecundangi Nyai Pocong Kabut, sepertinya otaknya encer juga..'' gumam Iblis Dayung Besi kagum.
Rupanya kedua orang ini adalah anggota perkumpulan 'Maling Kilat' yang di utus oleh Malaikat Copet untuk melindungi Pranacitra secara diam- diam.
''Hei., kau mau kemana. tugas kita sudah selesai saatnya kembali memberi laporan pada ketua..'' tegur Iblis Dayung Besi saat melihat kawannya berjalan memisahkan diri.
''Di sini tempat yang indah, aku suka alam bebas di pegunungan. pasti diriku bisa menciptakan sajak syair yang bagus..''
''Dasar penyair gila., ketua menyelamatkan nyawa kita bukan untuk bermain- main..'' damprat Iblis Dayung Besi kesal melihat ulah Pendekar Penyair Berjari Tiga Warna yang dia rasa seenaknya.
''Huh., orang kasar sepertimu mana memiliki jiwa seni dan kelembutan hati., kau pulang saja duluan ke markas nanti aku menyusul..'' saat ucapannya habis tubuh orangnya juga turut lenyap. Iblis Dayung Besi mendengus geleng- geleng kepala. sekali dia berkelebat tubuhnya lenyap ke lain jurusan.
****
Maaf., mungkin sudah lambat menerangkan, dalam cerita ini masalah waktu dan ukuran jarak dan berat kami sampaikan melalui benda atau yang lain.
Satu tombak~ kira" 2 meter.
Satu kati~ kira" lebih setengah kilo.
Sepenanak nasi~ kira" setengah jam.
Sepeminum teh~ kira" lima menit.
Selemparan batu~ kira" sepuluh meter.
__ADS_1
Terima kasih🙏. maaf kalau ada kesalahan. Wasalam.