
Pemuda pincang berbaju gelap itu masih duduk selonjoran kaki sambil berteduh di bawah gubuk yang berada di tengah persawahan. bayangan masa- masa dia di tempa lahir batin di dalam goa itu berangsur menghilang seiring dengan hujan yang mulai mereda.
Semenjak dia keluar dari goa rahasia yang berada dalam 'Lembah Seribu Racun' hampir tiga bulan yang lalu, Pranacitra sudah banyak terlibat pertarungan dengan para tokoh persilatan baik yang mengaku dari aliran putih maupun golongan hitam.
Awalnya tidak ada yang pernah mendengar nama 'Pendekar Pincang Tanpa Perasaan, 'Gelandangan Hantu' atau 'Iblis Pincang Kesepian'. tapi sekarang rimba persilatan sudah menempatkannya di jajaran atas tokoh silat pendatang baru yang paling menakutkan.
Pranacitra masih ingat betul dengan korban pertamanya, karena dia bukan lain adalah Nyai Merak Sinden atau yang lebih di kenal sebagai 'Dewi Merak Merah'. sang ketua perkumpulan silat 'Merak Api.!'
Sebelum keluar goa pemuda ini sudah bertekat untuk menyelidiki siapa pihak yang berada di balik layar, hingga mengakibatkan kelima gurunya terjebak di Lembah Seribu Racun. dari pesan para gurunya dia mendapatkan petunjuk kalau salah satu orang yang terlibat dalam persekongkolan itu adalah Nyai Merak Sinden si Dewi Merak Merah.
Sayangnya pemuda pincang itu belum dapat mengendalikan diri, hingga kemarahan yang meluap membuatnya keterlepasan tangan menghabisi Nyai Merak Sinden. padahal dia sangat berharap dapat mengorek beberapa keterangan dari mulut perempuan cabul itu.
Kesalahan itu seakan membuatnya menemui jalan buntu untuk mencari orang atau pihak yang telah menjebak gurunya. setelah bersusah payah menyelidiki, akhirnya dia mendapatkan suatu titik terang, walaupun sebenarnya dia juga masih ragu dan bingung dengan kebenaran berita yang dia dapat.
Semua petunjuk tidak ada yang lengkap, bahkan beberapa di antaranya seperti saling bertentangan satu dengan yang lain. dulu si 'Malaikat Copet' pernah bercerita kalau ada dua orang tokoh silat yang berhasil lolos dari Lembah Seribu Racun, meskipun pada akhirnya menderita kegilaan dan mati keracunan.
Tapi saat berada dalam goa batu itu bersama lima orang gurunya, dia hanya mendapatkan sedikit petunjuk tentang keberadaan harta karun dan juga petunjuk ilmu kesaktian tingkat tinggi berada di sana. meskipun demikian gurunya juga pernah mendengar cerita tentang adanya harta karun dan rahasia ilmu kesaktian yang kabarnya tersimpan dalam lembah.
Mereka berkata sudah menyelidiki seluruh daerah itu hingga berkali- kali, tapi hanya ada suatu ruangan gelap yang mungkin memberi bukti kalau Lembah Seribu Racun benar menyimpan harta pusaka yang tidak ternilai seperti yang tersebar di dunia luar. sayangnya., ruangan itu pantang untuk di masuki.
Jika memang demikian., lalu kenapa dulu sampai ada dua orang pesilat yang mampu keluar dari lembah itu. satu orang meningkat sangat tinggi ilmu silat dan kesaktiannya, sedang seorang lagi berhasil menggondol sekarung besar penuh perhiasan dan emas permata. walaupun pada akhirnya yang satu menjadi gila lalu mati bunuh diri, sedangkan seorang lagi mati keracunan.
Pertanyaannya adalah dari bagian lembah sebelah mana kedua orang ini mendapatkan petunjuk ilmu silat dan kesaktian tingkat tinggi serta timbunan harta karun yang tidak ternilai itu.
__ADS_1
Menurut cerita si Malaikat Copet, satu orang itu adalah ketua perguruan silat aliran putih yang terkenal. sedang yang lainnya seorang kepala begal yang berjuluk 'Dewa Rampok Bertangan Seribu'. dari penuturan para gurunya, memang ada tokoh silat bergelar seperti itu dan orangnya benar sudah mati.
Kesimpulannya., cerita yang tersebar tentang dua orang tokoh silat yang berhasil keluar dari lembah itu memang benar terjadi. tapi., sangatlah tidak mungkin kalau keduanya mengambil semua harta dan petunjuk ilmu kesaktian yang mereka dapatkan dari dalam lembah hingga tidak tersisa sedikitpun.
Ibarat kata jika kita menguras sebuah kolam ikan yang kecil sekalipun, tidak akan mungkin dapat kering seluruhnya. pasti masih ada sisa air yang tertinggal di sana.
Pranacitra juga teringat tentang jalan rahasia dalam lorong goa batu yang pernah di laluinya, kenapa jalan rahasia itu sampai tertutup begitu lama. kalau di amati lorong goa itu juga bukan terjadi secara alami melainkan buatan tangan manusia. lalu sIapa pencipta lorong sempit dalam goa batu itu dan kenapa mesti menutupnya.
Yang juga aneh adalah, adanya peta jalan Lembah Seribu Racun yang di miliki oleh mendiang gurunya Ki Rangga Wesi Bledek. dari mana peta itu berasal.?
Hujan lebat sudah mereda meninggalkan gerimis dan sisa awan tebal yang masih menggantung, air hujan yang merendam persawahan hampir setinggi lutut kini juga mulai surut. pandangan mata yang tadinya terhalang curahan hujan dan angin sekarang menjadi jelas. agak jauh ke arah barat laut terlihat bayangan bukit kehijauan.
Matahari muncul dari balik awan. sinarnya membuat suasana menjadi sedikit lebih hangat. dari satu arah terlihat setitik kecil bayangan hijau berkelebat muncul menuju ke tengah persawahan. sebentar saja terlihat wujudnya. meskipun masih cukup jauh tapi dapat di tebak kalau bayangan hijau itu adalah sosok seorang perempuan.
Sepintas saja Pranacitra melihat gadis itu, meskipun berwajah cantik dan imut dengan tubuh padat ramping tapi pemuda pincang itu seperti tidak tertarik untuk lebih lama mengamatinya. justru yang sedang menjadi perhatiaannya adalah lima sosok tubuh yang berlari jauh di belakang gadis itu.
Gadis muda berbaju sutra hijau itu mungkin unurnya baru tujuh belasan tahun. berwajah cantik dengan mata yang jeli. dari gerak- geriknya terlihat kalau dia gadis yang lincah, cerdik dan terkesan jail. sebuah buntelan kain terpanggul di pundaknya.
Sekejap saja gadis itu sudah sampai di dekat gubuk. sesaat dia terlihat kebingungan, lalu dengan cepat tubuhnya melompat masuk ke dalam gubuk kecil yang ada di tengah sawah itu. jarak antara tempat gadis berbaju hijau dengan gubuk itu masih terpaut tiga tombak. tapi dia mampu mencapainya hanya dalam sekali lompatan saja.
Hebatnya dia juga tidak masuk melewati pintu gubuk, melainkan menerobos celah dinding bagian atas gubuk bambu yang cuma selebar lima jengkal saja. dalam hatinya Prabacitra mengakui kalau ilmu meringankan tubuh gadis itu lumayan bagus.
Begitu masuk gadis itu langsung berguling di lantai gubuk beralas anyaman bambu. agaknya dia baru sadar kalau ada orang lain di dalam sana. akal pikiran dan tubuhnya berkerja dengan cepat. entah sejak kapan di tangan kanannya sudah tergenggam sebilah arit tajam yang bersinar kehijauan. begitu berguling tahu- tahu tubuhnya sudah berada di belakang si pemuda pincang.
__ADS_1
Pranacitra menarik nafas pelan, tengkuknya terasa dingin saat ujung arit hijau si gadis mengancam belakang punggungnya. ''Jangan berani bicara macam- macam kalau kau masih ingin hidup. asal kau tahu saja., aku ini seorang pembunuh yang terkenal di dunia persilatan. jadi jangan katakan pada siapapun kalau aku ada di sini. mengerti.!''
Pemuda pincang itu hanya geleng- geleng kepala, kalau dia mau sebenarnya sangat mudah baginya untuk menghindar, merebut senjata sekaligus menghantam balik gadis itu, tapi dia malas melakukannya. bukan karena tidak tega, tapi Pranacitra enggan ikut campur masalah orang lain.
Namun sejauh- jauhnya engkau menghindar, jika memang sudah takdirnya tetap saja masalah itu akan selalu dapat menemukan dirimu. sepertinya di hari menjelang senja ini Pranacitra juga kembali ketiban masalah.
Lima orang yang menyusul datang juga sudah sampai di sana. gerakan lima orang ini terlihat jauh lebih cepat dari gadis berbaju hijau yang mendekam di belakang tubuhnya. tadinya jarak diantara mereka terpaut hampir dua ratusan langkah. tapi hanya beberapa kejap mata sejak gadis itu melompat masuk ke dalam gubuk, mereka berlima sudah sampai di sana.
Pranacitra mengernyit., tubuhnya seakan gemetaran menahan amarah sekaligus kesenangan. dari balik celah dinding gubuk bambu di tengah sawah itu si pemuda dapat melihat siapa ke lima pendatang itu. ''Tidak kusangka aku dapat bertemu dengan salah satu dari mereka..''
''Empat orang yang lain aku tidak kenal., tapi yang satu itu biarpun berubah wujud jadi seekor binatang sekalipun tetap akan dapat kukenali.!'' geram Pranacitra menahan gelegak dendam amarah yang meluap. hawa membunuh yang menyeramkan seketika terpancar dari tubuh pemuda itu. sampai- sampai gadis yang berada di belakangnya merasakan kengerian dan tersurut mundur ke sudut gubuk.
Lima orang pendatang itu terdiri dari tiga orang pemuda, satu orang lelaki tiga puluhan tahun yang masing- masing membekal golok di pinggangnya. yang menjadi perhatian Pranacitra justru seorang lelaki setengah tua berpakaian rombeng robek- robek, telanjang kaki dan bermuka mesum yang berdiri terbungkuk di belakang ke empat lelaki itu. sebatang tongkat besi yang agak bengkok tergenggam di tangannya.
Pranacitra menyeringai buas, sekali berkelebat tubuhnya lenyap dari depan si gadis berbaju hijau. belum sempat dia sadar apa yang terjadi, tahu- tahu pemuda yang tadi diancamnya sudah berdiri menghadang di hadapan kelima orang itu.
Kehadiran pemuda pucat berpakaian gelap dan membekal sebatang tongkat besi hitam yang begitu mendadak seketika membuat lima orang lelaki itu terkesiap kaget. tanpa sadar mereka tingkatkan kewaspadaan sambil tangannya meraba gagang golok yang terselip di pinggang masing- masing.
Pemuda aneh di depan mereka membuka kedua matanya yang setengah terpejam. hati kelima orang ini seketika bergidik. tatapan mata orang yang ada di depannya terlihat begitu dingin tanpa menyiratkan suatu perasaan apapun.
Tatapan mata itu menyorot tajam ke arah lelaki tua bertubuh bungkuk yang membekal tongkat besi. hanya kepada orang tua ini saja, seakan tidak ada hal lain yang menarik di matanya kecuali orang tua bungkuk itu. meskipun orang tua ini cukup punya nama besar di rimba persilatan, tapi tetap saja dia merasa risih dan gemetaran di lihat seperti itu. tapi di sisi lain dia seperti pernah melihat pemuda ini sebelumnya entah di mana.
''Bangsat., siapa bocah keparat ini, berani betul memelototi diriku. dasar kurang ajar.!'' umpat orang tua bungkuk itu dalam hati. belum sempat dia mengumbar kemarahan pemuda aneh itu sudah menghardik. ''Empat tahun tidak bertemu rupanya umurmu panjang juga 'Setan Bungkuk Rombeng.!''
__ADS_1