Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Di bawah guyuran hujan. (bag1)


__ADS_3

Hampir bersamaan dengan hujan bunga anggrek berapi yang melesat dari kebutan mantel jubah si 'Anggrek Geni, di atas langit terdengar gemuruh suara guntur menggelagar yang memekakkan telinga. rintik air hujan mulai tercurah membasahi bumi.


Belasan kuntum bunga anggrek berapi melesat cepat dan berputar menghunjam sasarannya. tetesan air hujan yang menimpa tidak mampu memadamkan cahaya api yang menyelimuti anggrek itu. api bunga anggrek seakan menunjukkan bara kesombongan dari hati pemiliknya.


Pranacitra menatap dingin serangan lawannya, kepalanya lebih dalam menunduk. tongkat besi hitam di tangannya di angkat sejajar dada dengan kedua lutut menekuk dan tubuh sedikit membungkuk. seiring tongkat besinya mulai berputaran bagai tameng melindungi tubuh, kakinya juga sudah bergerak melangkah.


Langkah kaki dan gerakan tubuh yang terlihat aneh, kaku tanpa ada sedikitpun kembangan indah yang memukau mata. dari mulut si pincang keluar suara menggerung seram yang di selingi gelak tawa melengking bagaikan jeritan hantu penasaran. sambaran angin dingin yang berhembus entah datang dari mana mengiringi setiap gerak tubuhnya. inilah gebrakan awal dari ilmu 'Langkah Aneh Mayat Hidup.!'


Di serang dengan jurus 'Kebutan Hujan Anggrek Pembakar Sukma' dari si Anggrek Geni' tidak membuat Pranacitra mundur. dia malah maju menyapu hujan bunga api dengan sambaran tongkatnya. gerakan tubuhnya yang kaku dan sepintas kosong tanpa pertahanan justru mampu menghIndarkan dirinya dari hujan serangan lawan.


'Whuuut., wheeet., bheeet.!'


'Sraaaat., blaaar., dhaar.!'


Letupan keras terdengar beberapa kali saat tongkat besi menyapu musnah hujan bunga lawan. percikan bara api semburat ke segala penjuru. hampir semua tokoh silat yang berada di atas panggung sama melompat menghindar sambil kibaskan lengan jubah dan senjata masing- masing untuk melindungi tubuh mereka dari bara api yang menyambar.


Hanya beberapa orang saja yang tetap berdiri diam. dengan tingkat ilmu kesaktiannya yang sangat tinggi, mereka cukup menggerakkan sebelah tangannya saja untuk menggebut dan menghantam ke depan. api yang semburat seketika tersapu lenyap. selain 'Hantu Gunung Kawi, 'Sepasang Jerangkong Ireng, dan tentunya 'Ular Sakti Berpedang Iblis' yang sudah di kenal, masih ada lagi dua orang lagi yang mampu berbuat demikian.


Kedua orang ini seperti sengaja berdiri agak terpisah di sudut kanan panggung. berbaju putih celana hitam dan memakai secarik kain putih penutup separuh muka hingga cuma terlihat mata dan dahinya. di pinggang kiri terselip sebilah sabit dengan gagang yang juga berwarna putih.


Sebelumnya tidak ada satu orangpun yang memandang kehadiran mereka. tapi begitu melihat kehebatan keduanya yang mampu menyapu habis pijaran bunga anggrek berapi yang semburat dalam sekali kibasan. mereka mulai mendapat perhatian para pesilat yang hadir di sana.

__ADS_1


Anggrek Api merutuk marah melihat jurus serangannya di buat buyar berpencaran. sebagian lagi mampu di hindari si pincang dengan langkah kakinya yang terlihat kaku namun membawa hawa menggidikkan hati dalam setiap gerakannya. tanpa buang waktu wanita cantik namun berparas sombong itu melesat maju ke depan.


Tangan kanannya kembali kibaskan ujung mantel jubah merah yang menutupi tubuhnya, hingga hujan bunga anggrek berapi kembali menyambar. hampir bersamaan tangan kanan dan kedua kaki bergerak menghajar lambung serta leher si pincang. hawa panas kemerahan yang mengiringi serangan itu sampai mampu membuat guyuran hujan deras yang tercurah berubah menjadi titik- titik air panas.


''Matilah kau pincang keparat.!'' maki Anggrek Geni bengis. dia yakin dengan gempuran jurus kesaktian yang dilepaskannya bakal mampu membuat lawan terkapar jadi bangkai. tapi hingga lewat sepuluh jurus keadaan tetap tidak berubah. hampir semua serangan jurusnya dapat di hindari dengan gerakan langkah kaki si pincang Pranacitra yang kaku seperti mayat.


Tongkat besi hitam berputar dan menusuk bagaikan sambaran petir bukan saja mampu membuyarkan serangan Anggrek Api, tapi juga beberapa kali memaksa wanita itu mundur beberapa langkah ke belakang. sejauh ini Pranacitra hanya berniat bertahan dan hanya sesekali balas menyerang.


Bagaimanapun juga perempuan berjuluk si Anggrek Geni itu sebenarnya tidak memiliki perselisihan dendam apapun dengannya. jadi Pranacitra cuma andalkan ilmu silat yang dia dapatkan dari 'Gembel Sakti Mata Putih' hasil ciptaan si 'Setan Kuburan'. tapi rupanya wanita itu malah semakin bernafsu membunuhnya. Pranacitra menjadi jengkel melihat kelakuan lawannya. tanpa di sadari siapapun telapak tangan kirinya mulai berubah memerah hingga ke siku.


''Itu., itu pasti jurus 'Langkah Aneh Mayat Hidup' dari si 'Setan Kuburan.!'' seru Hantu Gunung Kawi dengan muka berubah hebat saat mengenali gerakan langkah kaku yang di tunjukkan Pranacitra. meskipun belum pernah berhadapan dengan salah satu dedengkot terkuat aliran hitam itu, tapi di masa lalu dia sudah sering mendengar kehebatan ilmu silat dari tokoh ini.


Seketika semua orang menjadi gempar. bahkan Anggrek Geni yang terkenal sangat angkuh sampai terperanjat hingga sesaat serangannya terhenti di tengah jalan. biarpun cuma sekejap mata tapi sudah cukup bagi si pincang untuk melepaskan satu pukulan sakti.


''Pukulan 'Tapak Darah Meminta Sedekah' dari si 'Pengemis Tapak Darah.!'' beberapa orang berseru ngeri mengenali ilmu pukulan yang di lepaskan si pincang. Anggrek Geni bukannya tidak menyadari kehebatan ilmu pukulan ini, tapi dia sudah terlanjur salah bergerak. dengan keluarkan jeritan parau tubuhnya terhempas hingga nyaris keluar panggung.


Masih untung sebelah Ular Sakti Berpedang Iblis masih mau kaitkan sebelah kakinya untuk menahan tubuh perempuan itu. segumpal darah merah je hitaman termuntah keluar dari mulut Anggrek Geni. matanya melotot penuh dendam dan rasa sakit. hampir sekujur tubuhnya merah dan melepuh. jika tidak cepat mendapat pertolongan mungkin nyawanya akan tamat.


''Hei wanita sombong., kau sudah kalah jadi tidak perlu bersikap jumawa seperti itu. kulihat lawanmu yang pincang itu sudah mengalah padamu sejak awal pertarungan tapi kau tidak juga menyadarinya..''


''Kep., kepa., rat. aa., aku belum kalah. tu., tup mulut bus., busuk., mu ular sia., sialan..'' geram Anggrek Geni berusaha bangkit. tapi kembali tersungkur dan muntah darah. sepasang mata di balik caping berkilat sadis. ''Aku merasa tubuhmu hanya akan mengotori panggung ini. jadi enyahlah dari sini.!''

__ADS_1


Mulut bicara kakinya bergerak menendang. tubuh wanita itu mencelat keluar panggung hingga empat tombak ke bawah panggung. saat di lihat perutnya sudah jebol hingga ke tulang punggungnya. wanita itu mati mendelik di atas gumpalan tanah becek. Pranacitra tertegun melirik si Ular Sakti Berpedang Iblis. semua orang di atas panggung juga melotot kaget dengan kejadian itu.


''Kalian tidak perlu melihatku seperti itu. dia sudah terkapar tidak berdaya, tadi aku sudah menolongnya agar tidak terjatuh ke bawah. bukannya berterima kasih tapi dia malah berani memaki diriku. jadi., aku singkirkan saja sekalian. lagi pula kami para pendatang baru memang saling bersaing. ingat akulah yang membunuh Anggrek Geni.!'' seruan pemuda itu keras menembus lebatnya hujan.


''Orang ini rupanya sangat keji. sebenarnya apa maksudnya berbuat seperti itu. kenapa dia kembali lagi kemari. aku tidak yakin kalau ini cuma masalah persaingan di antara kami para pesilat muda pendatang baru..'' dalam hatinya Pranacitra membatin keheranan.


Dua puluh orang pesilat yang berada di sana sudah bergerak mengurung. bermacam senjata pusaka telah tergenggam. berbagai ajian telah pula di siapkan untuk menghabisi nyawa si pincang. sorot mata beringas penuh aroma dendam seakan mampu membuat hawa dingin dan air hujan menjadi mendidih.


''Huhm., jadi kalian mau mengeroyoknya. jika mau menuntut balas lakukan pertarungan secara adil. selama aku berada di sini jangan pernah melakukan perbuatan yang menjadi pantangan Ular Sakti Berpedang Iblis.!'' bentak pemuda berbaju putih itu seraya berkelebat menghadang. tangan kanannya sudah meraba gagang pedang 'Iblis Hitam' yang terselip di belakang pinggangnya.


''Setan alas., apa maksud perbuatanmu ini ular keparat. atau jangan- jangan., kau berniat membantunya.!'' bentak seorang pesilat setengah umur berjubah kuning yang berdiri di tengah dan membekal sebatang trisula yang bersinar kuning redup. sekali bergerak tubuhnya mencelat ke depan sambil kirimkan tikaman trisulanya.


''Jika demikian kami tidak akan segan untuk menghabisimu bersama pemuda pincang itu. kawan- kawan semua, tidak perlu lagi banyak bicara. mari kita berebut nyawa anjing kedua orang ini..!'' seru orang yang lainnya. lantas menyusul menyerbu sambil lepaskan tiga buah bacokan pedang yang memancarkan cahaya dan asap ungu. sementara yang lain juga sudah bersiap menggempur.


''Hak., ha., 'Bayangan Trisula Kuning'., dan si 'Pendekar Pedang Ungu' rupanya yang datang. sayang aku tidak berniat bertarung dengan pesilat rendahan. 'Setan Pincang Kesepian., kau hadapi saja mereka sendiri.!'' seru Ular Sakti Berpedang Iblis tertawa sambil mencabut pedang Iblis Hitamnya.


Tubuhnya meliuk bergerak cepat seperti ular berbisa. sasaran yang dia incar justru adalah 'Sepasang Jerangkong Ireng' dan 'Hantu Gunung Kawi' yang seketika menyumpah serapah karena tidak menyangka bakal di serang si Ular Sakti Berpedang Iblis. di bawah lebatnya hujan yang mengguyur panggung itu, pertarungan besarpun pecah.!


*****


Pengumuman.,

__ADS_1


Asalamualaikum., salam sehat sejahtera selalu. mohon maaf🙏 untuk seminggu ke depan novel Pendekar Tanpa Kawan mungkin tidak dapat up date, karena kesibukan kerja kami yang tidak dapat di tinggalkan. Terima kasih. Wasalamualaikum.


__ADS_2