
Orang yang di panggil sebagai Kedung Rambak yang rupanya adalah wakil ketua gerombolan rampok 'Taring Brongot.' tertawa bergelak. ''Haa., ha., bagus kalau kau bisa mengenali kami, urusan ini akan jadi lebih mudah. cepat serahkan semua yang kami mau, atau kami habisi kalian semuanya di tempat ini.!''
''Kau pikir kami para Jogoboyo keamanan dan para lelaki penduduk desa Paduren ini adalah anak kecil yang takut pada gertakan orang tolol sepertimu. dengar keparat., meskipun pimpinanmu sendiri yang datang kemari jangan harap bisa menakuti kami.!'' Ki Raga Banyak balas menggertak.
''Kurang ajar., rupanya mereka semua sudah bosan hidup. ayoh., kita bantai sekarang juga.!'' teriak Ki Kedung Rambak murka. segera berpuluh orang anggota gerombolan rampok Taring Brongot berhamburan menyerbu buas sambil babatkan golok di tangan mereka.
Para Jogo boyo keamanan dan penduduk desa Panduren tentu saja tidak tinggal diam, biarpun agak kalah jumlah tapi mereka juga punya bekal ilmu kanuragan. karena di waktu senggang Ki Raga Banyak suka mengajarkan ilmu silat kepada para pemuda di desanya.
Seketika terjadi pertarungan sengit antara dua kelompok itu. diantara penduduk desa Panduren tentunya lima jogo boyo keamanan itulah yang lumayan hebat ilmu silatnya, terutama Ki Raga Banyak. dulu di masa mudanya orang ini adalah salah satu murid andalan perguruan silat 'Elang Laut' yang cukup ternama di daerah timur. setelah lulus dia lalu bergabung dengan sebuah kelompok pengawalan barang selama hampir sepuluh tahun. maka tidaklah heran jika pengalaman orang ini juga sangat luas.
Bagi Ki Raga Banyak dan empat kawannya tentu tidak terlalu kesulitan menghadapi serangan ganas gerombolan rampok Taring Brongot, tapi mereka juga harus membagi perhatiannya pada para penduduk desa. baik yang bertugas melawan para perampok itu, maupun juga yang mesti dilindungi. karena bagaimanapun juga ilmu silat para lelaki desa itu selain terbatas juga kalah dalam pengalaman.
Kekhawatiran itupun terjadi juga, satu jeritan menyayat langsung terdengar saat salah satu penduduk desa yang mencoba ikut melawan gerombolan begal rampok itu terbacok bahu dan dadanya. meskipun tetap berusaha bertahan, akhirnya nyawanyapun lepas seiring dengan tubuhnya yang jatuh terkapar jadi mayat bersimbah darah.
Belum habis darah mengalir dari tubuh mayat itu. sudah menyusul satu korban lagi dari pihak para penduduk desa. kali ini dia menjadi sasaran bacokan golok panjang Ki Kedung Rambak yang terlihat menggila.
Tanpa dapat ditahan lagi korbanpun mulai berjatuhan.
Ki Raga banyak menggembor murka., sekali dua golok nya yang bergagang kepala burung elang bergerak membabat, seorang anggota rampok langsung tewas dengan leher dan dada robek. dua goloknya yang agak pendek berkelebatan bagaikan sepasang sayap burung elang Laut yang sedang terbang mencari mangsa di hamparan samudra.
Setelah membuat seorang lagi anggota begal rampok Taring Brongot tewas dengan isi perut robek, tubuh tinggi besar Ki Raga Banyak melesat cepat sambil babatkan dua golok kepala elangnya. sekali berkelebat tahu- tahu orangnya sudah muncul di tengah sambaran golok panjang Ki Kedung Rambak yang sudah membunuh dua orang sekaligus melukai beberapa penduduk lainnya.
__ADS_1
Kini saat goloknya hampir memakan korban yang ketiga, sepasang golok pendek yang bergagang kepala elang menangkisnya. hingga seorang pemuda desa yang sudah kepayahan dan luka- luka itu urung jadi mayat.
Gerakan golok kembar yang menangkis sekaligus sanggup menjepit mata golok panjang Ki Kedung Rambak membuat gusar wakil ketua gerombolan itu. dengan meraung buas dia langsung membuat gerakan berputar sekaligus menendang pinggang kiri lawan. sementara bersamaan tangannya cepat menarik balik golok panjangnya yang terjepit golok kembar lawan yang pendek.
''Kurang ajar., kau akan mampus di ujung mata golokku. rasakan ini.!'' bentak Kedung Rambak ngamuk. orang ini seketika kalap dan menyerang bertubi- tubi Raga Banyak. jebolan perguruan silat Elang Laut itu mendengus hina. dengan tangkas dia melayani gebrakan lawannya. sekejab saja kedua orang inipun sudah terlibat dalam suatu pertarungan sengit. angin tajam dari sambaran ketiga golok mereka membuat sebagian orang menjauhi pertarungan mereka.
''Haa., ha., kalian semua cuma orang- orang kampung yang berlagak pemberani, matilah semuanya.!'' gertak Ki Kedung Rambak sambil kembali lancarkan tiga bacokan golok secara beruntun yang diakhiri dengan tusukan menyilang ke arah jantung. wakil ketua gerombolan rampok ini telah kerahkan jurus yang dinamai 'Golok Membabat Alas Memburu Serigala.!'
Tersentak juga Ki Raga Banyak menghadapi serangan jurus golok lawan yang cukup ganas itu, tapi dia tidak menjadi panik dengan sepasang golok pendeknya dia balas membacok dan menangkis dengan gerakan yang disebut jurus 'Sayap Elang Mengepak Ombak.!'
'Whuuut., Bheet., bet.!'
'Traaang., traang., treng.!'
''Huh., jangan kau merasa unggul, coba kau lihat sekelilingmu, korban dari pihakmu jauh lebih banyak dari kami., sebentar lagi kalian semua akan jadi mayat. Haa., ha.!''
Ki Raga Banyak merutuk dalam hati, kala melihat sudah lebih lima orang penduduk yang tewas. senentara beberapa orang lagi sudah terluka dan terdesak hebat. belum sempat dia berpikir jauh, kembali terdengar jeritan parau disertai tumbangnya tubuh seseorang yang dia kenal baik bersama dua orang anggota begal Taring Brongot. mereka bertiga terkapar tewas mandi darah.
''Kempal.!'' jerit Ki Raga Banyak kalap sast melihat salah satu rekan Jogo boyo yang paling gemuk mati. sambil menerjang ke depan dia habisi seorang anggota begal itu yang berniat menghadangnya.
Sayangnya hawa amarah membuat orang ini menjadi lengah, dia seakan lupa dengan Ki Kedung Rambak yang masih berada di sana. biarpun terluka lebih parah tapi orang ini masih mampu bertarung. dengan gerakan langkah menyamping dia langsung tebas bagian pinggang kanan lawan sekaligus disusul sebuah bacokan ke arah dada.!
__ADS_1
Ki Raga Banyak meraung gusar. golok kepala elang kembarnya sudah berusaha untuk menangkis, meskipun telat tapi luka bacokan tidak sampai terlalu dalam. namun akibatnya serangan yang mengincar dadanya tidak lagi dapat dia hindari.!
Whuuut., Bheet., Sraat.!
'Traang., Plaang., Dhees.!'
''Aaarkh., Aaaakh.!'
Ki Raga Banyak tekap dada kirinya yang berlumuran darah, untungnya walaupun luka bacokannya cukup panjang tapi cuma menggores kulitnya. dilain pihak Ki Kedung Rambak pegangi tangannya yang patah remuk setelah terhajar sebatang tongkat kayu. bukan itu saja lengannya juga tercabik robek terkena cambukan. golok panjangnya sampai terlepas.
Dengan mata beringas dia memelototi orang yang ada di tengah kalangan. entah kenapa kehadiran orang asing ini tanpa sadar turut menghentikan bentrokan kedua pihak.
Jika gerombolan begal Taring Brongot tidak mengenali orang ini, sebaliknya hampir semua pengungsi desa Panduren pernah melihatnya. karena dia bukan lain pengemis yang sempat berpapasan jalan dengan rombongan mereka, juga pernah menerima bungkusan makanan dari putri kepala desa yang cantik dan baik hati bernama Suliandri.
''Gembel bangsat., katakan siapa kau dan kenapa turut campur urusan kami.?''
''Apakah kau sudah merasa bosan dengan kehidupanmu yang melarat hingga kepingin cepat mampus., atau kau memang belum tahu sedang berhadapan dengan siapa sekarang ini.?''
''Buka telingamu lebar- lebar., saat ini kau sedang bertemu dengan gerombolan begal rampok 'Taring Brongot.!''
Terdengar gertakan bercampur makian dari anggota begal Taring Brongot yang langsung mengepung pengemis berbaju gelap yang memegang sebatang tongkat kayu.
__ADS_1
Tapi rupanya bukan cuma tongkat saja yang menjadi bekalnya. di tangan kiri orang ini tergenggam sebuah cambuk dari urat kerbau yang ujungnya diganduli dua batang besi runcing mirip sengat ekor kelabang. tongkat dan cambuk inilah yang telah menghalangi serangan golok Ki Kedung Rambak hingga Ki Raga Banyak selamat dari maut, sekaligus juga membuat tangan wakil kepala begal itu remuk tangan dan tercabik lengannya.
''Gerombolan rampok Taring Brongot., apa kalian belum dengar kalau daerah ini sudah menjadi wilayah kekuasaan perkumpulan pengemis 'Kelabang Ireng.?'' bentak gembel bercaping bambu itu sambil ayunkan keras cambuknya hingga berbunyi mirip ledakan.