
Srianah masih terbaring lemah diatas tanah pekarangan rumahnya. meskipun tidak dapat menghitungnya secara pasti, namun dia tahu kalau jumlah para pengeroyoknya sudah berkurang lebih dari separuh. biarpun sisa lawannya masih mengepung tapi kebanyakan sudah pecah nyalinya. perlahan gadis itu berusaha untuk duduk sambil memandang sekelilingnya.
Dari semua lawan yang tersisa mungkin cuma si jangkung kekar berjubah coklat yang masih punya nafsu membunuh. sedangkan lainnya sama bergidik melihat mayat- mayat kawan mereka yang tewas bergelimpangan. pandangan mata Srianah menatap terpaku ke satu arah. tanpa sadar semua orang turut pula melihat ke sana.
Pada jarak tiga puluhan langkah dari sana, di bawah satu rimbunan batang bambu yang sebagian telah patah dan roboh akibat pukulan sakti yang nyasar saat pertarungan, terlihat tiga orang sedang berdiri disana. yang paling depan adalah seorang pemuda berbaju gelap dengan sebatang tongkat besi hitam tergenggam di tangan kirinya. selembar kain hitam membungkus gagang tongkat itu.
Di belakang pemuda berparas tampan namun rada pucat dengan sorot mata dingin itu terlihat dua orang lagi. yang satu adalah seorang perempuan tua dengan sikap takut dan khawatir melihat keadaan di depannya. Srianah kenal betul dengan mereka berdua karena si pemuda tidak lain adalah Pranacitra, orang yang paling dekat dengan dirinya. sedangkan si nenek tua itu tentu saja mbah Tumi, salah satu pembantunya dalam membuat olahan jamu.
Gadis itu tidak tahu bagaimana ceritanya mbah Tumi dapat datang bersama Pranacitra dan menyelamatkannya. Srianah merasa enggan untuk memikirkannya lebih jauh, karena dia lebih tertarik pada seorang gadis berbaju gelap dengan muka bopeng bekas luka bakar dan picak mata kirinya yang turut hadir di sana.
Yang aneh adalah meski gadis ini bermuka cacat dan picak sebelah, tapi tetap saja terlihat manis dan menarik. entah kebetulan atau tidak, gadis berwajah bopeng itu juga sedang melihatnya. untuk sesaat lamanya kedua pasang mata mereka seakan saling bentrok pandangan. antara satu dengan lainnya seperti tidak ada yang mau mengalah.
Akhirnya gadis picak yang tentunya Rinai itu melengoskan wajah. matanya ganti menyapu sekeliling halaman. di sana hanya tersisa tujuh orang termasuk si jangkung gondrong berjubah coklat dan si pendek baju perak yang masih terlihat ngeri bercampur gusar melihat kematian rekannya.
Saat itulah pemuda bertongkat besi hitam sudah melangkah ke tengah halaman. kecuali si jangkung yang terdiam, semua orang yang lain sama tertegun bahkan nyaris tertawa mengejek melihat cara berjalan pemuda itu yang terseok menyeret seperti seekor cacing. ''Haa., ha. ternyata dia cuma seorang pemuda gelandangan yang pincang..'' batin mereka tertawa menghina.
__ADS_1
''Kau tidak apa- apa Srianah.? sepagi ini sudah ada yang membuat keributan di tempatmu. katakan padaku., kau ingin diriku menghukum mereka seperti apa.?'' tanya Pranacitra tanpa perduli tatapan geram para pengurungnya. Srianah pasang wajah cemberut. ''Aku tidak suka kalau kau jadi pembunuh. tapi sekarang keadaannya lain., jadi aku ijinkan dirimu untuk menghabisi mereka semua secepatnya.!''
''Baik.!'' hanya itu kata yang terucap dari mulut si pincang. bersamaan tubuhnya berkelebat ke depan. tongkat hitamnya turut berputar lalu menghantam, mengepruk dan menusuk dengan ganasnya. hanya ada kelebatan cahaya hitam pekat yang melintas di wajah para pengurung. tidak ada kesempatan bagi mereka untuk mundur atau menangkis.
'Whuuukk., whuuukk., wheeett.!'
'Praaaakk., praaaakk., craaaass.!'
'Aaaaakkh., aaakkh.!'
Berikutnya cuma terdengar suara tulang kepala pecah bersama darah seisi otak yang tersembur keluar yang membarengi jeritan- jeritan parau meregang nyawa. enam tubuh bertumbangan hampir bersamaan. sebagian masih sempat berkelojotan sebelum akhirnya terkapar menjadi mayat bermandikan darah.
Dalam hatinya dia menyesali ketololannya yang masih ragu untuk kabur. padahal semenjak awal kemunculannya juga dilihat dari cara lawan berjalan dengan semua ciri yang ada pada pemuda itu, seharusnya dia sudah tidak perlu meragukan lagi tentang siapa adanya manusia satu ini sehingga dapat langsung kabur sejauh mungkin.
Jika saja dia tahu sebelumnya kalau gadis penjual jamu ini mempunyai sandaran seorang tokoh silat yang punya kesaktian sangat tinggi hingga ditakuti seantero jagat persilatan serta menyandang berbagai julukan yang menyeramkan, biar punya nyawa rangkap dan di bayar sepuluh kali lipat lebih mahal, tidak bakalan dia berani mengusik gadis juragan jamu itu seujung rambutpun.
__ADS_1
Angin pagi hari yang biasanya segar, kini terasa berbau anyir dan daging hangus. di tengah pelataran itu berdiri dua orang yang saling berhadapan. tapi anehnya saat di satu pihak melangkah maju setapak yang lainnya malah mundur satu dua tindak dengan tubuh gemetaran. ''Kii., kita berdua tidak aa., ada silang seng., sengketa apapun. ini., ini semua haa., hanya sal., salah paham..''
''Kep., keparat. jang., jangan terlalu men., des., desak diriku. kii., kita akhiri sem., semuanya sampai dis., disini saja..''ujar si jubah coklat tergagap. walaupun sedang dilanda perasaan ngeri dan panik, diam- diam kedua tangannya sudah merapal ajian 'Pahat Karang Dedemit' untuk dilontarkan ke tubuh lawannya.
''Mungkin kau sudah pernah mendengar tentang diriku di luaran sana. jika orang tidak mengancamku, akupun tidak akan perduli dengan semua yang diperbuat orang lain. tapi masalahnya., kau telah mencoba melukai gadis ini. asal tahu saja., terakhir kalinya ada lebih dari dua puluhan anggota perkumpulan silat 'Musang Kelabu' termasuk ketuanya yang kubantai habis karena telah berani menyakitinya.!''
''Aaish sungguh sial., sejak semalam perutku belum terisi. pagi inipun diriku juga belum sarapan. aku sangat lapar. mungkin., dengan membunuhmu bisa sedikit mengurangi rasa laparku..'' gema ucapannya belum habis tapi telapak tangan kanannya sudah keburu menghantam. taburan cahaya merah berbau anyir darah yang menebar hawa panas menggebrak. jurus pukulan 'Tapak Darah Meminta Sedekah.!'
''Bangsat pincang. kau., kau terlalu memaksa. aku akan beradu jiwa denganmu.!'' rutuk si jangkung gusar bercampur putus asa. dari takut dia berubah nekat. ajian 'Pahat Karang Dedemit' yang sudah dia siapkan langsung dihantamkan ke muka secara beruntun untuk menahan pukulan sakti lawannya.
Empat kali ledakan keras terjadi. tubuh lelaki jangkung itu terhuyung sempoyongan sambil muntah darah. dengan sekuat tenaga dia kembali lontarkan pukulan saktinya namun semuanya amblas disapu ilmu kesaktian lawan yang memang sangat di takuti oleh para pendekar dunia persilatan.
Orang terakhir yang bahkan belum diketahui siapa nama juga asal- usulnya ini meraung parau saat tiga buah sinar merah berbau darah yang berbentuk telapak tangan menghajar kepala, dada kiri serta perutnya sampai pecah dan melesak kemerahan hingga mencetak telapak tangan berdarah.
Tubuh jangkungnya terpental jauh melebihi sepuluh langkah. nyawanya sudah terbang ke akhirat saat raganya belum tiba di atas tanah. pertarungan sengit yang mulanya terlihat jelas tidak seimbang jika dilihat dari jumlah para penyerbu juragan jamu itu kini malah berakhir kebalikannya.
__ADS_1
Segalanya berlangsung demikian cepat dan mungkin diluar nalar manusia. dalam waktu yang teramat singkat lebih dari dua puluhan orang pendatang itu sudah tergeletak menjadi onggokan mayat- mayat bersimbah darah. pemandangan ini pastilah sangat mengerikan bagi siapapun yang melihatnya.
Tetapi kedua orang muda- mudi itu seakan tidak perduli. awalnya mereka hanya berdiri saling bertatapan ditengah hamparan mayat tanpa bicara apapun. angin pagi yang dingin berhembus membawa aroma darah dan dedaunan yang rontok. entah siapa yang memulainya lebih dulu, sekarang keduanya sudah sama berpelukan sambil pejamkan mata.