
Empat orang anggota perguruan silat 'Glagah Wangi' diam- diam terkesima mendengar pemuda aneh yang telah menyelamatkan mereka sampai dapat memperkirakan segala peristiwa mengenaskan yang telah terjadi dalam padepokan mereka, hingga rasa kekaguman kepada pemuda itu semakin bertambah.
Belum sempat mereka menjawab Pranacitra sudah kembali bicara, ''Meskipun aku belum pernah mendengar tentang padepokan silat Glagah Wangi tempat kalian belajar ilmu kanuragan, tapi seharusnya tidak sampai terpuruk separah ini hingga para anggotanya dikejar- kejar seperti binatang buruan. karena biarpun cuma sepintas saja aku melihatnya, kurasa kepandaian silat yang kalian kuasai terhitung cukup baik juga..''
''Ini semua pasti karena perpecahan diantara ayah dan anak pemimpin perguruan itu akibat keduanya telah terpikat dengan perempuan sundal yang sama hingga timbul sengketa. tapi bagaimana kalian dapat mengetahui kalau perguruan silat 'Tapak Emas Beracun' yang berada dibalik masalah ini.?'' Pranacitra balik bertanya.
''Soo., soal ini., aak., akulah sendiri yang telah mengetahuinya. saat itu tanpa sengaja diriku melihat wanita jahat itu keluar tengah malam. kebetulan aku baru saja sedikit membuka jendela kamarku karena udara malam kurasakan cukup gerah. karena tertarik akupun diam- diam mengikutinya hingga ke luar pintu perguruan di bagian belakang..'' dengan tergagap Winuyem yang sejak tadi diam memberanikan diri bicara.
''Di sana sudah menunggu seorang lelaki muda yang cukup gagah. dari pakaian kuning dan lambang telapak tangan berwarna keemasan di dadanya dapat kusimpulkan kalau lelaki itu berasal dari perguruan Tapak Emas Beracun. kedua orang ini sem., sempat., Aahs., pokoknya melakukan sesuatu yang memalukan. saling peluk dan cium sambil tertawa mesum. Iihh., dasar tidak tahu malu.!'' maki Winuyem dengan muka merah padam.
Pranacitra menyeringai sinis. ''Wah., rupanya engkau mempunyai bakat menjadi seorang penyelidik yang hebat, sampai adegan panas seperti itu juga bisa kau tonton dengan jelas tanpa ketahuan oleh siapapun. atau jangan- jangan., sebenarnya dirimu cuma penasaran, setelah berpeluk cium dengan penuh nafsu, mereka berdua hendak melakukan apalagi..''
''Sekarang coba katakan padaku, apakah keduanya kemudian saling membuka pakaiannya lantas bergumul telanjang bulat diatas tanah, sementara kau tetap menonton perbuatan yang kau bilang memalukan itu dengan penuh rasa penasaran dan gairah. Haa., ha..'' goda Pranacitra tertawa bergelak.
Jika ketiga lelaki lainnya tidak tahu apakah mesti tertawa ataukah bingung hendak bicara apa, tidak demikian dengan Winuyem. gadis berparas cukup manis itu sampai gemeletuk giginya menahan rasa geram karena merasa telah dipermalukan oleh si pemuda. ''Kau., kau benar- benar pemuda mesum kurang ajar. jangan di kira telah menyelamatkan nyawa kami lantas dirimu bisa bicara seenaknya.!''
Sambil membentak keras gadis itu seketika menerjang maju dengan kirimkan empat tusukan pedang yang diakhiri dengan sebuah sabetan menyilang dari bahu kiri lawan ke arah pinggang kanan. sambil memutar tubuhnya dia juga lepaskan dua tendangan menggunting menyasar perut, berikut sebuah jotosan mengarah kepala.
__ADS_1
Empat buah tusukan dan sabetan yang di susul dengan tendangan secepat sambaran kilat dengan deru angin tajam itu bukanlah gerakan sembarangan. ''Jurus 'Tikaman Pedang Empat Berantai.!'' seru kedua pemuda yang menjadi kawan Winuyem mengenali jurus serangan yang dipakai gadis itu. ''Awas saudara.!'' teriak Jati Sembodo memberi peringatan pada pemuda penolongnya.
Karena selain jurus itu sangat berbahaya, bagaimanapun juga jarak diantara mereka berdua hanya terpaut dua tiga langkah saja. apalagi Winuyem yang dalam keadaan dilanda amarah telah menggunakan seluruh kekuatannya dalam salah satu jurus serangan terkuat di perguruan Glagah Wangi ini.
Pranacitra sedikit kernyitkan alisnya. dalam hati dia mengakui jurus lawan cukup hebat juga meskipun dimatanya juga mempunyai beberapa kelemahan. kaki kirinya setapak mundur dengan tubuh rada membungkuk. tongkat besi hitam di tangan kiri berputar menangkis tikaman pedang lawan.
Biarpun denting senjata yang beradu terjadi hanya sekali saja tapi gemanya seolah terdengar berulang. dengan gerakan tubuh aneh dan rada membungkuk kaku semua tendangan dan pukulan Winuyem dapat dihindari. gadis itu merutuk gusar. biarpun tahu kalau ilmu lawan sangat tinggi namun dia masih tidak terima jurus serangan yang dia andalkan gagal begitu saja.
Dengan menahan rasa kesemutan di tangan hingga pedangnya hampir terlepas dia kembali menyerbu tanpa perduli paman dan kedua rekannya yang berteriak menyuruhnya berhenti. dalam waktu singkat Winuyem sudah lepaskan lebih dari delapan jurus serangan pedangnya. tapi yang membuatnya semakin gusar sekaligus penasaran semua jurusnya dapat dihindari lawan dengan sangat mudah. melihat yang terjadi ketiga orang lainnya juga sama berubah hebat air mukanya.
Jurus serangan pedang murid padepokan Glagah Wangi itu sampai membuat beberapa mayat anggota perkumpulan 'Panah Pemburu Jantung' yang berada di jalanan sempit itu tertebas putus. semak belukar di sekitarnya juga turut menjadi sasaran amukan pedang hingga berhamburan terbang ke udara.
''Keparat., jangan cuma bisanya menghindar saja. kalau berani cepat serang balik diriku.!'' umpat Winuyem geram dan malu karena tidak ada satupun serangannya berhasil mengenai tubuh lawan, bahkan sekedar menggores ujung bajunyapun juga tidak. padahal tenaga gadis manis itu sudah mulai terkuras sampai tubuhnya basah kuyup bermandi keringat.
''Eehm., baiklah jika itu maumu..'' suara ini hanya terdengar seperti gumaman yang tidak berarti namun berikutnya terjadilah suatu hal yang sulit dinalar. Winuyem hanya sempat melihat satu kelebatan sinar hitam yang bergerak menyapu ke depan wajahnya. tiba- tiba saja pergelangan tangannya terasa ngilu pedangnyapun turut terlepas. angin serangan tongkat yang disusul sapuan telapak tangan yang kuat membuat tubuhnya terpental ke udara.
Gadis muda itu terpekik keras karena hilang keseimbangan tubuhnya, hingga terjengkang mundur beberapa tindak. dia pasti jatuh terkapar jika saja tidak ada sebuah lengan meraih pinggangnya yang ramping. karena nyaris terjungkal tanpa sadar tangannya menggapai mencari pegangan. hanya ada bahu kekar dari seorang pemuda pucat yang dapat dia raih.
__ADS_1
Yang lelaki merengkuh pinggang sebaliknya sang perempuan merangkul pundak dan leher si pemuda. empat mata bertemu bersamaan dengan dua tubuh berlainan jenis yang saling berdekatan. sesaat lamanya keduanya terbang di udara sebelum menapak kembali ke bumi. sedemikian dekatnya mereka hingga dapat terendus aroma tubuh masing- masing.
Tercium wewangian dari seorang gadis muda belasan tahun yang mulai bercampur dengan aroma keringat ditubuhnya. di sisi lain bau tubuh seorang pemuda juga terasa di hidung Winuyem. meskipun keadaan ini rada aneh tapi dia seolah tidak mau melepaskannya. saat tersadar dan hendak berontak justru pemuda berwajah rasa pucat seperti penyakitan itu sudah bicara dengan suara lembut namun tegas penuh pengaruh.
''Kau mampu melakukan serangkaian jurus pedang, pukulan dan tendangan hanya dalam waktu yang singkat membuktikan kalau dirimu memang punya kemampuan dan bakat belajar ilmu silat pedang. hanya sayangnya., walaupun jurus pedangmu hebat tapi tetap punya kelemahan..''
Tanpa memberikan kesempatan Winuyem untuk membantah atau bicara apapun, Pranacitra sudah kembali berdiri ditengah jalanan setapak yang sempit itu. ''Anggap saja tongkatku ini sebagai pedang. saat pertama kali menyerangku tadi, kau sudah lepaskan empat tikaman pedang, satu tebasan, dua tendangan dan berakhir dengan pukulan yang mengarah ke kepala..''
''Dalam satu gebrakan mampu membuat serangan beruntun semacam itu kurasa lumayan bagus juga. cuma kelemahannya kau lupa pada pertahanan dirimu. pertama tubuhmu terlalu maju hingga keseimbangan berkurang. kuda- kudamu juga kurang kokoh. dua kakimu seharusnya agak merenggang ke depan dan belakang. ini akan membuatmu lebih cepat menghindar atau menutup serangan jika lawanmu menyerang balik.!''
Secara beruntun Pranacitra memperagakan jurus serangan yang telah dilakukan Winuyem untuk menggempurnya. meskipun tidak sama persis bentuknya namun juga tidak berbeda terlalu jauh. dia tidak hanya menunjukkan segala kelemahan dari jurus pedang itu tapi juga memberikan petunjuk untuk menutupi kekurangannya.
Mulanya Winuyem merasa gemas bahkan menganggap pemuda itu sombong dan sok tahu. tapi semakin dia mendengarkannya gadis itu justru malah makin tertarik bahkan tanpa terasa mulai mencoba memainkan ulang jurus silatnya sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh si pucat aneh itu.
Hasilnya bukan cuma dia yang terpukau, Jati Sembodo dan kedua saudara seperguruannya juga merasakan kekuatan jurus itu menjadi bertambah hebat. dalam hatinya mereka sama berpikir apakah pemuda ini sebenarnya adalah seorang pendekar pedang hebat dan terkenal yang sedang menyamar.?
''Aku bukanlah seorang pesilat yang pernah belajar ilmu pedang. tetapi menurut pengalamanku selama ini, dari mereka yang pernah kuhadapi kebanyakan memakai pedang atau golok sebagai senjata. dari sana diriku menjadi lumayan paham bagaimana cara menghadapi jurus silat pedang berikut kelebihan dan kekurangannya..'' ujar Pranacitra menutup penjelasannya.
__ADS_1