
Perguruan silat Naga Biru yang memprakarsai pertemuan besar para pendekar di lereng gunung Semeru itu, mulai hari ini seakan di takdirkan untuk runtuh namanya. meskipun beberapa orang murid utama perguruan silat itu masih memendam rasa penasaran dan dendam, tapi mereka hanya bisa menyimpan kemarahannya dalam hati saja.
Bahkan saat si pincang yang telah merenggut nyawa sang guru berlalu terseok di depan mereka, tidak ada satu muridpun yang berani mencegatnya. semua kehebatan pemuda yang punya banyak julukan menyeramkan di dunia persilatan itu terlalu menakutkan untuk di jajal dan masih membayang di kepala semua orang yang ada di sana.
Baru saja bayangan tubuh Pranacitra, Puji Seruni dan Ki Tanjung Semboro lenyap, dari balik tembok perguruan silat yang masuk dalam 10 partai silat terbesar itu muncul kepulan asap hitam dan kobaran bara api. teriakan kepanikan seketika bersautan terutama dari para murid 'Naga Biru.!
''Kebakaran., kebakaran., cepat kita masuk dan padamkan apinya.!'' teriak salah satu murid utama perguruan Naga Biru sambil berlarian masuk ke dalam perguruannya. di sana api sudah melahap habis salah satu bangunan utama yang ada di tengah. mungkin itu rumah milik guru mereka.
''Sialan., bangsat. bagaimana mungkin ini bisa terjadi, padahal saat ini baru saja turun hujan..'' dengus para murid lainnya marah bercampur kebingungan menyusul yang lainnya masuk untuk memadamkan api yang membakar bangunan perguruan silat itu.
Yang lebih membuat hati mereka kesal, para tokoh silat yang melihat peristiwa itu seolah hanya berpangku tangan saja tanpa ada yang mau membantu. bahkan terlihat ada kilasan senyuman mengejek melihat bencana yang menimpa perguruan silat Naga Biru.
Meskipun ini mungkin karma akibat perbuatan buruk sang pemimpin juga sikap sombong para muridnya, tapi tetap saja terasa sangat menyakitkan. manusia yang sering kali berbuat kebaikan dalam hidupnya saja kadang masih mendapatkan cibiran dan rasa iri hati dari orang lain, apalagi bagi mereka yang suka bertindak sewenang- wenang.
Hati manusia memang tidak dapat di duga, saat masih berada di atas dan jaya, banyak orang yang kagum dan berebut mendekati. namun sewaktu kita terjatuh dan terpuruk, mereka akan meninggalkan dan mencemooh. benar kata orang, sahabat sejati memang hanya akan terlihat di saat kita berada dalam kesusahan.
Pranacitra masih berjalan terseok menuruni lereng gunung, beberapa langkah di belakang terlihat Puji Seruni dan Ki Tanjung Semboro yang terus mengikutinya. sampai pertengahan jalan pemuda pincang itu mendadak berhenti dan menolah. ''Sampai kapan kalian berdua mengikutiku.?''
__ADS_1
Karuan kedua orang di belakangnya menjadi terkejut karena tidak menyangka. dengan agak gugup mereka menjawab, ''Sia., siapa bilang aku mengikutimu. jangan bicara seenaknya. kebetulan saja kita berjalan di arah yang sama. lagi pula jalan inikan bukan punyamu..'' jawab Puji Seruni bertolak pinggang.
''Aa., aku cuma mau menjaga gadis murid mendiang sahabatku ini. kuu., kurasa luka dalamnya belum sembuh betul. kalau saat ini kita berada satu arah dan jalan yang sama, aku pikir itu hanyalah suatu kebetulan saja..'' sahut Ki Tanjung Semboro nyengir.
Tokoh silat dari kawasan Belambangan yang bergelar 'Pendekar Golok Emas Berlengan Tunggal' itu sebenarnya sangat tidak suka berkata dusta. hatinya lurus dan bersifat ksatria. tapi entah kenapa hari ini dia mau- maunya bicara bohong. mungkin karena orang tua ini merasa kalau sepak terjang dan sifat aneh pemuda di hadapannya itu cukup menarik baginya.
''Bocah kecilpun juga pasti tahu jika kalian berdua sedang berkata dusta..'' batin Pranacitra tersenyum dingin geleng- geleng kepala melihat tingkah kedua tua muda itu. perlahan dia melangkah mundur ke tepi jalan, seakan mempersilahkan keduanya untuk pergi lebih dulu. ''Kalau begitu silahkan saja kalian berdua berjalan duluan..''
Kedua orang itu tertegun diam saling pandang tanpa dapat bicara apapun. ''Hehm., kurasa jalan bertiga itu lebih baik, karena siapa tahu ada bahaya yang menghadang di depan sana. jadi kita bisa saling membantu..'' ucap Ki Tanjung Semboro memberi alasan. sekarang dia jadi sedikit lebih pintar dalam membual.
''Eeh., sobat pincang. kalau kulihat saat di atas panggung itu, si 'Ular Sakti Berpedang Iblis' sepertinya telah terluka dalam akibat berduel denganmu. kau memang pantas menjadi yang teratas di antara para pesilat muda pendatang baru..'' ucap Puji Seruni kagum. selain itu dia juga ingin sedikit mengambil hati pemuda ini. Ki Tanjung Semboro meskipun hanya diam, tapi punya pendapat yang sama dengannya.
Pranacitra raba bagian dada dan perutnya. entah sejak kapan bajunya yang hitam dan tebal sudah robek tiga bagian. masing- masing robekan sepanjang satu jengkal. ada bekas goresan luka tipis dengan darah kering agak menghitam. ''Kalau dia mau., dalam jurus serangannya yang terakhir, hawa pedang iblisnya dapat saja merajam habis perut dan dadaku..'' desisnya pelan. seketika kedua orang itu terkesiap kaget melihatnya.
''Orang itu bukan saja sengaja mengurangi kekuatan jurusnya, malah aku berani bertaruh kalau sebenarnya dia tidak terluka parah. darah yang menggumpal di atas tempatnya berdiri sebenarnya adalah darah milik pesilat lain yang sengaja dia kumpulkan dari atas panggung. karena jika darah baru pasti masih sedikit encer, tapi yang kita lihat adalah gumpalan darah yang sudah mengental dan agak kering..''
''Entah kenapa aku merasa kalau Ular Sakti Berpedang Iblis sengaja menyimpan kekuatan dia yang sebenarnya. karena di bandingkan si 'Sepasang Cakra Malaikat' dia jelas jauh lebih menakutkan. meskipun aku tidak paham urutannya dan siapa saja yang tercantum dalam sepuluh pesilat pendatang baru yang dianggap terkuat saat ini, tapi menempatkan si Ular Sakti Berpedang Iblis dan Arwah Hijau pada urutan ke sembilan dan sepuluh, adalah suatu keputusan tolol. karena aku tahu betul kalau mereka jauh lebih unggul dari dua orang sombong Sepasang Cakra Malaikat dan si 'Anggrek Geni..''
__ADS_1
''Pendapatmu soal Sepasang Cakra Malaikat dan Anggrek Geni yang seharusnya berada di bawah si Ular Sakti Berpedang Iblis mungkin bisa kuterima. tapi bagaimana dengan Arwah Hijau, memangnya kau tahu sehebat apa orang ini.?'' tanya Ki Tanjung Semboro seakan penasaran.
''Aku bukan saja tahu semua latar belakang kehidupannya yang mengenaskan, bahkan juga pernah merasakan kekuatan ilmu kesaktiannya. tapi sayang., dia juga sudah mati di tanganku..'' ujar Pranacitra pandangi kedua telapak tangannya yang sekilas mengeluarkan cahaya merah kehitaman. kedua orang tua muda itupun bergidik melihatnya.
''Jika memang benar apa yang aku pikirkan, maka pertanyaannya adalah kenapa si Ular Sakti Berpedang Iblis sampai melakukan semua ini. padahal sebelumnya dia sudah mendapatkan buruannya memenggal kepala si 'Pengemis Gelap' dan Nenek Siluman Berjubah Merah'. apa tujuan dia yang sebenarnya. dan satu lagi soal kemunculan dua orang dari perkumpulan 'Sabit Putih'. apakah mereka ada hubungan dengan kemunculan si Ular Sakti.?''
''Aku juga belum pernah mendengar tentang mereka. tapi kalau kudengar dari seruan para pesilat yang berada di bawah panggung, sepertinya perkumpulan silat Sabit Putih itu jarang sekali muncul di dunia persilatan..'' ujar Ki Tanjung Semboro. sesaat lamanya tiga orang ini berdiam diri sambil terus berjalan menuruni gunung.
''Haa., ha., rupanya si pincang alias 'Setan Pincang Penyendiri' masih berkeliaran di gunung Semeru ini..''
''Aku tidak tahu., pemuda pincang keparat ini berniat sengaja mengundang kematiannya ataukah dia memang sudah gila.!''
''Baguslah kalau begitu., kita bertiga tidak perlu lagi bersusah payah untuk mencarinya..'' seru tiga orang yang mendatangi dari kejauhan. beberapa kejap mata saja merekapun sudah sampai di hadapan Pranacitra dan dua orang seperjalanannya.
Di depan mereka kini telah berdiri tiga orang lelaki tua sebaya dengan Ki Tanjung Semboro. bertubuh besar berjubah biru tua dengan muka yang serupa, garang penuh cambang brewok kasar berwarna kebiruan. rambut ketiga orang ini sama lebat panjang dan kaku, juga berwarna biru menyala.
Kalau di lihat lebih jelas jari kaki dan tangan mereka yang berbulu lebat kebiruan di tumbuhi kuku- kuku tajam mirip cakar binatang buas yang memancarkan cahaya biru redup. ''Tiga Singa Buas Bersurai Biru'., desis Ki Tanjung Semboro terkesiap mengenali siapa adanya mereka bertiga. ''Kenapa ketiga orang ganas ini bisa muncul di sini.?'' pikirnya tegang.
__ADS_1