
Kehadiran kelima orang tua yang berada di sekelilingnya membuat perasaan Pranacitra merinding. orang- orang ini seakan berasal dari dasar dunia kegelapan yang penuh dengan hawa kematian.
''Siapakah mereka berlima ini sebenarnya., tempat apa ini, bagaimana aku bisa terbaring di atas lempengan batu, kenapa pakaianku di lepas semua hingga tubuhku bugil begini.?''
''Sialan., aku tidak bisa bergerak. bagian dalam tubuhku terasa sakit dan lemah, juga tidak dapat bicara..'' rutuk Pranacitra gusar berusaha bangkit tapi usahanya sia- sia belaka.
Sepertinya empat diantara kelima orang tua itu cuma diam menunggu apa yang akan di perbuat oleh orang tua berjubah kelabu yang datang belakangan. tapi orang tua bermuka seseram mayat itu cuma melihat si bocah tanpa bicara apapun. dari matanya orang tua ini melihat sosok si pincang seakan melihat seonggokan sampah yang membosankan.
Melihat orang tua bermuka seram berjubah kelabu seakan tidak perduli, empat orang tua lainnya sekejap saling lirik baru melanjutkan omongan mereka. tanpa perduli apapun mereka langsung merundingkan permainan apa yang bakal mereka gunakan pada pemuda yang masih terbaring lemas di atas lempengan batu.
''Kalau aku lihat dari tampang dan sikapnya yang ingin berontak dari atas pembaringan, bocah pincang ini punya sifat keras kepala..''
''Huhm., lantas apa gunanya semua itu, dengan semua penyakit parah dan racun keji yang mengeram di dalam tubuhnya, bocah pincang ini sama saja tinggal menunggu mampus..'' ujar orang tua berpakaian gembel dan si nenek bertongkat tengkorak.
''Tapi., seperti katamu tadi, sebelum bocah ini mati, ada baiknya kujadikan bahan percobaan ilmu racunku yang selama ini belum sempat aku coba hasilnya. Hee., he.!''
''Tabib tua., dalam sisa waktu yang masih kita punyai, terhitung rejeki juga kalau kita berlima bisa mendapatkan barang mainan seperti sekarang ini. Hik., hi., aku penasaran racun apa saja yang bakal kau coba pada tubuh anak ini..''
''Haa., ha., kudengar dulu kau memiliki racun yang dapat membuat semua tulang manusia menjadi sangat lemas, juga sebaliknya ada racun milikmu yang sanggup membuat tubuh seseorang menjadi kaku sekeras batu. tapi orang yang diracuni masih tetap hidup..''
''Aah., bagaimana kalau kedua racun itu saja yang coba kau berikan padanya. pasti sangat menggelikan melihat tubuh manusia bisa di lipat- lipat seperti selembar kain, juga kaku berhari- hari karena berubah menjadi batu.!'' sahut nenek bungkuk yang bertubuh kecil bermata besar bulat dan lelaki tua tinggi besar berjubah hitam dengan lukisan seekor naga dan bulan berwarna emas lantas tertawa bergelak membayangkan semua kelucuan yang bakalan mereka lihat.
__ADS_1
''Hek., he., aku sudah sempat mencoba racun 'Salju Berapi' kepadanya. tapi tidak kusangka dia cukup tahan juga. apa mungkin., karena racun 'Pembeku Darah Dan Jantung' yang berada di dalam tubuhnya membuat sifat ganas racunku menjadi berkurang.?'' gumam nenek yang di sebut sebagai tabib tua itu seraya berpikir.
Sementara itu Pranacitra cuma bisa merutuk dan menyumpah serapah dalam hati. ''Setan., bangsat., aku ini manusia bukan barang mainan. orang- orang tua keparat., jangan seenaknya saja berbuat sesuatu pada tubuh orang lain.!'' kedua mata si pemuda melotot beringas seakan menyiratkan seribu dendam kebencian.
Lima orang tua yang bukan lain adalah para pentolan kawakan dunia persilatan golongan hitam yang masing- masing adalah 'Nenek Tabib Bertongkat Maut, 'Pengemis Tapak Darah, 'Burung Hantu Bungkuk Pencabut Nyawa, 'Iblis Naga Rembulan, dan tentu saja 'Setan Kuburan itu sama melihat perubahan sinar mata si pemuda.
Sebagai orang- orang yang sudah terbiasa turun tangan kejam, mereka tentu dapat melihat ada hawa kemarahan dalam diri pemuda pincang itu. bagi mereka ini agak di luar dugaan karena selama ini orang yang pernah bertemu dengan mereka pasti sangat ketakutan, bahkan ada yang langsung bunuh diri.!
''Menarik juga., sudah sangat lama diriku tidak melihat api dendam kesumat yang sekuat ini di mata manusia. 'Nenek Tabib Bertongkat Maut'., kau ada permainan apa sekarang.?'' untuk pertama kalinya si 'Setan Kuburan' membuka suara. saat dia bicara terdengar kaku, seram dan dingin seperti mayat hidup.
Bukan hanya si nenek tabib yang tertegun tapi juga ketiga rekannya rada terperanjat. karena tidak biasanya si Setan Kuburan tertarik dengan urusan seperti ini. setelah berpikir sebentar nenek tabib yang kejam ini tertawa mengekeh lalu memandang semua kawannya.
''Seperti namanya 'Racun Seratus Langkah' orang yang terkena racun itu biar sehebat apapun ilmunya pasti akan langsung mati jika dalam sehari dia menggerakkan kakinya sebanyak seratus langkah. tapi sebaliknya orang itu akan tetap hidup jika dalam sehari itu dia hanya melangkahkan kakinya kurang dari seratus kali.!'' terang 'Nenek Tabib Bertongkat Maut' terkekekeh. ''Tapi sayang ada sebuah kesalahan hingga racun itu malah berubah menjadi sebuah obat penguat tubuh yang sangat hebat.!''
''Aku ingin memberikan obat penguat tubuh itu pada pemuda pincang ini. biarpun daya tahan tubuhnya dapat meningkat berkali lipat tapi tetap saja dia akan mampus jika di tikam senjata tajam sebanyak seratus kali, atau bisa juga dia mati sebelum seratus tikaman jika tertusuk jantungnya serta kehabisan darah.!'' lanjut si nenek sambil mengeluarkan sebilah pisau dapur sepanjang satu jengkal lebih dua ruas jari.
''Dengan sebilah pisau yang aku dapatkan pada tubuh anak ini, mari kita buat sebuah pertaruhan., satu orang satu lemparan pisau. terserah pada bagian mana asalkan bukan kepala, leher, jantung dan daerah bawah rahasianya..''
''Huhm., kalau begitu cuma dengan beberapa kali lemparan saja anak itu pasti keburu mati, walau sekuat apapun daya tahan tubuhnya.!'' dengus 'Pengemis Tapak Darah' sinis.
''Itu benar., apa tidak ada permainan yang lebih menarik lagi.?'' 'Iblis Naga Rembulan' turut buka suaranya yang keras mengguntur. rekannya 'Burung Hantu Bungkuk Pencabut Nyawa' juga turut membenarkan. sementara 'Setan Kuburan' tetap diam seperti sesosok mayat.
__ADS_1
''Hek., he., he., aku belum selesai bicara tapi kalian para tua bangka keburu menyelaku. dengar., kita harus membatasi tenaga kita saat melempar pisau ini ke tubuhnya. setiap lemparan dilakukan pada jarak tujuh langkah. dan hanya sepertiga mata pisau saja yang boleh menusuk ke dalam tubuh si pincang itu. barang siapa melanggarnya dia dianggap kalah..''
''Lantas bagaimana kita bisa menentukan pemenangnya.?'' potong 'Burung Hantu Bungkuk Pencabut Nyawa' tidak sabaran.
''Hhm., tentu saja lemparan pisau siapa yang menamatkan nyawa si pincang ini..'' jawab 'Nenek Tabib Bertongkat Maut' sambil kembali mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. sebuah batu bulat sebesar telur ayam yang memancarkan cahaya biru terang berada di telapak tangannya.
''Batu sakti 'Nirmala Biru.!'' seru 'Pengemis Tapak Darah' dan 'Iblis Naga Rembulan' serta si 'Burung Hantu Bungkuk Pencabut Nyawa' hampir bersamaan dengan muka berubah. sementara 'Setan Kuburan' meskipun dalam hatinya turut tersentak tapi tetap dingin membisu.
''Batu sakti ini aku temukan juga pada tubuh anak itu. rupanya benda inilah yang mampu membuatnya dapat terus bertahan hidup dari serangan kabut beracun. sebenarnya aku sangat penasaran., apa yang membuat dia sampai nekat masuk kedalam 'Lembah Seribu Racun' ini. atau jangan- jangan., dia juga korban tipuan licik si manusia bangsat itu.?'' ujar si nenek tabib sambil amati si pincang.
''Kalian tahu., batu sakti ini kabarnya bisa menangkal segala macam racun. Hhmm., kalau saja batu sakti 'Nirmala Biru' ini sampai di sini sepuluh tahun lebih awal, kita semua mungkin dapat keluar dari tempat celaka ini dan mencari si penipu jahanam itu.!'' geram si nenek hentakkan tongkatnya.
''Tapi meskipun sekarang semuanya sudah terlambat, tapi paling tidak batu sakti ini masih bisa memperpanjang umur kita beberapa tahun lagi..''
''Bagi siapa yang jadi pemenang, batu sakti Nirmala Biru akan menjadi miliknya.!'' seru Nenek Tabib Bertongkat Maut sambil jejalkan lima butiran obat berwarna putih kebiruan ke dalam mulut Pranacitra. entah bagaimana kemudian pemuda ini merasa dirinya menjadi sangat kuat bertenaga, rasa sakit yang mendera tubuhnya seakan telah tersapu lenyap. meskipun begitu dia masih tetap tidak mampu bergerak atau bersuara sedikitpun.
Pranacitra cuma bisa pasrah dan berteriak gusar tanpa suara. ''Aku manusia., bukan barang permainan., tolong., tolong kalian dengarkan aku., kumohon bunuh saja aku., bunuh saja aku.!'' tapi siapa yang perduli, tubuhnya yang kaku telanjang berbalur ramuan obat di sandarkan di dinding ruang goa. sebuah tali dari lilitan kain baju mengikat kedua tangannya yang di rentang ke samping untuk menahan berat tubuhnya agar tidak terjatuh.
Lima orang tua jahat sudah berdiri berjajar tujuh langkah dari depannya. pisau dapur miliknya masih berada di tangan si 'Nenek Tabib Bertongkat Maut'. rupanya dialah yang menjadi pelempar pisau yang pertama.
Sungguh ironis., pisau dapur pemberian sang guru Ki Rangga Wesi Bledek alias si 'Tangan Guntur Besi' yang sudah beberapa kali menyelamatkan hidupnya, kini malah berubah menjadi senjata yang menamatkan riwayat si pincang Pranacitra.
__ADS_1