
Di antara semua orang yang berada di dalam halaman bekas perguruan silat gunung Bisma itu, tokoh silat muda berjuluk si 'Arwah Hijau' yang berdiri paling dekat dengan gapura pintu masuk perguruan itu. karenanya dia pula yang lebih dulu dapat melihat siapa orang yang baru saja datang.
Biarpun wajah si pendatang ini tidak terlihat jelas karena tertutupi sebuah caping dari anyaman daun pandan yang sudah geripis pinggirnya, namun kalau di lihat dari perawakannya Arwah Hijau dapat mengira kalau dia masih sangat muda.
Saat pertama kali melihat cara pemuda berkaki pincang ini melangkah, Arwah hijau seketika ingin semburkan tawa menghina. tapi anehnya ada suatu hawa mengerikan yang tersirat dari setiap langkah kaki yang terseok itu hingga membuatnya tanpa sadar urung mengumbar tawa sembarangan.
''Setan alas dari mana orang pincang ini., kenapa dari tubuhnya dapat terpancar hawa pembunuh yang begitu menyeramkan. apakah dia juga punya hubungan dengan perguruan gunung Bisma ini.?'' batin si Arwah Hijau penasaran. diam- diam kedua telapak tangannya terkembang. kabut tipis bersemu cahaya kehijauan menyelimuti kedua tangannya, pertanda orang ini sudah bersiap hantamkan satu ajian kesaktian.
Si pincang ini terus saja melangkah terseok menapaki tanah pelataran yang becek. ujung tongkat besi hitamnya meninggalkan jalur guratan yang dalam dan panjang. semenjak kaki kirinya cacat, cara dia melangkah tidak pernah berubah. kaki kanan maju setapak yang kiri terseret mengikuti di belakang. begitu seterusnya hingga dia berhenti tiga langkah di depan si Arwah Hijau.
Tongkat besi hitam di pindahkan ke depan. ujung gagang tongkatnya sengaja dibungkus sehelai kain hitam. meskipun wajahnya tertutupi caping tapi Arwah Hijau seakan merasa kalau mata si pincang sedang mengawasinya, hingga dia ragu untuk menyerang.
''Kenapa tidak di teruskan., bukankah kau berniat hendak menghantamku. sekarang aku berdiri tepat di depanmu, jadi kau mau menunggu sampai kapan.?''
Saat bicara suaranya terdengar dingin dan hambar hingga tidak dapat di gambarkan apa yang sedang di rasakannya. sedih, benci atau sedang mengancam. pemuda ini juga tetap tidak merubah kedudukan tubuhnya. jangankan menggeser kaki atau memutar badan, berpalingpun juga tidak. dia tetap berada tiga langkah di depan si Arwah Hijau, berdiri agak menunduk menghadap tiga buah makam yang berada belasan langkah di depannya. sikapnya santai seperti memandang remeh tapi si Arwah Hijau justru merasa gelisah, dalam hatinya pemuda bungkuk ini mengumpat makian kotor.
''Kalian berdua mau menunggu apalagi., musuh besar sudah berada di depan mata kenapa tidak cepat di selesaikan. memangnya kalian mengharap Ki Rangga dan seluruh saudara segurumu bangkit dari kuburnya dan mencaci maki kelambatan kalian berdua..''
''Chuih., Ajeng Larasati. diantara murid perempuan Ki Rangga, kau terhitung paling cekatan dan cerdik. biarpun sekarang kau terlihat semakin bertambah cantik, tapi aku rada kecewa juga melihat kemampuanmu. karena seharusnya si 'Setan Hijau Rombeng' bisa lebih cepat kau bikin mampus.!''
__ADS_1
''Hei., Arga Pangestu. dulu kau adalah calon pewaris perguruan ini. sikapmu selalu jujur, santun namun tegas dan cepat mengambil tindakan. tapi kenapa sekarang berubah jadi lambat. apakah harus ada orang yang menampari pipimu lebih dulu seperti saat masih jadi gembel cilik sepuluh tahun lalu.?'' bentak si pincang memecah keheningan.
Bagi orang lain ucapan pemuda pincang ini seperti kalimat ngawur yang tidak ada ujung pangkalnya. namun tidak demikian bagi Ajeng Larasati dan Arga Pangestu, mereka seketika terperangah bibir keduanya bergetar seakan ada beribu kata hendak terucap tapi tidak mampu dikeluarkan. bahu dua muda- mudi itu berguncang. tidak ada suara tangisan namun air mata mereka luruh tidak tertahan.
''Kalian tunggu apalagi kampret., selesaikan secepatnya sekarang juga.!'' damprat si pincang gusar sambil gebrakkan tongkat besinya ke tanah hingga berderak rengkah.
''Baik.!'' seru Arga dan Ajeng hampir bersamaan. mulut berseru tangan mereka menghantam bebarengan. empat cahaya hitam dan kuning menderu ganas. hawa panas dan angin keras melabrak dahsyat. untuk kesekian kalinya mereka berdua kerahkan pukulan 'Tangan Guntur Wesi Kuning' dan Pusaran Bara Hawa Hitam.!'
Meskipun ilmu pukulan yang di pakai masih sama seperti sebelumnya, tapi karena dikerahkan dengan tenaga dalam penuh dan hawa dendam kesumat yang membakar jiwa membuat kekuatan kedua aji kesaktian itu seolah menjadi berlipat ganda.
Setan Arit Rombeng terperangah kaget. kepalanya yang berambut gimbal sampai tersibak, hingga raut mukanya yang di penuhi bekas luka terpampang jelas. inti tenaga pukulan lawan belum sampai, namun angin pukulannya sudah mendahului menyambar.
Jika Setan Arit Rombeng masih mampu bertindak cepat dengan melompat menghindar sambil babatkan arit berkarat kehitaman lepaskan jurus 'Tiga Sambaran Arit Siluman' untuk menahan ilmu pukulan sakti Arga Pangestu, tidak demikian halnya dengan 'Setan Hijau Rombeng' yang sudah buntung sebelah tangan.
Gadis cantik berbaju hijau itu memilih untuk menggunakan dua ilmu pukulan sakti yang sama dengan Arga Pangestu, karena ingin secapatnya menyudahi pertarungan. Setan Hijau Rombeng yang sudah kehilangan banyak tenaga dan sebelah tangannya tidak dapat menggunakan jurus 'Bayang- Bayang Cakar Hantu Hijau' miliknya dengan sempurna. kekuatan jurus itu menjadi jauh berkurang.
Setelah susah payah bertahan hingga hampir sepuluh jurus, nenek tua ini sadar jika nyawanya sudah di ujung tanduk. niatan kabur terlintas di kepalanya. dengan bersuit nyaring seakan memberi isyarat pada Setan Arit Rombeng, nenek yang bibir peotnya di beri gincu hijau itupun mencelat keudara babatkan cakar dan lepaskan tendangan berantai ke tubuh Ajeng Larasati.
''Huhm., kau hendak kabur. boleh saja tapi tinggalkan dulu nyawa anjingmu di sini.!" hardik gadis itu geram sambil kembali hantamkan ke dua telapak tangannya lurus seperti sepasang tombak ke udara. kembali dua gelombang angin panas di sertai kiblatan cahaya kuning dan hitam menderu sekaligus memotong jalur mundur lawan.!
__ADS_1
Setan Hijau Rombeng tidak menyangka kalau lawannya yang masih seorang gadis remaja dapat memperkirakan arah jalan kaburnya hingga saat tubuhnya masih di atas udara dia tidak dapat lagi berbuat banyak, selain berusaha untuk bersalto dengan mengandalkan ilmu ringan tubuhnya sambil menjerit ketakutan meminta bantuan.
"Bocah jahanam., jangan berani bertindak semaumu. rasakan ini.!" bentak si Arwah Hijau berang. cahaya dan kabut kehijauan yang sudah lama melapisi kedua telapak tangannya seketika menyambar. udara di sekitar tempat itu berubah menjadi berkabut kehijauan.!
''Kau pasti gadis gila yang sudah bosan hidup karena berani berseteru dengan partai Gapura Iblis., makan dulu pedang golok kami.!'' timpal 'Dua Pembunuh Pedang Golok' sembari bangkit menggebrak. sekali serang senjata pedang dan golok di tangan mereka sanggup mengancam belasan sasaran sekaligus di tubuh Ajeng Larasati. nyawa gadis itu benar- benar terancam.!
Baru setengah jalan ilmu kesaktian itu menderu, terlihat dua buah cahaya merah kehitaman berkekebat memotong sinar kabut hijau dari ilmu pukulan yang di lepaskan si Arwah Hijau. detik selanjutnya terlihat sembilan larikan cahaya hitam pekat menyambar yang di barengi suara ledakan beruntun yang memekakkan gendang telinga.
Jurus 'Tongkat Maut Sembilan Geledek Kematian' mampu menghadang sekalian menghancur luluhkan serangan jurus Dua Pembunuh Pedang Golok. kedua orang anggota baru partai Gapura Iblis itu sebenarnya punya ilmu lumayan tinggi, karena dulunya mereka adalah sepasang pembunuh bayaran yang ternama.
Dikarenakan banyak mempunyai musuh hingga terdesak, akhirnya dengan susah payah dan nyaris kehilangan nyawa akhirnya mereka berdua dapat bergabung dalam partai Gapura Iblis.
Persoalannya hari ini mereka berdua mesti berhadapan dengan pemuda pincang yang berkepandaian silat sulit di jajaki, bahkan orang dunia persilatan sampai berani menempatkannya pada jajaran atas pesilat muda pendatang baru yang paling di takuti hampir tiga bulan belakangan ini.!
Dua Pembunuh Pedang Golok masih mampu bertahan hingga empat lima jurus sebelum sepasang senjata mereka terpental. dibarengi jeritan ngeri tubuh keduanyapun tumbang dengan kepala rengkah dan raga hancur remuk hampir tidak terbentuk.!
Jeritan penuh rasa sakit bercampur sesal dan ketakutan itu terdengar lebih keras dari yang seharusnya terdengar, karena hampir bersamaan dari atas udara melayang jatuh sesosok tubuh nenek tua dengan jubah hijau hangus terbakar bersama dangan tubuh rentanya yang hancur gosong saat tiba diatas tanah setelah di hantam pukulan 'Tapak Guntur Wesi Kuning'. dan 'Tapak Pusaran Bara Hawa Hitam' yang dilepaskan Ajeng Larasati.
Meskipun dua ilmu pukulan ini sama namun cara menggunakannya berbeda. jika Arga Pangestu menggunakan sepasang kepalan tangan, sebaliknya Ajeng Larasati memakai kedua telapak tangannya untuk menghantam sasaran. karena ilmu telapak lebih bersifat lembut dari pada kepalan yang keras hingga lebih sesuai bagi kaum wanita.
__ADS_1
Arwah Hijau menggerung murka bercampur panik tidak percaya melihat semua yang telah terjadi. tapi dia tidak dapat lagi berpikir panjang karena jurus pukulannya yang di namai 'Telapak Kabut Hijau Arwah Gentayangan' itu sudah di hadang ilmu kesaktian lawan.
Sepasang sinar merah kehitaman berbau anyir dan menebar hawa yang lebih panas dari bara api, membentuk telapak sedang menengadah seakan mengharap sesuatu., 'Sepasang Telapak Mengemis Nyawa.!'