
Daging kuah masak asam pedas dalam kuali tanah itu sudah lama habis, api unggun yang membakarnya juga sudah tinggal bara arang kecil dan hampir padam. mulut goa rahasia yang separuh terbuka membuat udara dingin dapat berhembus masuk.
Malam sepertinya sudah melewati separuh waktunya. malah mungkin juga sekarang ini sudah hampir menjelang subuh. meskipun gadis baju putih dan bernama Puji Seruni itu sudah menghabiskan hampir seluruh malam harinya bersama pemuda pincang yang duduk di depannya, tapi semua itu seakan tidak terasa baginya.
Segala kisah yang di tuturkan oleh si pincang itu selain terasa memukau namun juga amat memilukan hatinya. separuh otak gadis ini malah rada tidak percaya jika semua yang dia dengar dari pemuda yang baru saja dia ketahui bernama Pranacitra itu merupakan suatu kejadian nyata.
Puji Seruni masih diam termenung cukup lama meskipun si pincang sudah mengakhiri kisahnya. tanpa sadar kedua matanya yang bening dan indah menatap wajah tampan pucat yang terlihat dingin tanpa perasaan itu. gadis itu seakan ingin mengetahui apa sebenarnya yang berada di sebalik wajah itu.
''Apa yang sedang kau lihat., jangan katakan kalau kau mulai terpesona denganku..'' tegur Pranacitra sambil bangkit berdiri. Puji Seruni terjingkat gelagapan. wajah cantiknya yang sedang marah dan salah tingkah jadi terlihat semakin menggemaskan hati.
''Sii., sia., siapa yang terpesona dengan muka pucat jelek sepertimu., jangan berani bicara sesukamu. kau pikir diriku perempuan macam apa.?''
'Chuuih., jika di lihat dari tingkahmu barusan juga semua cerita yang kamu katakan, aku bisa mengira kau adalah seorang pemuda mesum.!'' maki Puji Seruni meludah geram.
''Sewaktu bertemu si Retno Item kau bukannya cepat membantu menutupi bagian tubuhnya yang tersingkap, tapi justru sengaja melihat buah dadanya lebih dulu. gilanya., kau., kau melakukannya dalam dua kali pertemuan kalian..''
''Juga saat gadis sahabatmu yang bernama Srianah itu tidur terlentang dengan hanya memakai selembar kain hitam dan pakaian dalamnya saja. kau bukannya berusaha menutupi aurat gadis itu, tetapi malah menindih tubuhnya.!'' tuding Puji Seruni dengan wajah merah padam. rasanya sangat memalukan dia bisa berbicara seperti itu.
''Ooh., lalu kenapa, sewaktu pertama kali kita bertemu di kuburan itu mataku juga sempat melirik dadamu. memangnya sekarang ini kau ingin kutindih juga.?'' tanya Pranacitra setengah mengejek. karuan Puji Seruni naik pitam. ''Kau., kau sungguh pemuda mesum yang tidak tahu malu. pantas saja kalau banyak orang persilatan yang membencimu. kelakuan pemuda tengik sepertimu cuma akan mengotori dunia ini.!''
Bibirnya mencaci maki, kedua tangannya bergerak ke belakang pinggang. sepasang pedang pendek bersinar keemasan sudah tergenggam. saat kedua kakinya menutul tanah tubuhnya yang langsing berbalut baju jubah putih bersih berkelebat menyerang.!
__ADS_1
Sepasang pedang emas bergerak cepat membabat dan menggunting. cahaya kuning emas bersilangan menyambar. hawa panas yang tajam merobek udara di dalam goa.
''Awal bertemu di luar kau sudah main bacok. saat sekarang sudah berada di dalam goa, dirimu tetap saja main tikam seenaknya. kalau seperti ini terus, tidak akan ada pemuda yang berani mendekatimu..'' olok Prancitra terkekeh. sebenarnya pemuda ini heran juga, biasanya dia paling tidak suka banyak bicara saat bertarung. tapi hari ini mendadak saja mulutnya banyak ocehan.
Tongkat besi hitam di tangannya terangkat seiring dengan tubuhnya yang bangkit bediri. sekali tangan yang menggenggam tongkat hitam bergerak, selarik cahaya hitam pekat seketika menghadang jurus pedang lawan yang hendak mencacah tubuhnya.
Dalam satu jurus serangan, pedang emasnya telah tiga babatan dan dua tusukan beruntun yang mengancam perut, dada dan leher lawan. meski pedang belum sampai sasaran, tapi hawa pedang yang tajam sudah terasa menyayat kulit.
'Whuuuut., bheeet.!'
'Srhaaat., traaaang., traaang.!'
Puji Seruni gusar bukan kepalang, seakan terlupa sedang berhadapan orang yang telah menolongnya, gadis itu kembali menyerang dengan lebih ganas. tubuhnya mencelat ke atas hingga hampir menyentuh atap ruang goa yang tingginya cuma dua tombak. sepasang pedang Walet Emas sekali lagi membuat gerakan menusuk dan membabat bersilangan. dua larik cahaya emas yang panas menyilaukan pandangan menyambar.!
Ilmu 'Sayap Walet Cahaya Surya' mengambil sumber kekuatan dari sinar matahari, konon gerakan jurus ini di ilhami oleh burung walet yang terbang di bawah cahaya mentari pagi. sepasang pedang pusaka Walet Emas dapat menyerap kekuatan dari matahari.
Walaupun kekuatan jurus itu hanya akan mencapai puncaknya saat di mainkan dalam sorotan sinar surya, tapi tetap saja dalam keremangan goa itupun kekuatan jurus ini tidak dapat di pandang remeh. saat pertama kali Pranacitra menghadapi ilmu pedang ini di luar goa, dia sudah dapat merasakan kehebatan yang tersimpan dalam jurus itu.
Tongkat hitam kepala tengkorak di putar setengah lingkaran di atas kepala lalu menusuk. selarik cahaya hitam pekat menyambar keatas. suara ledakan keras terdengar mengguncang ruangan goa batu. jurus 'Tongkat Maut Pemecah Rembulan' kembali dia gunakan untuk membendung serangan pedang lawan.
'Traaaang., traaang.!'
__ADS_1
'Blaaaarr.!'
Benturan senjata yang disertai suara letusan bunga api terjadi beberapa kali. ruangan goa batu seluas empat kali empat tombak itu bergetar keras. bebatuan runtuh berguguran. debu dan sisa bara arang api unggun semburat menutupi pandangan mata. tubuh kedua orang itu tersurut mundur merapat ke dinding goa. sesaat mereka berdiri diam.
Dalam keremangan cahaya pelita minyak yang kian meredup. diantara debu batu yang berguguran, tubuh Puji Seruni berkekebatan beberapa saat mengelilingi goa batu sebelum kemudian melesat keluar ruangan goa di susul Pranacitra.
Suara bergemuruh terdengar seiring dengan runtuhnya goa batu di depan kedua muda- mudi ini. mulut pintu goa sudah tertimbun longsoran batu besar yang berguguran. Puji Seruni terdiam menatap goa yang jadi tempat tinggalnya selama ini telah lenyap di depan matanya.
Pranacitra melirik gadis itu, di sudut matanya yang indah mengalir butiran- butiran bening. sepasang pedang Walet Emas sudah tersimpan di belakang pinggangnya yang ramping. sebagai gantinya tangan si gadis menggenggam sebuah buntalan kain dan sejilid kitab.
Pranacitra tidak tahu mesti berkata apa untuk menghibur si gadis. meskipun cuma sebuah goa, tapi kehilangan sebuah tempat tinggal tentu cukup menyedihkan juga. goa batu telah lenyap. tapi semua kenangan yang pernah di lalui gadis itu bersama gurunya di tempat itu akan terus berada dalam ingatan.
Meskipun malam telah berlalu dan pagi hari sudah menjelang tiba, namun suasana masih terlihat gelap. Puji Seruni mendongak menghela nafas panjang. ''Mungkin memang sudah waktunya untuk pergi. goa batu rahasia ini hanya guru dan diriku saja yang tahu. sedang goa tempat tinggal guruku yang sebenarnya berada di balik bukit ini. sampai sekarang para murid perguruan 'Naga Biru' masih di perintahkan untuk mengawasinya..''
''Aku ingin merebut kembali tempat itu sekarang., tidak ada lagi orang yang boleh mengotorinya. setelah itu sekalian kita buat perhitungan dengan mereka.!'' ucap gadis itu menahan hawa dendam.
''Kau ingin pergi kesana sekarang juga., tapi apa ini tidak terlalu cepat.?'' tanya Pranacitra melihat gadis itu berlalu. Puji Seruni hanya menoleh tersenyum sinis.
''Di atas bukit ada kolam air panas., aku mau membersihkan diri lebih dulu. memangnya kau mau ikut kesana melihatku mandi.?'' goda gadis itu tertawa renyah. akhirnya dia bisa juga mengejek si pincang hingga muka pucatnya merah padam.
''Kenapa aku mesti bertemu dengan gadis- gadis binal yang aneh seperti ini.?'' gumam Pranacitra mengeluh.
__ADS_1