Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Kujang Emas Nirwana (bag2)


__ADS_3

Semua orang terperangah kaget. pedang biru Ki Sentot Bhirawa yang hendak menikam jantung Ki Mada sampai terhenti di tengah jalan. biarpun orang- orang itu sudah biasa melihat kematian, bahkan sering kali membuat orang hidup terbujur menjadi mayat. tapi baru sekarang ini mereka merinding melihat rekan mereka mati dengan kepala pecah dan tubuh remuk gosong di beberapa bagian.


Wanita berkerudung dan berkebaya merah itu untuk pertama kalinya mengangkat kepalanya yang hampir selalu menunduk. di bawah sinar api obor terlihat seraut wajah perempuan lima puluhan tahun yang cukup cantik. namun jika di perhatikan lebih cermat akan terlihat suatu keanehan sekaligus kengerian diraut wajah itu.


Meskipun muka perempuan cantik itu putih dan halus, hanya sayangnya tidak dapat menyembunyikan adanya titik- titik lubang halus kemerahan di wajah cantik itu, seakan wajah itu pernah di rajam dengan ratusan jarum atau paku kecil.


Sepasang mata wanita itu menatap tajam ke arah gubuk. kesepuluh jemari tangannya yang lentik di lingkari cincin besi merah seakan terkembang memancarkan cahaya dan asap kemerahan pertanda dia sedang kerahkan tenaga kesaktiannya pada kesepuluh cincin merah yang melingkari jemarinya.


Ki Sentot Bhirawa dan semua anak buahnya tanpa sadar turut menoleh ke sana. terlihat ujung sebuah tongkat besi hitam mendorong pintu gubuk hingga perlahan terbuka. seorang pemuda berbaju gelap melangkah tertunduk hanya dua tindak melewati pintu gubuk lalu berhenti. sekilas matanya yang tajam dan dingin menyapu pandang semua orang. entah kenapa hati mereka terasa merinding.


Sambil tetap menunduk orang ini melangkah terseok mendekati tubuh Ki Mada yang tergeletak tanpa perduli dengan Ki Sentot Birawa dan para begundalnya yang masih berada di sana, seakan baginya mereka semua hanyalah barisan patung atau onggokan sampah yang tidak berguna.


Tubuh Ki Mada menggeliat lemah dan mengerang saat ujung tongkat besi hitam si pemuda pincang yang menjadi tamunya menotok dua buah jalan darah di punggung dan pahanya yang terluka. selapis cahaya kabut kebiruan yang sejuk terlihat mengalir dari tangan si pemuda pincang melewati tongkat besi hingga menyusup masuk ke dalam aliran Ki Mada.


Walaupun penyaluran tenaga kesaktian itu cuma berlangsung beberapa kejapan mata saja, namun sudah sanggup menghentikan darah yang mengalir dari kedua luka di tubuhnya. untuk kedua kalinya semua orang jadi terperanjat kaget. dengan kesaktian dari batu Nirmala Biru yang sudah melebur ke dalam jiwa raganya, pemuda ini tidak perlu sampai membuang tenaga untuk melakukan suatu pengobatan.


Pemuda pincang bernama Pranacitra itu perlahan membalikkan badannya. sepasang mata dingin menggidikkan hati yang entah menggambarkan perasaan apa terlihat terus memandang wanita berkerudung kain merah. Ki Sentot Bhirawa dan empat anak buahnya yang tersisa merutuk geram. tanpa bersepakat lebih dulu mereka serentak gerakkan golok di tangannya. dua datang membacok dari kiri dua lainnya membabat sebelah kanan.

__ADS_1


Ki Sentot Bhirawa mengiringi serangan itu dengan lancarkan tiga buah tikaman pedang mengarah leher, dada dan perut Pranacitra. serangan ganas ini di tutup dengan dua buah pukulan tangan kosong yang mengandung tenaga dalam tinggi. dalam bayangan semua orang pemuda pincang itu sudah di pastikan mampus terjagal.!


Tongkat besi hitam diangkat sejajar dadanya, lalu memutar satu lingkaran seakan selapis tameng hitam sebelum akhirnya membabat ke kiri kanan. denting senjata beradu keras, ada yang terpental lepas, ada pula yang patah. saat tongkat besi hitam itu kembali berkelebat membabat, menotok dan mengepruk, empat orang seketika tumbang terkapar dengan leher patah dan kepala rengkah.!


''Hiihh., set., setan alas. kau., kau., si., sia., siapa kau seb., sebenarnya. ken, kenapa bisa berbuat sek., sekejam ini.?'' geram Ki Sentot Bhirawa sambil tersurut mundur dengan hati bergidik ngeri. biarpun pedang birunya sudah terlepas dari tangannya dan bahu kanannya remuk terkoyak hingga mengucurkan darah bercampur tulang daging, namun nyawanya masih selamat.


Pemuda itu cuma menunduk tidak perduli. pandangannya tertuju pada dua buah benda berbentuk cincin yang berwarna kemerahan yang tergeletak di atas tanah. meskipun benda itu hanya berupa cincin kecil namun keduanya mampu menggetarkan tusukan tongkat besinya yang hendak menjebol leher Ki Sentot Bhirawa hingga menyamping ke arah bahu lawan.


''Akhirnya kau turun tangan juga., agaknya malam ini diriku mesti mencicipi kehebatan dari 'Sepuluh Cincin Pembunuh.!'' ujar pemuda itu lalu menoleh. matanya membersitkan cahya dingin setajam belati. ''Tapi sebelum kita berdua memulainya aku ingin bertanya lebih dulu, sekarang ini berada dimana ketiga temanmu yang lainnya.?''


Saat wanita ini berkata suaranya terdengar halus lembut, namun jika di cermati tetap saja tidak dapat menutupi sedikit nada keras dan kasar mirip suara kaum lelaki. ini tidak lepas dari pendengaran Pranacitra. diapun melirik sinis Ki Sentot Bhirawa. ''Saat baru datang kau sempat bilang pada Ki Mada kalau orang yang kau bawa ini berparas cantik, lalu apakah dirimu juga tahu secantik apa aurat bagian bawah tubuh manusia aneh yang wajahnya penuh dengan bekas rajaman jarum dan paku terbang itu.?''


Jika Ki Sentot Bhirawa hanya tercengang tidak mengerti dengan ucapan si pemuda pincang, sebaliknya wanita itu justru sangat terperanjat hingga tanpa sadar dia tersurut mundur. ''Kau., kau., tutup mulutmu bangsat.!'' umpat wanita berkebaya dan kerudung kain merah itu dengan raut muka berubah mengkelam.


''Hampir dua puluh tahun silam kau pernah mendatangi seorang tabib sakti. anehnya saat itu dirimu tidak dalam keadaan sakit apapun. dengan membawa sekantung besar uang emas, perhiasan dan puluhan tanaman obat sangat langka yang sudah lama dicarinya, kau membuat satu permohonan aneh padanya. dirimu ingin agar tabib itu dapat merubah wajah dan tubuh priamu menjadi seorang wanita.!''


''Biarpun tabib ini paham kalau permintaanmu itu bukan saja gila dan menyalahi kodrat manusia, tapi dia juga tertantang untuk dapat melakukannya. kebetulan nenek tabib sakti itu memiliki seorang saudara perempuan yang juga menjadi tabib sekaligus ahli sihir terkenal di rimba persilatan..''

__ADS_1


''Meskipun mereka bersaudara tapi hampir tidak pernah akur selalu bersaing. mungkin baru pertama kali itulah keduanya sudi bekerja sama karena tertantang dengan sesuatu yang baru. dengan paduan ilmu tabib dan sihir yang hebat dari mereka berdua, terciptalah tubuh seorang wanita cantik. tapi saat itu mereka sengaja tidak mau merubah jenis kelaminmu karena merasa akan melanggar hukum Sang Pencipta alam semesta.!''


Sampai di sini suasana menjadi hening mencekam. Ki Sentot Bhirawa mendadak ingin muntah saat teringat sudah beberapa kali dia mencumbui wanita kerudung merah itu. anehnya jika dia menginginkan yang lebih jauh, wanita ini selalu menghindar dengan berbagai alasan. rupanya dia hanyalah seorang lelaki banci yang berkedok wanita.!


''Sebenarnya kau ini hanya seorang lelaki yang di bakar dendam kesumat akibat pembunuhan keluargamu. meskipun itu juga akibat dari perbuatanmu sendiri yang ikut mendukung pemberontakan di kerajaan. dalam pelarianmu tanpa sengaja kau bertemu dengan seorang tokoh silat aneh yang menawarimu untuk mengajarkan ilmu kesaktian 'Sepuluh Cincin Pembunuh..''


''Dengan ilmu itu kau berhasil menuntut balas kematian keluargamu. tapi sayangnya dirimu sejak awal sudah tersesat jalan. meskipun Sepuluh Cincin Pembunuh adalah ilmu sakti tingkat tinggi tapi hanya cocok di pakai oleh kaum perempuan. sebab jika seorang lelaki nekat mempelajarinya dia akan kehilangan jiwa serta jati dirinya sebagai pria dan punya hasrat besar untuk menjadi seorang wanita..''


Pranacitra menatap wanita berkebaya merah itu dengan pandangan benci, jijik juga kasihan. ''Dirimu merasa marah karena kedua tabib itu tidak membuatmu menjadi wanita yang utuh. selain ingin menguasai kitab ilmu pertabiban milik mereka, kau juga khawatir kalau suatu saat rahasiamu akan terbongkar. agar dapat menutup mulut kau beserta beberapa orang persilatan yang licik bersekongkol untuk menjerumuskan kedua nenek tabib itu masuk ke dalam 'Lembah Seribu Racun..''


Semua penuturan yang di ucapkan Pranacitra terasa runtut, datar tanpa ada luapan dendam amarah, tapi itu sudah lebih dari cukup untuk menggoncang jiwa raga si kerudung merah. tubuh Ki Sentot Bhirawa sampai gemetaran hingga jatuh terduduk. dia merasa telah mendengar suatu kisah yang sangat seram tapi juga menjijikkan.


''Aah., sayangnya cuma seorang saja diantara dua nenek tabib sakti itu yang dapat kau jebak, karena seorang lagi sudah keburu menghilang entah kemana..'' ujar Pranacitra membuka kain hitam pembungkus gagang tongkat besinya. sebuah ukiran kepala tengkorak yang terbuat dari perak terdapat di gagang tongkat itu.!'


''Dua orang kawanmu Nyi Merak Sinden si 'Dewi Merak Merah' yang telah menipu si 'Burung Hantu Bungkuk Pencabut Nyawa'. juga Ki Gelung Sanca Amurkala sang ketua perguruan silat 'Sanca Belang' dari hulu sungai Cisoka yang berseteru dengan 'Iblis Naga Rembulan'. keduanya telah terbunuh olehku..''


''Sebelum kau kutetapkan sebagai korbanku yang ketiga, sebutkan di mana tiga orang rekanmu yang lainnya berada, dan siapa yang telah mengatur semua tipu muslihat itu. kematianmu akan kubuat lebih halus dan mudah..'' kata Pranacitra sambil melangkah maju perlahan, sebaliknya si kerudung berkebaya merah malah tersurut mundur. udara malam terasa jauh lebih dingin menindas jiwanya. sekarang dia sadar sedang berhadapan dengan siapa.

__ADS_1


__ADS_2