Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Perguruan Silat Naga Biru.


__ADS_3

Hari masih cukup pagi, mentari juga baru saja terbit. tapi tempat pemakaman tua yang letaknya agak jauh dari luar batas desa Karang Ploso itu sudah bertambah dengan sepuluh sosok mayat bersimbah darah. mayat yang tergeletak begitu saja tanpa kuburan.


Dua orang muda- mudi berpakaian putih yang sudah di nodai darah merah itu berdiri gemetaran di hadapan seorang pemuda pincang berpakaian kain tebal warna gelap. meskipun merasakan kengerian tapi mereka tidak berusaha untuk lari. seandainya kedua anak muda ini nekat kabur juga kecil harapan untuk bisa selamat.


Lagi pula, walau bagaimanapun juga pemuda mirip gelandangan yang seumuran dengan keduanya ini telah menyelamatkan nyawa mereka. jadi seandainya pemuda pincang yang saat ini menjadi salah satu bahan pembicaraan orang persilatan itu berniat buruk, mereka juga tidak akan lari. namun entah kenapa dalam hati keduanya merasa kalau pemuda di depan mereka ini bukanlah manusia jahat.


Pemuda berbaju putih yang terlihat lebih parah lukanya mulai terguyung, meskipun si gadis rekannya sudah berusaha menahan, tapi tubuh pemuda itu tetap saja roboh. mungkin dia mulai kehabisan tenaga dan darah. gadis cantik di sampingnya menjerit tertahan dan berusaha untuk menyadarkan rekannya.


''Kawanmu terluka cukup parah, mungkin sudah banyak keluar darah tapi dia terus memaksakan diri untuk bertahan. jika tidak cepat mendapat pertolongan teman lelakimu ini bisa saja mati..''


Gadis cantik semakin menjadi panik saat mendengar ucapan si pincang. ''Sob., sobat pincang tolonglah temanku ini, kumohon., selamatkan dia..'' ratap gadis itu sambil memeluk rekannya dia mulai menangis. si pincang tersenyum sinis sambil ketuk- ketukkan ujung tongkatnya ke tanah.


''Kalau aku sanggup menolong kawanmu, memangnya apa yang bisa kau berikan padaku sebagai imbalannya.?'' tanya si pincang menyeringai licik. gadis itu tertegun karena tidak menyangka pemuda itu bicara soal balas jasa hingga sesaat dia tidak tahu harus berkata apa.


''Huhm., kenapa kebingungan begitu, dengan wajah dan tubuhmu yang menawan kau bisa membayar sebagai gantinya..''


''Dasar pemuda pincang jahanam., kau., kau sungguh tidak punya hati nurani. pantas saja banyak orang persilatan yang membencimu, rupanya kau memang manusia biadab.!'' maki gadis itu penuh kebencian dan kecewa.


''Haa., ha., turut dari apa yang kulihat kalian berdua ini kalau bukan sepasang kekasih, pastilah ada hubungan saudara. jika benar demikian sudah sewajarnya kalian berdua untuk saling berkorban demi keselamatan pasangannya. tapi rupanya cinta kasih diantara kalian berdua hanya sebatas kata tanpa wujud nyata..''

__ADS_1


Si pincang balikkan tubuhnya dan mulai melangkah pergi. karuan gadis cantik berambut hitam lebat ikal sepanjang bahu itu semakin gelisah. semburan makian kotor dan menjijikkan seketika keluar dari bibir indahnya yang merah merona. jika tidak mendengarnya sendiri orang lain tidak akan percaya mulut gadis secantik bidadari ini bisa berucap makian kotor dan busuk.


Pemuda pincang itu telah berlalu pergi. gadis itu terduduk lemas, dia menangis tersedu sambil memeluk tubuh rekannya yang diam tidak bergerak. entah sudah berapa lama dia tertunduk menangis sambil terus berusaha menyadarkan pemuda yang berada di pangkuannya. di saat dia mulai kelelahan dan putus asa, hujan gerimis juga mulai turun membasahi tanah pekuburan itu.


Ujung sebatang tongkat besi hitam yang masih berlepotan darah dan tanah mengangkat dagunya yang lancip dan terbelah. entah sejak kapan si pincang itu telah kembali. di tangan kirinya tergenggam beberapa macam dedaunan.


''Hancurkan daun- daun ini sampai halus lalu bubuhkan pada mulut luka temanmu itu, kurasa kaupun juga membutuhkannya..''


''Minum butiran obat ini, untuk mengurangi rasa sakit di bagian dalam dan memulihkan hawa sakti yang terkuras..'' ucap si pemuda pincang yang bernama Pranacitra itu sambil lemparkan dua butiran obat berwarna putih kekuningan. gadis cantik itu terbengong. sesaat ada rasa sangsi di hatinya. tapi melihat keadaan kawannya yang semakin melemah dia merasa tidak punya pilihan lain kecuali menuruti ucapan si pincang.


Dengan menggunakan sebutir batu dan alas dari lempengan batu nisan sebuah kuburan tua yang sudah tidak terurus dan tetesan air dari hujan gerimis, gadis itu mulai menggerus hancur dedaunan bahan obat pemberian Pranacitra. dalam hati dia merasa malu saat teringat sumpah serapah dan makian kotor yang terucap dari mulutnya karena mengira pemuda pincang itu tidak punya hati nurani, tidak di sangkanya si pincang itu pergi untuk mencari dedaunan obat penahan luka.


''Kau., kau jangan melihatku, berputarlah..'' ucap gadis itu menunduk malu sambil dekap baju putihnya di bagian atas yang bernoda darah. yang membuatnya semakin kesal dengan seenaknya pemuda pincang itu menjawab. ''Aku tidak sedang melihatmu., tadi mataku cuma sedikit mengintip bagian payudaramu. kurasa lumayan montok juga..''


Biarpun berkata begitu si pincang tetap saja memutar tubuhnya. dengan menggerendeng menahan marah dan rasa malu gadis ini juga balurkan sisa ramuan daun obat itu ke dada kanannya yang luka tergores pedang. setelah sempat ragu diapun menelan sebutir obat pemberian Pranacitra. terasa segulung hawa sejuk merasuki tubuhnya hingga merasa nyaman. sebutir lainnya di masukkan ke mulut rekannya yang masih pingsan.


Hujan gerimis sedikit bertambah deras, saat dia kebingungan si pincang menunjuk ke sebuah pohon besar bercabang lebat. yang berada di tepian tanah pekuburan. tanpa bicara tangan kiri pemuda itu meraih lengan kawannya lalu di panggul berkelebat menuju ke bawah pohon besar itu. semua gerakan dari mengambil tubuh, memanggul, sampai menyandarkannya di bawah pohon ini dia lakukan dengan cepat seakan hanya sekali jalan saja.


Gadis itu ternganga mulutnya, saat tangan pemuda pincang meraih tubuh temannya dari pangkuan, dia sudah berusaha menahan tapi seakan ada kekuatan hebat yang mampu membuat tenaganya tertindih hingga sesaat tidak sanggup menggerakkan tangan.

__ADS_1


Kini si pincang sudah salurkan sedikit tenaga dalamnya ke tubuh rekannya. biarpun masih sangat lemah, tapi pemuda itu sudah tersadar dan mulai berusaha untuk mengatur pernafasannya.


''Teri., terima kasih sobat pendekar karena te., telah menolong kami ber., berdua..'' ucap gadis cantik itu tergagap. ada rasa kagum, malu juga sebal dalam ucapannya.


''Katakan siapa kalian berdua juga kawanan orang- orang berbaju hitam itu..''


Gadis itu mengusap tetesan air hujan yang membasahi rambut dan kepalanya juga rekannya lebih dulu baru menjawab ''Dia adalah tunanganku. asalnya dari perguruan silat 'Naga Biru' yang berada di gunung Semeru. kau pernah mendengarnya.?''


Darah gadis cantik itu berdesir, sepintas dia sempat merasakan hawa membunuh yang keluar dari diri pemuda pincang ini. saat dia tanpa sengaja melirik, mata dingin pemuda itu juga menyorot menggidikkan. meskipun semua itu hanya terjadi sekelebatan saja tapi perasaan menyeramkan itu masih membuat tubuhnya mengigil ketakutan.


''Aa., apakah sobat punya ganjalan masalah dengan per., perguruan 'Naga Biru'.?''


''Lanjutkan saja ceritamu.!'' potongnya dingin membuat gadis cantik itu langsung menurut.


Dari cerita si gadis rupanya dia adalah murid dari Nyi 'Pariseta' yang merupakan kakak seperguruan Ki 'Galing Brajapaksi' sang ketua perguruan silat Naga Biru yang punya julukan 'Dewa Naga Langit.!'


Sebenarnya di lihat dari tingkatan dan ilmu silatnya Nyi Pariseta lebih berhak menjadi ketua perguruan silat Naga Biru yang saat itu merupakan salah satu dari sepuluh perguruan silat terbesar aliran putih. tapi dikarenakan Ki Galing Brajapaksi lebih mempunyai semangat untuk memajukan perguruan Naga Biru, sang guru mewariskan jabatan ketua padanya, lagi pula Nyi Pariseta sendiri juga tidak berminat untuk menduduki jabatan ketua perguruan Naga Biru itu.


Sebagai gantinya Nyi Pariseta di berikan kekuasaan atas sebuah bukit kecil di timur gunung Semeru yang merupakan tempat persemedian dan latihan sang guru. konon di dalam goa rahasia tempat bekas tempat sang guru itu juga menyimpan beberapa benda pusaka sakti, diantaranya adalah sepasang pedang 'Walet Emas' berikut kitab petunjuk ilmu silatnya.

__ADS_1


Dari sinilah masalah itu berawal. saat sang guru masih hidup Ki Galing Brajapaksi tidak berani untuk mengambil alih semua barang pusaka yang tersimpan di dalam goa rahasia dari tangan Nyi Pariseta. namun saat guru mereka berdua sudah tiada, niat serakah yang lama terpendam itupun mulai terlihat.


__ADS_2