
Suara lenguhan nafas yang bercampur dengan jeritan tertahan itu terdengar sampai keluar kamar, ketika tubuh Nyi Rondo Kuning yang telanjang bulat bermandikan keringat bergetaran mengejang keras, sebelum lemas lunglai diatas pembaringannya yang basah tidak beraturan. terlihat seulas senyuman puas dibibir merahnya yang sedikit tebal.
Mungkin wanita ini memang termasuk dalam golongan perempuan bernafsu birahi besar namun sangat mudah mencapai kepuasan. kedua matanya masih terpejam. dengan santainya dia terus menelentang bugil diatas pembaringan kayu berseprei warna kuning, seolah sengaja ingin memamerkan kesintalan tubuhnya yang putih mulus tanpa sehelai bulupun pada pemuda yang duduk di sampingnya.
Melihat tubuh putih bersih perempuan pemilik warung makan dan tempat penginapan 'Lawang Wangi' itu yang bugil mandi keringat, hidung Pranacitra beberapa kali mendengus. meski tubuh gemuk padatnya seolah disiram minyak wangi hingga berbau sangat harum tapi semua itu tetap tidak mampu menutupi bau keringat diketiaknya yang asem menyengat.
Pranacitra menghela nafas dan tepuk jidatnya sendiri. dia sendiri tidak tahu kenapa mesti mengulangi perbuatan kotor yang sama dengan wanita bertubuh agak gemuk namun padat ini. untuk kedua kalinya dia dan Nyi Rondo Kuning bergelut dengan penuh nafsu untuk melampiaskan segalanya. mungkin kejadiannya serupa dengan saat Pranacitra mempelajari ramuan 'Rahasia Peningkat Tenaga Dalam dan Pancaindra' beberapa tahun silam.
Yang jelas, semenjak dia menelan telur langka 'Burung Seriti Emas' pemberian Nyi Kartiyah saat dia selesai mengantarkan perempuan itu bersama Ni Luh Mirahsari keponakannya, ke rumah Ki Manggolo saudara seperguruan perempuan itu, dalam tubuhnya seakan muncul luapan tenaga panas yang hampir tidak dapat dikendalikan.
Ki Manggolo seorang lelaki lima puluh tiga tahunan yang tinggal bersama istri dan anak lelakinya di sebuah lereng bukit. disana dia juga membuka sebuah perguruan silat kecil dengan belasan orang murid yang berasal dari penduduk sekitarnya. Pranacitra tidak mengikuti kedua perempuan itu kedalam rumah Ki Manggolo, melainkan lebih memilih mengawasi mereka dari jauh takut terjadi kesalahpahaman. karenanya dia tidak tahu pembicaraan yang terjadi disana.
Sebelum pergi ke atas bukit menuju rumah Ki Manggolo, gadis buta itu lebih dulu meraih lengan Pranacitra. dengan lembut kedua jemarinya meraba naik ke leher lalu berhenti diwajah si pemuda. mata bening yang menatap kosong itu terlihat indah namun membuat nelangsa hati yang melihatnya. ''Kau orang yang sangat baik. terima kasih karena sudah bersusah payah membantu kami..'' ucapan itu diakhiri dengan sebuah ciuman di pipi kiri si pincang. sekilas terlihat ada setitik air mata yang mengalir dipipi si gadis buta saat dia membalikan tubuhnya. Nyi Kartiyah menghela nafas prihatin. walau turut bersedih tapi dia merasa itulah yang terbaik bagi keduanya.
__ADS_1
Bibi dan keponakannya itupun melangkah pergi meninggalkan Pranacitra berdiri termenung sendiri. ''Apa seperti ini rasanya patah hati.?'' gumamnya tundukkan kepala sambil mengusap tongkat besi kepala tengkoraknya. entah berapa lama dia termangu sendirian dalam lamunannya. saat hendak berbalik turun dan memutuskan pergi, terdengar suara seseorang menegurnya yang disusul suara kibasan beberapa ujung baju hingga Pranacitra berhenti. tidak berapa lama kemudian dua orang sudah berada di depannya.
Jika yang perempuan setengah baya adalah Nyi Kartiyah maka lelaki berjubah hijau pupus dan berjanggut pendek disampingnya pasti Ki Manggolo. orang ini sedikit menjura hormat padanya yang dibalas Pranacitra dengan sikap yang sama. ''Aku bernama Ki Manggolo, saudara seperguruan Nyi Kartiyah juga paman dari Ni Luh Mirahsari. meskipun cukup singkat kami berbicara tapi diriku sudah memahami permasalahan yang terjadi, termasuk soal perasaan antara kau dan keponakanku..'' ucap Ki Manggolo tanpa basa- basi.
"Sebenarnya merupakan suatu penghormatan besar bagiku karena bisa berkenalan dengan seorang pendekar muda yang namanya ditakuti dunia persilatan sepertimu. lagipula., dengan menyelamatkan mereka berdua, kau sudah membuktikan kalau berita yang tersiar diluaran kalau dirimu adalah manusia berhati iblis adalah omong kosong belaka. tapi harap engkau berbesar hati untuk melepaskan keponakanku Ni Luh Mirahsari.." tegas Ki Manggolo.
''Aaish., tunggu dulu. kukira kalian semuanya telah salah paham. walaupun gadis itu cantik dan menarik tapi itu bukan berarti diriku telah menaruh hati padanya. sekedar suka bukan berarti jatuh cinta..'' potong Pranacitra seraya kibaskan tangannya. ''Meskipun aku seorang berandalan liar yang kadang suka membuat keonaran tapi bukanlah pemuda yang gemar merusak hubungan pertunangan orang lain.!"
"Terus terang saja., kesalahpahaman ini membuatku terhina. kalau saja semuanya terjadi di masa lalu, pasti sudah kubantai habis kalian semua.!" hardik Pranacitra gusar gebrakkan tongkat besi hitamnya ke tanah hingga rengkah dan bergetar keras, sampai- sampai Nyi Kartiyah dan Ki Manggolo harus kerahkan tenaga dalam untuk sekedar dapat tetap berdiri ditempatnya. namun pada akhirnya keduanya tetap saja tidak mampu bertahan dan jatuh terduduk.
"Huhm., katakan saja apa maksud kalian. aku masih punya urusan lain.." dengus Pranacitra kesal. sebenarnya dia sadar kalau sikapnya sangat konyol. hanya karena merasa malu isi hatinya dikorek orang lain, lantas dia berpura- pura bicara kasar untuk menutupinya. "Kami hanya tidak ingin terjadi suatu apapun pada Ni Luh Mirahsari. diluar semua itu, dia juga telah memiliki seorang tunangan. seandainya saja keadaannya tidak seperti ini dan kau juga bukan orang persilatan yang punya banyak musuh, pastilah kami akan sangat senang dengan kebersamaan kalian.." terang Ki Manggolo menarik nafas prihatin.
"Tapi kami bukanlah orang yang lupa diri, juga tidak suka berhutang budi apalagi itu hutang jiwa. meskipun pemberian ini mungkin tidak seberapa ada artinya dimatamu namun telur 'Burung Seriti Emas' inilah harta pusaka yang tertinggi dalam padepokan silat 'Seriti Sakti.." kata Nyi Kartiyah. dari balik bajunya dia mengeluarkan sebuah benda bulat lonjong sebesar buah salak. meskipun samar telur itu terlihat memancarkan cahaya keemasan.!
__ADS_1
Itulah kejadian beberapa hari lalu dilereng bukit dekat tempat tinggal Ki Manggolo. meski sempat menolak, pada akhirnya telur sakti itupun diterima juga oleh Pranacitra. "Uuh., aahhs., kau sungguh pandai memberi kepuasan pada kaum wanita. memangnya., kau pernah belajar dengan siapa diluaran sana.?" goda Nyi Rondo Kuning tersenyum menggeliat malas. "Tapi aku sungguh tidak mengira kau bisa muncul tiba- tiba seperti ini. berlarian ditengah malam, menerobos masuk ke dalam kamar tidurku dan tanpa bicara apapun langsung memperkosaku. walaupun itu suatu kejahatan dan pelecehan bagi kaum wanita tapi., aku suka kok. Hii., hi.."
Mendengar ocehan genit janda kaya itu, Pranacitra tidak tahu lagi mesti berkata apa. salah dia sendiri karena terlalu terburu memakan telur Burung Seriti Emas tanpa mencari terlebih dahulu akibat lain yang mungkin terjadi. masih beruntung dia menelan telur sakti itu saat berada tidak jauh dari wilayah Jepara tempat Nyi Rondo Kuning membuka usahanya. jika tidak demikian pasti dirinya bakal kebingungan untuk mencari tempat pelampiasan.
Nyi Rondo Kuning duduk ditengah ranjang. kedua lengannya yang putih gempal memeluk leher dan bahu si pemuda. "Aku bersyukur karena ternyata dirimu baik- baik saja. kau tahu Pranacitra, saat kudengar berita kematianmu tersiar diluaran, aku menangis sedih sampai beberapa hari lamanya. tapi hati kecilku mengatakan kalau kau masih hidup. ternyata dugaanku memang benar adanya. baguslah.." ujar Nyi Rondo Kuning mengecupi bibir si pincang dengan penuh gairah.
"Selama ini aku terus melakukan penyelidikan tentang partai 'Gapura Iblis' juga segala yang berkaitan dengannya. yang membuatku agak khawatir, tidak ada berita tentang rekan kita si 'Pendekar Harimau Putih'. nanti semuanya akan kukatakan padamu. Duhh., sepertinya aku mau begituan sekali lagi.." keluhnya genit.
Pranacitra sedikit mendorong mundur wanita itu. "Iii., iiya benar, nanti saja kita lanjutkan pembicaraan. sekarang ini kau perlu mandi dulu. tubuhmu basah keringatan begitu. lagi pula, 'Kelekmu kuwi jan ambune kecut banget lho Nyi'. (Ketiakmu itu baunya asem banget lho Nyi).." sungut si pincang menahan bersin.
"Halaah., omonganmu ora iso dipercoyo. (omonganmu tidak dapat dipercaya) lagi pula, kau juga suka, kan.? ayoh, kita mandi bareng di kolam biar segar.." ajak Nyi Rondo Kuning. tanpa mengenakan apapun perempuan ini berjalan keluar dari kamarnya, telanjang bulat tanpa merasa malu. Pranacitra cuma bisa mengelus dada. "Kenapa dalam kehidupan ini, aku selalu saja bertemu dengan perempuan- perempuan genit, binal, mesum dan aneh.?" keluhnya.
....................
__ADS_1
Bab ini menurutku sangat menjijikkan🤢🤮. selain tokoh Roro di novel sebelah, aku juga gak suka sama Nyi Rondo Kuning yang genit, mesum dan tidak tahu malu. (mugo ae wong 2 iku mati😤) Maaf🙏 jika ada kalimat yg tidak berkenan dhati. Terima kasih.