
Semilir angin dingin yang berhembus menyibakkan rambut ikal panjang Jingga Rani yang kusut dan dikotori debu pasir. gadis cantik itu tertunduk lemas. dengan langkah gontai dia menghampiri kedua saudaranya yang terlihat mulai sadar dari pingsannya. tanpa membuang waktu dia memasukkan sebutir obat berwarna kekuningan pemberian si pincang ke mulut mereka berdua dan sebutir obat lagi untuknya sendiri.
Dengan duduk bersila mengatur pernafasan khasiat obat itu menjadi lebih cepat terserap kedalam tubuh mereka. saat Jingga Ratih dan pemuda saudara segurunya pulih mereka juga seketika tertegun melihat dua buah makam yang berada tidak jauh didepannya. hati kedua orang ini dilanda kesedihan mendalam saat tahu makam siapa itu. hanya tangisan dan doa yang dapat mereka ucapkan.
Melalui penuturan dari Jingga Rani barulah mereka berdua sadar telah mendapatkan pertolongan untuk kedua kalinya dari si 'Setan Pincang Penyendiri' atau 'Pendekar Tanpa Kawan' hingga dapat selamat dari ancaman maut si 'Nenek Iblis Berkaki Ganco'. mereka semakin terperanjat mengetahui jika lawan mereka kabur membawa luka parah setelah dipecundangi si pincang.
Baru sekarang inilah keduanya menyadari kalau ada perbedaan serta jarak yang cukup jauh dalam tingkatan ilmu kepandaian diantara 'Lima Elang Api' dan si 'Siulan Kematian'. suatu kebodohan telah mereka lakukan karena berani menantang peringkat teratas diantara para pesilat pendatang baru yang terkuat.
''Kakak Jingga Rani., apa yang mesti kita lakukan sekarang ini. setelah hampir dua tahun lalu guru pergi meninggal, kini kita mesti kehilangan dua orang saudara seperguruan..'' tanya Jingga Ratih yang masih duduk bersimpuh didepan makam kedua saudara seperguruannya.
''Kurasa., kita sudah tidak mungkin lagi kembali ke tempat tinggal kita. semuanya., akan terasa berbeda dan sepi karena kedua saudara kita Prasojo dan Landung Suko sudah tidak ada lagi bersama kita..'' sambung pemuda gagah yang juga berlutut di samping kiri Jingga Ratih. namanya Surya Galih.
Jingga Rani mendongak menatap gumpalan besar awan putih yang berarak diatas langit. sebagian menutupi puncak gunung Bromo, yang lainnya menghalangi sebagian cahaya matahari. ''Sejujurnya aku juga tidak tahu lagi mesti berbuat apa. tapi., bagaimanapun juga kematian kakang Prasojo dan kakang Landung Suko tetap harus kita balaskan.!''
''Namun kita tidak boleh gegabah. ilmu nenek keparat itu sangatlah tinggi. bahkan mungkin dua tingkat diatas kita. meskipun dia sudah terluka parah dan kehilangan sebelah lengan, bangsat tua itu tetap sangat berbahaya. lagi pula Lima Elang Api kini tinggal kita bertiga saja yang masih hidup. luka dalam kita juga belum sembuh benar..'' keluh gadis cantik itu.
Ketiga orang itu saling berdiam diri. meskipun dendam kesumat dalam hati terasa membakar jiwa, tapi ketidakberdayaan membuat batin mereka tersiksa. selama ini Lima Elang Api hampir selalu menginjak kepala orang lain. baru kali inilah mereka merasakan sakit dan terhinanya menjadi para pecundang. apakah ini adalah karma dari kesombongan mereka.?
''Adikku Jingga Ratih., kau dan kakang Surya Galih sebaiknya kembali dulu ke tempat goa pertapaan mendiang guru kita di puncak bukit 'Elang Kencana' untuk memulihkan diri sambil terus berlatih memperdalam ilmu silat kalian. sementara aku akan mencari tahu dimana sebenarnya nenek buntung keparat itu berada. bahkan aku punya rencana untuk mengunjungi beberapa sahabat guru kita dan pesilat yang kukenal agar dapat kita mintai bantuannya..'' putus Jingga Rani. meskipun merasa keberatan tapi kedua saudaranya itu tidak ada gunanya membantah ucapan si pemimpin. mereka paham betul sifat keras kepala dari gadis itu.
''Aku masih mau berdiam diri gunung ini untuk beberapa waktu. bagaimanapun juga., tanah kuburan dua saudara kita itu masih basah..'' gumam Jingga Ratih. ''Kalau begitu aku akan menemanimu. kita bisa mencari goa untuk tempat berteduh sementara waktu..'' bisik Surya Galih.
__ADS_1
Gadis cantik adik kandung Jingga Rani yang berada disampingnya itu sedikit terkejut saat merasa tangannya di genggam lembut pemuda itu. meskipun tersipu malu tapi dia hanya diam menunduk. bahkan tangan kirinya seperti balas menggenggam tangan Surya Galih.
Semua itu tidak lepas dari pandangan mata Jingga Rani. lebih tujuh tahun mereka bersama baru kali ini dia tahu jika kedua saudara seperguruannya diam- diam saling menaruh hati. ''Aku tidak keberatan jika kalian berdua saling suka. tapi paling tidak janganlah terlalu lama saling berpegangan tangan dan mengumbar kemesraan di depan kuburan..'' sindir Jingga Rani mendengus sebal.
Kedua saudaranya terjingkat sambil lepaskan tangan mereka yang saling tergenggam rapat. sekelebat bayangan jingga melayang pergi diiringi suara kibasan lengan baju. saat menoleh mereka hanya sempat melihat setitik jingga yang semakin lenyap dari pandangan.
Jingga Ratih dan Suryo Galih serentak berseru memanggil Jingga Rani dan hendak menyusul tapi satu suara mencegahnya. ''Kalian tidak perlu mengkhawatirkan diriku. setelah semuanya selesai aku akan mencari kalian berdua. kita bertiga akan menuntut balas kematian dua saudara kita.!'' seru Jingga Rani dari kejauhan.
''Ehm., kurasa kakakmu itu tidak cuma hendak mencari tahu soal nenek berkaki buntung dan mencari bantuan dari para sahabat guru kita. tapi juga., mencari keberadaan pemuda berkaki pincang yang telah menolong kita..'' ujar Suryo Galih seraya tersenyum.
Jingga Ratih memandangnya heran. ''Kau ini bicara apa kakang Suryo, kenapa kakakku mesti mencari pendekar pincang itu.?'' yang ditanya mengusap sisa air mata yang mengalir di kedua pipi Jingga Ratih dengan lembut sebelum menjawab, ''Tadi dia bilang hendak menemui seorang pesilat yang dia kenal untuk dimintai bantuan..''
''Masalahnya sejak kapan Jingga Rani punya kenalan baik seorang pesilat hebat. sekalipun banyak pesilat muda yang ingin mendekatinya, tapi selama ini dia selalu tinggi hati dan tidak mau bergaul dekat dengan orang lain. kalau aku tidak salah duga., Jingga Rani sudah mulai jatuh hati pada pemuda pincang itu dan berniat untuk meminta bantuannya..'' jelas Suryo Galih tertawa kecil, membuat Jingga Ratih tertegun seakan baru menyadari semuanya.
Sebuah obor batu setinggi pinggang orang dewasa yang tertancap ditengah ruangan goa seluas lebih tujuh tombak keliling itu tiba- tiba semakin berkobar menyala. api obor yang membesar sedikit membuat keadaan di sekeliling ruangan goa menjadi lebih jelas terlihat.
Pada salah satu sudut ruang goa itu terdapat tiga buah undakan batu sehingga membuat lantai diruangan goa tidak sama rata dan menjadi berbeda ketinggiannya. pada dinding di lantai yang lebih tinggi itu terdapat sebuah lukisan besar yang membawa hawa sangat menyeramkan bagi siapapun yang memandangnya.
Lukisan yang lebih banyak menggunakan warna hitam, merah dan putih sebagai dasarnya itu terlihat menggambarkan dua buah gapura besar dengan latar belakang rembulan purnama yang bermandikan lelehan darah. dari lukisan itu lapat- lapat juga tercium aroma anyir bercampur wangi yang aneh.
Di depan lukisan besar dan sangat angker itu berdiri sesosok tubuh berjubah putih. biarpun tidak dapat diketahui apakah dia lelaki atau perempuan, sudah tua ataukah masih muda, tetapi dari dalam diri manusia ini seolah terpancar hawa kematian yang menggidikkan hati.
__ADS_1
Meskipun dalam suasana remang wajah orang ini tidak terlihat, tapi jelas kalau dia sedang memalingkan kepalanya dari lukisan di dinding goa dan beralih memandang seorang nenek tua berjubah merah yang kaki kanannya ditancapi dua buah ganco besi. sebelah tangan nenek itu buntung sebatas lengan. orang tua itu terlihat berlutut, mengerang dan menggigil kedinginan. beberapa bagian tubuhnya seolah diselimuti butiran salju.
''Tuu., tuan bes., besar. kum., kumo., hon., too., tolong., lah aa., aku tuan besar. tuu., tubuhku sep., seper., ti., mem., membe., kuu.!'' ratap perempuan tua yang bukan lain adalah 'Nenek Iblis Berkaki Ganco' itu dengan suara terputus gemetaran menahan rasa kesakitan. setiap dia bicara dan bernafas uap putih yang sangat dingin selalu keluar dari mulut juga hidungnya.
Jelas sekali kalau nenek jahat ini sedang terluka dalam yang semakin parah akibat ilmu pukulan 'Nisan Kuburan Membeku' yang dilepaskan Pranacitra saat mereka berdua bertarung sengit di lereng gunung Bromo. meskipun sudah berusaha mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk menahan dan mendesak keluar pengaruh hawa dingin yang menyerangnya, bahkan sampai membuntungi sebelah lengannya sendiri yang beku tapi hawa dingin itu tetap saja merasuki tubuhnya.
Dengan sebuah gerakan yang sepintas lambat, tiba- tiba saja tubuh si jubah putih itu sudah berada di depan 'Nenek Iblis Berkaki Ganco' yang semakin menggigil tubuhnya. dengan gemetaran dan terbatuk memuntahkan darah beku nenek itu mendongak. dengan kedua mata tuanya yang semakin memburam dia menatap orang yang berdiri di depannya.
Satu ingatan mendadak terlintas di kepala sinenek. jemari tangannya yang dingin kaku terangkat gemetaran menuding si jubah putih. raut wajah nenek itu semakin memucat diliputi perasan ketakutan bercampur tidak percaya. ''Aahk., aa., aku ingat sek., seka., rang. waa., jah bo., bocah pin., pin., cang itu. cara di., dia mel., meli., hat. juga hawa kem., kemati., an dari tubuh.,.nya. dii., aa. dia mirip deng., dengan., diri., muu.!''
Hawa mencekam mendadak terasa semakin memenuhi ruangan goa itu. meskipun tidak nampak bagaimana raut muka si jubah putih, namun jelas sekali kalau terlihat dari bagian belakang tubuh dan bahunya sesaat bergetar. sebaliknya wajah si Nenek Iblis Berkaki Ganco semakin dilanda kengerian. ''Tuu., tu., an bes., besar. aa., apakah., iii., ini ada hub., hubu., ngan., nya deng., ngan., dengan kem., kembar empat dii., dimasa laluu.?''
Setelah terucap barulah si nenek sadar kalau dia telah melakukan kesalahan sangat besar. sesuatu yang sangat tabu untuk diucapkan dan menjadi rahasia besar dalam partai aliran hitam terkuat., 'Gapura Iblis'. sayang segalanya sudah terlambat. ratapan minta ampun seakan tidak ada lagi gunanya.
Si jubah putih kibaskan sebelah tangannya. gumpalan api sangat merah dengan lelehan darah pekat berkelebat dari telapaknya. hanya terdengar jeritan parau yang memecahkan kesunyian ruangan goa. tubuh Nenek Iblis Berkaki Ganco terkapar diselimuti bara api merah. beberapa saat kemudian hanya tinggal onggokan tulang belulang dan gumpalan daging hangus terbakar.!
Orang berjubah putih terdiam cukup lama memandangi daging kerangka yang teronggok didepannya. dengan tepukan isyarat muncul dua sosok bayangan hitam yang langsung membersihkan tulang belulang itu lalu lenyap di kegelapan. cahaya api obor yang bergoyang sesaat menerangi mata orang berjubah putih. sepasang mata itu selain mempunyai sorot pandangan yang aneh juga menyeramkan. dingin tanpa perasaan. seperti., mata mayat.!
*****
Asalamualaikum., salam sehat sejahtera selalu bagi kita semua. Amin.
__ADS_1
Pengumuman., Mohon maaf., novel PTK dan 13 Pbh (mungkin) tidak dapat Up date untuk seminggu ke depan karena kesibukan kerja kami.๐
Mohon sertakan komentar, kritik saran, like๐ vote atau favorit๐ jika anda suka. kalau berkenan tolong share novel Pendekar Tanpa Kawan dan 13 Pembunuh pada teman" yang lainnya. ๐ Terima kasih. Wasalamualaikum.