Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Alasan. (bag2)


__ADS_3

Pranacitra sekejap melirik Nyi Jaran Mirah yang masih duduk bersila di atas tanah untuk mengatur pernafasannya. dua orang anak buahnya turut berjaga mendampinginya. tiga orang anggota gerombolan .Kuda Angin' termasuk si hidung tindik tetap berada di sekitar Surti Cenil yang nampak gelisah dan gugup karena terus dipandangi si pemuda pincang.


Meskipun dalam hati semua kawannya juga merasa kurang senang dengan kelakuan pemuda itu tapi tidak ada satupun yang berani menegur apalagi mencegahnya. Surti Cenil menunduk takut. dia tanpa sadar menyurut mundur setiap kali pemuda ini melangkah maju. sepasang matanya yang memelototi tubuhnya dari ujung kepala hingga kaki dengan pandangan jahil dan mesum itu seperti hendak menelannya.


Gadis manis yang rambut hitamnya dipotong agak pendek dan memakai baju merah tanpa lengan itu mengeluh tertahan saat tidak dapat lagi bergerak mundur karena punggungnya sudah mentok terbentur sebatang pohon. dia hendak bergerak menghindar namun tangan kiri si pincang sudah menahan bahunya. kini tubuh kedua muda- mudi itu hanya berjarak satu- dua jengkal saja hingga tercium aroma tubuh mereka.


Keringat dingin membasahi wajah serta tubuh Surti Cenil. dia ingin menjauh tapi tetap saja tidak mampu menghindari pandangan mata pemuda itu yang seperti menyihirnya. ''Kaa., kau., kau maa., mau apa. ken., kenapa men., menatap., ku sep., seper., ti iit., itu.?'' tanya Surti Cenil tergagap lalu melengos.


''Hehm., jika ada dua orang remaja berlainan jenis sedang bertatap muka, menurutmu apa yang akan terjadi. kalau si Cagak Randu saja sampai berani berniat untuk berbuat mesum denganmu, lalu kenapa aku tidak dapat melakukan hal yang sama.?'' tanya Pranacitra sembil julurkan ujung lidah untuk membasahi bibirnya. Surti Cenil langsung merinding.


''Kau tahu bocah perempuan manis., baik itu raut wajah, bentuk tubuh, lagak gaya dan penampilanmu membuatku teringat pada tiga orang kenalanku. tetapi itu tidak masalah, karena yang jadi pertanyaan sekarang ini adalah, bagaimana caramu untuk membayar semua pertolonganku karena sudah menyelamatkan nyawa kalian semua..''


Ucapan Pranacitra ini bukan saja membuat semua orang tercengang terutama Surti Cenil. dia tidak pernah mengira kalau pemuda ini ternyata punya alasan tersembunyi alias pamrih dalam membantu mereka. seolah tidak perduli dengan apa yang ada dalam benak semua orang, Pranacitra hanya nyengir mengangkat bahu. ''Iiyahh., maklumlah, aku ini bukanlah kaum pendekar berhati welas asih yang sopan dan lemah lembut serta suka menolong tanpa mengharap apapun..''


Surti Cenil melongo. kalau ada orang yang paling tidak punya rasa malu, mungkin pemuda didepannya ini bisa menjadi salah satunya. sementara yang lainnya juga berpikir, ''Baru saja pemuda ini membuat kami kagum dan hormat karena sudah memberikan suatu nasihat yang mengubah cara pandang kami dalam menghadapi suatu masalah. namun sekarang kenapa dia seperti berubah menjadi orang lain.?''


Tentu saja mereka cuma bisa membatin tanpa ada yang berani membuka mulutnya. ''Aaish., jangan takut begitu, meskipun diriku hanya bajingan rendahan tapi tidak sebejat Cagak Randu. Eehm., bibir mungilmu yang merah ranum itu terlihat menggemaskan. aku jadi penasaran, rasanya seperti apa yah.?''


Belum sepenuhnya menyadari maksud dari ucapan si pemuda pincang, Surti Cenil sudah terpekik kecil dan gemetaran. tubuhnya terasa disiram air dingin namun anehnya justru aliran darahnya seolah memanas juga mengalir lebih cepat. dia ingin berontak tapi ada perasaan lain dalam jiwanya yang malah mencegah kemauannya. apa yang sedang dilakukan sekarang, juga tatapan mata pemuda itu seperti telah menyihirnya. dia hanya bisa pasrah dan pejamkan mata.


Semua anggota Kuda Angin termasuk Nyi Jaran Mirah yang baru selesai bersemedi sama melotot matanya dan berseru tertahan melihat betapa rakusnya si pemuda pincang itu mencium bibir muridnya. meskipun hanya sekejap mata berlangsung namun semuanya terlalu mengejutkan dan terpatri dalam benak semua orang.


''Lain kali jangan malas untuk membersihkan bulu- bulu di bawah lenganmu ini. sebagai perempuan apa kau tidak merasa risih.?'' Surti Cenil sesaat masih tidak memahami maksud dari teguran pemuda itu sampai kemudian dia menjerit kesakitan. ''Aah., aduuuh., apa yang kau lakukan. sakit tahu.!''

__ADS_1


Dengan penuh kesal bercampur malu dia bermaksud menendang sekaligus meninju si pemuda tapi orangnya sudah keburu mundur beberapa langkah. jemari kanannya memilin- milin beberapa helai bulu hitam yang baru dia cabut dari ketiak kanan Surti Cenil. ''Uuh., bau asemnya sama dengan si Jingga Rani. cuma bedanya yang ini lurus, sedang punya ketua 'Lima Elang Api' itu ikal rada keriting. Yieekh., hiihh., jijik..'' gumam si pincang menciumi bulu- bulu itu sebelum membuangnya.


Perbuatan pemuda ini bukan saja membuat Surti Cenil merasa sangat malu dan geram tapi semua kawannya juga hampir tidak bisa menahan tawa. ''Justru kaulah yang aneh. sudah tahu bulu- bulu yang tumbuh di bagian itu membuat risih dan geli, malah kau cabut lalu dicium juga. dasar pemuda gila kurang kerjaan..''


''Surti Cenil juga begitu, biarpun punya tingkah laku seperti lelaki tapi seharusnya tetap menjaga kebersihan tubuhnya sebagaimana umumnya seorang gadis muda..'' batin mereka melirik bulu- bulu hitam yang tersembul dari lipatan ketiak si gadis dengan pandangan mencemooh. ''Heii., apa yang sedang kalian lihat dariku.!" damprat murid Nyi Jaran Mirah sewot dan semakin malu.


Di saat semuanya kembali tersadar, pemuda aneh itu sudah tidak berada di depan mereka. hanya gema suaranya yang terdengar dari kejauhan. ''Haa., ha., dengan begini diantara kita semua tidak ada lagi hubungan atau hutang budi apapun. Nyi Jaran Mirah., sekilas dari tatapan matamu aku yakin kalau kau juga mengenal siapa diriku. jadi kuharap., kalian semua melupakan semua yang terjadi malam ini. karena demi keselamatan kalian sendiri, anggap saja semuanya tidak pernah ada.!''


Segalanya menjadi hening. angin malam yang berhembus semakin dingin membawa bau anyir darah yang menusuk pernafasan. si hidung tindik yang pertama kali bergerak. dengan menahan kesedihan dia mulai membuat lubang makam untuk semua sahabatnya yang mati terbunuh. empat anggota Kuda Angin lainnya juga turut membantu. dalam hati mereka bersumpah tidak akan membuat kematian semua saudaranya menjadi sia- sia.


Nyi Jaran Mirah menghela nafas. dia kini yakin dengan semua dugaannya tentang jati diri pemuda itu. sambil berdiri mata tuanya menatap sang murid yang masih berdiri termenung. mungkin cukup mudah bagi mereka untuk melupakan semua kejadian buruk malam ini. tapi bagi Surti Cenil., dia mungkin butuh waktu yang lebih lama.


............


Malam semakin larut. mungkin tidak lama lagi waktu sudah masuki awal pagi. bau darah berseling aroma daging hangus dari mayat juga samar masih tercium. suara binatang malam dan gemerisik dedaunan yang berguguran tertiup angin seolah turut mengejek kebodohan manusia yang memilih mati tanpa arti.


Dari satu arah terdengar suara kibasan angin yang merobek keheningan malam. tiga sosok bayangan merah dan kuning tiba- tiba saja sudah muncul ditempat itu. dalam suasana malam yang masih gelap orang tetap dapat melihat pakaian jubah mereka yang selain nampak aneh juga cukup mencolok mata. sekilas ketiganya sama berseru tertahan melihat keadaan sekitarnya. ''Aah. sialan., jangan- jangan ada orang yang telah mendahului kita..'' terdengar geraman kesal dari suara perempuan.


Tiga orang pendatang yang merupakan seorang perempuan setengah tua berdandan cukup menor serta berperilaku genit. meski wajah juga tubuhnya sudah mulai keriput dan kendur tapi tetap punya daya pikat. wanita setengah tua itu memakai jubah kuning rada tembus pandang dengan belahan dada rendah, dihiasi sulaman bunga- bunga berwarna merah.


Sebaliknya dua orang lain yang berdiri di samping kiri- kanan perempuan berdandan mesum itu adalah para lelaki setengah baya yang sama memakai jubah merah dengan sulaman kumbang berwarna kuning. seorang diantaranya bertubuh tinggi kurus berkepala botak. sedang satu lagi memiliki tubuh gemuk pendek dan berambut gondrong.


Pandangan mata kedua lelaki setengah umur itu hampir selalu merayapi tubuh perempuan yang berada ditengah. sesekali air liur juga menetes dari sela bibir mereka diseling suara dengusan nafas berat seolah mereka sedang menahan rasa kelaparan atau hasrat yang terpendam. perempuan genit berperilaku mesum itu hanya tertawa mengikik. sesekali tangannya mengelus lembut kepala kedua orang lelaki itu, hingga membuat mereka terkekeh senang.

__ADS_1


''Hik., hii., sabarlah para suamiku sayang., setelah mendapatkan benda itu, kita bertiga dapat melampiaskan gairah sepuasnya. sekarang cepat kalian geledah mayat 'Pengemis Muka Hitam' itu.!'' perintah wanita berjubah kuning ini. kedua lelaki yang disebut sebagai para suami itupun mengangguk. dengan gerakan cepat mereka berdua sudah berada di samping mayat Pengemis Muka Hitam yang hancur bagian atas kepalanya.


Baru saja keduanya hendak membungkuk untuk mencari sesuatu di tubuh mayat, tiba- tiba saja mereka sama berteriak gusar karena merasakan adanya sambaran angin keras bersemu cahaya hijau yang menghantam dari satu arah. ''Kurang ajar., siapa orangnya yang sudah bosan hidup sampai berani merecoki urusan kami.!'' bentak lelaki bertubuh tinggi botak. ''Cepat tunjukkan dirimu dasar keparat.!'' timpal si pendek gondrong sembari berkacak pinggang.


Perempuan berdandan menor juga hendak mendamprat tapi sebuah gelak tawa dingin telah keburu terdengar. ''Haa., ha., malam hari baru saja hendak berganti pagi tapi 'Tiga Iblis Bercinta Merah Kuning' sepertinya sudah tidak tahan lagi untuk mengumbar nafsu syahwat mereka di tengah hutan ini. sungguh luar biasa.!''


Dari suara tawa keras yang mengguncangkan seluruh hutan rimba itu, orang sudah dapat memastikan tingkat ketinggian ilmu dari si pemilik tawa. belum habis gemanya, seorang tua berjubah hijau tahu- tahu sudah muncul di tempat itu. ''Daeng Labisa., si 'Hantu Jubah Hijau Bermata Satu.!'' seru kedua orang itu dengan suara tercekat kaget. tanpa sadar mereka menyurut mundur ke samping rekannya si perempuan mesum berjubah kuning tipis yang juga nampak terperanjat.


Di depan ketiganya kini telah berdiri seorang lelaki setengah tua bertubuh cukup tinggi dengan rambut yang setengah memutih. raut wajahnya yang dingin terlihat semakin menyeramkan dengan adanya rongga hitam di mata kirinya. orang ini bernama Daeng Labisa, seorang tokoh silat dari tanah Bugis yang terkenal berwatak keras serta punya ilmu kesaktian sangat tinggi.


Dengan mata tunggalnya Daeng Labisa melirik sekejap mayat Pengemis Muka Hitam sebelum menatap tajam ketiga orang dihadapannya. meskipun nama Tiga Iblis Bercinta Merah Kuning juga cukup punya nama tapi kalau dihadapkan pada si Hantu Jubah Hijau Bermata Satu, mereka masih kalah tenar.


''Sialan betul. kenapa dia bisa muncul di hutan ini. Aah., jangan- jangan orang ini juga sedang mengincar barang itu..'' batin wanita genit berjubah kuning itu. walaupun agak heran dan curiga dengan kemunculan Daeng Labisa tetapi pimpinan dari Tiga Iblis Bercinta Merah Kuning tetap tunjukkan senyuman genit. dia berniat bermain halus dengan mencoba menggoda lawannya.


''Aduuhh., sungguh tidak dinyana malam ini kamu bertiga dapat berjumpa dengan Daeng Labisa, alias Hantu Jubah Hijau Bermata Satu yang sangat ternama di dunia persilatan ini..'' ucap wanita itu lembut kerlingkan matanya. sambil membungkuk rendah dia memberi penghormatan. dengan demikian jelas terlihat buah dadanya yang menggantung dari arah depan.


''Kalau aku boleh tahu, ada kepentingan apa sampai Daeng Labisa muncul kemari. mungkin saja kami bisa memberikan bantuan padamu..''ujarnya lembut sambil berjalan pelan ke depan. dengan satu lirikan mata dia memberi isyarat pada kedua rekannya untuk turut mempersiapkan serangan gelap. tapi Daeng Labisa keburu mendengus gusar.


''Huhm., urungkan saja niatan bodohmu itu. lagi pula aku tidak tertarik dengan tubuh perempuan yang sudah menjadi barang rongsokan. mumpung diriku belum berubah pikiran, aku ijinkan kau dan kedua budak jelekmu untuk pergi dari sini. dengarkan aku wanita sundal. apapun alasannya., jangan pernah punya niatan untuk mengambil barang yang bukan milikmu.!'' gertak Daeng Labisa kereng.


........


Silahkan tuliskan komentar Anda. Terima kasih🙏. (mungkin besok ada up date lagi🤔)

__ADS_1


__ADS_2