
Kokok ayam jantan yang berkumandang menandakan malam sudah berganti pagi. dari ujung jalan masuk sebuah kampung terlihat tiga orang lelaki kasar berpakaian ringkas warna hitam dengan ikat kepala kain merah melilit rambut mereka yang gondrong terus bergerak memacu kuda tunggangannya.
Mereka bertiga seakan tidak perduli dengan segala tata krama. kuda yang terus digebrak kencang melewati tengah kampung membuat beberapa orang penduduk desa yang hendak pergi menuju Surau kecil yang berada disana untuk menunaikan Shalat Subuh berjamaah mesti cepat menyingkir jika tidak ingin celaka dilanggar kuda yang berlari menembus hari yang masih gelap.
Biarpun beberapa diantaranya ada yang punya bekal ilmu silat merasa marah dan ingin menghadang ketiga penunggang kuda itu, tapi begitu melihat tampang seram dan senjata kapak besar yang tergembol dipunggung ketiganya, seketika amarah mereka menyusut dan hanya bisa mengelus dada serta istighfar.
Biarpun para penduduk desa itu tidak ada yang mengenal siapa ketiga orang itu namun jelas mereka bukanlah golongan sembarangan yang gampang diusik. dalam sekejap saja tiga orang bertampang seram dan berbaju hitam itu sudah lenyap keluar desa. saat melewati jalan kampung kuda- kuda mereka sempat menginjak mati sekawanan bebek yang baru saja dikeluarkan dari kandangnya hendak digembalakan si pemilik.
Tiga orang penunggang kuda itu memacu tunggangannya tanpa henti. cemeti ditangan terus menyebat bagian belakang tubuh kuda. setelah melewati dua buah perkampungan dan pedataran rumput, sampailah mereka ditepian hutan yang berada dikaki sebuah bukit kecil. hampir bersamaan cahaya terang cakrawala mulai menyorot dari penjuru timur.
Penunggang kuda berbaju hitam yang berada paling depan dengan bentuk tubuh sangat kekar namun agak pendek sekilas edarkan pandangannya kesekeliling tempat. tidak ada sesuatu apapun yang mencurigakan disana. ''Menurut kalian., apakah kita langsung masuk kedalam hutan di depan sana atau menunggu pagi hari benar- benar terang.?''
''Tempat tinggal orang tua itu berada dalam sebuah goa batu yang berada jauh ditengah hutan yang lebat itu. sekalipun hari sudah siang aku ragu cahayanya mampu menembus kegelapan hutan. jadi kurasa kita langsung masuk saja untuk menyerahkan barang yang dia inginkan..'' sahut penunggang kuda yang berambut lurus bermuka tirus.
''Tunggu apa lagi., setelah menemui orang tua itu dan memenuhi pesanannya, kita langsung bisa minta diri berpamitan. seharian berkuda sejak kemarin siang membuat diriku sangat lelah dan bosan. aku ingin beristirahat sambil ditemani perempuan penghibur..'' ucap penunggang kuda ketiga yang dagu kirinya ada bekas luka bakar dan membawa buntelan. sekali sentak kuda hitamnya melesat maju mendahului masuk kedalam hutan dikuti oleh kedua temannya.
__ADS_1
Tiga orang ini berkuda beriringan karena jalan setapak dihutan yang sempit, berliku serta gelap dipenuhi pepohonan tinggi lebat dikiri kanannya. disuatu tempat yang agak naik, kuda mereka tidak lagi dapat bergerak maju karena jalan kecil ditengah hutan itu sudah terhalang tebing bebatuan yang dipenuhi tumbuhan merambat.
Setelah menambatkan tali kekang kudanya dicabang pohon, mereka kembali meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki. sekali genjot tubuh ketiganya berkelebat diantara lebatnya hutan. dengan ilmu ringan tubuh mereka yang lumayan tinggi dalam waktu sepeminum teh saja ketiga orang itu sudah sampai di suatu pedataran kecil yang berada didepan mulut sebuah goa batu.
Pedataran itu luasnya mungkin sepuluh tombak keliling. karena tidak ada pepohonan yang tumbuh disana maka sekeliling tempat itu dapat dilihat meskipun cahaya matahari belum naik. ketiga orang itu sama keluarkan seruan tertahan saat melihat ada sesosok mayat lelaki tua berjubah hitam tergeletak ditengah halaman goa batu itu.
Meskipun suasana menjelang pagi masih agak remang dan mayat itu juga sudah mulai membusuk tapi ketiga orang berpakaian hitam itu masih dapat mengenali siapa adanya sosok yang tergeletak disana. '' Paduka guru Ki Cengkal Sirik Jaliteng.!'' teriak mereka dengan air muka berubah hebat. dari ucapanya ketiga orang ini pastilah para murid dari si mayat.
''Keparat., bangsat dari mana yang berani mati menyatroni tempat ini dan membunuh guru kita.?'' geram si kekar pendek berkelebat maju sambil mencabut kapak besar bergagang panjang yang tergembol dipunggung. kedua rekannya turut berbuat yang sama. bedanya si gondrong berambut lurus sempat memeriksa sosok orang tua yang menjadi guru mereka.
Ketiganya terjingkat kaget menyadari tubuh gurunya yang dipanggil sebagai Ki Cengkal Sirik Jaliteng bukan saja telah kering dan menyusut tapi juga hangus membusuk dengan tanda luka dua buah telapak tangan hitam yang tercetak melesak kedalam dada. meskipun sebenarnya hubungan diantara mereka bertiga dengan sang guru tidak begitu rapat, tapi kematiannya jelas membuat mereka diliputi kesedihan dan dendam amarah.
''Kau pasti sudah bosan hidup karena berani mencari perkara dengan kami 'Tiga Iblis Kapak Raksasa'. Setan alas., jangan dipikir aku tidak tahu keberadaanmu.!'' koar si kekar pendek. senjata kapak yang ukurannya tiga kali lipat lebih besar dan lebih berat dari kapak umumnya dibabatkan rata kedepan. selarik cahaya tajam hitam lebar menyambar deretan pepohonan yang tumbuh di tepi kiri halaman goa.
'Whuuuuutt.!'
__ADS_1
'Slaaaass., craaaakk.!'
'Draaaakk., blaaaaamm.!'
Tiga batang pohon terbabat tumbang, dua lainnya turut berderak hampir roboh terbacok. ketiga lelaki bengis yang menyebut diri mereka sebagai Tiga Iblis Kapak Raksasa itu seketika tertegun. jika didengar dari suara ledakan dibagian akhir, sepertinya ada kekuatan yang telah menahan bahkan menyapu lenyap jurus serangan kapak si pendek kekar.
Bukannya gampang untuk dapat bertahan dari jurus yang dinamai 'Kapak Raksasa Samber Ireng' itu. jangankan cuma tubuh manusia atau batangan pohon besar, sebongkah batu karang sekalipun dapat terbelah dalam sekali serangan. mata tiga orang ini sama mendelik melihat seseorang melangkah keluar dari reruntuhan pohon sambil terbatuk- batuk.
Jarak yang terpaut enam tombak membuat orang yang belum jelas wujudnya. tapi saat sinar mentari telah sedikit naik dan keadaan menjadi lebih terang, mereka dapat melihat kalau pendatang ini adalah seorang pemuda. hanya tiga kali saja orang itu melangkah perlahan sebelum berhenti lalu duduk diatas batang pohon besar yang tumbang melintang.
Wajah pemuda ini tidak terlihat karena selain menunduk juga tertutupi helaian rambutnya yang hitam gondrong. sikapnya yang acuh membuat mereka semakin gusar. ''Bocah kurang ajar., katakan siapa dirimu dan kenapa sampai membunuh Ki Cengkal Sirik Jaliteng, sebelum kami mengirim nyawamu ke neraka.!'' hardik si muka tirus. bersama kedua rekannya mereka mulai bergerak mengurung lawan dari tiga penjuru arah.
Pemuda itu perlahan mengangkat kepalanya. jantung Tiga Iblis Kapak Raksasa seakan sempat berhenti berdenyut dan bergidik seram melihat tatapan mata dingin yang terpancar dari sorot pandangan si pemuda. matanya mengingatkan pada mata orang yang sudah mati.
''Jika kalian bertanya padaku., maka diriku hanya bisa menjawab kalau akulah yang membunuh orang tua itu, sekaligus juga bakal menjadi pembunuh kalian bertiga. Aash sial., perutku lapar sekali. sejak kemarin malam aku belum makan. aku ingin cepat sarapan..''
__ADS_1
''Karenanya., kalian bertiga terpaksa mesti mati terbunuh lebih cepat dari yang sudah aku rencanakan.!'' ucapan pemuda itu terdengar sangat datar dan hambar tanpa sedikitpun nada ancaman. tapi entah kenapa malah membuat orang yang mendengarnya jadi merinding.
Sementara mulut bicara kedua tangannya yang ditumbuhi bulu hitam membentuk cakar juga bergerak. dengan tetap duduk diatas batang pohon tumbang si pemuda babatkan kedua cakarnya bersilangan dari kiri ke kanan lalu atas kebawah. suasana pagi yang mulai terang mendadak gelap meredup kembali. sepuluh larik cahaya merah hitam menyambar ganas. jurus 'Cakar Burung Hantu Pemuja Kegelapan.!'