
Jauh dari sebelah timur kadipaten Kuningan, dekat perbatasan antara jawa bagian barat dan tengah terdapat sebuah sungai yang cukup besar bernama sungai Cisanggarung. sebagian aliran sungai ini juga seakan membelah wilayah tengah jawa dan barat tanah sunda yang pada ujungnya bermuara ke laut jawa.
Kira- kira pada jarak sepertiga aliran sungai menuju ke laut, di sisi sebelah timur sungai Cisanggarung terdapat sebuah perbukitan kecil yang tidak begitu luas namun sangat lebat pepohonannya. meskipun di sana banyak binatang buruan sejenis menjangan dan kelinci liar, tapi tidak seorangpun yang berani berburu ke perbukitan kecil itu.
Ini bukan karena ada hantu atau berbagai jenis mahluk halus yang bergentayangan di sana, namun dikarenakan para pemburu dan penduduk di sekitar bukit kecil itu tahu kalau di sana adalah tempat berdirinya sebuah perkumpulan silat yang bernama 'Merak Api.!'
Perkumpulan silat 'Merak Api' sendiri baru lima tahun berdiri di sana, namun nama serta pengaruhnya sudah mulai menyebar di sekitar perbatasan tanah sunda dan jawa bagian tengah. biarpun mereka bukan dari aliran putih namun sampai sekarang tidak ada suatu perbuatan kelewat batas yang pernah di lakukan oleh anggota Merak Api.
Paling banter para anggotanya melarang orang luar untuk masuk ke perbukitan kecil yang menjadi sarang mereka. dulu ada beberapa orang rimba persilatan yang mencoba ingin menjajal kekuatan dari perkumpulan silat Merak Api, tapi mereka semua berakhir mengenaskan. ada yang cacat, terluka parah bahkan juga tewas di tempat.
Sejak saat itu tidak ada seorangpun yang berani menyatroni sarang Merak Api. meskipun para anggotanya jarang keluar dari sarangnya untuk muncul ke dunia ramai. namun nama 'Merak Api' sudah mulai di segani orang persilatan terutama di sekitar perbatasan timur tanah pasundan.
Siapa ketua perkumpulan silat Merak Api hampir tidak ada seorangpun yang tahu. karena mereka yang mencoba menyelidiki sudah lebih dulu kecundang di tangan para anggotanya. jika bawahannya saja sudah cukup tangguh tentu para pentolannya jauh lebih hebat lagi.
Dengan demikian sampai saat ini bagaimana wujud sang ketua dan sampai sehebat apa tingkat kesaktiannya masih menjadi sebuah rahasia. selain itu orang juga merasa penasaran dengan tujuan di dirikannya perkumpulan silat 'Merak Api' itu, karena mereka hampir tidak pernah keluar dari sarangnya.
Pagi itu hujan deras baru saja berhenti mengguyur bumi. hujan yang turun sejak tengah malam tadi membuat aliran sungai Cisanggarung meluap hingga membuat beberapa perkampungan yang berada di tepi sungai itu kebanjiran. bahkan ada juga yang tersapu hanyut.
Sebuah perahu sampan terlihat melaju kencang mengikuti derasnya arus sungai. seorang lelaki bercaping bambu terlihat mendayung perahu kecil itu. meskipun wajahnya tertutupi caping dari daun pandan tapi dapat di duga orangnya masih sangat muda. bajunya yang tebal dan gelap nampak basah kuyup oleh air hujan. walaupun udara terasa begitu dingin namun orang ini tidak sedikitpun menggigil.
__ADS_1
Saat perahu kecil itu tiba di dekat perbukitan kecil yang ada di sisi timur sungai orang ini menepikan perahu kayunya. sekali lempar sebuah tali tambang sudah melilit sebatang dahan pohon bakau yang tumbuh di sana untuk menahan perahu agar tidak sampai hanyut terbawa arus.
Sepasang mata tajam yang dingin di balik caping daun pandan memandang ke sekelilingnya. tatapannya berhenti pada barisan bukit kecil yang jaraknya masih cukup jauh dari tepian sungai Cisanggarung. sebelum berkelebat menuju bukit itu terlebih dahulu tangannya meraih sebatang tongkat besi berwarna hitam. hanya sekejap saja tubuhnya sudah lenyap dari atas perahunya.
Kalau di hitung dari bukit yang kecil, sedang hingga yang paling tinggi terdapat enam buah bukit yang berdiri di sana. bukit yang tertinggi berada di sisi paling timur dari jajaran perbukitan itu. di lereng bukit yang bernama 'Bukit Sengkaring' itulah markas perkumpulan silat 'Merak Api' berada.
Tiga buah bangunan rumah yang berdinding papan kayu jati merah itu di kelilingi oleh tembok dari susunan batu bata merah dan batu kali. tingginya hampir dua tombak mirip sebuah benteng. jika di lihat di sekelilingnya pagar dinding tinggi itu hanya mempunyai satu pintu masuk di bagian depan saja.
Pintu itu berupa gapura tinggi yang terdapat patung burung merak besar sedang merentangkan sayapnya yang berwarna merah kekuningan mirip semburan bara api. kedua kaki burung merak ini mencengkeram sebuah papan besar berwarna merah yang terpancang di atas pintu gapura bertuliskan 'Perkumpulan Silat Merak Api.!'
Empat orang penjaga berbaju merah dan berikat kepala kuning serta membekal pedang di punggung terlihat berdiri tegak di depan pintu masuk bangunan yang juga terbuat dari bilah papan kayu jati merah. biarpun udara terasa dingin nanun empat orang lelaki kekar bermuka bengis itu seakan tidak merasakannya. dengan tingkat tenaga dalam yang lumayan kuat membuat mereka dapat dengan mudah mengusir hawa dingin.
''Aku juga tidak suka., tapi perintah wakil ketua tidak boleh di langgar. apa kau lupa karena sedikit teledor hampir saja markas kita hampir saja di susupi orang luar. untung saja wakil ketua perkumpulan berhasil menghabisi penyusup itu..'' ujar dua orang penjaga yang berdiri di sisi kiri pintu gapura.
''Hhm., meskipun dua orang penyusup yang punya kepandaian tinggi itu dapat di singkirkan, tapi akibat kelengahannya empat orang kawan kita yang berjaga di pintu luar pada waktu itu langsung terkena hukuman berat..'' sahut seorang penjaga yang berdiri di sisi kanan pintu sambil telapak tangannya membuat gerakan isyarat seakan memotong leher.
''Aash sudahlah., tidak baik membicarakan orang yang sudah mati. biarpun mereka telah membuat kesalahan besar karena mabuk saat bertugas jaga, bagaimanapun juga mereka berempat tetap teman kita sendiri..'' timpal rekannya yang sedari tadi diam.
''kau jangan paham sobat., kita bicara seperti ini hanya untuk mengingatkan agar kita selalu waspada dalam bertugas. apalagi., kabarnya ketua telah berhasil menyelesaikan pertapaannya untuk menyempurnakan ilmu kesaktian tingkat tinggi yang sedang ketua pelajari..'' sangkal rekannya setengah berbisik. karuan ketiga orang lainnya sama terkesiap dan saling pandang.
__ADS_1
''Kudengar sudah hampir dua tahun ini ketua kita berlatih keras didalam ruang rahasianya dan tidak pernah keluar. kabarnya ilmu yang ketua pelajari sangatlah luar biasa..'' gumam seorang penjaga yang berkumis lebat.
''Kau benar., tapi kalau memang demikian adanya, itu berarti sudah tiba saatnya bagi perkumpulan silat 'Merak Api' untuk keluar dari sarang dan meraih puncak kekuasaan tertinggi di dunia persilatan..'' sambung kawannya yang bertubuh paling pendek sambil kepalkan kedua tangannya.
Keempat orang penjaga itu lantas sama tertawa bergelak. rupanya selama ini perkumpulan silat Merak Api sengaja terus menahan diri untuk tidak mencari masalah dengan pihak lain di karenakan sang ketua masih berusaha memperdalam ilmunya. mereka terus menyusun kekuatan, agar pada saat waktunya tiba untuk bergerak, mereka dapat sekaligus menggoncangkan seluruh rimba persilatan.!
Tawa empat orang penjaga itu perlahan surut. hampir bersamaan pandangan mata mereka tertuju ke satu arah. jarak sepuluh tombak dari pintu gerbang tempat mereka berjaga terlihat seseorang sedang berdiri tundukkan kepala. caping daun pandan yabg menutupi kepalanya membuat raut wajahnya semakin sulit di lihat. tapi jika melihat dari perawakannya dapat di duga kalau orang ini masih sangat muda.
Mereka berempat adalah para penjaga pintu gerbang perkumpulan silat Merak Api yang punya kemampuan ilmu lumayan kuat dan terlatih. tapi anehnya tidak seorangpun yang menyadari sejak kapan orang bercaping daun pandan itu muncul di sana. seketika mereka sama merasa curiga dan waspada.
Si pendatang berbaju kain tebal warna gelap yang sudah lusuh dan sedikit robek- robek di bagian pinggirnya itu sedikit mendongak. sepasang matanya melihat ke arah patung burung merak merah dan papan tulisan yang berada di bawahnya. dengan menarik nafas berat dia ketuk- ketukkan tongkat besi hitam sepanjang setengah tombak yang tergenggam di tangannya ke atas tanah seakan dia sedang berpikir keras.
Setelah menghela nafas orang ini mulai melangkah maju. para penjaga yang tadinya sedikit tegang seketika saling pandang dan tertawa bergelak menghina saat melihat cara orang ini melangkah. pertama kaki kanannya maju ke depan baru yang kiri terseret mengikuti. yang kanan menapak maju yang kiri terseok di belakang. tongkat besinya membantu menahan tubuhnya agar tidak miring ke kiri. dari langkah kakinya yang menggelikan seperti cacing merayap sekaligus membuat iba hati itu dapat di pastikan kalau kaki kiri si pendatang ini cacat.
Hebatnya langkah kaki yang menyedihkan sekaligus lucu bagi orang yang melihatnya itu mendadak mampu membuat tawa empat penjaga pintu perkumpulan silat Merak Api seketika lenyap. jarak sepuluh tombak sama dengan lebih dua puluh langkah kaki, tapi bagi orang pincang ini jarak sejauh itu dapat di lewati hanya beberapa kejapan mata saja.
Semuanya langsung berubah hebat air mukanya. si pincang bercaping pandan itu kini telah berdiri di depan mereka berempat. pedang di punggung sudah terlolos dari sarungnya. para penjaga itu seketika sadar sedang berhadapan dengan seorang pesilat berkepandaian sangat tinggi.!
*****
__ADS_1
Asalamualaikum., Salam sehat sejahtera selalu. sesuai janji novel Pendekar Tanpa Kawan dan 13 Pembunuh kembali kami up date setelah jeda seminggu karena kesibukan kerja. sebenarnya masih banyak pekerjaan yang mesti kami selesaikan. tapi janji 1minggu tetaplah janji., maaf jika hasil penulisannya kurang berkenan. silahkan sampaikan koment, kritik saran juga like👍vote, jika anda suka. Terima kasih.🙏 Wasalamualaikum.