
Malam semakin larut. hujan gerimis dan hembusan angin malam membuat suasana menjadi semakin dingin. api unggun di tengah gubuk masih menyala. Pranacitra duduk diam bersandar tiang bambu diujung gubuk bagian dalam. dia meletakkan beberapa bilah papan bekas meja rusak dibelakang punggungnya untuk menahan udara dingin yang menembus dinding gubuk bambu.
Berbeda dengan si pemuda yang sikapnya acuh santai dengan mata mengantuk, Jingga Rani masih berdiri mondar- mandir di depan perapian. matanya yang bulat bening beberapa kali melotot sebal pada pemuda pincang yang duduk didepannya. ''Hei., bagaimana bisa kau terus bersikap tenang seperti itu. setidaknya berpikirlah sesuatu untuk menghadapi masalah besar didepanmu.!'' omel Jingga Rani kesal.
Yang ditegur cuma sedikit mengernyitkan alis lalu menguap. ''Dengar elang betina galak., hari sudah larut malam, aku sudah merasa lelah juga mengantuk. diriku paling tidak suka kalau waktu tidurku terganggu oleh sesuatu yang tidak penting dan membosankan.!''
''Tidak penting katamu., yang kita bicarakan ini adalah 'Gapura Iblis'., partai aliran hitam yang terkuat saat ini. bagaimana kau masih bisa begitu tenang dan tidak perduli dengan sesuatu yang akan mengancam hidupmu. Hei., kau dengar aku tidak.? teriak Jingga Rani geram melihat si Pincang malah mulai tidur.
''Sialan., kenapa kebanyakan perempuan selalu berisik dan cerewet. sekarang tutup mulutmu lalu tidurlah..'' hardik Pranacitra ulapkan sebelah tangannya. ''Aa., aku cere., cerewet dan berisik.? dasar bedebah pincang, baiklah aku tidak perduli lagi denganmu.!'' damprat Jingga Rani gemas balikkan tubuhnya melesat pergi keluar gubuk. semua itu agak diluar dugaan Pranacitra. timbul juga sedikit rasa bersalah dihati pemuda itu.
Tapi belum ada sepuluh tarikan nafas, gadis itu sudah kembali dengan pakaiannya yang basah kuyup. rupanya diluar hujan semakin deras. terpaksa dia balik kedalam gubuk dan memilih duduk disudut gubuk yang berjauhan dengan si pincang. sialnya atap gubuk diatasnya bocor hingga gadis itu geram sendiri.
''Sebaiknya kau kemari. sudut gubuk tempatku duduk inilah yang paling aman..'' Pranacitra menawarkan tempat karena merasa kasihan. siapa tahu gadis itu cuma mencibir, ''Masih ada tempat lain digubuk ini yang bisa kupakai, kau jangan berlagak baik dan sok perhatian..'' pemuda itu cuma angkat bahunya, ''Terserah kau saja..''
Mungkin nasibnya memang lagi apes malam ini, seakan dimanapun Jingga Rani memilih tempat untuk beristirahat didalam gubuk itu, ada saja yang membuatnya tidak nyaman. atapnya bocor, air hujan yang menggenang di lantai tanah, atau hembusan angin dingin yang menerobos dari celah dinding gubuk yang keropos berlubang.
Wanita cantik ini selain mulai kedinginan juga merasa semakin geram saat menyadari kalau sejak awal Pranacitra sengaja memilih sudut gubuk yang atap daun dan dinding anyaman bambunya utuh serta masih kuat. selain itu permukaan tanahnya juga lebih tinggi hingga air hujan tidak mengalir ke tempatnya.
Masih untung nyala api unggun yang berada di dalam gubuk itu juga terlindungi batu- batuan rapat di sekelilingnya hingga tidak sampai padam oleh air. paling tidak masih dapat memberikan dia sedikit kehangatan. tapi yang membuatnya makin merasa tidak berdaya letak perapian itu justru sangat dekat dengan tempatnya si pincang duduk beristirahat.
Untuk sesaat Jingga Rani cuma bisa berdiri menahan kedinginan. sebenarnya masalah ini sangat mudah diatasi. dengan memakai ilmu kesaktiannya seharusnya dia dapat mengusir hawa udara dingin yang menyerangnya. tapi kalau hati dan pikiran orang sudah kesal dan kalut, masalah sepele juga seringkali terlupa bagaimana menyelesaikannya.
__ADS_1
Tongkat besi hitam terangkat lantas memukul kemuka. selarik cahaya hitam menghantam seekor ular kobra besar sepanjang hampir satu tombak yang menerobos masuk celah gubuk reot hingga hangus dan terpotong lima bagian. Jingga Rani terpekik ngeri. tadinya dia mengira si pincang akan menyerangnya. tapi rupanya serangan tongkat itu justru untuk menyelamatkannya dari ancaman seekor ular berbisa yang berada dekat di belakangnya. mungkin binatang itu sedang mencari tempat yang hangat untuk berlindung.
Jingga Rani merutuk dalam hati. sungguh dia merasa heran dan malu, sebagai pendekar wanita berilmu tinggi yang sudah banyak pengalaman entah kenapa dia bisa kehilangan kewaspadaan. disaat kebingungan pemuda pincang itu memberi isyarat untuk duduk di tempatnya sambil menggeser tubuh. dengan menahan malu Jingga Rani beranjak kesana dan perlahan duduk disamping Pranacitra.
''Kalau mau., kau bisa membuka baju luarmu yang basah kuyup itu untuk dikeringkan dekat perapian..''gumam Pranacitra menyeringai. ''Ehm begitu yah., kurasa bagus juga usulmu..'' jawab Jingga Rani sambil mulai membuka baju luarnya. tapi baru setengah bahunya yang putih mulus terlihat, gadis itu sudah berbalik dan mendamprat keras karena sadar hampir termakan tipu muslihat si pincang.
''Kurang ajar., dasar lelaki pincang mesum. beraninya kau mengerjaiku dan mencoba mengambil kesempatan dari kesusahan orang lain.!'' gadis cantik itu benar- benar gusar dan tidak mengerti kenapa malam ini kelakuannya menjadi sembrono. masih untung dia cepat menyadari hingga tubuh mulusnya urung menjadi tontonan gratis si pincang brengsek.
''Haa., ha., baguslah kalau kau cepat sadar. itu pertanda otakmu masih waras..'' Pranacitra tertawa mengolok sambil terus berkelit dan menangkis serangan cakar Jingga Rani yang bergerak mencabik sekaligus berusaha untuk mencekik leher si pincang. pertarungan muda- mudi dalam jarak dekat itu berakhir mendadak saat terdengar suara halilintar menyambar keras diluar gubuk.
Dua orang itu masih diam tanpa ada berani bergerak. dalam hati keduanya tidak pernah membayangkan bakal mengalami kejadian seperti ini. saat halilintar menggelegar dilangit, Jingga Rani terpekik kaget. karena saat itu dia sedang menghantam, tubuhnya tanpa dapat ditahan maju tersuruk dan jatuh ke pangkuan Pranacitra. meskipun malu entah kenapa dia juga tidak memberontak atau mundur.
''Duuh Gusti., kenapa aku malah terjatuh kepangkuan bajingan pincang ini sih. bodoh banget aku..'' keluh Jingga Rani gugup dalam hati. meskipun begitu anehnya dia juga tetap diam tanpa berniat mundur atau menghindar. untungnya suasana yang remang bisa turut menyembunyikan wajah cantiknya yang merona malu.
''Duuh Gusti., kuatkanlah iman hambamu ini. meskipun diudara malam yang dingin begini membutuhkan penghangat. tapi kehangatan yang seperti ini., terasa sangat menyiksaku..'' keluh Pranacitra. meskipun masih kalah besar dengan milik Nyi Rondo Kuning, tapi tetap saja bagian itu sangat memukau. jika si pincang dari gunung Bisma ini tetap yakin dengan kekuatan Imannya, namun Emonnya justru mulai mendesak, tegang dan terasa., agak panas.
''Ma., maafkan aku. bukan maksudku untuk berbuat licik, ini sungguh diluar kendaliku..'' bisik Pranacitra rada gugup. tanpa sadar jemarinya mengusap kening dan rambut hitam lebat Jingga Rani yang masih basah. gadis cantik itu tidak menjawab, tubuhnya malah rebah meringkuk dipangkuan si pincang.
''Tadi aku merasa kedinginan, tapi saat begini malah terasa hangat. Eeh., kenapa tubuhmu seperti dapat memancarkan hawa panas begini.?'' gumam Jingga Rani rada heran. ''Soal itu., mungkin karena diriku punya aliran tenaga sakti yang agak berlainan..'' jawab Pranacitra sekenanya. sementara dihatinya dia malah mengumpat. ''Setan., justru kau inilah yang membuat darah serta tubuhku terasa panas.!''
Hujan malam itu agaknya masih sangat lama meskipun sudah mulai berkurang curahnya. melihat tubuh Jingga Rani yang meringkuk rebah pejamkan mata dipangkuannya, dia jadi teringat kejadian dalam goa saat bersama Puji Seruni. gadis jelita murid Nyi Pariseta itu juga bertingkah mirip dengan Jingga Rani. ''Hhm., Kalau melihat tingkah manjamu, aku jadi ingat Puji Seruni. gadis itu mirip dengan dirimu. tapi kurasa dia dan Srianah juga tidak bakalan tahu apa yang sedang kuperbuat saat ini..''
__ADS_1
''Huhh., aku mengantuk dan tidak ingin kau menyebut nama., Eehm., siapa itu Puji Seruni atau siapapun nama gadis lainnya.!'' dengus Jingga Rani merengut. ''Setidaknya., jangan berpikir atau menyebut tentang perempuan lain untuk malam ini saja. apakah permintaanku ini berlebihan buatmu.?'' bisiknya hampir tidak terdengar.
''Ooh., rupanya digubuk ini ada seekor elang betina yang telah kepincut dengan elang pejantan..'' sindir Pranacitra memyeringai. ''Aku bukan elang betina. sekarang ini diriku hanya burung pipit kecil yang mencicit kedinginan. Ciiitt., ciiitt., cuuiiit..'' ucap gadis itu tersenyum sendiri.
''Setahuku bunyi ciiit., ciiitt itu adalah suara tikus..'' ejek Pranacitra. ''Kalau kau berani bilang tikus lagi, aku akan benar- benar berubah menjadi tikus betina lapar dan menggigitimu sampai habis.!'' ancam Jingga Rani gemas. ''Eehm., kalau begitu kau tetap jadi seekor burung pipit kecil saja Hee., he..''
Di salah satu ruangan kamar tertutup yang berada di dalam bangunan kayu jati, Puji Seruni baru saja menyelesaikan latihan semedinya. selama berdiam dan menjadi pemimpin puluhan anak buahnya di 'Lembah Seruni' latihan semedi pernafasan pada malam hari sebelum tidur seakan sudah menjadi kebiasaannya. entah kenapa malam ini dia jadi teringat Pranacitra.
''Si pucat pincang itu sedang berada dimana dan melakukan apa yah.?'' Hehm., pasti dia sedang menghajar para cecunguk partai Gapura Iblis. karena tidak mungkin ada wanita cantik yang mau berdekatan dengan pemuda pincang, pucat, melarat dan aneh seperti dia. kecuali., diriku seorang tentunya..'' batin Puji Seruni tersenyum genit.
Hampir bersamaan di suatu tempat terpencil, seorang gadis muda lima enam belas tahunan juga terbangun dari tidurnya. meskipun udara dingin tapi dia cuma memakai baju dalam berupa kutang putih dan ikatan kain jarik hitam sebatas lutut, hingga kulit tubuhnya yang putih berhias bekas luka cambukan pada masa lalu terlihat.
Dengan menyingkap selimut gadis bernama Srianah itu turun dari balai bambu tempat tidurnya lalu beranjak masuk ke bagian dapur tempat dia biasa memasak obat dan jamu pesanan pelanggannya. perutnya terasa lapar. karena tidak ada nasi dia cuma memakan mentimun yang dicocol dengan sambal tomat sisa tadi sore. sambil menguap dia teringat Pranacitra.
''Sedang apa orang itu yah., kenapa aku jadi kepikiran dengan pemuda pincang yang jahil itu. apakah., jangan- jangan dia sedang dalam bahaya. Ooh., itu tidak mungkin. Prancitra berilmu sangat tinggi. orang yang berani menantangnya pasti sudah bosan hidup..''
''Tapi., kalau dia berani berbuat yang aneh- aneh diluar sana awas saja, tidak ada ampun.!'' dengus Srianah. sekali pisau pengupas timun bergerak batang buah yang panjang itupun terpotong. ''Tapi kurasa dia tidak bakal berani berbuat apapun. lagipula., gadis mana yang mau berdekatan dengan pemuda pincang yang miskin, pucat dan bau keringat seperti dia., kecuali aku..'' gumamnya sinis. seandainya saja Puji Seruni dan Srianah tahu apa yang dilakukan si pincang.? duuhh., piye nasibmu Nduk., nduk.,
*****
Asalamualaikum., salam sehat sejahtera selalu, maaf jika lambat up date dan isi tulisan chapter ini kurang berkenan dihati. authornya sibuk kerja terus.π silahkan tulis komentar, kritik saran, Likeπ atau Voteπ jika anda suka. tolong jika berkenan silahkan anda Share juga novel ini ke teman" para reader yang lainnya. Terima kasih. Wasalamualaikum.ππ
__ADS_1