Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Bayangan masa lalu.


__ADS_3

Sepeninggal Ki Wedhus Jenggot Putih, Dewi Bintang Hitam dan gadis hitam manis yang bernama Retno Item, pedataran rumput di tepian hutan itu kembali menjadi sepi. sesosok tubuh kurus berkaki pincang terlihat keluar dari balik pepohonan. meskipun susana cukup gelap tapi orang akan dapat merasakan adanya hawa dendam dan maut yang terpancar dari tubuh pemuda cacat ini.


''Aku tidak tahu apakah harus merasa kasihan dengan kedua orang tua itu ataukah malah memaki ketololan mereka. hubungan cinta dan kasih sayang antara orang tua dan buah hatinya adalah suatu hubungan kasih pertalian darah yang sangat murni..''


''Seharusnya hubungan kasih sayang seperti ini tidak selayaknya harus di tutup- tutupi hanya karena ketakutan terhadap sesuatu. apalagi cuma karena merasa terancam dengan suatu perkumpulan kaum jahanam yang bernama partai Gapura Iblis., dasar suami istri tua pengecut, kenapa kalian tidak mampus saja.!''


''Kalau memang harus mati karena membela kehormatan dan keutuhan keluarga, kurasa itu suatu hal yang layak umtuk dilakukan. karena lebih baik mati terhormat dari pada terus hidup bersembunyi seperti tikus..'' batin si pincang dari gunung Bisma yang bernama Pranacitra itu.


''Tapi., untuk hidup bersembunyi dengan menahan perasaan seperti itu kurasa juga bukan perkara mudah., butuh kesabaran dan kebulatan tekad yang luar biasa untuk dapat melakukannya. meskipun setiap waktu dapat bertemu dengan anak dan istri, tapi tidak bisa menyebut mereka sebagai keluarganya. kurasa., itu sangat menyakitkan..'' gumamnya bimbang. pada akhirnya pemuda ini malah bersimpati dengan kehidupan yang dijalani Ki Wedhus Jenggot Putih dan Dewi Bintang Hitam. dalam hatinya Pranacitra berdoa semoga setelah ini hidup mereka bertiga menjadi lebih bahagia.


Malam semakin larut, Pranacitra mendongak ke langit yang cuma berhias sedikit bintang dan rembulan sepenggalan. hatinya terasa begitu sepi, suatu perasaan hampa yang sangat dia benci. entah kenapa dia jadi teringat akan ayahnya sendiri.


Seorang lelaki sederhana yang pendiam namun penuh kasih sayang dan ramah pada siapapun juga. seorang ayah yang selalu sabar merawat putera semata wayangnya yang selalu lemah dan sakit- sakitan. dengan membuka warung makan kecil di ujung jalan desa untuk mencari nafkah, mereka berdua menjalani kehidupan sederhana namun cukup bahagia.


Tiba- tiba Pranacitra teringat sesuatu yang ganjil tapi juga menyakitkan. meskipun kejadiannya sudah sangat lama tapi masih jelas di ingatannya peristiwa pembunuhan sang ayah yang terjadi di dalam warung makan tempat tinggalnya.


Malam itu hujan turun cukup lebat, Pranacitra terbatuk menggigil di atas balai bambu yang berada di ruangan bilik belakang rumah. selimut kain kumal yang membungkus tubuh ringkihnya tidak mampu menahan udara malam yang dingin. ayahnya bergegas menutup warung makan yang berada di bagian depan rumah mereka.


Tiga orang lelaki kasar baru saja turun dari punggung kudanya memaksa masuk untuk membeli makan dan minuman penghangat tubuhnya yang basah kuyup oleh hujan. tidak mau terjadi keributan ayahnyapun melayani pesanan. karena harus juga merawat dirinya yang kambuh sakitnya, pelayanan pada ketiga orang itu menjadi rada lambat hingga membuat mereka gusar dan mengamuk.

__ADS_1


Sang ayah dengan sabar berusaha untuk meminta maaf sambil menjelaskan keadaan anaknya yang sakit parah. tapi semuanya cuma menambah beringas ketiga orang ini. dalam keadaan mabuk mereka mencabut goloknya lalu mengancam ayahnya. lelaki pemilik warung itu dengan sabar berlutut meminta maaf dan ampunan. tapi mendadak dia menjadi beringas saat salah satu dari para bajingan itu masuk kedalam bilik karena terganggu dengan suara batuknya.


Kejadian itu masih tersimpan jelas dalam ingatannya. sang ayah yang setiap harinya selalu sabar seakan berubah menjadi orang lain yang ganas dan keji. hanya dengan tangan kosong dia menghantam pecah kepala orang itu. dua orang kawannya turut menyerbu tapi hanya dengan beberapa gerakan menjotos dan membacok, ayahnya mampu membuat remuk dahi sekaligus mematahkan batang leher kedua lawannya.


Belum sempat dia mengerti apa yang terjadi sebenarnya, sang ayah mendadak mengerang kesakitan sambil mendekap dadanya, lalu muntah darah kehitaman dan terkapar di lantai tanah bilik kamar tidurnya.


Hujan turun semakin lebat, guntur geledek terdengar bersautan memekakkan telinga mengetarkan jiwa seorang anak lelaki penyakitan yang dilanda duka dan ketakutan. meskipun sedih dan berlinang air mata tapi dia tidak sedikitpun bersuara.


''Seorang lelaki boleh mengucurkan darah tapi pantang menangis., sesulit apapun kehidupan kau tidak boleh menyerah. karena hidup dan cinta kasih adalah anugerah yang terbaik bagi manusia..'' itulah wejangan yang selalu di katakan sang ayah kepadanya. tapi biarpun tidak ingin menangisi kepergian ayahnya, tapi Pranacitra kecil tetap tidak dapat menahan butiran air mata yang jatuh membasahi pipinya.


Kini bukan saja pipinya yang basah. tapi sekujur tubuhnya juga turut tersiram air hujan yang jatuh dari atap rumahnya yang bolong tersapu angin. mayat yang basah oleh hujan bercampur darah membuat suasana semakin menyeramkan baginya. mungkin karena itulah dia mulai membenci hujan.


Lalu sang ayah muntah darah kehitaman sebelum akhirnya dia menghembuskan nafasnya yang terakhir. apakah selama ini sang ayah sedang terluka dalam dan bersembunyi dari kejaran musuhnya., tapi jika benar demikian siapa orang yang telah melukai ayahnya juga kenapa sampai berbuat sekejam itu.


''Apakah sesungguhnya ayah adalah seorang pendekar yang terluka dalam karena suatu pertarungan melawan kawanan penjahat. atau malah sebaliknya., ayah sebenarnya adalah penjahat yang sedang bersembunyi karena menjadi buronan kerajaan.?'' pikiran Pranacitra semakin bertambah berat dengan hadirnya bayangan masa lalu.


''Lantas bagaimana dengan ibu., ayah selalu sedih saat aku bertanya soal ibuku. dia cuma pernah bilang kalau beliau meninggal saat melahirkanku., ayah juga pernah berjanji akan mengajakku berkunjung ke makam ibu yang katanya sangat jauh. tapi di mana letaknya aku juga tidak tahu..''


''Apakah., kematian ibu ada hubungannya dengan luka dalam yang dialami ayah. Hhmh., Pranacitra., waktu hidupmu cuma tinggal sebentar, kenapa juga memikirkan kejadian pahit yang sudah lama lewat.?'' gumamnya sendiri lalu melangkah kembali ke bawah cerukan batu. sudah hampir tengah malam, pemuda ini butuh istirahat karena besok pagi dia akan melanjutkan perjalanan menuju tempat terlarang.

__ADS_1


Suara kokok ayam jantan terdengar bersautan menyambut pagi. matahari yang belum nampak dan langit yang masih gelap tidak menghalangi gerakan empat sosok tubuh kekar bercaping bambu bercelana hitam yang masing- masing memanggul cangkul baja di bahunya. udara pagi yang dingin seakan tidak terasa oleh tubuh kekar berbulu mereka yang bertelanjang dada.


Dari gerakan keempat orang ini yang sangat ringan dan mantap berkelebatan diantara pohon dan bebatuan yang ada dalam hutan itu menandakan mereka bukanlah manusia sembarangan.


Di suatu tempat yang berupa pedataran berumput mereka berhenti. dua diantaranya angkat caping bambunya lalu memandang berkeliling. ''Sepertinya di tempat ini pernah terjadi suatu pertarungan sengit..'' gumam orang yang bertubuh paling tinggi.


''Kau benar., dari keadaan tanah berumput dan semak belukar yang tersibak, dedaunan serta dahan- dahan pohon yang patah menandakan ilmu para petarung ini cukup tinggi.!'' sahut orang satunya yang perutnya ada bekas luka sayatan senjata tajam. dua orang lainnya turut meangkat capingnya dan mulai ikut memeriksa keadaan di sekitarnya.


Empat orang lelaki kekar telanjang dada bercelana hitam, bercaping bambu dan membekal cangkul baja seperti kawanan petani yang hendak bekerja di sawah.


Jika ada orang yang beranggapan seperti itu tidaklah salah, karena mereka memang para petani yang tinggal di lereng sebuah bukit kecil. tapi mereka bukanlah kaum petani sembarangan, melainkan petani- petani yang punya bekal ilmu silat dan kesaktian tinggi. dalam rimba persilatan keempat orang ini di kenal dengan julukan 'Empat Petani Cangkul Maut.!'


Saat itu dalam dunia persilatan banyak bermunculan perkumpulan silat dengan aliran dan tujuannya masing- masing. ada perkumpulan kaum pencuri, begal rampok hingga pembunuh bayaran. demikian juga para pengemis, pengamen keliling, kaum pedagang, nelayan, tabib hingga para petani juga punya perkumpulannya sendiri. salah satunya adalah perkumpulan petani 'Bumi Hijau' yang di dirikan oleh seorang petani tua renta yang sakti mandraguna. 'Empat Petani Cangkul Maut' adalah salah satu anggota tingkatan teratas dari perkumpulan 'Bumi Hijau' itu. boleh dibilang merekalah wakil dari sang pimpinan.


Kalau bicara tentang 'Empat Petani Cangkul Maut', orang persilatan agak sulit untuk bisa menentukan apakah mereka ini termasuk dalam kelompok pesilat aliran putih atau malah golongan hitam. karena seringkali membela yang lemah dan tertindas terutama dari kaum petani miskin, tapi beberapa kali juga mereka pernah bentrok dengan para tokoh silat aliran putih.


Kalau di umpamakan 'Empat Petani Cangkul Maut' dari perkumpulan kaum petani 'Bumi Hijau' mungkin sama dengan perkumpulan pencuri 'Maling Kilat' yang tidak pernah memihak golongan manapun, berdiri sendiri di tengah perseteruan dua golongan hitam dan putih. mencuri dari si kaya yang kikir dan pembesar culas untuk dibagikan pada para fakir miskin yang membutuhkan.


****

__ADS_1


Maaf., baru bisa upload. sebenarnya masih sibuk urusan kerja, tapi karena sudah janji seminggu., saya coba sempatkan untuk bikin. maaf kalau ceritanya agak berantakan., Terima kasih🙏 Wasalam.


__ADS_2