Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Asap Candu.


__ADS_3

Hari sudah berganti pagi namun diluar suasana masih sangat gelap dan dingin. kedua orang lelaki tua muda itu juga masih duduk berhadapan. yang muda dan pincang kaki kirinya bersila diatas lantai batu. sedang yang tua keriput dan menghisap pipa cangklong duduk di atas balai pembaringan kayu jati. entah sudah berapa lama mereka berdua berdiam diri seperti itu.


''Tadi kau bilang 'Gembel Sakti Mata Putih' yang pertama kali mengetahui keberadaan 'Lubang Nadi Neraka Gelap' yang ada di tubuhmu., benar begitu.?''


Pemuda pincang bernama Pranacitra itu mengangguk. ''Orang tua sakti itu juga mengatakan kalau dia tidak sanggup untuk menyembuhkan penyakitku. sebagai gantinya beliau memberiku aliran tenaga dalam yang berhasil dia sedot dari tubuh Iblis Picak Buntelan Kuning..''


''Selain itu Gembel Sakti Mata Putih juga meninggalkan selembar catatan petunjuk pelajaran ilmu silat yang pernah dia dapat dari seorang kawan lamanya yang dinamai ilmu 'Langkah Aneh Mayat Hidup.' dengan jurus silat inilah aku dapat menghadapi kelompok pengemis 'Kelabang Ireng..''


''Apa katamu., kau bilang ilmu 'Langkah Aneh Mayat Hidup., bagaimana mungkin ilmu silat andalan si Setan Kuburan bisa di miliki oleh Gembel Sakti Mata Putih., dua dedengkot tua ini satu dari aliran hitam, seorang lagi dari golongan lurus. bagaimana mungkin mereka bisa berkawan.?'' tanya orang tua bergelar Malaikat Copet itu mendamprat setengah tidak percaya akan ucapan si pemuda.


''Maaf ketua., apa yang aku katakan tadi memang benar adanya, karena semuanya si Gembel Sakti Mata Putih sendiri yang telah mengatakannya padaku..''


Malaikat Copet menyedot pipa cangklongnya yang hampir habis isinya. dia terbatuk- batuk sebentar sebelum bicara, ''Hhm., sebenarnya aku tidak perduli dengan semua itu. tapi memang benar yang gembel tua itu bilang, penyakit Lubang Nadi Neraka Gelap hampir tidak mungkin di sembuhkan. setahuku tidak ada tabib yang dapat melenyapkannya..''


''Aah aku ingat sekarang., dulu ada dua orang tabib wanita sekaligus ahli racun yang sangat sakti namun aneh kelakuannya. yang satu di juluki sebagai 'Nenek Tabib Selaksa Racun.' seorang lagi bergelar 'Nenek Tabib Bertongkat Maut..''


''Kudengar antara kedua nenek ini masih ada hubungan saudara. konon keluarga mereka turun temurun adalah para tabib sakti sekaligus ahli racun yang ternama. sayangnya kedua orang ini sudah menghilang tak karuan rimbanya..''


''Si Nenek Tabib Selaksa Racun terakhir kali kudengar terlibat perselisihan sengit dengan seorang nenek jahat ahli racun dan sihir yang biasa di panggil sebagai 'Nyai Bawang.' sedangkan Nenek Tabib Bertongkat Maut malah lenyap tanpa jejak. banyak yang bilang kalau orangnya sudah mati..''


''Tapi ada juga yang berkata kalau nenek itu telah terjebak masuk ke dalam 'Lembah Seribu Racun., kalau saja mereka berdua masih ada, mungkin penyakitmu bisa di sembuhkan.!'' tutur Malaikat Copet sambil mengisi kembali pipa cangklongnya dengan rajangan tembakau kering dan kemenyan bercampur dengan dedaunan obat yang sudah dikeringkan. anehnya tanpa perlu batu api pipa cangklong itu langsung menyala sendiri apinya saat di hisap. raut muka dan sorot matanya yang tadinya lesu juga berubah penuh semangat setelah dua tiga kali hisapan asap dari pipa cangklongnya.


Semua ini tidak lepas dari perhatian mata Pranacitra. dalam hati dia membatin ''Apa di dalam pipa cangklongnya ada campuran obat tertentu., kalau dilihat sepertinya kakek ini sudah lama mengalami ketergantungan dengan asap pipa cangklongnya. Aah., jangan- jangan orang tua ini..''

__ADS_1


''Apa yang ada dalam pikiranmu sekarang ini bocah pincang.?'' tegur Malaikat Copet menyadarkan lamunan Pranacitra.


''Aah., maafkan kelancanganku ketua karena ada sesuatu yang tidak pantas, tapi ingin sekali kutanyakan padamu..'' tanpa menanti persetujuan Malaikat Copet pemuda ini langsung menyambung pertanyaannya.


''Apakah di dalam pipa cangklomu ada campuran sejenis daun yang dapat membuat pikiran terasa melayang yang dinamai daun candu atau ganja.?''


Belum sempat Pranacitra menyelesaikan ucapannya, sebuah tamparan mendarat keras di pipi kirinya disusul sebuah tangan kurus mencekik leher hingga si pincang berkelojotan dan megap- megap nafasnya.


''Bocah setan kurang ajar., jangan dikira karena aku tertarik denganmu lantas jadi tidak tega menghabisi nyawamu. katakan apa maksud ucapanmu barusan.!'' bentak Malaikat Copet dengan muka merah padam.


''Ma., maaf., maafkan ak., aku ketua., ta., tapi aku ing., ingin menga., takan sesuatu., yang., pen., penting..'' jawab Pranacitra dengan suara tercekik. Malaikat Copet mendengus, cengkeraman di lehernya sedikit mengendur. tubuh si pincang dia hempaskan seakan seonggok sampah.!


''Aku., aku hanya tidak ingin ketua terus menggunakan daun itu., karena dulu Ki Rangga juga pernah memakai daun ganja untuk mengobati rasa sakit di tubuhku..''


''Mulanya aku merasa sangat nyaman tanpa pernah kesakitan lagi. pikiranku juga lebih tenang., tapi itu hanya sementara karena makin lama diriku jadi ketagihan. jika tidak mendapat pengobatan dengan daun candu atau ganja itu aku merasa sangat sakit. bahkan pernah diriku mengamuk sampai lepas kendali..''


Hening sesaat lamanya, Pranacitra tidak berani mengangkat kepalanya. matanya terpejam menunduk pasrah, jika orang tua itu tersinggung marah dan membunuhnya dia juga akan menerima tanpa melawan. toh umurnya juga tidak akan lama lagi., jadi mati sedikit lebih cepat tidak masalah buatnya.


''Hak., ha., ha., Benar- benar bocah pincang yang menarik. perpaduan antara sifat baik hati, jujur, pemberani, pandai tapi juga tolol dan agak gila..''


''Kau pikir aku tidak tahu dengan semua itu. dengar bocah., apa yang kau bilang itu tidak salah, daun ganja bisa menyebabkan kecanduan bahkan kematian jika digunakan secara sembarangan. tapi kalau kita bisa membuang racunnya dan mengambil sari patinya yang berguna, itu akan dapat menjadi bahan obat yang manjur..''


''Asap pipa cangklongku telah lebih seharian kumasukkan ke dalam tubuhmu. sekarang aku tanya apakah kau merasa sakit atau ketagihan, aku berani bertaruh saat ini kau malah mulai merasa muak dengan bau asap dari pipa cangklongku bukan.?''

__ADS_1


''Padahal sejak dari awal pipa cangklong ini sudah kucampuri berbagai jenis daun obat termasuk daun candu atau madat. tapi tentu semuanya sudah kubuang racunnya., apa sekarang kau sudah paham, dasar bocah pincang brengsek.!'' maki Malaikat Copet. meskipun gusar tapi orang tua berblangkon ini juga kagum dengan si pemuda yang berani berterus terang karena khawatir dengannya.


Seketika Pranacitra menghela nafas lega. ''Saya memang bodoh., seharusnya bisa mengira kalau ketua tentunya jauh lebih memahami ilmu pengobatan. sekali lagi aku mohon maaf atas kekurang ajaranku tadi..''


''Maaf katamu., seenaknya saja kau bicara. percayakah kau jika orang lain ada yang berani berkata lancang seperti itu padaku. saat ini juga dia sudah kubuat menggeletak jadi mayat.!''


''Aku tidak akan membunuhmu, karena tanpa kubunuhpun hidupmu tinggal beberapa bulan saja. meskipun dirimu juga sudah mendapat pengobatan dan tambahan hawa sakti dariku, tetap saja semuanya bakalan habis tersedot kedalam 'Lubang Nadi Neraka Gelap' yang berada di dalam tubuhmu..'' ujar Malaikat Copet sambil mendongak pejamkan matanya seakan sedang berpikir keras.


''Bocah pincang sialan., mari kita buat suatu pertaruhan. aku gagal menjadikanmu murid karena Lubang Nadi Neraka Gelap yang ada dalam tubuhmu. berarti pengobatan serta pemberian tenaga saktiku padamu menjadi sia- sia belaka..''


''Dalam hidup diriku pantang melakukan pekerjaan yang sia- sia., jadi aku ingin imbal baliknya. sekarang akan kuajarkan sebuah ilmu silat yang cuma terdiri dari dua jurus saja. asal kau tahu ilmu ini sengaja aku ciptakan untuk menghadapi Maling Nyawa..''


''Aah., tapi ketua aku tidak pantas menerima pemberianmu. budimu sudah terlalu banyak. aku tidak sanggup untuk membalasnya..'' tolak Pranacitra yang terus berlutut dan menunduk. sebuah cengkeraman menarik lehernya keatas. Malaikat Copet menggeram marah. ''Diam kampret pincang., semua ini tidak ada kaitannya dengan segala hutang budi., aku hanya tidak suka dirugikan. jadi dengar dan lakukan saja semua yang aku minta., kau mengerti.?''


''Setelah kau berhasil mempelajari dua jurus ilmu silat dariku, akan kukatakan semua yang aku tahu tentang Lembah Seribu Racun. karena itu ada hubungannya dengan pertaruhan yang akan kita buat..''


''Tapi jika kau gagal memahami ilmu silat yang kuajarkan ini, akan kupatahkan kedua tangan dan sebelah kakimu lagi agar dirimu jadi manusia lumpuh seumur hidup.!'' ancam Malaikat Copet sambil hempaskan tubuh si pincang hingga jatuh bergulingan.


Tanpa perduli dengan si pincang yang masih tersungkur di atas lantai orang tua itu kembali menghisap pipa cangklongnya lalu dihembuskan perlahan. berikutnya seiring dengan tangan kirinya yang mulai membuat serangkaian gerakan aneh dia turut berucap, ''Kau mesti perhatikan jurus serangan yang pertama 'Tangan Panjang Penjambret Jiwa.!''


Mulut peotnya menyebutkan nama jurusnya, tangan kiri turut bergerak menghantam dua kali ke depan. sasarannya meja kayu yang sudah separuh hancur.


'Whuuut., Bheeet.!'

__ADS_1


Dua larik bayangan sinar hitam berbentuk cengkeraman tangan menyambar lewat lalu kembali ke asalnya. tidak begitu jelas apa yang terjadi karena tidak terdengar suara benda hancur. tapi berikutnya meja itu mendadak bergetar keras lalu berderak runtuh menjadi puing- puing kayu kecil, bahkan ada yang sampai menjadi bubuk.!


Malaikat Copet terkekeh sambil bersiap melancarkan jurus yang kedua, seakan dia tidak perduli dengan Pranacitra yang masih terpukau melihat kehebatan jurusnya.


__ADS_2