
Tidak ada suara jeritan parau dari mulut orang ini. hanya sepasang matanya yang melotot gusar bercampur ketakutan, dia masih sempat melihat semburan darah dan cairan otak dari tengah dahinya sebelum tubuhnya tumbang seiring dengan ujung tongkat besi hitam yang tercabut keluar.
Ketiga pentolan rampok dan penculik wanita itu hanya sempat memakai celana sekenanya saja, karena tongkat besi hitam yang berada di tangan seorang pemuda bermuka dingin pucat berpakaian gelap ini sudah bergerak menusuk dan menggebuk.
Meskipun sempat memperhatikan langkah kaki pemuda ini yang agak aneh, tapi si brewok kepala plontos tidak dapat berpikir jauh, dengan berguling dia menyambar golok besarnya yang tersandar di dinding dan langsung kirimkan dua bacokan maut yang menyasar leher juga pundak kanan lawan.
Tapi sungguh aneh., pemuda itu seakan sudah lenyap dari hadapanya. sebagai gantinnya dua buah pedang pendek yang bersinar keemasan berkelebatan membabat lambung serta dadanya. begal gundul itu meraung bengis, dari membacok dia terpaksa balik memutar goloknya untuk menangkis serangan pedang kembar di tangan seorang gadis cantik jelita berjubah putih yang muncul entah dari mana.
Meskipun terdesak hebat, dia masih mampu bertahan. tapi tidak demikian dengan dua orang anak buahnya yang mengeroyok pemuda bertongkat besi itu bersama kedua rekannya yang lain. hampir bersamaan mereka terkapar roboh dengan lubang tembus di dada. darah mengucur deras dari dua tubuh yang berbeda. Dewi Malam Beracun yang masih berusaha menembus totokan di tubuhnya sampai merasakan kengerian melihat cara membunuh pemuda itu yang sungguh dingin dan keji tanpa ampun.
Berikutnya golok si brewok pendek juga patah terhantam tongkat besi hitam. dengan sekali putaran tongkat, selarik cahaya hitam pekat menyambar sisi kiri kepalanya hingga jebol gosong tembus ke sebelah kanan. nyawa orang ini sudah melayang sebelum tubuh pendeknya tumbang ke lantai ruangan.
Tinggal si brewok tinggi besar berambut gimbal yang tersisa. orang ini berteriak seperti orang gila menyaksikan lima kawannya mati hanya dalam waktu beberapa kejapan mata. dia terlalu ketakutan hingga tanpa sadar buang air seni di celananya.
Meski golok besar masih tergenggam erat, tapi dia tidak mampu bergerak. saat tersadar sebuah telapak tangan sudah menghajar tulang punggungnya hingga hancur remuk bersama pecahnya jantung. agaknya wanita berjuluk Dewi Malam Beracun itu terlalu dendam pada orang ini, hingga tanpa perduli dengan tubuhnya yang cuma tertutupi selembar selimut tipis langsung menghabisi lawannya begitu terbebas dari totokan.
Wanita cantik itu gemetaran tubuhnya hingga menyurut mundur dan meringkuk ke pojok ruangan. sambil terisak dia mendekap selimut tipis itu untuk menutupi tubuhnya yang bugil. sebenarnya orang ini bukanlah sejenis wanita cengeng, dia jauh lebih kuat dan tegar di banding siapapun. tapi pengalaman buruknya yang hampir terulang membuatnya gemetar ketakutan.
Sepasang lengan halus berjubah putih merengkuh lembut tubuhnya. walaupun belum tahu betul apa yang terjadi tapi gadis cantik yang memang Puji Seruni itu mengerti kalau hati wanita yang umurnya sebaya dengannya ini sedang butuh ketenangan. ''Semua sudah berlalu., sekarang kau selamat..'' bisiknya.
Setelah memakai kembali jubah gaun hitamnya, wanita cantik yang kemudian di ketahuinya bernama Roro Wulandari itu menceritakan semua yang dialaminya kepada Puji Seruni. bahkan sampai mengatakan juga kalau dia adalah seorang anggota sebuah perkumpulan pembunuh bayaran terkuat di dunia persilatan.
Meskipun terkejut dan hampir tidak percaya, tapi Puji Seruni juga tidak sampai hati untuk mendesak lebih jauh, karena dari cerita Roro, gadis ini paham kalau sahabat barunya itu mempunyai kisah masa lalu yang sangat kelam. akhirnya dia hanya bisa berjanji untuk menjaga kerahasiaannya.
__ADS_1
''Eeh tunggu., kemana kawanmu si pemuda pincang yang pucat itu. aku belum sempat mengucapkan terima kasih kepadanya..'' ucap Roro Wulandari si Dewi Malam Beracun sambil berkelebat keluar ruangan disusul Puji Seruni. tapi dia kecewa saat tidak menemukan orang yang di carinya. malah di pelataran luar gubuk banyak bergelimpangan mayat para anggota gerombolan rampok itu.
''Kau tidak perlu merasa tidak enak hati. dia memang orang yang pendiam, penyendiri dan kurang suka bergaul. karena sepertimu juga., pemuda itu punya masa lalu yang sangat pahit serta penuh rahasia. aku mau bertanya padamu Dewi Malam Beracun., sebagai salah satu diantara sepuluh pesilat muda pendatang baru saat ini, tentunya kau juga tahu siapakah orang yang menduduki tempat teratas..''
Roro menoleh sekejap pada sahabat barunya itu, ''Sebenarnya aku tidak pernah perduli soal sepuluh pesilat muda yang dianggap terkuat sekarang ini. jadi aku tidak hafal siapa saja selain diriku. tapi yang pasti., kalau tidak salah tempat teratas adalah seorang pendekar muda yang pincang kakinya dan..''
''Aaahh., jang., jangan- jangan pemuda pincang itulah orangnya. aduuh., kenapa kau tidak bilang dari tadi Puji Seruni., padahal sudah lama sekali aku ingin berkenalan dengannya. karena kata orang biarpun dia begitu dingin dan kejam dalam menghabisi lawannya, tapi orangnya juga sangat ganteng..'' gumam Roro tersenyum genit. Puji Seruni langsung melotot sebal.
''Hei Roro., apa yang sekarang berada dalam kepalamu. awas yah, kau jangan berani berpikir macam- macam tentang dia.!'' bentak Puji Seruni mendelik sambil berkacak pinggang. ''Eeh aduuuh., kenapa kau sewot begitu sih, aku cuma ingin kenalan saja. Ooh., jangan katakan kalau kau suka padanya dan merasa cemburu denganku. Hii., hi. hi..'' goda Roro tertawa.
''Chuiih., itu bukan urusanmu. kalau berani macam- macam dengannya, akan kuhajar kau sekarang juga. mengerti.!'' ancam Puji Seruni mencengkeram leher jubah hitam sahabatnya. ''Iiiya., ba., baik., aku tidak akan berani berpikir lagi soal dia..'' ujar Dewi Malam Beracun nyengir. ''Baguslah kalau kau paham..'' sungut Puji Seruni pura- pura marah, padahal dalam hati dia geli melihat kelakuan genit sobat barunya itu. ''Tapi., kalau sekedar berkenalan masih boleh kan.?'' bisik Roro tersenyum jail.
Kedua wanita cantik itu masih akan saling mengolok dan bercanda, tapi tiba- tiba saja muncul puluhan perempuan yang menjadi korban penculikan gerombolan rampok itu di depan Roro Wulandari dan Puji Seruni. hampir bersamaan mereka berlutut sambil mengucap terima kasih karena pertolongan gadis itu dan kawannya. pemuda itulah yang membebaskan mereka dari ruang penyekapan sebelum pergi entah kemana.
Karuan saja gadis itu bingung dan gusar. tapi saat hendak mengumbar kemarahannya, para wanita itu malah menangis semakin keras dan mengancam hendak bunuh diri di depannya. seumur hidup belum pernah Puji Seruni menghadapi masalah seperti ini. sialnya Roro malah menyarankan dia untuk tinggal lebih dulu di lembah ini sambil berusaha membujuk mereka.
Dari keterangan salah satu wanita itu, rupanya lubang sumur tempat Roro terjebak sedianya di gunakan untuk menimbun bahan peledak yang di dapat gerombolan rampok itu dari pedagang tiongkok. bahan yang berbahaya dan terlarang itu hendak di jual kepada kaum pemberontak kerajaan.
Sudah dua hari terlewati di dalam lembah itu. kini keadaan lembah yang liar itu sudah lebih terawat. para perempuan korban penculikan itu tekah bekerja keras membersihkannya. entah sengaja atau cuma kebetualan saja, bunga- bunga liar yang tersisa di lembah ini dari jenis bunga Seruni yang kebanyakan berwarna putih.
Dalam dua hari ini Puji Seruni dan Roro Wulandari di jamu bagaikan dua orang putri oleh belasan wanita muda itu. segala makanan dan minuman simpanan gerombolan rampok itupun di hidangkan. Roro yang suka pesta pora mengajak mereka untuk makan minum bersama. dalam keadaan mabuk seorang di antaranya menamai lembah liar bekas sarang begal itu sebagai 'Lembah Seruni.!'
Setelah memeriksa kebenaran cerita soal adanya bubuk bahan peledak, kedua orang wanita cantik inipun memindahkan lima gentong batu berisi bubuk bahan peledak ke dalam sumur dan menimbunnya. baru saja belasan langkah keduanya keluar dari gubuk itu, mendadak Roro merasakan hawa tubuhnya bergolak. matanya menyorot nyalang ke sekeliling tempat. Puji Seruni yang khawatir hendak bertanya, tapi Roro memintanya diam.
__ADS_1
Dari satu arah muncul seorang lelaki tampan empat puluhan tahunan berjubah hijau yang terlihat sopan santun dan lemah lembut sikapnya. tangan lelaki itu nampak sedang sibuk mengukir sebuah boneka kayu dengan sebilah pisau kecil yang berkilat tajam.
''Apa kabarmu Dewiku sayang., kenapa kau tidak segera kembali ke tempat kita, hingga membuat diriku merasakan kecemasan atas keselamatanmu. kemarilah sayangku, kita berdua di takdirkan bersama karena hanya aku yang bisa menjaga dan menyayangimu..'' tutur lelaki itu tersenyum lembut seraya mengulurkan tangannya.
Dewi Malam Beracun menarik nafas getir, dia melangkah lesu mendekati orang ini dan cuma pasrah saat lengan si jubah hijau merengkuh pundaknya. meskipun hanya sekilas tapi Puji Seruni sempat melihat butiran air mata yang menetes di pipi sahabatnya.
''Roro kau kenapa, siapa lelaki itu.?'' serunya maju mendekat. sang lelaki jubah hijau berbalik menatap tajam si gadis. bersamaan itu seorang pemuda pucat dengan tongkat besi hitam bergagang kepala tengkorak yang terbuat dari perak, entah sejak kapan muncul dan berdiri menghadang di tengah keduanya.
Melihat tongkat kepala tengkorak itu, si jubah hijau yang santun terlihat sekejap berubah air mukanya. ''Ini bukan masalah diantara kita., aku cuma menjemput Dewiku seorang saja, tidak lebih dari itu. jadi kau jangan membuat masalah kecil menjadi rumit..'' ucap si jubah hijau sambil memutar pisaunya di antara jari tangannya yang putih bersih namun kokoh. meskipun terdengar halus dan sopan, tapi terasa hawa ancaman maut dalam ucapannya.
Pemuda berbaju gelap itu menyeringai sinis, kejap kemudian muncul gelombang hawa membunuh dari tubuh kedua orang ini. pusaran tenaga kesaktian yang saling hantam membuat para wanita korban penculikan itu jatuh bergulingan. bahkan ada yang sampai pingsan muntah darah.!
''Hentikan semuanya.!'' teriak Roro tersengal, ''Sobat pincang, Puji Seruni., tolong jangan khawatirkan aku. tuan Kamajaya., mari kita kembali..'' ucap gadis itu seraya mendahului berjalan pergi. orang bernama Kamajaya itu terbatuk dan usap bibirnya yang meneteskan darah. ''Kuharap kita tidak pernah bertemu lagi..'' ujarnya tersenyum dingin. setelah menjura dengan sikap kaku diapun berbalik menyusul Dewi Malam Beracun.
''Kau jangan mengejarnya, orang itu sangat berbahaya.!'' bentak si pincang yang memang Pranacitra ini, saat melihat Puji Seruni berniat menyusul mereka. gadis itu masih hendak membantah tapi dia terperanjat melihat sebilah pisau telah menancap di lengan kiri si pemuda. itu bukan lain pisau pengukir boneka milik Kamajaya. tapi kapankah pisau kecil itu dilemparkan si jubah hijau dan menembus lengan kiri Pranacitra.? Puji Seruni sungguh tidak dapat melihatnya.!
*****
Asalamualaikum., Salam sejahtera dan sehat selalu bagi kita semua.🙏😊
Terima kasih kami ucapkan atas semua kritik saran dan dukungan yang telah diberikan para Reader pembaca yang budiman pada dua novel kami(PTK dan 13PBH) yang tentu banyak kekurangannya. seperti selalu telat up date.(mohon maaf🙏) soalnya kami sibuk dgn pekerjaan.😅,
Tanpa pernah kami sangka dengan segala kekurangan dan jarang up date., novel Pendekar Tanpa Kawan masih bisa tembus 500K, bagi kami ini sudah sangat luar biasa. (dulu perkiraan kami paling 200K saja) sudah sangat bagus🤔😊. Terimakasih. Wasalamualaikum.🙏🤗
__ADS_1