Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Dagang nyawa.


__ADS_3

Sekali menyapu pandangan saja Pranacitra dapat mengetahui ada lebih dua puluh orang anggota partai 'Gapura Iblis' yang berada di tempat itu termasuk dua orang pimpinannya, Nyi Sugih Medit dan Ki Ageng Kebacut Ngirit. bicara tentang diri keduanya, mereka yang menyandang julukan 'Sepasang Pedagang Pencabut Sukma' ini hanyalah pasangan mesum alias kumpul kebo.


Bakat dagang dan kelicikan keduanya juga sudah terlihat semenjak mereka masih muda. pernah terdengar sebuah cerita kalau kedua orang ini sanggup menipu sebuah keluarga pedagang kaya- raya yang sangat terkenal di kota raja hingga bangkrut tanpa sisa, hanya bermodalkan beberapa keping uang perak dan bualan palsu. kabarnya karena bakat inilah mereka diangkat murid oleh seorang tokoh sakti yang hingga kini belum pernah terungkap siapa orangnya.


Nyi Kartiyah mesti menahan rasa dendam amarah dalam hatinya karena harus lebih dulu memastikan keselamatan keponakannya Ni Luh Mirahsari. dia segera membawa gadis jelita bermata buta itu kembali ke dalam gubuk. sialnya ada dua orang anggota Gapura Iblis berjubah mantel hitam yang berkelebat hendak menghadang di pintu gubuk.


Biarpun punya ilmu cukup tinggi tapi wanita itu sedikit panik karena mesti melindungi keponakannya. tapi baru saja kedua orang itu hendak menyerbu, terlihat sebuah cahaya berkilauan menyambar seperti kilat. secara susul- menyusul dua orang anggota Gapura Iblis itu roboh bersimbah darah. orang yang berada paling dekat dengan Nyi Kartiyah tumbang terjengkang dengan leher berlubang sebesar buah salak tembus ke belakang.


Rekannya yang berdiri hanya dua langkah dibelakangnya turut terkapar berkelojotan dengan mata mendelik. setiap kali mulutnya hendak berteriak, yang keluar hanyalah suara grookk., grookk disertai semburan darah dari tenggorokannya yang tertikam sebilah pisau dapur. bentuk pisau itu sangatlah umum dan dapat dibeli dimanapun. panjangnya cuma sejengkal lebih dua ruas jari.


Bukan saja Nyi Kartiyah yang terperangah melihat kejadian ini, tapi para anggota Gapura Iblis yang lebih terperanjat. sebuah lemparan pisau dapur mampu membunuh dua orang anggota partai Gapura Iblis. meskipun itulah kenyataan tapi mereka tetap tidak mau percaya. pemuda pucat bertongkat besi itu hanya terlihat mencabut sesuatu dari balik bajunya, lalu tanpa menoleh kebelakang dia melemparkannya. selanjutnya hanya nampak sebuah kilatan tajam menyambar yang diikuti tumbangnya tubuh dua orang rekan mereka.


Jarak diantara pemuda ini dengan kedua sasarannya terpaut lebih dari sepuluh langkah. hanya sekali lemparan pisau dapat menembus leher dua orang. cara membunuh seperti ini bukan saja keji tapi juga sangat sulit karena harus memastikan kedua lawannya berada dalam satu garis lurus sesuai jalur lemparan pisau. ahli senjata rahasia sekalipun juga belum tentu sanggup melakukannya karena perlu kekuatan tenaga dalam yang sangat tinggi.


Pranacitra melirik sekejap kebelakang dan memberi isyarat agar Nyi Kartiyah cepat masuk ke dalam gubuk. wanita itu tidak mau membuang waktu. dia setengah menyeret keponakannya agar lebih cepat bergerak. sebelum menutup pintu gubuk, matanya masih sempat melihat pemuda pincang itu kibaskan sebelah tangannya ke belakang. gagang pisau yang tertancap di leher lawan bergetar keras sebelum tercabut lalu melesat kembali ke tangan pemiliknya.


Sepintas ini hanyalah suatu pertunjukan yang sederhana tapi bagi orang persilatan tentu dapat mengerti, jika hanya orang berilmu kesaktian sangat hebat saja yang mampu menarik suatu benda dalam jarak sejauh itu. dalam hatinya mereka sama terkesiap dan mengira- ngira saat ini sedang berhadapan dengan siapa.


Dengan pandangan mata sayang dan hormat, Pranacitra menghapus lelehan darah yang mengotori pisau dapur pemberian Ki Rangga Wesi Bledek mendiang gurunya yang pertama dari gunung Bisma sebelum diselipkan kembali kebalik bajunya. perlahan dia mulai mengangkat kepala. wajah tampannya yang pucat itu terlihat menyeramkan dengan sorot mata dingin tanpa perasaan apapun disebalik helaian rambut hitamnya.

__ADS_1


Tanpa sadar semua orang bergidik ngeri. baik Nyi Sugih Medit maupun Ki Ageng Kebacut Ngirit sempat terlintas bayangan seseorang namun secepatnya menghilang dari ingatan mereka. ''Huhm., lagi pula bedebah sialan itu sudah mampus beberapa tahun silam. jadi apa yang perlu kita khawatirkan.?'' batin keduanya saling lirik.


Dengan isyarat matanya 'Sepasang Pedagang Pencabut Sukma' memerintahkan semua anak buahnya untuk bergerak mengepung lawan dan sebagian lagi mengincar gubuk dibelakangnya. semua itu tidak terlepas dari mata si pincang. dengan sapuan tongkatnya dia membentuk sebuah garis melengkung yang cukup dalam diatas tanah, seakan ingin mengingatkan bahwa, siapapun pasti mati kalau berani melewati garis itu, apalagi jika mencoba mendekati gubuk.


''Disini hanya terdapat gubuk reot dengan dua orang wanita penghuninya. tidak ada sesuatu apapun yang berharga dan bisa dijadikan barang perdagangan. terus terang saja aku heran, kenapa Sepasang Pedagang Pencabut Sukma mau- maunya mengunjungi tempat terpencil seperti ini, bukannya mengurusi perserikatan dagang 'Permata Hitam.?'' sindir Pranacitra dingin.


Baik Ki Ageng Kebacut Ngiritit dan Nyi Sugih Medit dalam hatinya sama terkejut karena tidak menyangka kalau lawannya yang masih muda ini dapat mengenali siapa mereka. meski begitu diluarnya kedua orang ini tetap terlihat tenang. ''Hii., hi., sungguh tidak kuduga kau dapat mengetahui siapa kamu berdua. sayangnya, orang yang tahu latar belakang dan rahasia kami kebanyakan harus mati.!'' ancam Nyi Sugih Medit tertawa mengikik sembari ketuk- ketukkan ujung besi penggarisnya ke telapak tangan.


''Di sini mungkin tidak ada benda mati yang dapat diperjual- belikan untuk mendapatkan untung. tapi ada manusia hidup yang punya nilai jual tinggi. kami pantang membuang- buang waktu yang berharga hanya untuk mencari perkara dengan pemuda rendahan yang tidak dikenal sepertimu. karena bagi kaum pedagang sepertiku, waktu berarti uang dan keuntungan..''


''Kedua orang perempuan didalam gubuk itu punya nilai yang sangat tinggi. ada pihak kuat yang memesan mereka. jadi serahkan mereka berdua dan kaupun boleh pergi setelah aku buat ilmu silatmu lumpuh. kurasa itu sudah termasuk keuntungan bagimu mengingat usiamu yang masih muda..'' ucap Ki Ageng Kebacut Ngirit mainkan sempoa besinya seolah sedang menghitung sesuatu.


Di akhir ucapannya, tubuh pemuda itu sudah bergerak dengan kecepatan yang sulit diikuti pandangan mata. dilihat dari langkah awalnya dia jelas melabrak maju ke depan. tapi entah bagaimana tahu- tahu orangnya sudah berada dua langkah saja dari para pengepung yang berdiri paling dekat dengan gubuk. ini adalah langkah tipuan yang mengecoh perhatian lawan. bersamaan tangan kirinya membuat tiga gerakan hebat sekaligus. mencengkeram, memotong dan terakhir meninju.!


Setiap serangannya bukan saja sangat cepat tapi juga membawa tenaga kesaktian yang berbeda. saat mencabik dan mencengkeram, cahaya hitam merah turut mengiringi. sekilas suasana di sekitarnya juga menjadi lebih remang redup. sewaktu telapak tangannya memotong, sinar panas semerah darah juga menyelimuti udara. dan yang terakhir di kala kepalan tangannya menderu, cahaya kuning emas dan hitam selintas muncul diiringi suara meraung buas.


Walaupun semuanya hanya berlangsung satu dua kedipan mata saja namun akibat dari serangan itu seketika membuat lumer nyali orang yang melihatnya. tiga orang anggota partai Gapura Iblis terjungkal roboh dalam waktu yang hampir bersamaan dengan luka berbeda. korban pertama tewas dengan leher patah dan kerongkongan tercabik sampai lidahnya turut terbetot putus.


Satu orang kepalanya pecah hingga tulang tengkorak berikut otaknya berhamburan. seorang lagi yang terakhir tewas dengan dada jebol hingga punggungnya. yang paling mengerikan adalah seluruh luka ketiga orang itu sama mengeluarkan asap panas berbau menyengat alias hangus terbakar. jangankan mengindarinya, mereka bahkan tidak sempat untuk sekedar menjerit saat nyawa tercabut.

__ADS_1


Bisa jadi., saat arwah terbang ke akhirat dan melihat raga kasarnya yang terkapar mandi darah, mereka tetap tidak mampu memahami bagaimana caranya kematian itu mendatangi ketiganya. begitu juga para anggota Gapura Iblis lainnya yang hanya dapat berdiri tertegun seolah tidak percaya dengan peristiwa itu. terhitung sejak awal turun tangan tidak sampai waktu sepuluh tarikan nafas, pemuda aneh ini sudah menghabisi nyawa lima orang.


Jika mereka terkesiap kaget, maka lawannya justru sudah kembali menggebrak. tongkat besi hitam yang gagangnya terbungkus kain hitam membuat gerakan satu lingkaran. seiring dengan lesatan tubuhnya ke depan, tongkat besi juga turut menikam. terjadi ledakan keras beruntun yang dibarengi kilatan- kilatan cahaya petir hitam. jurus 'Tongkat Maut Sembilan Geledek Kematian' menyambar memburu korban.!


Di Tengah jalan tubuh Pranacitra berputar di udara. telapak tangan kiri yang berubah semerah darah menyapu ke tiga arah. bau anyir darah menusuk hidung disertai hawa panas mendahului semburan bayangan belasan telapak tangan maut yang haus akan darah. jurus 'Tapak Darah Meminta Sedekah' ikut juga menebarkan kematian.


Seakan tidak perduli berapa jiwa musuh yang telah tercabut juga tanpa mau mendengar banyaknya jeritan meregang nyawa dari mulut lawan- lawannya, Pranacitra terus melabrak dengan beringas. hanya sekali saja ujung kakinya menutul ke tanah, dia kembali lepaskan dua ilmu kesaktian sekaligus. jurus 'Tongkat Kembar Cahaya Kegelapan' yang disusul dengan pukulan 'Naga Penghancur Rembulan.!'


Sasarannya langsung tertuju pada Nyi Sugih Medit dan Ki Ageng Kebacut Ngirit. karuan saja kedua orang inipun berteriak gusar bercampur ngeri. sumpah- serapah kotor tersembur dari mulut mereka. namun walau bagaimanapun juga si 'Jari Sukma Pantang Rugi' dan pasangannya si 'Tangan Sukma Serakah' juga bukan nama kosong.


Tidak ada waktu untuk menghindar. dengan jemari terkatup lurus dan menghitam, Nyi Sugih Medit lepaskan pukulan 'Jari Pencabut Sukma'. bersamaan Ki Ageng Kebacut Ngirit juga lontarkan ajian 'Tangan Pencabut Sukma' dengan kepalan tinjunya yang juga berubah hitam. berikutnya senjata penggaris besi dan sempoa ditangan juga turut memukul empat sasaran yang berlainan di tubuh lawannya.


'Whuuuss., whuuusss., shraaat., sheeet.!'


'Blaaaammm., blaaaammm., blaaaarrr.!'


Tanpa diperintah lagi, para anak buah Gapura Iblis lainnya yang masih tersisa ikut pula menyerbu dengan berbekal pedang ditangan. ditengah ledakan adu ilmu kedigdayaan Pranacitra menyeringai keji. entah kenapa dia merasakan gelora nafsu membunuh yang semakin memenuhi otak dan jiwanya. bau anyir darah juga mayat- mayat yang terkapar seolah membuatnya ingin bersiul lagu kematian.


...........................

__ADS_1


Mohon tuliskan komentar Anda., Terima kasih🙏👏👌👍☝.!


__ADS_2