
Mendengar pengemis itu menyebut nama perkumpulan pengemis 'Kelabang Ireng' membuat sebagian orang tersentak, karena kecuali para penduduk desa Panduren yang memang tidak pernah terlibat urusan rimba persilatan, para jogoboyo keamanan dan anggota begal rampok Taring Brongot sedikit banyak sudah pernah mendengar tentang perkumpulan pengemis Kelabang Ireng yang kabarnya adalah pecahan dari perkumpulan pengemis 'Ular Merah' yang bermarkas di pinggiran kota raja Majapahit.
''Bedebah ngawur., daerah ini kosong tanpa ada penguasanya, siapapun bebas untuk mencari sasaran di sini. kalian cuma menguasai daerah Punggingan., jadi sejak kapan perkumpulan pengemis Kelabang Ireng bisa berkeliaran sampai kemari.?'' sangkal Ki Kedung Rambak heran bercampur marah.
''Tentu saja sejak kami kehilangan wakil pimpinan perkumpulan kami yang berjuluk Pengemis Gigi Gompal. dia mati terbunuh hampir dua minggu lalu..''
''Chuiih., biarpun kami juga sempat pernah mendengar tentang peristiwa itu, tapi apa sangkut pautnya dengan gerombolan begal Taring Brongot.?'' tanya Ki Kedung Rambak jengkel sambil meludah.
''Huh., justru erat sekali. karena menurut kabar berita yang kami dapatkan, kelompok kalianlah yang terlibat dalam pembunuhan wakil ketua kami. malah bisa jadi kau dan ketuamulah pelakunya.!'' tuduh pengemis yang mengaku dari perkumpulan pemgemis Kelabang Ireng itu.
"Tuduhan gila., kiranya kau ini cuma seorang gelandangan tolol dan sinting hingga berani main tuduh tanpa bukti.!" geram Ki Kedung Rambak seraya mencoba mencari tahu siapa siapa orang yang berada di balik caping bambu yang lebar tapi sudah geripis pinggirannya.
"Diam kau begal anjing., tidak akan ada asap jika tidak ada apinya. berita yang sudah tersebar diluaran pasti karena ada buktinya..''
''Karena itu tidak perduli kalian mengakui atau tidak, hari ini gerombolan begal Taring Brongot akan aku hancurkan.!'' bentak gelandangan itu sambil hantamkan tongkat kayunya ke samping kiri kanan menghajar perut dua orang anggota gerombolan rampok yang mengepungnya.
Serangan tongkat kayunya di lakukan secara cepat dan mendadak. yang jadi sasarannya juga bagian selakangan dan kepala lawan yang sulit untuk di lindungi. biarpun hanya sebatang tongkat kayu, tapi jika dilambari tenaga sakti membuatnya tidak beda jauh dengan sebuah tongkat besi.
'Whuuk., whuuk., Dheess.!'
''Aakh., aukh.!''
Dua tubuh sudah terjungkal roboh, tapi serangannya terus mengalir tanpa henti. dengan kaki kanan selangkah maju kedepan, pengemis bercaping yang mengaku sebagai anggota perkumpulan pengemis Kelabang Ireng itu kembali sodokkan ujung tongkatnya ke wajah Ki Kedung Rambak yang masih tertegun.
''Setan alas., Jahanam.!'' maki wakil ketua gerombolan rampok Taring Brongot itu gugup. dengan ketakutan dia melompat mundur sampai lupa mengambil kembali golok panjangnya yang masih terjatuh di tanah. meskipun lolos dari amukan tongkat lawan, tapi seorang anak buahnya kembali menjadi korban.!
Kehadiran pengemis bercaping bambu ini membuat semangat bertarung Jogoboyo dan penduduk desa Panduren menjadi terbangkit. di pimpin oleh Ki Raga Banyak mereka kembali berusaha untuk mendesak lawan.
Sebaliknya anggota gerombolan rampok Taring Brongot semakin kocar- kacir dan patah semangat. jurus tongkat kayu yang di mainkan pengemis berbaju warna gelap itu kelihatannya cuma satu jurus saja dan selalu diulang- ulang. semestinya ini jadi sangat mudah di hadapi, tapi anehnya mereka selalu saja yang menjadi mangsa jurus tongkat si pengemis yang kelihatan sederhana itu.
__ADS_1
Gerombolan rampok Taring Brongot mana pernah tahu jika di dalam satu jurus tongkat itu terdapat lebih dari sepuluh anak jurus yang sangat menakutkan. belum lagi senjata cambuk yang tergenggam di tangan kirinya, sekali cambuk menyabet kulit lawan pasti tercabik dengan mulut luka membiru tanda keracunan.!
''Aaaarkh., Aaakh.!''
''Aakh., Ampuun., toloong.!''
Jerit kematian dan teriakan minta ampun dari para begal terdengar parau diantara suara dentingan senjata. beberapa orang mulai berniat kabur termasuk Ki Kedung Rambak yang merasa lengannya mulai panas dan biru membengkak setelah terkena cambuk yang konon bernama 'Kelabang Ulet' itu. tapi baru beberapa langkah berlari Ki Raga Banyak sudah keburu menghadang.
Meskipun sebelum kabur dia masih sempat mengambil kembali golok panjangnya yang terjatuh, tapi di hadapan kepala Jogo boyo itu senjatanya tidak banyak berguna. biarpun sama terluka tapi nyali tempurnya sudah lenyap berganti ketakutan. hanya tiga jurus saja dia mampu bertahan, sebelum akhirnya sebuah tikaman golok di perut menamatkan riwayatnya.
Kini hanya tersisa tiga orang anggota gerombolan itu yang masih hidup dalam keadaan terluka dan sangat ketakutan. saat para pengungsi dari desa Panduren hendak merajam mereka, terdengar satu seruan keras yang menahannya.
''Hentikan sekarang juga., mereka bertiga milikku. siapapun yang berani membantah akan kuhabisi.!'' ancam pengemis bercaping bambu itu kereng. seketika para penduduk terdiam hentikan serbuannya.
Untuk pertama kalinya pengemis itu angkat bagian depan caping bambu yang menutupi wajahnya. kini terlihat tampang si pengemis. seraut muka dingin yang pucat berkumis, bercambang dan berjanggut hitam. dilihat sepintas orang ini berumur lima puluhan.
''Katakan pada pimpinanmu, sebentar lagi kami dari perkumpulan pengemis 'Kelabang Ireng' akan datang untuk menuntut balas atas kematian wakil ketua perkumpulan si 'Pengemis Gigi Gompal' yang telah kalian bunuh. sekaligus juga mengambil kembali batu sakti 'Nirmala Biru' yang kalian ambil.!''
''Sekarang aku inginkan sebelah telinga kalian bertiga., cepat lakukan sebelum aku berubah pikiran inginkan nyawa.!'' gertak si pengemis sambil gebrakkan tongkat kayunya ke tanah.
Tidak ada jalan lain, dengan menjerit tertahan ketiganya.memotong telinga kirinya sendiri. lalu kabur dengan membawa luka dan rasa sakit bercampur dendam kesumat.
Pengemis itu berbalik lalu melangkah pelan ke arah gerobak pedati di mana Ki Lurah Tanuradi dan keluarganya berada. Supala yang tubuhnya juga luka- luka karena pertarungan segera menghadang.
''Aku cuma hendak bertemu dengan gadis yang tadi memberiku makanan. jadi jangan membuat urusan sederhana menjadi sulit..'' ujar pengemis itu dingin. Supala merasa ragu. tapi Ki Lurah Tanuradi bersama istri anak gadisnya yang bernama Sulindri sudah keluar kereta pedati.
''Tidak apa- apa Supala., biarkan saja sobat pengemis itu kemari..''
''Benar., lagi pula saudara pengemis ini sudah membantu kita mengusir gerombolan rampok Taring Brongot..'' ucap Ki Lurah dan istrinya sambil tersenyum. sementara Sulindri malah sudah berjalan menghampiri si pengemis.
__ADS_1
''Wah., aku tidak mengira paman pengemis punya ilmu silat yang tinggi. untung saja paman datang menolong hingga kami semua selamat. terima kasih paman pengemis..'' ucapnya gadis riang, tanpa canggung dia meraih tangan si pengemis, tapi orang ini cepat bergerak mundur.
''Maaf gadis muda., tangan dan tubuhku kotor. aku kemari cuma ingin menyampaikan terima kasih padamu karena memberiku makanan saat perutku sedang kelaparan..''
Pengemis lantas menjura hormat. saat hendak melangkah pergi dia menunjuk Supala.
''Anak muda itu ilmu silatnya biasa saja, tapi dia punya keberanian dan setia. berkali- kali terluka oleh golok lawan tapi dia terus berusaha bertahan dan melindungi nyawa para penduduk terutama yang berada di dalam kereta pedati ini..''
''Pemuda seperti itu bisa diandalkan sebagai sandaran hidup dan tempat berlindung bagi kaum wanita..'' ujar pengemis itu lantas berbalik dan melangkah pergi.
Supala tercengang mendengar ucapan itu. dia baru sadar saat sebuah tangan halus menggandengnya. ''Mari Supala biar kuobati lukamu..'' ucap Sulindri tersenyum manis. pemuda itu hanya bisa mengangguk malu. matanya sekilas memandang si pengemis yang berlalu pergi dengan langkahnya yang terseok seperti seekor cacing sedang merayap. kaki kanan melangkah yang kiri terseret mengikuti. kalau dilihat langkahnya terasa jelek dan menggelikan, tapi anehnya tidak ada satu orangpun yang berani menertawakannya.
Pengemis itu sudah melangkah jauh. di suatu tempat sepi dia berhenti berjalan lalu melepas caping bambu yang menutupi sebagian wajahnya. tongkat kayunya di tancapkan ke tanah. berbekal tongkat kayu itu dia telah menghabisi lebih lima orang anggota gerombolan Taring Brongot dengan menggunakan jurus 'Pencoleng Mencongkel Pintu Alam Gaib.!'
Jurus aneh yang bisa dipakai dengan jari tangan kosong ataupun menggunakan tongkat itu cuma terdiri dari satu jurus saja, namun sesunguhnya mempunyai puluhan pecahan anak jurus yang mematikan. orang tua sakti berjuluk 'Malaikat Copet' yang telah mengajarinya.
Tangan kanan si pengemis meraup wajahnya yang berkumis agak brewokan. kumis dan janggut hitampun copot, kini dia berubah menjadi seorang pemuda kurus pucat seperti penyakitan dengan sehelai ikat kepala kain batik lurik yang melilit kening dan rambutnya yang hitam gondrong.
Sudah hampir tiga minggu lamanya berlalu sejak dia keluar dari salah satu markas rahasia perkumpulan kaum pencuri 'Maling Kilat' yang berada tidak jauh dari hulu sungai Wareng.
Di sepanjang perjalanannya dia sempat mendengar tentang kekejaman gerombolan rampok Taring Brongot yang menyasar harta penduduk desa. selintas pikiran licikpun timbul saat tanpa sengaja si pemuda gelandangan yang bernama Pranacitra ini memergoki gerakan serombongan begal rampok itu yang mengincar harta para pengungsi dari desa Panduren.
Kebetulan saja pagi tadi dia sempat bertemu dengan para pengungsi itu. bahkan seorang gadis desa yang cantik dan baik hati juga memberinya sebungkus makanan.
Cambuk Kelabang Ulet milik Pengemis Gigi Gompal, menurut cerita si Malaikat Copet memang sengaja ikut dibawa serta karena orang tua itu membutuhkannya untuk meneliti racun apa saja yang terkandung sehingga dapat di buatkan obat penawarnya. karena itulah Pranacitra dapat selamat dari racun ganas cambuk Kelabang Ulet milik Pengemis Gigi Gompal.
Pemuda itu membuang cambuk itu begitu saja, di sepanjang jalan dia sempat juga menyebarkan berita kalau Pengemis Gigi Gompal mati di tangan gerombolan begal rampok Taring Brongot. batu sakti pemusnah racun Nirmala Biru juga telah direbut oleh mereka. bahkan untuk mengadu domba kedua kelompok jahat ini, si pemuda sampai memberi bayaran pada beberapa orang pengemis untuk ikut menyebarkan berita itu.
Hari sudah beranjak senja, matahari mulai condong ke arah barat. semburat sinar jingga menghiasi langit. di kejauhan terlihat puncak gunung Welirang yang mengepulkan asap. menurut si Malaikat Copet, di balik gunung itu konon terdapat sebuah tempat tersembunyi yang sangat jarang di ketahui oleh orang luar. sebuah tempat terlarang dan sangat berbahaya yang bernama 'Lembah Seribu Racun.!'
__ADS_1