Pendekar Tanpa Kawan

Pendekar Tanpa Kawan
Dendam kebencian


__ADS_3

Suasana pagi di perbatasan pedukuhan Punggingan yang tadinya tenang kini berubah ramai dan mencekam. beberapa prajurit jaga bersama puluhan orang yang punya keberanian lebih terlihat tetap berdiri menonton pertarungan antara belasan anggota pekumpulan pengemis 'Kelabang Ireng' melawan anggota perkumpulan 'Maling Kilat' dan seorang pemuda pincang, meskipun dari jarak yang agak jauh. sedang yang lainnya memilih cepat menyingkir pergi karena takut menjadi sasaran.


Tubuh Pengemis Gigi Gompal gemetaran. matanya melotot dengan mulut terbuka dan lidah setengah melelet, hingga sebagian gigi depannya yang ompong jadi terlihat jelas.


''Sialan., bocah pincang keparat ini seperti sengaja menyembunyikan ilmu kepandaian yang dia miliki..'' rutuknya geram bercampur rasa takut. saat menoleh baru di sadarinya kalau anak buahnya tinggal dua orang saja yang masih hidup. sialnya kedua pengemis itu sudah berniat kabur menyelamatkan diri. satu diantaranya adalah pengemis yang datang lebih awal dan sempat di pecundangi Pranacitra.


''Wakil ketua Pengemis Gigi Gompal., harap maafmu kalau aku lancang bicara, kurasa saat ini keadaan kita tidak menguntungkan. bocah pincang itu ternyata berilmu tinggi..''


''Ben., benar wakil ketua., apalagi asal- usul pemuda itu juga mencurigakan. kita jangan sampai salah bertindak dan mengusik tokoh sakti yang mungkin berada di belakangnya..!'' bisik kedua anak buah Pengemis Gigi Gompal. salah satunya telah berumur hampir sebaya dengannya. orang ini jelas sudah pernah mendengar tentang sepak terjang tokoh sakti yang berjuluk si Setan Kuburan.


''Dasar tolol., sejak kapan kalian menjadi pengecut. kalau sekarang kita mundur begitu saja, nama perkumpulan pengemis Kelabang Ireng bisa jadi bahan tertawaan orang. lalu bagaimana dengan barang pesanan kita. apa yang akan kita katakan pada ketua kalau dia menanyakan dimana barang itu.?'' umpat Pengemis Gigi Gompal jengkel. walaupun hatinya begitu marah, tetap saja dia tidak berani sembarangan bertindak.


''Pemuda pincang., siapa kau ini sebenarnya, seingatku diantara kita tidak pernah ada silang sengketa sebelumnya. tapi kenapa kau sampai turun tangan begitu kejam pada kami., para pengemis lemah yang tidak berdaya.?'' tanya Pengemis Gigi Gompal sambil mencoba bersilat lidah dan memutar balik keadaan seolah si pincanglah yang terlebih dulu membuat masalah dengan perkumpulan mereka.


Sementara pemuda pincang yang dia tanya malah kini sedang berusaha membangunkan Ki Ludiro atau si Jari Cepat dari perkumpulan kaum pencuri 'Maling Kilat' yang tergeletak di pangkuannya. sepintas terlihat bibir si Jari Cepat bergerak gemetaran beberapa kali, lalu tubuhnya mengejang dan mendelik. sekejap mata kemudian tubuh lelaki itu terbujur lemas dengan mulut berbusa bercampur darah merah kehitaman.


Pranacitra mendekap erat tubuh Ki Ludiro si Jari Cepat yang sudah mulai kaku itu. satu lagi nyawa melayang karena menyelamatkan jiwanya. hati pemuda itu terasa perih, air matanya menetes tanpa dapat dia tahan.


Sesungguhnya si pincang ini sama sekali tidak mengenal lelaki pencuri dari kelompok Maling Kilat ini. juga tidak memiliki urusan apapun dengannya. pertemuan.mereka malah diawali dengan sebuah kesalah pahaman yang berujung perkelahian. tapi pada akhirnya justru orang yang sempat membuat hatinya kesal inilah yang menjadi penyelamat hidupnya.


Rasa kebencian dan dendam di dalam hati si pemuda terasa begitu menyesakkan. dia merasa benci pada kebodohan dan segala kelemahan yang ada padanya. benci pada semua manusia jahat, licik munafik, kejam dan serakah yang selalu berlindung di balik topeng kesucian.

__ADS_1


Rasa kebencian yang terlalu mendalam tanpa terasa telah memicu kambuhnya hawa racun pembeku darah dan jantung yang terkumpul di sebelah kiri perutnya. sebaran racun itu seketika membuat Pranacitra menggigil kedinginan. nafasnya terasa berat dan sesak, udara yang keluar dari hidung dan mulutnya seakan berkabut dingin. hawa sedingin es yang terus menyebar membuat Pranacitra meringkuk gemetaran diatas tanah. tubuh Ki Ludiro yang masih berada dalam dekapannya sampai turut dingin membeku.


Meskipun merasa sangat menderita tapi pemuda ini sama sekali tidak mengeluh. dia harus tetap bertahan dan sadar. karena dari pengalaman yang telah dia lalui sejak awal pagi ini si pincang ini telah mulai paham, hanya dengan melewati semua rasa dingin membeku yang menyakitkan jiwa raganya inilah dia mungkin dapat membangkitkan sesuatu yang terpendam di dalam tubuhnya.!


''Lihatlah wakil ketua., pemuda pincang itu seperti sedang menggigil kedinginan, dia terlihat sangat menderita. sampai- sampai mulutnya mengeluarkan asap dingin begitu rupa..''


''Di lihat dari keadaanya, kurasa sekarang ini si pincang keparat itu sedang kambuh penyakitnya. mungkin inilah saat yang tepat bagi kita untuk membunuhnya untuk membalas kematian semua kawan- kawan seperkumpulan.!'' bisik kedua anggota perkumpulan pengemis Kelabang Ireng sambil sentakkan senjata cambuk 'Cemeti Kelabang Ulet' di tangan masing- masing.


''Hek., he., aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi pada pemuda pincang jahanam itu. tapi kalau kulihat dari keadaannya, kurasa kalian benar juga. ayoh tunggu apalagi., bunuh dia sekarang.!'' seru Pengemis Gigi Gompal sambil putar cambuk beracunnya. diakhir gerakan putaran dia sentakkan cambuk itu ke bawah hingga timbulkan suara mirip ledakan.


Senjata cambuk bernama Cemeti Kelabang Ulet itu terus bergetar, ujungnya yang berupa dua besi runcing mirip sengat kelabang terlihat memerah dan meneteskan cairan beracun., 'Racun Kelabang Pitu' yang berasal dari bisa tujuh jenis kelabang yang berbeda serta mampu menghabisi lawan hanya dalam waktu tujuh langkah saja.!


''Rasakanlah cambuk kematianmu ini.!'' seru dua orang anggota perkumpulan pengemis Kelabang Ireng itu sambil sabetkan cambuk di tangan mereka. Pranacitra bukannya tidak menyadari ancaman maut yang datang mengancam, tapi dia harus memilih satu diantara dua. jika menghindar dan balas menyerang mungkin saja dia bisa selamat untuk sementara, tapi bagaimana dengan serangan lawan yang datang berikutnya.?


Sebaliknya kalau dia milih tetap bertahan, mungkin saja dia bakal terluka parah atau bahkan mati. jelas ini adalah pilihan yang bodoh.


Tetapi pemuda pincang ini justru kembali berbuat tolol, dengan tubuh terus menggigil kedinginan dia menerima dua sabetan cambuk lawan dengan punggungnya. bukan itu saja tendangan dan pukulan turut pula menghajar dirinya dan mayat si Jari Cepat.


'Whuut., ctaar., ctaar.!'


'Dhaas., dhees., bhuuk.!'

__ADS_1


Tanpa keluarkan sedikitpun suara keluhan apalagi jerit kesakitan, Pranacitra terus bertahan dari cambukan dan pukulan lawan. dia seperti sengaja menggunakan bagian punggungnya sebagai perisai untuk melindungi sosok mayat Ki Ludiro. kulit tubuhnya mulai robek tercabik, darahpun meleleh membasahi bajunya yang sudah compang- camping. kenekatan Pranacitra membuat lawannya menjadi semakin beringas.!


''Ayoh hajar terus bocah pincang penyakitan itu., aku ingin dia mati secepatnya.!'' teriak Pengemis Gigi Gompal bengis.


Mendadak si pincang berteriak keras seakan merasakan kesakitan yang teramat sangat. jeritannya yang menyayat hati tanpa sadar membuat kedua lawannya tertegun. racun pembeku darah dan jantung yang menyebar di tubuh si pemuda memicu daya tolak tenaga dalam pemberian Gembel Sakti Mata Putih yang berasal dari sedotan tenaga dalam milik Iblis Picak Buntelan Kuning.


Dua arus tenaga itu bertemu lalu saling gulung di bagian pusarnya. semakin lama semakin membesar dan terus mendesak untuk keluar.!


''Kalau ingin mati., maka mampuslah saja sendiri.!'' bentak Pranacitra. secapat kilat tubuhnya membalik bersamaan telapak tangan kanannya memukul ke depan.!


'Whuuuss., blaaam.!'


''Aaaakh.,!''


Dua sosok tubuh pengemis terlempar bagai layangan putus terhantam gulungan sinar dan asap kuning berhawa sangat dingin, menebarkan bau sebusuk bangkai yang dilepaskan oleh Pranacitra.!


Saat jatuh ketanah kedua anggota perkumpulan pengemis Kelabang Ireng itu sudah menjadi mayat gembung menguning berbau busuk dan di selimuti kabut sedingin es.!


Pucat pasi wajah Pengemis Gigi Gompal melihat kematian kedua anak buahnya yang tersisa. belum lagi hilang kejutnya, terlihat si pincang berjalan terhuyung mendatanginya. raut wajah pemuda pincang ini terlihat sangat pucat kelelahan seakan lentera yang sudah kehabisan minyak. di tengah jalan mendadak tubuh pemuda ini jatuh tersungkur. jelaslah kalau dia sudah kehabisan tenaga.!


''Kep., keparat., sial., padahal sedi., sedikit lagi aa., aku akan., akan bisa., bisa membu., membunuh., nya.!'' rutuk Pranacitra dengan sorot mata penuh kebencian dan dendam kesumat.

__ADS_1


__ADS_2